Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

Ketika Bersama Wajah Teduh

"Salam kenal", ia memberikan salam sembari menjabat tangan seusai menyebutkan namanya. Beragam respon terlihat dari wajah-wajah muda. Kaku, dan asing. Mungkin karena ini yang pertama. Nongkrong di tempat seperti ini untuk berbincang? Well.

Mereka berbincang ringan. Wajah teduh mengatur pembicaraan. Ia pandai. Terkesan dari bobot pembicaraan yang dalam tetapi tidak menjemukan. Walau ini pertama kali berjumpa, rasanya dekat dan akrab. Memang pertemuan kali ini bukanlah kebetulan. Allah telah merancang. Namun, kesediaan semua wajah menghadap membuat yang hadir disana adalah orang-orang pilihan. Bukan sembarangan. Dan wajah teduh itu meyakinkan semuanya.

Pertemuan kedua, kali ini lebih bersemangat. Tepatnya penasaran. Apa yang hendak wajah teduh sampaikan. Satu persatu wajah-wajah penuh gelora muda ini belum bisa menerka. Mereka kembali berkumpul dan melingkar. Ternyata wajah teduh telah sampai lebih dahulu. Ia jabat tangan semuanya, ucapkan salam dan tanyakan kabar. Doa pembuka dipanjatkan. Dan mulailah pertemuan kali ini.

Setelah mendapatkan hal tak terduga tentang keimanan dan keislaman sebelumnya, kali ini wajah-wajah muda kembali penasaran. Apalagi ketika rerumputan menjadi saksi pertemuan yang kedua. Ternyata wajah teduh kali ini menceritakan tentang niat dan ikhlas. Hal yang sebenarnya bukan tidak diketahui wajah-wajah muda, namun sering terlupa. Wajah teduh sambil tersenyum menyampaikan, "Al imaanu yazidu wa yankus", dia suatu kali juga pasti tersilap dan khilaf. Sehingga ia menuturkan agar tak pernah menutup pintu nasehat dari siapa saja, terlepas siapa yang muda ataupun tua, karena saling menasehati dalam kebaikan ibarat investasi kehidupan.

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya bersama wajah teduh semakin menarik untuk disimak. Wajah-wajah muda tak pernah absen bersamanya. Mereka kian bersemangat mencari tahu, dan mengutarakan opini yang mungkin keliru. Masalah yang ada pun dibahas bersama, dan wajah teduh selalu mengambil referensi dari Quran dan sunnah Rasul-Nya. 

Satu hal yang tak terasa, ada yang berbeda ketika pekan demi pekan berlalu. Wajah-wajah muda merasa berat untuk menjauh dari Sang Pencipta. Sehari tanpa tilawah ataupun sholat berjamaah. Wajah teduh memang tak selalu mengajak dengan kata-kata. Tetapi selalu tersirat dari wajahnya, dan tergambar dari cerita-ceritanya betapa nikmatnya menghiasi iman dengan ibadah.

Ketika wajah muda bertanya, "Kak, aku ingin menjadi sepertimu nanti", wajah teduh mengelus kepalanya. Ia merendahkan dirinya. Katanya, ia bukan apa-apa tanpa Allah yang menuntunnya. Seorang lainnya berkata, "Kak, terima kasih ya", sambil tersimpul senyum dalam wajahnya. Wajah teduh dengan kata-kata yang menentramkan. Jabat tangan, salam dan senyum yang manis di tiap pertemuan. Dan ajakan bersama teladan yang menggugah.

Wajah teduh menjawab, "Berterima kasihlah pada Allah. Kebaikan apapun yang kakak sampaikan hanya berasal dari Allah.  Juga kepada Rasulullah, serta para orang-orang yang senantiasa menjaga nikmat iman dan islam ini hingga kakak juga berkesempatan untuk berbagi dengan kalian".

Akhirnya, tibalah saatnya berpisah. Wajah-wajah muda terasa berat awalnya. Namun wajah teduh hanya berujar, bahwa hanya itu yang ia miliki dan saatnya mendapatkannya dari orang lainnya. Ia meyakinkan, hidup kita itu singkat. Jangan hanya berpuas melangkah jika bisa berlari. Raih keinginan, namun selalu ingat semuanya akan kembali kepada Ilahi.

Akhirnya semua wajah wajah muda mengikhlaskannya. Mereka berpamitan dan pergi. Di dalam hati, mereka saling mendoakan. Ketika bersama wajah teduh memang tak terlupa. Wajahnya tak hanya teduh, namun meneduhkan. Bersamanya, ketika masalah datang dan ada seperti biasa, keyakinan bahwa Allah bersama hamba yang shalat dan sabar juga makin besar. Dan kini saatnya mengukir cerita bersama wajah teduh lainnya. Semoga semangat yang sama tetap berkobar.











Jumat, 15 Februari 2013

Miapah Kamoe Koeliah?


Waktu kian terasa cepat berlalu. Detik-detiknya seakan beriringan dengan aliran darah yang menyebar ke segala penjuru. Tak terasa, apalagi di kala kesibukan bergemuruh.

Sedari pagi, Dani hanya menyepi di kamarnya. Sendiri. Hanya ditemani lembaran demi lembaran catatan dan latihan soal. Separuhnya hasil fotokopi, sementara sebagian kecil lainnya hasil goresan tangannya sendiri. Semester ini ia bertekad untuk lebih baik lagi. Tekad yang sama seperti sebelumnya dan selalu mengemuka jelang ujian tiba.

“Dosen semester ini menyebalkan banget ya”, ujar Toni di perjalanan menunggu kelas.

“Kok bisa?”

“Yah gitu, udah banyak yang telat, eh nelat ding. Trus ngajarnya ngga jelas lagi”, sambungnya menggerutu. Dari mukanya Dani hanya bisa mengerti betapa sebal temannya yang satu ini.

“Mungkin hanya oknum dosen yang gitu Ton”, balasnya, mencoba menenangkan.

Sementara mereka telah sampai di ujung kelas. “Tuh liat sendiri khan”, deru Toni seraya menunjuk pengumuman yang ditulis di papan kelas.

“Kelas hari ini ditiadakan. Kelas pengganti akan didiskusikan di pertemuan selanjutnya”, begitu isinya.

“Ahhh sialaah, gw udah mandi pagi-pagi nyampe sini dosen malah ngga dateng”, kata Toni dengan kesalnya.

“Yaudah kita makan aja deh”

“Iya nih, gw bela-belain nahan lapar demi kelas pagi”.

Dani enggan ikut menggerutu seperti Toni tadi. Entah mengapa, ia lebih tertarik mengikuti kata-kata kak Salman, rekan mengajinya atau biasa disebut murobbi.

“Apakah jadi datang sang dosen bila kita mengumpat sekalipun? Tidak. Bahkan bisa memunculkan benih-benih kebencian kita kepada mata kuliah yang sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Mata kuliah tersebut adalah ilmu. Ilmu datangnya dari Allah. Sesuatu yang berasal dari Allah adalah kebaikan. Maka mengapa kita malah mencoba memunculkan kebencian terhadap kebaikan?” kata beliau ketika itu.

“Lalu ketika menerima sang dosen apa adanya, dan membuat kita lebih giat berusaha, apa salahnya?”

.................................................................


Miapah kamue koeliah?

Jika ditanya seperti itu, pasti akan dijawab demi masa depan yang lebih baik, demi orang tua, demi mensyukuri nikmat Allah berupa kesempatan untuk kuliah, dan yang paling parah jawab “miamu donk ayang”. Hueks alays gilak haha

Intinya semua kita lakukan demi mencapai kebahagiaan di masa yang akan datang. Itulah yang Dani dapatkan dari seorang teman yang ia kenal dari dunia maya.

“Makanya nikmatin aja kuliah. Bikin kuliah loe juga happy”, katanya.

“Ihh ngga lulus-lulus donk gw nanti. Ogah ah”, kilah Dani.

“Dunia itu ibarat penjara bagi orang-orang sukses. Jika memang kuliah membuat kita terpenjara, ya wajar jadinya. Hahaha”, celetuk Dani di depan teman-teman kelas sambil menunggu dosen tiba.

“Ihh ogah ah, gue hidup cuman sekali. Kemanapun enaknya ya happy”, kilah seorang temannya.

“iya, udah kuno begituan Dan. Sekarang ngga musti susah-susah juga kali. Peluang usaha banyak ngga hanya di bidang yang kita kuliahin”

“Emang kalo usaha juga udah pasti berhasil gitu”.

“Hahaha, kalo gagal ya tinggal minta backup dana bonyok dah haha”

“zzzzzzzzzz”

..................................................................................

“Kak, menghadapi dosen yang malas-malasan itu gimana sih? Dani ngga mau mengeluh sebenarnya, tapi khan beliau dateng selalu telat. Ngajar ngga pernah enak. Kuisnya dadakan, dan PR banyak namun ngga tau hasilnya. Udah dijadiin bungkus kacang kayaknya tuh PR. Jadinya ikut malas bawaannya untuk belajar sendiri.

Kak Salman tersenyum mendengarnya. Tadi Dani memang menginformasikan untuk datang lebih awal sehingga bisa berkonsultasi.

“jadi ingat tentang senior kakak nih Dan. Seperti hadist yang kita pelajari pekan lalu bahwa dunia itu seakan penjara bagi orang-orang mukmin, nah ini bisa nguati juga Dan.

“Ia kak, apaan tuh?”

“Di atas cobaan yang kita hadapi, pasti ada yang menghadapi cobaan yang lebih dari kita. Kamu tahu itu khan?

“Iya kak tahu”

“Nah, yang bikin kita bisa move on dengan mudah tuh ya kecepatan awal kita bisa melaju sampai saat ini karena tinggal ngatur ngasih percepatan berapa aja agar sebanding dengan perlambatan.”

“hah, apaan kak maksudnya. Fisika banget T.T “

“jika kita melaksanakan kuliah dengan niat yang tepat, harusnya faktor dosen ngga jadi masalah lho”

“hmmm, kok gitu”

“Yah, karena ngga ngaruh. Terserah mau dosen gimana, yang penting kita tetap berusaha karena ada hal lain yang selalu membuat kita sedemikian rupa”.

“Nah apaan tuh kak?

“Itu yang kita bahas hari ini. Nanti deh tunggu temen-temen lainnya ya”

Zzzzzzzzzzzzz

Demi apa kuliah? Demi deretan A yang memesonakah saja? Atau mencoba melakukannya untuk hal yang lebih besar lainnya? 
Melakukannya demi yang memberi kita nikmat sedari membuka mata di pagi hingga menutup mata di kala petanglah jawabannya

Selalu ada jalan, dan tidak pernah ada yang tidak mungkin untuk-NyaDan sekarang tergantung saya, karena berpangku tangan dan berjuang takkan pernah sama


Begitulah Dani tulis di resume liqo’nya hari itu.

Kamis, 15 November 2012

“Belum saatnya”. Belum!



Perlahan seiring waktu berjalan, jarak pun memangkas dirinya perlahan. Kesibukan yang sama. Tempat yang sama. Dan intensitas pertemuan akhirnya dengan sendirinya bertambah.

Allahu robbi,
Aku enggan menyalahkanmu. Namun dengan situasi ini yang kan terus berlalu, bagaimanakah nasib amanah yang nantinya kan kupertanggungjawabkan kepadamu?
---------------------------------------------------------------------------------------------

Semua bermula seperti biasa bagi Arfan. Biasa. Tak satupun istimewa ketika pertama kali bertemu dengannya. Kala itu hijab menjadi batasannya. Untunglah, sungguh.
Sebuah dauroh untuk mentaarufkan pengurus. Antara yang baru dan lama, agar lebih menyatu dalam jalinan ukhuwah. Dari situlah ia mengetahui namanya, dan tak lama berlanjut dengan pertama kali mendengarkan suaranya.
Plotting divisi dilakukan. Kombinasi musyawarah dan keputusan ketua memutuskan detail amanah yang ke depan akan diemban. Arfan dan semua wajah baru di lembaga itu penuh antusias menyimak penjelasan Kak Dedy, sang ketua organisasi.

Dan hasil keputusan itulah yang membuat cerita ini bermula. Arfan ditempatkan sedivisi dengannya, sosok yang bahkan sejak awal ia hanya tahu dari dauroh pertama para calon pengemban dakwah. Namun sosok itulah yang berbeda dari yang lainnya. Sungguh berbeda.

---------------------------------------------------------------------------------------------
 “Teman-temanku yang dirahmati oleh Allah, Insha Allah kita akan berjuang bersama dalam sebuah bidang kerja organisasi ini. Selama satu periode kepengurusan ini, Insha Allah pasti akan banyak yang kita lalui. Ketika kita berani mengambil langkah tuk memulai, pasti teman-teman juga tahu ke depan jalan ini tak akan mudah. Boleh jadi berliku, berkelok, dan bergelombang. Namun tetap saja pasti akan bermuara. Sampai saat itulah kita harus tetap bersama, saling menyokong satu dengan yang lain, bersatu, menguatkan dan menghadapinya bersama”, ujarnya dengan nada penuh cita-cita besar ke depannya.

Kak Rio adalah sosok ketua departemen yang supel. Ia mampu mencairkan es batu yang masih keras diantara para muka baru, pejuang peradaban. Tak terkecuali Arfan. Ia sedikit demi sedikit belajar. Sesuai kata Kak Rio, setelah semua saling mengenal, mengetahui maka dapat dilanjutkan tuk mencoba menyamakan kesepahaman. Dari situlah benih militansi akan ditanam, dipupuk dan berbuah kekuatan .
---------------------------------------------------------------------------------------------
Sayup-sayup terdengar suaranya dari bilik hijab yang ada. Ia memang akhwat yang aktif, dan kritis. Walaupun sama-sama bermula, Arfan melihatnya lebih kontributif menyumbangkan gagasan untuk program kerja yang ada. Ini syuro yang kesekian kalinya, setelah penentuan program kerja dan kini tinggal eksekusi dan pendalaman saja.

Semua tampak menyatu. Brainstorming kata Kak Rio istilahnya. Memunculkan berbagai ide dari setiap orang yang ada. Dari mulai yang serius, fokus, hingga nyeleneh dan super aneh.

“Tak apa nyeleneh, dari situ bisa memicu ide lain yang lebih baik”, rekam kata-kata kak Rio oleh Arfan.

Itulah yang membuat Arfan tak segan mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Dan ternyata dari sekian idenya, semua diluruskan olehnya. Sosok di balik hijab yang cerdas dan perlahan mulai terkesan mempesona.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Bertukar pesan di telpon genggam .
“ Kak Rio sedang berhalangan nih. Aryo juga.”
“Jadi gimana? Kak Shelly dan Arini juga sama”.
“Tetapi tetap harus selesai khan?”
“Iya. Yaudah kita syuronya di facebook saja ya, ngga enak cuma berdua khan”
“Okedeh”
Percakapan itu dimulai. Menggunakan jejaring sosial yang ramai dipakai. Tak ada kekhawatiran semula. Arfan hanya membicarakan tentang tugas divisinya. Demikian pula dengannya. Tampaknya ia lebih pandai menjaga fokusnya. Untunglah, karena dunia maya ternyata membuat Arfan tak lagi sestabil sebelumnya.
“Selesai disini saja. Jika tidak ada lagi yang perlu didiskusikan, afwan”, ketiknya mengakhiri.
“Kok dia jadi sewot gitu? Apa yang salah dengan kata-kataku”, pikirnya penuh tanda tanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Dunia maya bukanlah dunia yang membebaskan kita dari apapun, termasuk tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan di dalamnya. Namun terkadang, ia begitu melenakan.
Klik dan klik, lanjut klik dan klik.
Seketika ia bisa melihat fotonya. “Subhanallah”, gumam singkat Arfan melihat foto-foto lama di akun facebooknya. Tak semua disembunyikan. Bisa ditelusuri. Tunggu, demi apa ia lakukan ini. Untuk apa?
Arfan berhenti.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Lain waktu.
“Ah sekali doank apa salahnya?”

Klik dan klik, “wah ternyata ia penggemar Detective Conan juga, sama donk”

“Lalu kalau sama memang kenapa?”

Arfan berhenti.

---------------------------------------------------------------------------------------------
Terkadang kita tak menyadari hal kecil yang kita lakukan. Bermula sekadar keisengan. Namun ujungnya bisa keseriusan. Hingga prinsip dan tujuan awal dapat terancam kan terlupakan.
Berdebar. Arfan kini mulai menyadarinya. Ini akibat ulahnya. Ulah kecilnya. Ulah kecilnya yang bermula dari keisengan belaka.

Membuka akunnya, melihat fotonya, melihat profilnya, hingga terbesit menyimpan fotonya. Perlahan melihatnya setiap waktu. Hingga akhirnya mengagumi hal yang belum saatnya ia perlu. Dan bahkan kini sampai ingin memiliki?
“Astaghfirullah”, sesalnya.
Berdebar. Setiap kali sosok itu muncul di hadapan. Apa yang harus ia lakukan? Egonya bisa memberontak dan amanah bisa terancam. Mana profesionalisme yang awal bersama telah komitmen hendak dicapai bersama? Hilangkah? Semukah oleh rasa yang belum sepantasnya ada?
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, Arfan membaca artikel dari http://ukhti-shalihah.com/lelaki-shalih-itu/
Sebuah cerita tentang lelaki shaleh menurut seorang akhwat.

------------------------------

Di mataku, lelaki shalih adalah lelaki sederhana,tawadhu,sabar,dan tentu saja baik pemahaman agamanya. Kalau menurut akhwat lain, mungkin bisa berbeda-beda kan?

Keshalihan seorang akhwat,juga bisa menentukan kriteria apa saja yang harus dimiliki sang ikhwan,hingga bisa menjadi imam yang ia butuhkan..
Seorang akhwat hafidzah boleh dan bisa dipastikan,pasti mengharapkan seorang ikhwan yang hafidz juga sebagai suaminya…^^

Lelaki Shalih itu…Ya,tentang sosok lelaki shalih..
Apakah antum sudah cukup shalih?sehingga merasa pantas mendapatkan seorang akhwat shalihah itu..
Ya,cobalah tengok disekitar antum,pasti ada banyak akhwat yang begitu shalihah dan begitu anggun dalam balutan jilbabnya, kiprahnya dalam dakwah semakin memancarkan pesonanya…

Pernah mengagumi seorang akhwat seperti itu? mungkin saja,dan saya menduga antum bisa jadi pernah atau bahkan sekarang malah sedang merasakannya?^^ Bagi antum yang masih sendiri (belum menikah) bisa jadi kekaguman itu menjadi sesuatu yang begitu mengusik hati..
Ya gak sih? saya sok tau nih..
hehehe

Apa antum tahu?sebenarnya akhwat juga begitu lho..
Jangan salah kira,sikap diam para akhwat berarti mereka tak peduli ato malah mati rasa..
#haduuh

***^^***

“ada beberapa hal yang perlu diluruskan tentang interaksi kita akhi” kata seorang akhwat berbalut jilbab ungu itu dengan pandangan semakin tertunduk..

“ada apa ukht? adakah yang salah dengan sikap ana selama ini?” tanya ikhwan di hadapan akhwat itu..

“ya,banyak..
Tapi mungkin antum selama ini tidak menyadarinya…”

“apa itu ukhti? bisakah anti jelaskan,agar ana lebih paham”

“tolong akhi,bersikaplah lebih bijak di depan ana,mugkin antum merasa sikap antum biasa saja, tapi tidak bagi ana…afwan” suara akhwat itu kian tercekat..

***^^***

Antum pernah “dibegitukan” sama akhwat? kalo iya, berarti memang ada yang perlu diperbaiki dari sikap antum sekalian..

Bukan menggurui..
Tapi,ini berdasarkan pengalaman pribadi yang cukup mengusik dulu..

Taukah akhi? tiap senyum kalian,kalimat-kalimat sapaan bernada perhatian dalam sms dari kalian,mungkin antum anggap itu hal biasa..
Tapi apa iya bagi mereka,akhwat yang hatinya begitu peka..
Bisa jadi semua yang berasal dari antum bukannya menguatkan,tapi justru hanya akan semakin mengganggu dan menggoyahkan imannya..
Ia, yang awalnya begitu ikhlas berdakwah bisa jadi karena perhatian kalian,niatnya jadi terkotori..
Karena memang fitrah wanita,yang sebenarnya suka dipuji,walau tak semua begitu..

Taukah antum? bahwa hati seorang wanita itu begitu lembut? sedikit saja antum taburkan “benih”, bila ia terus menyiraminya maka benih itu akan tumbuh kian subur di hatinya..
Betapa kasiannya bila ia, hampir tiap malam teringat padamu akhi, ikhwan yang belum tentu jadi imam baginya…

Lalu? apa yang harus antum lakukan? ahh,rasanya saya tak perlu menjelaskan karena saya tau,antum semua jauh lebih paham..

Hanya saja,saya ingin berpendapat dari sudut pandang seorang akhwat..
Seorang ikhwan yang shalih tak akan pernah berkata “ukhti..ana mengagumi anti, bahkan ana telah jatuh cinta pada anti, maukah anti menunggu sampai ana siap mengkhitbah anti?”

Ya..
Lelaki shalih tak akan berkata begitu..
Apakah antum tau apa efek dari pertanyaan itu? 
Bisa jadi, hati akhwat itu kian rapuh..
Apa antum tega? membuatnya menunggu dalam ketidakpastian? Karena sebelum akad nikah,segala hal masih bersifat tidak pasti bukan? 
Apalagi bila kita hanya bergantung pada hati seorang anak manusia yang tiap detiknya bisa terbolak balik..
Betapa kasian ia ketika harus berharap pada sesuatu yang belum jelas ujungnya…

Lelaki shalih seharusnya ketika ia jatuh cinta, maka ia akan menyimpan sendiri perasaan itu rapat-rapat dalam hatinya dan hanya mengizinkan Allah saja yang tahu..
Ia akan terus memperbaiki diri hingga siap dan pantas untuk mengkitbah akhwat itu pada saat yang tepat..
Dan lelaki shalih akan berkata “ukhti,mungkin ana bukanlah lelaki yang sempurna keshalihannya…
Tapi ana hanyalah seorang laki-laki yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan ingin segera digenapkan diennya hingga sempurna, maka maukah anti menjadi akhwat penggenap dien ana itu?”

Ya,lelaki shalih tak kan pernah meminta untuk menunggu..
Ia hanya akan mengambil kesempatan atau akan berkorban mempersilahkan saudaranya yang lain..
Seperti kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah..

Akhi…bisakah ana minta tolong? tolong jaga saudari-saudari ana yaaa..
Jaga hati mereka, hingga tetap utuh sampai antum bisa mempersuntingnya dalam sebuah Mitsaqan Ghalidza itu^^


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terhenyak. Arfan tak bisa berkata apa-apa lagi.

Belum saatnya, belum!
Sementara diri ini masih perlu banyak berbenah, bagaimanakah pantas mengharap sosok pendamping yang sepertinya?
Belum saatnya, belum!






November 15, 2012
Raffa Muhammad

--------------------------
Sumpah ini cuman fiksi. Siapapun yg baca ambil positifnya ngga usah dihubungin ama penulisnya okeee :D











Minggu, 20 Maret 2011

"Kenalkan, Aku Mahasiswa! "


Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Hidup di kota, dengan latar belakang lahir di daerah.

“Ah..........kok gosong ya bu ikannya”, celetukku pelan. Baru pulang, Ibu langsung menyuruhku memasak.

“Jangan melamun saat kerja neng” Ibu mengingatkan ku dengan sabar.

“Nggak kok bu, dari tadi perhatikan penggorengan kok,nggak melirik lainnya”, belaku dengan cengengesan.

“Ketahuan banget kamu lama nggak masak” balasnya menyindirku. Aku tersipu, seketika pembelaan kembali ku lakukan.

“Hmm, selama kos hampir dihitung dengan jari ngidupin kompor, ngunjungi dapur atau nyuci wajan”, balasku lantang.

Ibu bisa saja menebak rupanya. Maklumlah dia Ibuku yang mengenalku lebih dari siapapun di muka bumi ini.

“Ingat pepatah, alah bisa karena biasa. Lama sudah tidak biasa hampiri dapur dan kroni-kroninya, ya begini lah hasilnya. Makanya kenalan dulu dengan dapur. Sering-sering lagi lirik penggorenga maupun periuk. Say hello walau sekejap ke ulekan dan pisau dapur. Jangan lupa nyentuh bawang putih, bawang merah, cabe,merica apakah masih pedas rasanya. Cicipi lagi garam apakah masih asin di lidah. Khan sudah lama mereka tidak diacuhkan.

“Duh Ibu, khan udah pasti kalau yang begituan”, protesku.

Ibu tak menggubrisnya dan terus saja berceloteh ria, ibarat presenter sepakbola yang tak pernah kehabisan kata. “Andaikan semuanya itu bisa bicara pasti protes.....jangan sombong dong.....dulukan kita sahabat, hehehe” sindirnya.

Aku hanya bisa tersenyum malu. Ya, inilah aku. Dulu dapur ini sangat akrab denganku, seakrab Sponge Bob dengan spatulanya, ataupun Asma Nadia dengan penanya. Jangan tanya tentang masakanku, bahkan tetangga saja selalu memujiku ketika dicicipinya masakan buatanku.Tapi kini inilah masakanku. Bahkan Si Pussy, takkan mau melahap habis dengan aroma dan warnanya yang unik begitu.

Memang aku berubah sejak hatiku kembali jatuh cinta. Bawang, cabe, wajan, ulekan dan lainnya tergantikan dengan hadirnya laptop mungil cantik yang membuatku terpesona. Bangganya menjinjing laptop ke kampus, membawanya hingga ke pameran, bahkan mengitari mall berjam-jam.
Laptop selalu setia mengisi ransel yang bergelayut di punggungku seakan ikut menyuarakan ke dunia bahwa aku ini mahasiswa. Status sebagai yang membanggakan, di tengah masyarakat yang masih saja menganaktirikan pentingnya pendidikan.

“Jadi mahasiswa itu bikin tambah keren penampilan. Mahasiswa itu ”siswa yang mahal” tidak ada tingkatan status siswa yang lebih tinggi selain mahasiswa”perkataan temanku itu selalu kuingat. Walau sebenarnya menjadi mahasiswa adalah masa-masa awal menuju sekarat. Hal itu yang dikatakan dosen waliku di semester satu.

Terbuai dengan status mahasiswa.Itulah kebanyakan orang adanya. Ikut berbagai demonstrasi cuma karena ingin bergaya, dan sedikitpun tak mengerti esensinya. Juga organisasi dan kepanitiaan dengan semangat menggunung di awal, dan perlahan turun hingga tersisa di akhir kisah.

Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Hidup di kota, dengan latar belakang kehidupan di daerah.

Menjadi mahasiswa di kota, dengan kebutuhan hidup yang mahal adanya adalah takdirku. Perut keroncongan, dan warung menjadi pilihan utamaku. Tak peduli, siang, malam ataupun pagi waktu itu. Penghematan adalah kamus hidupku. Kafe ataupun rumah makan? Jangan ditanyakan. Aku akan hanya datang jika mendapat traktiran teman.

Sebenarnya, kuliahku mendapat tantangan dari orang tuaku. Serupa dengan berjuta mahasiswa Indonesia lainnya, masalah utama ada pada biaya. Biaya kuliah yang tak bisa dijangkau masyarakat bawah, yang hanya akan menjadi sesuatu yang mewah. Sementara jaminan mendapat pekerjaan juga belum ada. Daripada menengok pengangguran walau bergelar berbagai macam, Ayahku lebih mendukungku untuk menikah.

“Tidak Yah”, tegasku saat itu menolaknya,”sekarang sudah bukan zaman Belanda. Perempuan pun memiliki prospek cerah jika memang melakukan yang terbaik dengan pendidikannya”, ujarku tegas. Kepalaku memang keras. Sekeras watak Ayahku yang sulit sekali diruntuhkan. Tapi aku terlanjur terpengaruh beberapa buku yang ku baca tentang mimpi dan usahaku tuk mewujudkannya.

Dan akhirnya aku kuliah juga. Walau restu Ayah ku dapatkan lewat telepon genggam dengan tangisan Ibu dan kakak perempuanku di belakangnya. Kemantapan sudah menyelimuti belantara hatiku adanya. Tabungan dan uang saku dari saudara-saudaraku menjadi bekalku.

Aku durhaka. Memang itulah yang ada di benak Ayah. Aku menyembunyikan niatanku kuliah, dan hanya tak memberi tahunya karena merasa sudah tahu hasilnya. Tapi alhamdulillah, kepulanganku saat semester satu waktu itu disambut Ayah dengan suka cita. Entah bagaimana dia berubah, dan memaafkanku dengan adanya pendirian keras dalam dirinya.

Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Memiliki mimpi walaupun sumber daya tak mumpuni. Selain masalah keuangan, otakku menjadi pas-pasan ketika disandingkan dengan mahasiswa lainnya. Aku suka ini. Bertemu dengan mereka yang jauh lebih tinggi, memicu gelombang semangat berloncatan tuk meraih prestasi.

DI SMA, prestasiku memang tak membuat sejarah. Hanya sesekali juara kelas dan itupun tak bisa dikategorikan membanggakan untuk ukuran daerah. Olimpiade di tingkat Kabupaten hanya sekali kumenangi dan itu juga bukan bukti otakku cerah.

Sementara, mereka mahasiswa lain memiliki prestasi berbagai macam. Dari Olimpiade Nasional, hingga juara tingkat internasional yang menjadi langganan. Luar negeri, bukan lagi menjadi mimpi untuk dikunjungi, karena liburan sudah jadwalnya mereka transit secara rutin tanpa sangsi. Tak ada lagi masalah ini, itu yang hanya membebani. Fokus dengan berbagai penelitian yang mereka geluti, organisasi dan kepanitiaan yang mereka ingini. Jadilah kuliah tenang mereka alami.

Bagaimana denganku? Ibukota tak lagi ramah menyapa saat ku tahu biaya hidup disana yang ingin membuatku muntah. Untuk buang air kecil harus bersusah mengeluarkan biaya, bahkan orang sekarat pun harus rela memesan kuburan sebelum ajalnya tiba jika tak ingin kesusahan di hari H. Suasana yang amat berbeda dengan di daerah.

Aku tak memiliki otak cemerlang yang membuatku bisa menangkap semua materi tanpa persiapan. Untuk itu aku hanya bisa berjuang. Dengan segala tenaga tersisa sembari waktu luang untuk berjualan guna menambah penghasilan, ku gunakan laptop pemberian saudaraku untuk selalu mencari materi tambahan. Perpustakaan pun menjadi tempat langganan.

Aku memimpikan kuliah sejak lama. Sejak ku tahu Pamanku selalu ditolak kerja karena tak sampai lulus sekolah dasar. Juga beberapa tetanggaku yang hanya lulusan SMP, pulang dengan tangan hampa setelah merantau berbulan-bulan di kota. Menjadi TKI dan TKW? Setidaknya daerahku sudah tak lagi memutus keinginan itu. Sejak kasus warga kami yang disiksa hingga mati, situasi itu membuat tetua desa rapat dan melarang lagi ada warganya yang kerja di luar negeri. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang.

Akulah Nadia, seorang perempuan yang memilih kuliah dan meninggalkan daerahku tercinta.

Mimpiku kuliah pernah surut kala tahu pengangguran di negeri ini yang juga banyak dari kalangan almnus mahasiswa. Juga banyak berita mahasiswa kerjanya tawuran, mencipta kerusuhan tanpa sebanding dengan status pendidikan yang mereka emban ataupun biaya yang sudah orang tua mereka keluarkan.

Sementara prestasi mahasiswa menjadi pelipur kekecewaanku, berbagai mimpiku yang ternyata mensyaratkan gelar strata satu didapatkan memberi motivasi kepadaku. Itulah obat mujarabku. Menjadi mahasiswa, kian dekat dengan mimpiku tuk jadi seorang dokter yang bisa membuatku takkan lagi melihat tangis perempuan yang kehilangan bayinya saat anugrah itu hendak waktunya lahir. Cukup Ibuku yang terakhir ku lihat, dan suasana kelam kehilangan adik kecilku akan ku pendam dalam ingatan.

“Hanya karena tak ada biaya, dokter tak mau membantu persalinan. Kurang ajar !”, ku ingat kata-kata Ayahku saat itu. Kami berduka berbulan-bulan. Panen yang gagal, memicu tak ada persiapan saat Ibu hendak melahirkan. Seorang mantri di puskesmas yang akhirnya tak berbuat banyak karena tak ada peralatan untuk operasi adikku yang katanya sungsang. Rumah sakit masih jarang, adanya di kota seberan. Sementara tak ada lagi biaya karena gagal panen membuat bantuan tetangga juga tak menjawab keadaan.

Dukun beranak? Jangan tanyakan itu kawan. Keluargaku adalah keluarga muslim taat yang anti dengan apapun namanya yang bersekutu dengan jin dan tersesat. Syukurlah, nyawa Ibuku bisa tertolong melalui perantara sang mantri walau dengan peralatan seadanya.

Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Hidup di kota, dengan latar belakang kehidupan di daerah.

Pernah saat itu seorang senior menyatakan cintanya. Balutan jilbabku tak kuasa menjawab bahwa prinsipku teguh kepada agama untuk tidak mendekati zina sebelum menikah. Untuk itu aku harus bersusah payah. Menjelaskan dengan penolakan halus walau sebenarnya ketampanan dan kecerdasannya memikat hatiku jua. Tapi maaf, aku mahasiswa dari daerah. Yang harus rela berkonflik dengan orang tua dulu sebelum bisa kuliah. Untuk itu ku kan tepis bagaimana sakit hatiku dirasa, agar tetap kuliah menjadi prioritas utama. Karena lahan pertanian yang keluargaku jual takkan pernah kembali jika kesuksesanku menjadi mimpi.

Akulah Nadia, mahasiswa yang masih jua tetap bangga menjadi mahasiswa.

“Pendidikan adalah tidak penting”, cuplikan film Alangkah Lucunya Negeri Ini itu membuatku tak bisa berkata apa-apa. Persis keadaan di disana. Kala pemuda hanya bangga lulus SD atau SMP dan akhirnya langsung menikah, melanjutkan pekerjaan orang tua seraya menikmati warisan yang ada. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya kehijauan hutan kami sirna perlahan. Tertelan kebutuhan manusia yang tak kuasa melestarikan, tapi hanya ingin mendapatkan lebih dan lebih secara instan.

Daerahku kaya, untuk ukuran sebuah daerah. Disana ada pertambangan yang mulai dibuka sejak lama oleh perusahan yang entah namanya apa. Jadilah ada opsi lain, selain bekerja di ladang juga bisa menjadi karyawan pertambangan. Tapi entah mengapa tak ada perubahan. Sejak zaman buyutku hingga sekarang, angka kemiskinan masih saja tak bisa dibayangkan.

Daerahku? Ah tidak kawan. Semua daerah begitu di negeri ini. Memiliki mahasiswa di seluruh penjuru negeri tapi tak bisa membuat perubahan di daerahnya sendiri. Sarjana, gelar bergengsi itulah yang kini melekat pada para pemimpin di Bumi Pertiwi. Sarjana, Profesor, Doktor adalah juga mahasiswa yang pernah berjuang menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasi. Pastilah mereka dulu lebih sulit kondisinya tuk memasuki bangku perguruan tinggi. Tapi dengan banyaknya angka korupsi, aku sendiri ragu apakah mereka pernah kuliah. Merasakan beratnya merangkai mimpi hingga dalam genggaman semua itu kini.

Akulah Nadia, mahasiswa dengan segala kekurangan yang ada tuk tetap melanjutkan kuliah. Tapi aku bangga menjadi mahasiswa, karena aku yakin perubahan itu bisa terlaksana, kala mahasiswa selalu bangga akan statusnya dan menjadi pelopor perubahan dimanapun mereka berada.




Cerpen ini ikut dalam Festival Fiksi Kompasiana 2011 dan ikut pula dibukukan.

Selasa, 01 Februari 2011

Hari Ini Ku Lepaskan Kau Dari Hatiku


Uraian Fiksi.

Terinspirasi Sebuah Lomba Yang Tak Jadi Ku Ikuti.

30 Januari dini hari, aku terbangun sama seperti dua tahun belakangan ini. Entah karena kalender di telepon genggamku yang terlanjur ku set untuk mengingatkan diri, atau mungkin aku yang terlalu munafik untuk mengakui masih saja ada rasa itu di hati.

Pikiranku sendiri tak bisa bertoleransi dengan janjiku pada diri sendiri ketika pesan pesan singkatmu yang perlahan ku baca ulang. Entah sudah berapa lama itu ku simpan. Tanpa tujuan. Tapi aku ingat momen itu, saat tiap bunyi pesan darimu di selalu ku tunggu. Dag Dig Dug...

“Aku tak berubah, sama seperti dulu”, ungkapmu kala itu. Aku hanya bisa membaca pesan singkatmu itu dengan senyum. Dingin malam yang menusuk pula membangkitkan kerinduan lama yang sudah ranum.

"Aku malah sudah berubah”, balasku saat itu. Ya, aku memang berubah, tapi tak sepenuhnya berubah. Seperti Surabaya yang selalu saja kau anggap indah kala petang menyapa. Akan tetap Surabaya walau polusi udara merenggut udara segarnya.

Perubahanku, aku membanggakannya. Walau terbesit di benakku akan keraguanmu dari nada rangkaian indah kata-kata. “Maaf aku sok tahu”, entah berapa kali ku ucap itu kepadamu. Aku memang tak seperti dulu, selalu aktif mencari kabarmu tuk selalu berusaha ada saat kau butuh. Dari teman-teman dekatmu, ataupun status facebook milikmu, selalu ku dapati info terbaru. Dengan itu, aku punya alasan menghubungimu. Tidak hanya sekadar basa basi menanyakan kabar terbaru. Tapi untuk meringankan beban pikiranmu, walau aku pun tahu sepatah kata dari pesanku tak cukup berarti untukmu.

Tapi sejujurnya, dari semua itu aku ingin menemuimu. Setidaknya niat kecil itu terbesit kala ku langkahkan kakiku menyusuri stasiun dengan sendu. Namun hingga saat terakhir liburanku, aku tak bisa mengatakan itu kepadamu. Jangankan mengajakmu bertemu, sikapmu yang mendingin saja sudah membuat lidahku kelu. Tapi aku tak ingin banyak mengeluh. Aku tahu, mungkin takdir tak membuat rasaku ini menjadi rasamu.

Hari ini, ku lepaskan kau dari hatiku.


--------------------

“Fa, kamu sekarang ama siapa?”, berbagai pertanyaan yang kerap kali mengganggu. Mengganggu, karena akan mengingatkanku pada dirimu. Menelisik kenangan lama yang telah kau isyaratkan tuk kau tutupi dengan kenangan barumu yang mungkin jauh lebih indah. Indah? Aku hanya bisa menerka. Tatkala dirimu yang tak lagi terbuka, bagaimana aku tahu hatimu sedang terluka.

“Bukannya kamu sedang dekat sama si anu, si itu ...” , begitu ucapan penolakanmu dua tahun silam kau ungkapkan. Padahal sudah jelas, tanpa secercah kesangsian yang menggilas tiap kata yang ku retas. Tapi tidak bagimu.

“Fa, kamu pulang sama siapa?”

“Sendirian”

“Boleh nebeng ya...”

“Hmm, gimana ya.. Baiklah”

Percakapan yang seringkali menghadangku. Dan kau pasti tahu aku tak kuasa menolak permintaan bantuan teman-temanku. Walau aku selalu berharap kau tak pernah melihatku jika begitu. Kau tahu itu, atau mungkin memang tak sekalipun mau tahu. Entahlah. Tapi tahukah kau saat itu? Aku hanya tak ingin dianggap baik hanya kepadamu, hanya karena kau adalah yang spesial di hatiku.

Mereka teman-temanku. Dan aku tak ingin mereka kehilanganku hanya karenamu.

Dan itulah juga kenapa hari ini, ku lepaskan kau dari hatiku.

Aku ingin seperti Pras, tokoh dalam novel Istana Kedua karya Asma Nadia. Tahukah kau, dia tak pernah jatuh cinta. Atau boleh dikatakan setidaknya dia membelenggu hatinya untuk memiliki rasa indah. Bahkan dikisahkan diapun hingga dianggap kuno oleh rekan di kampusnya. Padahal tujuannya satu, tujuan mulia dengan penuh pengorbanan di dalamnya. Dia menyadari betul sulitnya bersikap setia. Karenanya, dia putuskan cinta pertamanya hanya untuk pendamping hidupnya. Agar tak terbesit sisa-sisa rasa dengan yang lain di luar sana.

Awalnya aku tak kuasa mengikuti jejak Pras. Dia membukukan tiap untaian cintanya, bait-bait indah dari rasa kepada seseorang yang tidaklah tahu siapa dan dimana. Hingga tiba saatnya, buku itu diserahkan pada permaisuri yang dipinangnya. Buku itupun menjadi saksi setianya.

Aku terlanjur, memiliki rasa ini untukmu. Itu masalah utamaku. Bagaimana mencegah keterlanjuran itu?

Pras memang tak lebih dari tokoh novel. Yang ada dalam sebuah imajinasi keren. Tapi tidak. Dimana pun Pangeran harus melawan sesuatu yang jahat sebelum menyelamatkan Puteri idamannya. Dan jika sesuatu yang jahat itu adalah diriku sendiri aku pun rela untuk itu. Termasuk jika rasa kepadamu itulah yang harus ku lucuti dengan nyanyian kebangkitanku.

“Aku ingin seperti Pras. Bukan karena dia memilih istana kedua, tapi dia hanya membuat kata-kata indah penuh cinta hanya tuk seorang saja”, itu yang ada di benakku saat membaca novel itu.

Dan tahukah kau, aku memang sudah berubah. Keinginanku, adalah kamus dalam prinsipku yang akan ku ikuti selagi maut belum jua merenggut waktuku.

Karena itu, hari ini ku lepaskan kau dari hatiku.

Jumat, 21 Januari 2011

Sayap- sayap Patah Para Pencari Cinta


Bersama kita lewati
Tiap momen dengan hati
Perlahan saling mengerti
Hingga terpaut penuh arti

“Pak, kelompoknya milih sendiri ya”, suara yang sudah tak asing lagi. Pasti mereka. Mereka? Siapa sih yang tak kenal mereka? Kemanapun mereka bersama. Melangkahkan kaki penuh canda tawa. Dihiasi keceriaan dan kekompakan indah. Ya siapa lagi kalau bukan mereka.

Mereka memang komplit. Anna yang rajin, Vira yang keibuan, Nana yang manja dan Nuri yang suka bergosip ria. Apalagi kepandaian mereka pun sudah tak perlu ditanya. Tiap ulangan pasti tak tercantum nama mereka di daftar remedial. Mereka pun ibarat primadona di kelasku.

“Kan sudah Bapak bilang, satu kelompok lima anak”, ujar Pak Nazril, guru Bahasa Indonesia kami saat itu.

“Tapi Pak, kami sudah cukup berempat saja. Boleh kan Pak”, balas Nana dengan yakinnya.

“Huuuuh”, reriuhan kelas membalas pertanyaan Nana tadi. Memang begitulah mereka, sangat ekslusif. Mereka selalu berkelompok bersama. Pelajaran apapun itu, kecuali guru kami kebetulan tegas dalam mengambil langkah. Itulah yang menyebabkan beberapa kawan kurang simpati kepada mereka. 
Namun, tidak demikian denganku. Karena sedikitpun keekslusifan mereka tak membuat mereka pelit. Mereka murah hati mengajari teman lain bila bertanya. Memberi jawaban tugas atau PR pun juga.
“An, kenapa sich kamu dan teman-teman kelompokmu itu bisa kompak abiisss?”, tanyaku waktu itu. Aku memang penasaran. Aku sudah sejak lama menginginkan memiliki teman teman dekat yang kompak seperti itu. Saling berbagi, saling membantu, dan saling mengingatkan tuk kepentingan semua. Apakah karena mereka perempuan? Dan apakah memang karena para lelaki tak bisa seperti itu?

“Hmm gimana ya”, Anna mengerutkan dahinya. Agaknya dia bingung. “Mungkin karena kami memiliki kesukaan yang sama”, jawabnya dengan cengengesan.

“Apaan emang?”

“Gini Fa, kami itu sukaaaanya Matematika…” , jawab Anna dengan wajah berbinar binar.

“Gila,, matematika disukain? Aku aja akan tasyakuran tujuh hari tujuh malam kalau Matematika dihapus dari peredaran pelajaran SMA”, selaku dalam hati.

“Sukaa film Korea”, tambahnya.

“Iya, Fa, apalagi yayangku Kim Boom yang manis itu hahaha”, sela si Nana.

“Hushh dia milikku, bukan milikmu”, balas Nuri, riuh.

“Betul betul betul”, tambah Vira membenarkan dan bergaya Upin Ipin.

“Dan yang paling penting Fa….”

“Yang paling penting?”, tanyaku balik, penasaran.

“Iya.. Penting buanget nich Fa..”

“Ckckck, naon neng emangna?” balasku, geregetan.

“Kami sama-sama suka cowoook”, seru Nuri dengan lantang. Lainnya pun mengikuti dengan cekikian tak kalah lantang. Anna yang tertawa ala kuda, Vira ala Mak lampir, Nuri ala presenter silet, dan Nana yang malu-malu hingga ketawanya tak sedikitpun memperlihatkan giginya. Saking lantangnya, hingga beberapa anak yang saat itu di kelas melihat ke arah kami.

“Dasar anak perempuan gila, beginilah”, pikirku. Tapi tak bisalah disebut gila. Mana ada orang gila yang selalu lancar ulangan ketika yang lain bercucuran keringat tanda tak mampu, mana ada orang gila yang rajin belajar bersama ketika yang lain menikmati suguhan sinetron di depan layar kaca. Mana ada? Jika ada mereka itulah buktinya. hahaha

Betapapun uniknya mereka, aku masih penasaran bagaimana mereka membangun kekompakan macam itu. Sedang aku, hanya merasa cocok dengan orang tertentu saja dari kaum Adam. Selebihnya mereka tertutup, tidak bisa diajak berbagi, hanya ingin berbagi kesenangan saja. Bagaimana bisa kompak kalau begitu adanya?

“Hei hei, aku masuk kelompok kalian ya bahasa Indonesianya. Dengan begitu kelompok kalian akan pas lima orang”,rayuku. Aku memang ingin tertarik berkelompok dengan mereka. Siapa tahu ketularan rajin. hihi

“Gimana ya. Hmm… Gimana nich guys?”, Anna bertanya balik kepada yang lain.
Mereka berbisik-bisik selama beberapa menit. Dan akhirnya mereka menyetujuiku.

“Lebay amat, gitu aja pake rapat kabinet”, ledekku dengan cengingisan.

“Terserah kami donk”, balas Nana.

Akhirnya aku bisa sekelompok dengan mereka. Awalnya hanya dalam pelajaran bahasa Indonesia, namun setelah waktu berjalan, aku pun terus mencoba hingga dalam pelajaran lain aku diterima lagi untuk satu kelompok dengan mereka.

Tak mudah memang, apalagi bagi anak laki-laki sepertiku masuk di kelompok super ekslusif seperti mereka. Namun waktu berjalan tak sesuai rencana awal. Mereka masih tertutup dan sering berbisik-bisik di depanku.

Dan rumput hijau yang bergoyang menguning sudah
Waktu telah berjalan sesuai jalurnya
Tapi tertutup jua peti hati itu
Terkunci rapat dengan balutan filosofi yang membeku

Setahun berlalu. Kami tak lagi satu kelas. Komunikasi terputus, tersisa memori memori yang aus. Hingga suatu malam, tiba-tiba Anna mengirimu pesan.

“Fa, aku pengen curhat”, tulisnya singkat.

“Yuup, silahkan”, balasku sambil terheran-heran bukan kepalang.

Malam itu diceritakanlah olehnya semuanya. Cerita nyata yang tak terbayangkan siapapun juga tentang mereka. Cerita fenomena anak muda yang tak asing tersampaikan sebagai ide cerita dalam sinetron di layar kaca. Tentang apakah ini? Tentang satu hal, yaitu tentang cinta.

Usut punya usut ternyata tiga dari mereka menyukai orang yang sama. “Itu sudah sejak tahun lalu”, jelas Anna. Orang yang sama? Apakah begitu dekatnya mereka hingga kriteria yang disukai hati juga sama?

“Mengapa baru sekarang ada konflik?”, tanyaku penasaran.

“Karena baru kemarin-kemarin kami sharing masalah ini”.

Parah. Benar adanya saat ku cek lagi keesokan harinya. Sesuai penuturan Anna, mereka terpecah belah. Bak kawanan burung yang selalu terbang bersama, mereka tak lagi sejalan. Satu sama lain saling curiga, tak lagi percaya.

“Bahkan Nuri bilang Fa, persaingan dalam cinta itu tak mengenal batas. Entah itu persaudaraan ataupun sekadar persahabatan. Sejak itu dia tak pernah menyapa. Anna dan Nana sudah mau mengalah, tapi…”, celetuk Vira yang ku temui di parkiran seusai sekolah. Dia sudah menengahkan, tapi apa daya. Ibarat pepatah lama, cinta agaknya membuat satu diantara mereka buta.

“Trus gimana Fa?”, tambah Anna dengan suara lirih.

“Mungkin waktu kan mengubah segalanya”, jawabku singkat. Ya, tak ada lagi cara. Jika sudah bersikeras seperti itu.

Baja keras itu pun kini seperti buih
Terombang ambing terhantam perih
Kala gelombang dahsyat bernama cinta menyapa
Merusak simfoni akan nada-nada indahnya

Sadar disukai para primadona, lelaki itu tampaknya bersikap bijaksana. Dipilihnya salah satu dengan segera. Nuri kecewa, demikian pula Anna walau hanya bisa memendamnya seribu bahasa. Tapi Vira menganggap inilah akhir pertengkaran mereka. Ialah Guntur namanya. Cowok blasteran Indo-Jerman ini memang ramah, gokil dan santun. Pantaslah jika Empat Srikandi itu hingga sempat saling tak tegur sapa. Tapi haruskah sampai begitu?

Dulu kita sahabat berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu kupu
Kini kita tlah berjalan berjauh jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin kita terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku ….(adapted by lyric of Sindentocsa)

Seminggu jelang UAN, aku melihat mereka bersama. Berpegangan tangan membentuk lingkaran di halaman belakang sekolah. Dengan perlahan aku menguping pembicaraan mereka. Penasaran. Apalagi setelah mendengar Nana mengakhiri kisahnya dengan Guntur.

“Kita mungkin memang sama- sama para pencari cinta. Terbang bersama laksana kawanan burung di angkasa. Tapi kala salah satu sayap kawan kita patah, kita harus tetap bersamanya. Bagaimanapun caranya”, ucap Vira dengan bijaknya.

“Iya Vir, aku minta maaf ya. Mungkin aku terlalu egois kepada kalian teman-teman”, celetuk Nuri.

“Aku juga. Aku janji akan berusaha menjaga cinta ini demi kalian kawan. Karena kita menyukai orang yang sama, jadi aku hanya mewakili kalian tuk mendampinginya”, balas Nana dengan sesenggukan menahan haru. Guntur tlah berjanji menikahi Nana setelah kuliah, tapi dengan syarat hubungan mereka diakhiri sementara.

“Kita baikaaan”, teriak mereka kompak.

Aku senang, akhir yang bahagia. Tuk semua seperti semula. Dan kini, pelajaran pun tlah ku dapat dari mereka. Sebuah pelajaran akan egosime cinta, yang takkan bisa diungkapkan dengan kata. Karena kala cinta menyapa dan semua terbutakan, hanya pikiran jernih yang bisa mengatasinya.