Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 September 2013

Sebuah Poin Kontribusi

Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu.” (HR. Al Bukhari)

Ada banyak hal yang belum kita tahu. Ada banyak ketrampilan yang kita belum bisa. Ada banyak wawasan yang kita lewatkan. Sementara ada ribuan buku yang terbit tiap hari. Ada miliaran ilmu yang berkembang setiap waktu. Ada miliaran manusia yang kita belum kenal. Ada jutaan tempat yang belum kita kunjungi. Ada banyak kata yang belum sempat terucap dan tersampaikan. Ada banyak buah pikiran yang belum tersalurkan. Ada banyak ide yang belum kita kemukakan. Ada pula banyak rancang karya yang belum kita wujudkan. Dan Demi Allah, ada banyak ilmu yang belum kita amalkan…

Padahal Allah telah menyediakan tempat belajar: ada banyak masjid tanpa jamaah dan pemakmur. Ada banyak TPA/TPQ yang kekurangan pengajar. Ada lembaga dakwah kampus yang terkesan berkubang persaingan hanya karena kurang orang. Himpunan yang krisis kaderisasi. UKM dan lab yang sepi peminat. Riset kampus yang makin tidak terlihat. Prestasi kampus baik nasional dan internasional yang perlahan makin jarang didapat.
Masih Banyak yang Butuh Kita
Sekitar kita masih banyak angka putus sekolah. Tengok saja bocah-bocah di PGA, Sukabirus dan sekitarnya. Mereka manis-manis. Bermain tertawa meringis. Tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi Sekolah memang gratis, tetapi banyak faktor membuatnya masih dianggap kurang efektif. Sarjana pengangguran. Walau sebenarnya lebih banyak pengangguran akibat minimnya pendidikan.


Anak-anak sekitar kampus

Itu yang dekat dan kecil. Ada yang dekat tapi besar. Misalnya tetangga kita (warga) yang masih terjerat kemiskinan di sekitar kampus. Tingginya biaya hidup membuat mereka kian tergerus. Sementara kita yang datang dari keluarga cukup berada perlahan menciptakan jurang pemisah yang kian menganga setiap tahunnya. Rumah mereka sudah sempit, sangat amat sederhana pula. Sementara tiap tahun bermunculan bangunan baru tuk hunian mahasiswa. Dan semuanya perlahan menutup rumah-rumah mereka dari sinar mentari yang ada. Menghalangi senja sebagai pemandangan indah kala sore menyapa. Hidup serba ada terkadang melalaikan kita. Meremehkan mereka. Mengacuhkan mereka. Membuat mereka seakan pribumi hina yang tak punya apa-apa.

Ratusan anak jalanan dan para pengemis lalu lalang di perempatan jalan di tiap sudut kota Bandung. Beberapa memilih menjadi peminta-minta. Dan kita hanya mencap-nya hina tanpa bisa membantu kepastian masa depan yang lebih cerah. Mental mereka sudah merasa nyaman di zonanya. Dan jangan harap pemandangan ini bisa berkurang setiap tahunnya jika tidak ada yang mencoba memperbaikinya.


Kriminalitas merajalela. Geng motor adalah cerita lama, tetapi tetap eksis jika disimak dengan seksama. Kebanyakan remaja. Putus sekolah. Putus penanganan orang tua. Dan putus segala-galanya. Angka pecandu narkoba juga cukup tinggi. Sama halnya dengan pertumbuhan angka saudari kita yang merelakan mahkota terindahnya dijual demi menyambung hidup atau sekadar mengikuti gaya. 

Tentang bencana? Banjir menjadi langganan di Baleendah. Sebagian Dayeuhkolot pun merasakannya. Lalu sudah bertahun-tahun kampus kita ada, masihkah kita menutup mata
Banjir di Dayeuhkolot 2013


Yang jauh di mata tapi harusnya dekat di hati? Jutaan pengungsi Palestina merenggang nyawa. Muslim Mesir yang dibantai diktator penguasa. Muslim minoritas rohingya yang hidup penuh derita. Muslimah yang diteror, ditarik jilbabnya dan diperkosa. Demi Allah, ada banyak hal yang akan ditanyakan-Nya kepada kita, soal ukhuwah, persaudaraan, cinta, dan kepedulian kita… 

Pantaskah Kita?
“Saya ‘kan juga masih bodoh soal agama, belum layak ambil bagian dalam dakwah. Sepantasnya saya didakwahi dulu sampai benar-benar bisa. Baru memang kalau nanti saya bisa ceramah, ajak saya berdakwah.”
Ketahuilah, kalau dakwah hanya ceramah, maka dunia hanya perlu lidah; tak perlu anggota badan yang lainnya!

"Saya khan masih mahasiswa. Amanah orang tua harus dijaga. Fokus kuliah. Tak perlulah berlelah-lelah mengurus lainnya. "

Ketahuilah, kuliah hanya tangga untuk membuka wawasan. Lalu tentang kesuksesan, kita yang membangunnya perlahan.

Kita bisa apa? Mari berkontribusi dalam karya..

Ada seseorang di antara kita yang hanya bisa mengebut, tak ada keterampilan lainnya. Betapa berharganya dia sebagai penjemput ustadz pengisi pengajian yang rumahnya memang jauh. 

Pun ada yang agak ‘pelit’ (baca: hati-hati) soal uang. Ada jabatan bendahara organisasi menanti tuk menjadi kontribusi. 


Pun ketika ada seseorang yang suka jajan, dialah referansi sie konsumsi kepanitiaan untuk mencari konsumsi terlezat dan termurah. 


Pun ketika ada seseorang yang suka bertualang, dia referensi dan surveyor sopir, bukanlah kita perlu sie transportasi jika himpunan hendak mengadakan kegiatan diluar?


Pun kalau ada yang bercita-cita menjadi pebisnis sukses, mengapa tak sejak sekarang belajar menjadi sie dana usaha?  Atau malah membantu warga memulai usaha dengan berinvestasi membantu permodalannya.


Kalau ada yang pandai komunikasi dan bergaul kok tidak mencoba melobi kaum kaya untuk membayar infaq dan zakat untuk diserahkan ke lembaga sosial hingga disalurkan mereka yang membutuhkannya? 


Yang bisa mengaji walau tak terlalu lancar, bisa membantu memberantas buta huruf walau hanya mengajar iqro'




Begitu banyak yang bisa kita lakukan. Bagaimanapun bentuk dan kemasannya, jika niat lillahi ta'ala, ketahuilah ini bernama dakwah. Buahnya pahala. Muaranya surga.


“Hai orang yang berkemul selimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-mu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-mu, bersabarlah! (QS. Al Muddatstir 1-7).
Mereka Sudah, Bagaimana Dengan Kita
Mari kita tengoklah ke belakang. Investasi Ustman bin Affan ra telah memakmurkan seluruh Madinah. Enterpreneurship Abdurrahman bin Auf ra telah membangun keseimbangan pasar yang sebelumnya dikungkung hegemoni Yahudi Madinah. Keuletan petani seperti Abu Thalhah ra telah menjamin ketahanan pangan Madinah. Kemahiran Asy Syifa’ binti Abdillah ra telah menjaga kesehatan penduduk Madinah. Administrasi ala Umar bin Al Khaththab membuat negerinya sentosa. Kejelian accounting seorang Abu Ubaidah ra telah menjaminkan keadilan dan pemeratan ekonomi masyarakat. Kelihaian perang Khalid bin Walid ra telah membuka wilayah-wilayah baru. Kecerdikan diplomasi Amr ibn Al Ash ra telah menaklukkan banyak tanah tanpa pertumpahan darah.
Lalu di sekitar kita?
Kegiatan di sebuah TPA yang dikelola mahasiswa
Relawan Cakrawala Baca, Pembinaan Pendidikan di daerah terpencil
Dokumentasi Relawan Telkom Mengajar di Sebuah Sekolah Dasar
Desa Binaan, Prakarsa BEM IT Telkom
dan lain sebagainya

Sebuah Poin Kontribusi
Berkontribusi itu menyenangkan. Membantu kita mendapatkan pemaknaan atas apa yang kita telah dapatkan. Membantu kita menjaga ilmu yang kita dapatkan. Memperdalam dan memahami bukan sekadar menghafal.

Berbagai lelah mengkaji dasar teorema dan ratusan kali percobaan alat berbuah manis ketika teman-teman Robotika menjadi juara. Pun dengan pengorbanan para langganan PIMNAS yang memutar otak, memancing ide kreatif untuk bisa berguna untuk sekitarnya. Para juara GEMASTIK, INAICTA dan kompetisi lainnya pun pasti merasakan.

Prestasi Lab 

Imagine Cup

Ayo cari tahu apa yang belum kita tahu. Belajar yang kita belum bisa. Salurkan buah pikiran yang belum tersalurkan. Kemukakan ide dan gagasan untuk perubahan. Wujudkan karya yang belum kita wujudkan. Amalkan segala yang kita bisa tahu tahu. Sekecil apapun. Sekecil apapun...

Mari kerjakan semuanya yang kau bisa sampai batas kelelahan menghampiri. Malam ini, saat kita rasakan pegal di punggung, ngilu di kaki, dan nyeri di sendi, berbaringlah bertafakkur di tempat tidur. Bermuhasabah-lah merilekskan tubuh. Rasakan kenyamanan istirahat yang sangat. 



Bila memiliki banyak harta, kita akan menjaga harta. Namun jika memiliki banyak ilmu, maka ilmu lah yang akan menjaga kita. 

Dan sebuah poin kontribusi adalah aktualisasi nyata dari keilmuan itu akan menjaga kita bisa bisa berguna dimanapun dan kapanpun kita berada




dikembangkan dari "Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim" Bab Memintal Seutas Benang, Judulnya "Kontribusi", Salim A. Fillah, 2006, cetakan I 2007, hlm. 151-154)

Senin, 12 Agustus 2013

When It's Been Too Worth

Well, ini adalah kisah nyata kedua yang kudapat setelah mendapatkan inspirasi disini dari kisah hidup seorang tetangga di Lumajang. 

TRUE STORY :) 

Ujung diantara ujung yang paling ujung nikmat dunia memang merasakan bahagia. Tanpanya, harta yang ada, sehat yang dirasa, dan waktu yang lapang terasa hampa. Baru beberapa bulan lalu keluarganya berduka. Ibunya kini menemani Sang Ayah dipanggil sang kuasa dengan penyakit yang cukup lama dilawan di sisa-sisa akhir hidupnya, diabetes.

Tak berhenti sampai disitu, dua orang kakaknya, serta seorang adiknya juga didiagnosa memiliki kadar gula yang juga bermasalah. Seketika ia pun berkaca. Dilihatnya tampilan tubuhnya sendiri.

"Allahu Rabbi", pikirnya dalam hati. Ia masih ingat betul perjuangannya hari itu. Ketika hari dimana ia belum diangkat menjadi salah satu pendidik resmi. Ia rela kesana kemari meninggalkan anak istri, ke luar kota beberapa hari, kembali lagi dan lagi ikut seminar, pelatihan, dan berbagai acara yang dijalani dari kegiatan utamanya ikut sebagai pengajar sebuah bimbingan belajar di kota kecil ini.

Dan kini, perjuangan demi perjuangan yang berlalu telah terjawab sudah. Perlahan, kesejahteraan keluarga membaik dengan diangkatnya ia beserta sang istri sebagai guru tetap (PNS). Rumah yang dahulunya kecil, ia bisa renovasi hingga kini megah. Kendaraan yang dulunya seadanya bisa ia ganti hingga kini menjadi mewah. Dan perlahan-lahan kenikmatan yang ia damba bisa ia tuai dengan kerja kerasnya. Keluarganya pun makin harmonis, dengan seorang putra dan dua orang putri cantik yang menghiasinya.

Tapi sungguh, bayang bayang penyakit gula yang mematikan ini menghantuinya. Setelah dicek ternyata memang sama seperti saudara saudarinya, ia memiliki kecenderungan itu. Faktor turunan (genetik) memang mempunyai peranan penting terhadap berkembangnya penyakit diabetes pada seseorang. Selain itu lingkungan juga berpengaruh. Kesejahteraan telah membuatnya memiliki berat badan yang cukup gemuk.

Terkadang, banyak orang beranggapan sangat menyebalkan ketika memiliki materi tapi kita tidak bisa menikmatinya secara maksimal. Dengan dalih itulah beragam macam kenikmatan mereka upayakan. Tetapi karena itu pula justru terkadang silaunya dalam silaunya kenikmatan, kesehatan tergadaikan. Jika memang maut menjemput, maka dokter terbaik pun hanya bisa terdiam bukan?

Dan ternyata dia belajar memahaminya pelan-pelan. Dia mencoba yakinkan dirinya, bahwa dia tak akan diam melawan ancaman penyakitnya. Dia tak tahu memang kapan ajalnya datang, tapi ia ingin setidaknya ketika saat itu tiba ia bisa melihat buah hatinya menggapai cita-cita mereka. Maka ia pun berusaha. Melawan dirinya sendiri. Melawan segala nikmat yang harusnya halal, dan perlahan ia haramkan demi kesehatan.

Dia belajar mengubah pola hidupnya. Dari mulai olahraga rutin secara ringan, hingga jogging selepas shubuh datang. Agar bisa tepat waktu lari pagi, dia pun mulai membiasakan diri jamaah shubuh di masjid. Perlahan, ia pun merasakan nikmatnya berjamaah. Dan sejak saat itu ia rutin berjamaah.

Untuk mengecek perkembangan tubuhnya, ia pun rutin memeriksa darahnya. Mengatur makanan yang dilahapnya. Sekalipun ia bisa membeli, ia atur porsi secukupnya. Ia tahan dirinya dengan puasa sunnah.

Tahukah kini bagaimana kondisinya?
Dia semakin bugar. Berat badannya turun. Kadar gulanya cukup bagus dan teratur. Dia jauh terkesan kekar dibanding sebelumnya yang bisa disebut tambun. Dan tahukah kawan, Ramadhan kali ini, adalah Ramadhan pertamanya menjadi imam tarawih di musholla kecil sekitar rumahku, bergantian jadwal dengan para imam lainnya. Perlahan ia sering berjamaah, ia pun dipercaya menjadi imam. Karena asalnya memang cukup memilii dasar agama di keluarganya, menjadi da'i baru di RT kami pun tidak masalah.

Ketika kenikmatan itu begitu berharga
Kawan, ketika kita pikirkan. Mungkin ada yang memilih jalan yang berbeda jika memilih menjadi dia. Dengan kesejahteraan yang ada, beberapa mungkin enggan memilih menahan diri dari nikmatnya makanan dan berlepas dari lelahnya mengolah badan. Pasalnya, dokter terbaik bisa mereka datangkan. Obat terbaik bisa terbeli. Namun apa daya, obat terbaik dan dokter terbaik pun tidak akan bisa menyembuhkan, ketika raga ini sudah tidak kuat menahan beban.



Tidak selalu orang yang memilih sepertinya akan berakhir baik memang. Namun Allah tidak akan pernah mengkhianati perjuangan seorang hamba-Nya bukan? Umur Allah yang tentukan. Namun kekuatan raga tuk bertahan, kita bisa ikhtiarkan.

Setidaknya, sosok di atas benar-benar mengisahkan ketika kenikmatan yang ia dapati benar-benar ia syukuri (dalam hal ini kejahteraan) yakni dengan ikhtiar menjaga kesehatan, maka setidaknya tubuhnya bisa makin bugar, dan salah satu bonusnya ia bisa merasakan manisnya iman.


Wallahu a'lam.









Minggu, 16 Juni 2013

Ku Petik Bintang



Setiap surat yang dihafal akan diberi tanda silang di lembaran hasil hafalan. Itulah yang kami tangkap sejak beberapa hari sebuah kertas bersama kolom-kolom dengan barisan surat juz amma sebagai keterangan di atasnya. Kertas itu ditempel di dinding kelas. Tidak terlalu tinggi, sehingga untuk ukuran anak sekolah dasar mudah melihatnya hanya dengan berdiri biasa. Juga tidak terlalu rendah sehingga cukup susah berbuat curang untuk menuliskan bintang sendiri di samping nama. Dan disinilah kisah ini bermula.

Satu demi satu dari kami melihatnya dengan seksama, berapa bintang yang tlah ada di samping nama-namanya. Entah bagaimana, setiap hari seakan bintang itu semakin indah dipandang mata. Dan sang bintang menjadi primadona dan topik menarik setiap kali para asatidz membubuhkannnya di samping nama-nama yang ada.

Perlahan namun pasti, ada yang berubah. Tanpa sadar kami semakin berpacu meningkatkan hafalan yang ada. Selintas dipikir demi apa? Bintang-bintang di atas kertas? Bahkan tidak ada iming-iming hadiah ketika bintang itu sudah penuh. Aku tak tahu. Tetapi aku menjadi satu diantara yang semakin semangat melihat bintang itu ada bersanding dengan namaku.

Oh ya, jangan bayangkan kami menghafal dengan metode tertentu. Tidak ada metode macam-macam waktu itu kecuali baca, dan kembali baca. Ulang dan kembali mengulang. Kami juga tidak memiliki rekaman murottal Syeikh dari Timur Tengah seperti yang sekarang mudah didapatkan. Tidak ada kawan J

Namun yang ada sedikit demi sedikit, setoran hafalan menjadi salah satu momen yang mengasyikkan. Semua teman-teman akan mengerubungi asatidz ketika ia akan memberi bintang di kertas itu. Dan karena jika dan hanya jika satu surat terlampaui sebuah bintang akan disematkan, maka perjalanan menghafal kami menjadi momen yang spesial.

Hingga akhirnya bintang demi bintang aku dapatkan, kecuali di kolom yang satu itu. Kolom itu adalah Surah Al Fajr. Begitu panjang dan membingungkan buatku. Malam itu aku putus asa, mengapa masih saja salah dan kembali salah. Saat kuceritakan ke Abi, untungnya ia membantu. Hari demi hari selanjutnya sesekali beliau menyimak dan membetulkan bacaanku. Di beberapa kesempatan pun ketika menjadi imam shalat beliau bacakan Surah Al Fajr sehingga dengan mudah disimak dan diikuti dalam hati.

“Mas Faiz hafal bagaimana hafal Al Fajr?”, pagi itu salah satu ustadzah menanyaiku. “Belum, masih sering lupa”. “Gapapa dicoba”, katanya. Aku pun setoran hafalan, di depan mata teman-teman yang penasaran apakah aku bisa menghafalkan surat yang di kelas kami belum ada yang sampai kesana.

Dan ternyata benar. Aku lupa. Hanya setengah. Mukaku memerah.

“Lupa, hehehe, nyerah deh”, ucapku lirih, rasanya kecewa dan bercampur malu tapi berusaha kututupi dengan simpul senyumku.

Aku kaget yang dilakukan Ustadzah itu. Benar-benar tak terpikirkan sebelumnya. Ia gambarkan setengah bintang di kolom Al Fajr.

Katanya, “karena Mas Faiz sudah hafal setengah bintangnya setengah dulu ya. Tapi karena sudah berusaha ini hadiah dari ustadzah”. Ia keluarkan sebuah amplop dari sakunya berisi sesuatu. Teman-teman pun iri melihatnya. Mereka mengerubungiku layaknya semut melihat gula. Aku senang. Tapi masih setengah senang. Karena rasanya belum sempurna jika masih setengah bintang adanya dan hadiah tlah didapatkan. Namun aku sangat menghargai keputusan ustadzah tersebut.

Bayangkan, malam demi malam selanjutnya Al Fajr ini semakin semangat tuk diulang dan diulang. Setengah bintang itu selalu lekat dalam ingatan. Dan amplop itu, yang membuat teman-teman iri dan juga semakin terpacu, saat itu belum sampai aku pikirkan darimana datangnya isinya.

Aku yang sekarang baru sadar pengorbanan hebat sang Ustadzah bagaimana ia bisa menyisihkan isi dompetnya sementara sekolah kami adalah sekolah swasta yang baru berdiri dimana gaji pengajarnya pun tidak menentu. Dan ketahuilah kawan, kami adalah angkatan pertama sekolah itu. Bayangkan betapa sulitnya perjuangan mereka saat itu.

Mukhoyyam Quran

Malam Ahad lalu, Allah menakdirkan aku bisa ikut Mukhoyyam Quran. Salah satu momen yang spesial ialah ketika Ust Ja’far, imam Qiyamul Lail ternyata membaca semua surah juz 30. Allahu Akbar!

Aku merasa terbawa ke suasana lama ketika surat demi surat dibacakan.

Selain Al Fajr yang mengingatkan pada kenangan asatidzh di SDIT Ar Rahmah dulu, An Naba adalah surat yang paling banyak kenangan. Salah satunya ketika murajaah bersama adik kecilku. Dia ayat pertama, aku ayat kedua, begitu seterusnya hingga habis dan berganti surat. Al Buruuj, Ath Thariq dan beberapa surat mengingatkan pada irama ketika Abi menjadi imam shalatku. Entah kapan terakhir aku menjadi makmum di belakangnya karena melihat kalender sudah cukup lama ternyata tidak pulang.

Kangen pulang T.T

Kangen masa lalu

Kangen semangat hafalan lagi


Dan yang paling penting kangen perjuangannya. Ketika satu demi satu surat dihafal dan bintang didapatkan. Karena baru sadar progress pasca SD belum ada apa-apanya.

Ya Allah, semoga engkau cukupkan umur untuk melengkapi cita-cita yang ada sejak masa lalu ini. Bukan hanya cita-citaku namun cita cita orang tua yang memilihkan sekolah terbaik untukku dan para asatidz yang pertama mengajarkanku menghafal ayat-ayat-Mu.

Malam minggu yang indah tlah berlalu, dan kini saatnya merajut rindu itu dan membuat bintang demi bintang sendiri hingga penuh 30 juz. Semoga cukup umur. Aamiin


Ku petik bintang

Untuk ku simpan

Cahayanya tenang

Berikan ku alasan berjuang

Sebagai pengingat harapan

Juga sebagai jawaban 

sebuah impian

Selasa, 30 April 2013

Ketika Bersama Wajah Teduh

"Salam kenal", ia memberikan salam sembari menjabat tangan seusai menyebutkan namanya. Beragam respon terlihat dari wajah-wajah muda. Kaku, dan asing. Mungkin karena ini yang pertama. Nongkrong di tempat seperti ini untuk berbincang? Well.

Mereka berbincang ringan. Wajah teduh mengatur pembicaraan. Ia pandai. Terkesan dari bobot pembicaraan yang dalam tetapi tidak menjemukan. Walau ini pertama kali berjumpa, rasanya dekat dan akrab. Memang pertemuan kali ini bukanlah kebetulan. Allah telah merancang. Namun, kesediaan semua wajah menghadap membuat yang hadir disana adalah orang-orang pilihan. Bukan sembarangan. Dan wajah teduh itu meyakinkan semuanya.

Pertemuan kedua, kali ini lebih bersemangat. Tepatnya penasaran. Apa yang hendak wajah teduh sampaikan. Satu persatu wajah-wajah penuh gelora muda ini belum bisa menerka. Mereka kembali berkumpul dan melingkar. Ternyata wajah teduh telah sampai lebih dahulu. Ia jabat tangan semuanya, ucapkan salam dan tanyakan kabar. Doa pembuka dipanjatkan. Dan mulailah pertemuan kali ini.

Setelah mendapatkan hal tak terduga tentang keimanan dan keislaman sebelumnya, kali ini wajah-wajah muda kembali penasaran. Apalagi ketika rerumputan menjadi saksi pertemuan yang kedua. Ternyata wajah teduh kali ini menceritakan tentang niat dan ikhlas. Hal yang sebenarnya bukan tidak diketahui wajah-wajah muda, namun sering terlupa. Wajah teduh sambil tersenyum menyampaikan, "Al imaanu yazidu wa yankus", dia suatu kali juga pasti tersilap dan khilaf. Sehingga ia menuturkan agar tak pernah menutup pintu nasehat dari siapa saja, terlepas siapa yang muda ataupun tua, karena saling menasehati dalam kebaikan ibarat investasi kehidupan.

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya bersama wajah teduh semakin menarik untuk disimak. Wajah-wajah muda tak pernah absen bersamanya. Mereka kian bersemangat mencari tahu, dan mengutarakan opini yang mungkin keliru. Masalah yang ada pun dibahas bersama, dan wajah teduh selalu mengambil referensi dari Quran dan sunnah Rasul-Nya. 

Satu hal yang tak terasa, ada yang berbeda ketika pekan demi pekan berlalu. Wajah-wajah muda merasa berat untuk menjauh dari Sang Pencipta. Sehari tanpa tilawah ataupun sholat berjamaah. Wajah teduh memang tak selalu mengajak dengan kata-kata. Tetapi selalu tersirat dari wajahnya, dan tergambar dari cerita-ceritanya betapa nikmatnya menghiasi iman dengan ibadah.

Ketika wajah muda bertanya, "Kak, aku ingin menjadi sepertimu nanti", wajah teduh mengelus kepalanya. Ia merendahkan dirinya. Katanya, ia bukan apa-apa tanpa Allah yang menuntunnya. Seorang lainnya berkata, "Kak, terima kasih ya", sambil tersimpul senyum dalam wajahnya. Wajah teduh dengan kata-kata yang menentramkan. Jabat tangan, salam dan senyum yang manis di tiap pertemuan. Dan ajakan bersama teladan yang menggugah.

Wajah teduh menjawab, "Berterima kasihlah pada Allah. Kebaikan apapun yang kakak sampaikan hanya berasal dari Allah.  Juga kepada Rasulullah, serta para orang-orang yang senantiasa menjaga nikmat iman dan islam ini hingga kakak juga berkesempatan untuk berbagi dengan kalian".

Akhirnya, tibalah saatnya berpisah. Wajah-wajah muda terasa berat awalnya. Namun wajah teduh hanya berujar, bahwa hanya itu yang ia miliki dan saatnya mendapatkannya dari orang lainnya. Ia meyakinkan, hidup kita itu singkat. Jangan hanya berpuas melangkah jika bisa berlari. Raih keinginan, namun selalu ingat semuanya akan kembali kepada Ilahi.

Akhirnya semua wajah wajah muda mengikhlaskannya. Mereka berpamitan dan pergi. Di dalam hati, mereka saling mendoakan. Ketika bersama wajah teduh memang tak terlupa. Wajahnya tak hanya teduh, namun meneduhkan. Bersamanya, ketika masalah datang dan ada seperti biasa, keyakinan bahwa Allah bersama hamba yang shalat dan sabar juga makin besar. Dan kini saatnya mengukir cerita bersama wajah teduh lainnya. Semoga semangat yang sama tetap berkobar.











Selasa, 12 Maret 2013

Memori Shubuh

Serial Inspirasi Ikhwah Tangguh



Ikhwah tangguh? Mencari tahu tentangnya bisa dimulai dari apa yang dilakukannya di kala shubuh. Mengapa? Karena banyak peristiwa besar yang justru terjadi di sekitar shubuh.

Al Fatih, ia beserta pasukannya berhasil membuat banyak pihak tercengang karena dapat merebut Konstantinopel, kota dengan banyak benteng dan pertahanan yang kuat. Dan itu terjadi di kala shubuh. Saat musuh sedang terlelap dalam hangatnya selimut dan nikmatnya kasur empuk.


Rasul SAW bersabda: "Konstatinopel akan ditaklukan. Dan sebaik-baik pemimpin ialah pemimpin pasukan itu dan sebaik-baik Pasukan ialah pasukan itu" (HR Ahmad).
-------------------------------------------------------------

Kampus putih biru. Sebutan itu melekat dari seragam yang diwajibkan kami kenakan sebagai mahasiswa. Shubuh disini memang cukup dingin adanya. Aku sekian diantara ratusan bahkan yang mungkin masih sering terlelap ketika melewatinya. Namun, kali ini aku akan menceritakan tentangnya. Sosok yang Insha Allah memiliki kebiasaan yang patut diteladani.

Sebut saja Ahmad. Di pagi ini, aku melihatnya di masjid kampus melaksanakan shalat shubuh berjamaah. "Wah dia khan sudah lulus. Masih rajin sholat shubuh berjamaah", gumamku kagum.

Seketika memori ini kembali kepada momen dimana aku selalu melihatnya disini. Ketahuilah kawan, Ahmad telah lulus sebenarnya. Istimewa. 3,5 tahun dengan IPK yang "wah".

Namun di balik prestasi akademiknya, ia juga aktivis yang tidak biasa. Sosok yang tegas, ambisius dan sangat total jika dilihat dari kesungguhannya mengemban amanah sebagai aktivis dakwah. 


Terkadang membagi waktu menjadi kendala aktivis dakwah, hingga kuliah seakan terpaksa menjadi nomer dua. Namun Ahmad berbeda. Ia bisa. Dan ia bukti nyata. Boleh jadi kegiatan kuliah 3,5 tahun dengan dakwah akan menyita tenaga, dan waktunya. Namun nyatanya bahkan subuh ia masih rajin berjamaah.




Lalu bagaimana dengan kita?

Kuliah boleh jadi keteteran karena alasan amanah. Dan amanah terkadang tergadaikan karena masalah kuliah. Shalat jamaah? Jangan ditanya. Fisik ini terlampau lelah. Kantuk ini terlampau menyiksa.

STOP !

Salah satu kunci dari permasalahan klasik kita adalah manajemen waktu.

Padahal Allah telah membantu kita dengan mewajibkan shalat di lima waktu tuk senantiasa mengingatkan kita akan waktu yang berlalu.

Ahmad bisa melakukannya. Ia disiplin, dan mungkin juga susah di awalnya. Namun lihat buahnya di akhir kisah, manis bukan?

Susah?

Terlaaaaluuuu...

Bahkan belum berniat -) bertekad -) mencoba -) malah menganggapnya susah.

Melaksanakan apapun jika didasari karena Allah pasti selalu ada jalannya. Semua tersinergikan. Ibadah, dakwah maupun kuliah.

Ayo perbaiki subuh kita. Isi memori subuh ini dengan hal yang berguna. Belajar, mengulang kuliah, tilawah dan tentunya shubuh berjamaah.

Dimulai dari mengamalkan Sunnah, :
1. Berwudhu dan shalat witir sebelum tidur
2. Berdoa di sebelum dan sesudah tidur.
3. Langsung tidur daripada memperbanyak bincang malam kurang bermanfaat
4. Menjauhi begadang



“Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka, jangan coba-coba membuat Allah membuktikan jaminanNya.” (HR Muslim).



Ahmad ; Bukan tentang siapa sosoknya, namun tentang bagaimana meneladaninya
------------------------------------------------------------------------------------------------------



Kutulis untukku di masa yang akan datang, dan yang akan sekarang mencoba tuk belajar dan terus belajar  Juga untukmu kawan, yang ingin memperbaiki shubuhnya.

Memori Subuh

Tatkala mentari masih malu tuk bercahaya
Kau pinta kami sambutnya dengan ibadah
Kokok ayam menemaninya
Beserta azan subuh yang Kau jadikan lebih nyaring daripada biasanya

Duhai Robbi

Pemilik jiwa dan hati ini yang rapuh
Izinkan hamba-Mu ini memperbaiki waktu subuh
Agar kami teladani para pejuang di jalan-Mu
Sesuai sunnah Rasul-Mu





Kamis, 27 September 2012

Melihat Langit, Nothing Impossible



Melihatnya, singgasana Sang Pencipta yang mempesona. Membayangkannya, langit biru yang terhampar luas tersebut bahkan tak kuasa kita lihat sepenuhnya. Ketika mata diarahkan ke atas pun seakan terdapat banyak hal yang membuat kita tak bisa kita berkata-kata. Dari mulai awan putih yang menghiasi, hingga kedalaman angkasa yang lebih dalam daripada yang ada dalam imajinasi.




Subhanallah, maha besar Allah Sang Penguasa segalanya.



Dahulu, ketika orang melihat langit. Tak sedikit yang berkeinginan untuk bisa terbang untuk meraihnya. Perlahan akhirnya ditemukan pesawat terbang. Dari mulai yang sederhana, terbang jarak pendek, jarak menengah dan akhirnya jarak jauh. Dari mulai yang kecepatannya biasa saja, hingga ada yang melampaui suara. Semua terus berlanjut dan kini sudah ada space airplane  yang dapat mengangkasa ke luar bumi.

Ada satu hal menarik, ketika ilmu pengetahuan terus berkembang, langit yang sebenarnya tak seperti bayangan sebelumnya. Yang biru dikala mentari bercahaya, kemerahan di kala senja dan kehitaman di kala hujan turun. Ialah atmosfer yang menyelubungi Bumi dipadu dengan cahaya yang ada menjadikan warnanya seringkali berubah-ubah. Belum lagi fenomena akibat medan magnet di kutub yang bisa menghasilkan aurora pada langit. Dan ternyata ketika misteri langit sudah terpecahkan, misteri tata surya yang lebih dalam dan lebih luas lagi untuk diketahui. Bahkan mungkin lebih luas dan kompleks daripada yang pernah kita bayangkan selama ini.

Padahal kembali ke permukaan bumi, bumi yang masih sedemikian kecil dibanding objek tata surya lainnya saja belum semua misteri yang ada terpecahkan dengan teknologi dan kemampuan manusia.

Jadi tak ada yang salah jika pemikiran futurisme para artist banyak yang beranggapan kita akan keluar dari bumi dan mencari planet yang layak huni lainnya ketika populasi manusia mencapai batasnya atau bumi tak lagi layak tuk dihuni.

Nothing impossible :) Just make it closer to possible...












Sabtu, 22 September 2012

Menembus Batas



What’s wrong with falling down?
Because as long as you stand up it’ll be just fine
If you look up at the sky after falling down,
The blue sky is also today, stretching limitless and smiles to you
[One Litre Of Tears]

Tak semua hal di dunia ini bisa kita raih. Tetapi tak ada hal pula di dunia ini yang melarang kita untuk mencoba berusaha tuk meraihnya. Memang dengan izin Allah, tak ada yang tidak bisa. Tetapi tetap kadangkala ada batas ketika izin itu mungkin belum kita dapatkan di kesempatan yang sama.


You never know how close you are, so don’t stop till you can’t do anymore.

Itulah mernembus batas.
Batas yang bahkan kita sendiri tak tahu dimana
Dan itu takkan ada ketika kita tak lagi melakukan upaya, terlampau lelah berusaha dan menutup pintu harapan sebelum waktunya.
Orang yang berjaya adalah mereka yang selalu mencari peluang,
Sementara orang yang gagal selalu mencari alasan.

Ikite ne (Live On)
Zutto Ikite (Live On Forever)

Jumat, 31 Agustus 2012

Jalan Sang Pemenang





Mengubah segalanya...
Sang pemenang dengan apa yang didapatkannya...
Kebanggaan, kehormatan, kekayaan,
atau mungkin jabatan penting pun disandangnya..

Tetapi dahulu ketika jalan terjal berliku..
Menahan pandangnya jadi terpaku..
Bisakah aku? Bisakah Aku?”, ucapnya kaku..
Ia tahan harapnya walau kan harus membeku..

Karena dengan itu, semangatnya kan tetap menggebu
Diantara kejamnya jalanan terjal nan berdebu
Menggerus dada, menyayat kalbu
Namun, kan selalu ada jalan tuk sang pemenang, selalu, bagaimanapun itu



Keterbukaan era informasi membuat kita mendapatkan banyak hal dari dunia ini. Ada yang buruk, namun juga ada yang baik dan menginspirasi. Perlahan namun pasti, beberapa kisah sang pemenang silih berganti diungkap oleh media. Beberapa diantaranya sangat luar biasa. Karena bagi orang kebanyakan mungkin tidak bisa, dan tidak mungkin terlaksana. Namun nyatanya, jalan itu ada, dan atas izin Allah menuntun mereka ke pintu kemenangan yang tidak terduga.

Namun sejatinya yang penting bukan sekadar kisah mereka yang diangkat ke layar lebar, menghiasi layar kaca dan memenuhi kolom inspirasi media masa. Mereka yang berkisah pun tentulah juga ingin kisahnya bisa menggugah, bukan hanya membuat orang lain ikut kagum dan bangga. Betapapun banyaknya dan hebatnya kisah itu bisa jadi tak mengubah apa-apa. Padahal tak semua saudara kita di negeri ini bisa mengetahuinya. Masih banyak yang kurang beruntung dengan keterbatasan informasi di daerahnya. Sayang sekali bukan...?

Diantara jalan para pemenang, takkan lepas dari keberuntungan. Dan kebanyakan kita mungkin masih menganggap bahwa slogan “from zero to hero” benarlah cukup membutuhkan banyak keberuntungan. Tetapi pasti ada pengorbanan disana bukan?

Dengan kesungguhan, sesuatu yang tidak mungkin atau tidak bisa jadi sebaliknya. Banyak orang bijak demikian berujar. Tetapi kadang, memang susah melakukannya. Memang melihat para pemenang, ada sesuatu yang mereka miliki dan boleh jadi tak ada pada kita, yah kesungguhan itu.

"Apa harus menderita dulu baru gigih untuk maju le?"

Pertanyaan itu ada dari Bapakku. Aku terdiam tanpa menjawabnya. Dengan kondisi yang lebih baik, semua fasilitas ada, semua jadi kian mudah tentunya. Namun mengapa tak sesuai ya?

Sementara melihat para pemenang yang lahir dari ketiadaan seakan bagi mereka jadi mudah?

Apakah mereka hanya salah satu bentuk kuasa Allah dengan keajaiban yang diberikan-Nya?

Lalu, apakah harus menderita dulu? Apa harus from zero to hero?

Kenapa nggak bisa from fifthy to hero? atau bolehlah from hero to hero?


Ternyata semua kembali ke pribadi masing-masing kawan. Karena Allah tidak akan mengubah nasib kita, kecuali kita sendiri berperan dalam hal itu.

Yah, dengan apapun yang ada di sekitar kita, tetap kembali kepada kita sendiri akhirnya. 

Ketika kita bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita dengan baik, fasilitas, kekayaan, kemampuan lainnya,,,

Memanfaatkan dan menciptakan peluang dengan usaha kita yang tak kenal lelah,

Tentu dengan tak lupa dengan senantiasa mengharap ridho-Nya

Sudahkah mencoba? Karena mereka di luar sana mencobanya dan bisa... Lalu mengapa kita tidak bisa?
Semoga kita selalu dapat berpikir bahwa 

"Susah bukan berarti tidak bisa, maka mencoba kan selalu jadi langkah luar biasa :D "

aamiin.
Jangan lupa kawan, ternyata sejak awak kita adalah pemenang, sejak memenangi adu cepat menuju rahim Ibumelawan sperma-sperma lainnya. Sejak berjuang melawan maut sebelum hadir ke dunia di tengah angka kelahiran bayi di Indonesia yang masih rendah. Dan sejak fakta perjuangan lain yang kita miliki masing-masing. Sejak awal kita sudah menjadi pemenang, dan kenapa tidak kita lanjutkan?

 



Sabtu, 18 Agustus 2012

Maaf

Diantara langkah demi langkah sejak saat itu..
Tangisku meledak-ledak memecah pilu ...
Kau lahirkan sesosok bayi mungil penuh cinta..

Dari rahimmu, wahai muslimah yang tak kenal menyerah...

Di saat seperti ini..
Kala takbir menggema ke segala sisi...

Kau kuatkan diri menahan sakitmu..
Meregang nyawa demi buah hati yang tlah lama dirindu..

Ketika malam takbir seperti ini, banyak hal yang masuk dalam pikiranku. Satu diantaranya, mengingatkanku atas peristiwa 5 April, sekitar 20 tahun lalu.

Seorang lelaki tampak kebingungan. Keringatnya bercucuran.Saat itu engkau hendak melahirkan. Sementara tak banyak uang ia punya karena pekerjaan tetap yang belum ada. Ia kesana kemari mencari pinjaman, alhamdulillah Ibumu memiliki tabungan dan sama sekali tidak keberatan membantu proses kelahiran cucu pertamanya.

"Operasi harus dilakukan!", kata Dokter, membuat suasana semakin tegang dan hanya bisa berdoa kepada Sang Penguasa Kehidupan.

"Tidak ada jalan lain. Proses kelahiran sudah terlalu lama. Posisi bayi sungsang dan susah untuk dilahirkan secara normal seperti biasa. ", tambahnya.

Lelaki itu tampak berkonsultasi dengan Ibumu, dan beberapa kerabatmu yang ada disana. Ia tak tega melihatmu yang tampak lelah berbaring terlalu lama.

"Lakukan Dok, bismillah", ucapnya dengan pasrah.

Sang dokter pun langsung melakukan tugasnya.

Malam itu pekik takbir terdengar membahana...
Maklumlah Ramadhan telah berada pada ujungnya..
Walau perjuanganmu jauh dimulai sebelum saat itu..
Semua terduduk dan bertakbir sembari menunggu operasimu berlalu.. 

 Dan akhirnya ...........................



"Alhamdulillah telah lahir putera pertama kami, pada hari Ahad, 5 April 1992, 1 Syawal 1412 H . Kami namai dia Muhammad Faizal Ramadhan, semoga menjadi anak yang shaleh, berbakti dan berguna bagi keluarga, agama, negara dan orang-orang sekitarnya", tulis lelaki itu dalam sebuah halaman buku catatannya.

Catatan : Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. 

Hingga akhirnya, bayi itu terus tumbuh dan tumbuh, hingga berkesempatan membaca catatan itu, dan menuliskan tulisan ini.

Ia kini sudah akan memasuki masa dewasa. Masa ketika kesulitan semakin kompleks dan mengisi dan ada di tiap detik-detiknya.

Namun ia masih rapuh. Dengan semua yang ada di hadapannya. Harapanmu bersama lelaki itu, mungkin tak bisa diwujudkannya. Belum! Sekarang, ia terus berjuang untuk menjadi harapanmu. Untuk membentuk  dirinya menjadi sosok yang shaleh, berbakti, dan berguna seperti mimpimu yang takkan berubah. Sedari dulu ketika berjam-jam menunggunya tak kunjung lahir dari rahimmu hingga kini ketika kau bersitkan rindu dalam doamu.

Maafkan aku ya Allah...
Beri aku kesempatan lebih...
Untuk wujudkan harapnya seperti dulu dan kini,,
Agar tiada sesal diri ini ada disini...

Jauhkan diri ini..
Dari setiap hal yang membuatnya kecewa dan sedih...

Kuatkan aku dalam jalan-Mu.. 
Wahai Sang pembolak-balik kalbu..









Minggu, 05 Agustus 2012

Jangan Hanya Mendekat, Tapi...




Ramadhan tiba. Bulan penuh berkah dari Allah untuk kita semua.  Diantara bulan-bulan lainnya ialah satu yang teristimewa. Pahala dilipat ganda, sementara segala rangkaian ibadah kan lebih mudah mendekatkan diri kita kepada-Nya.


Dari mulai bangun kita sudah menyiapkan diri berpuasa dengan menyantap sahur, berlanjut dengan shalat shubuh. Selanjutnya, seiring perut yang kosong detik-demi detik selalu teringat bahwa kita sedang berpuasa, menunaikan perintah-Nya. Shalat fardhu dan berbagai ibadah sunnah yang ada, silih berganti hingga waktu akhirnya tiba berbuka. Tak sampai disitu saja, sepertiga malam untuk tarawih, subhanallah begitu luar biasa kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

Mendekat. Menjadikan setiap langkah kita selalu diiringi dengan kemantapan karena kedekatan dengan Sang Khalik. Begitu sajakah? Sahabat, terkadang kita melupakan potensi yang kita bisa peroleh dari kedekatan itu dengan Allah Swt. Kita bisa berdo'a, meminta, memohon dan mengharap belas kasih dari Sang Maha Kuasa. 

"Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi)) HR Ahmad dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. 


Apa yang kita lakukan?

Lepas tarawih, shalat malam kita di bulan Ramadhan...
Usai shalat fardhu, yang sebenarnya juga waktu yang diijabahnya do'a ...
Di detik demi ketik ketika kita berpuasa ketika kita senggang..


Jangan sia-siakan kedekatan kita dengan-Nya
Yuk berdo'a...


Karena dengan do'a, takdir kita juga bisa berubah.




Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan Datang, Ayo Rapatkan Barisan!



Ramadhan. Bulan penuh ampunan di tiap detik-detiknya yang berjalan. Bulan yang terbaik tuk mengakui kesalahan. Kecil maupun besar, pintu ampunan terbuka jauh lebih lebar. Jauh lebih lebar ketika bulan-bulan lainnya, yang terangkai indah menjadi sebuah tahun dimana kita mengarungi dunia.

Ramadhan. Mungkin inilah saat dimana tempat ibadah paling banyak dikunjungi orang. Demikian pula Masjid Al Hidayah, tempatku melihat berbagai hal berguna disana. Masjid ini memang tak jauh dari tempat keluargaku memiliki rumah. Namun karena ada musholla yang lebih dekat, Al Hidayah biasanya hanya kami kunjungi ketika Shalat Jumat saja.

Jenuh dengan penuhnya musholla dekat rumah ketika Ramadhan, kami pun memilih ke Al Hidayah suatu ketika untuk tarawih. Allahu Akbar, aku menemukan hal menarik disini.

Berbeda dengan musholla dekat rumah, Al Hidayah kebanyakan diisi jamaah dewasa. Jika di musholla dekat rumah perbandingan anak-anak dan dewasa bisa 40:60. Namun di Al Hidayah prosentasenya 20 : 80.


Diantara orang dewasa yang ikut berjamaah, sebagian besar adalah mereka yang tergolong tua, beruban dan bisa dikatakan tak terlalu kuat secara fisik. Sebut saja Pak Jufri. Beliau mengalami kesulitan berjalan hingga harus memakai tongkat sejak mengalami kecelakaan beberapa tahun silam, dia pun harus bergerak perlahan ketika perpindahan gerakan shalat dan ada beberapa gerakan yang tidak bisa ia kerjakan.

Ada Pak Gendut, yang menderita stroke ringan hingga tangan kirinya tak bisa digerakkan sama sekali. Tangan kanannya pun akhirnya menjadi penopang dan pembantu ketika takbiratul ihram.

Ada yang hanya bisa shalat dengan duduk. Yang ini saya tidak mengenalnya. Yang terakhir juga ada Pak Karno, yang mengalami penyakit sehingga kakinya tidak bisa ditekuk. Akhirnya beliau harus bertahan duduk diantara dua sujud mau tasyadud awal dan akhir dengan posisi kedua tangan ikut menahan beban tubuhnya.

Dan semuanya datang untuk tarawih. Masha Allah

Hal yang mencengangkan adalah melihat semangat mereka ketika dua rakaat salam selesai dan akan dilanjut ke dua rakaat lagi. Biasa saya pribadi mencuri-curi waktu untuk istirahat sejenak. Namun melihat orang-orang itu, saya sendiri malu untuk itu.

Mereka langsung berdiri. Betapapun sulit untuk itu. Perlahan demi perlahan. Padahal, harusnya mereka juga mengalami lelah yang sama dengan apa yang saya alami setelah bacaan sang imam lumayan membuat tubuh kewalahan.

Tarawih. Ini hanya tarawih. Sholat sunnah bukan? Bahkan ketika ada sunnah yang lebih mudah seperti tilawah, mengapa mereka bersusah payah untuk tarawih?

Gemetar
Jemari melihat shaff rapi berjajar
Sedikitpun tak terlihat kantuk diantara mata tua itu
Ataupun mimik lelah yang terpancar dari wajah yang tergerus waktu

Sementara aku
Bugar tanpa penyakit yang membelenggu
Kuat, berlari kencang pun mampu
Terkadang masih merasa ogah tuk melaksanakan sunnah untuk-Mu
Astaghfirullah

Sementara, ketika masjid bukan lagi tempat istimewa bagi generasi muda. Akankah generasi lama seperti mereka hanya akan jadi cerita sejarah. Yang selalu dikira kuno, jadul dan ketinggalan zaman.

Ramadhan datang, ayo rapatkan barisan!

Ada seorang yang tidak punya kaki ditanya kenapa ia begitu bahagia dengan segala kekurangannya.

Dengan tersenyum dia menjawabnya, “Saya tidak bertanya kenapa saya tidak punya kaki. Saya bertanya apa yang bisa saya perbuat dengan tangan saya”.

Demikianlah, karena di balik semua karunia yang Allah berikan kepada kita, Allah menitipkan amanah bersamanya. 

(Arief Alamsyah, The Way To Happiness)

Selasa, 29 Mei 2012

Ketika

Listrik padam. Kegelapan mencekam. Di antara sudut terduduk, diam. Naluri masih berbinar menikmati games sejak tadi siang, mendadak kaget, shock dan terbungkam. Sementara dingin tak ketinggalan. Ianya cepat menebar ancaman, membuat semuanya paham. "Udah malam, cepet banget", protesnya. Seakan waktu tak berkompromi dengannya.

Menanti. Baterai ponsel dan laptop sekarat membuatnya bersedih hati. Tak bisa berkata apa-apa lagi.

Terang. Seketika, secercah cahaya datang seiring lampu senter yang berhasil ditemukan, sedikit harapan. Namun, terlihat barang-barang berserakan. Menyulitkan ketika berjalan. Bahkan dalam kamar sendiri, tak banyak ruang untuk tubuh ini bermalas-malasan. Apalagi kalau bukan barang-barang "sialan" yang tak tahu diri menempatkan dirinya.

Tunggu apa salah mereka?

Perut meringkih, saatnya ia mendapatkan haknya tuk kembali berenergi. Mengambil dompet, satu-satunya yang selalu setia ketika ponsel tak lagi disini.

Berjalan. Tampak kegelapan segera berpadu dengan kesunyian. Jalanan lebih sepi dari biasa, ketika banyak lalu lalang kendaraan ataupun pejalan kaki yang menghiasinya.

"Mang, pesan nasi goreng ya".
"Pedas apa nggak mas?"
"Sedang aja, cepetan ya"
"Sip"

Enak. Begitulah semua yang lidah rasakan, ketika perut kosong seperti sekarang. Lahap, ia habiskan lebih cepat dari pada saat nasi goreng itu dibuat.

"Berapa semuanya Mang?"
"Delapan ribu mas"
"Hmmmmm, Mang nasinya nanti saya bayar ya"

Berlari. Menutupi malu ketika beberapa orang di warung tadi mendengarnya. Bagaimana sang dompet tak terisi, sementara nasi telah penuh berada di dalam perut sendiri.

"Ke ATM saja, pasti merepotkan cari duit di kamar gelap-gelap gini", kata ide kepadanya.

Berlari, memasuki kawasan kampus yang tampaknya tak terkena pemadaman bergilir serupa. Mengarah ke ATM dengan bangunan kecilnya yang berdiri megah.

"Jleeb"

Terdiam. Kartu dilahap. "Mesin gobloook", teriaknya seraya hendak memukulnya. Tetapi seketika sadar akan kamera CCTV yang ada, bisa berbuntut panjang masalah.

Ditekannya tombol-tombol yang ada satu persatu, sedikit digoyang-goyangkan pula mesin gemuk uang itu. Tidak ada hasil. Nihil.

Menghela nafas.

"Astaghfirullah"
Bergegas ke masjid, ingat belum sholat Isya'.
Teringat pula deretan agenda yang tak jadi terlaksanakan, sementara beberapa lainnya setia menunggu hingga deadline tiba


Jangan tunggu musibah lebih besar datang. Segera perbaiki dari sekarang !!!
Karena terkadang, masalah datang juga sebagai peringatan. :)







Kamis, 17 Mei 2012

Sajak Sajak Kematian

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa satu persatu orang yang ku kenal dekat, telah pergi kepada-Nya tuk menghadap. Yeah, terlalu cepat. Bahkan terkadang waktunya terasa tak adil, ingin sekali menemani mereka satu persatu ketika di detik-detik terakhir. Tetapi apa daya? Takdir.


Tentang kematian, aku mungkin masih beruntung. Jauh lebih beruntung daripada Nabi Muhammad yang tidak pernah bisa melihat wajah Sang Abi ketika lahir dan hanya sedikit waktu tuk bersama Ummi Aminah ketika kecil. Di luar sana pula, ada pula jutaan warga Palestina, Afghan, Suriah dls yang sudah familiar dengan kematian orang yang mereka cintai setiap harinya.


Di antara lika liku kehidupan, selalu ada awal dan akhir serta pertemuan dan perpisahan. Keduanya ada, dan karena itulah kita hidup. Tak mungkin kisah ini berawal tanpa ada akhir, dan tidak mungkin kita berpisah kecuali ada pertemuan sebelumnya. Dan satu hal yang pasti dari kematian, ia adalah muara dari setiap perpisahan keduniawian. 

Ketika kita telah lulus sekolah, SD, SMP, SMA atau bahkan kuliah, perpisahan dengan teman-teman kita mungkin hanya sekadar dalam dimensi ruang saja. Kita masih bisa bertemu dan bersama kembali di lain waktu. Namun jika dengan kematian?

Kematian ibarat ketika kita kehilangan seseorang, bahkan seisi dunia kita jelajahi kita takkan menemui sosoknya. Seisi lautan kita selami takkan menjumpai dirinya. Selus jagat raya kita obrak-abrik takkan membuatnya menampakkan dirinya. Kecuali sisa tubuhnya yang tak lagi berdaya. Terdiam. Membisu. Penuh tanda tanya.

Kematian? Sebegitu kejamnya-kah?


Islam selalu mengajarkan kita akan kehidupan setelah kematian. Dan kehidupan di dunia ini hanya awal dari segalanya. Awal yang akan menentukan semuanya. Sebuah awal yang takkan begitu lama.

Tetapi masih saja berat. Jika Allah bisa membuat kita hidup selamanya, bersama mereka yang kita cintai,  melakukan apa yang kita ingini, tanpa ada batasan usia, mengapa tidak ia buat demikian? Dia Tuhan. Dia pasti bisa lakukan apa saja. Iya khan? Iya khan? Jawab!!!

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
QS Al Baqarah 216


Karena setiap yang berawal pasti merasakan akhirnya, yang bernyawa pasti akan merasakan ajal menjemputnya. Dialah yang awal, dan akhir. Maka mari kita syukuri, bahwa kita atau orang yang meninggalkan kita setidaknya mendapatkan karunia berupa kehidupan, yang memungkinkan kita mengenalnya, dan mereka mengenal kita, meski dalam waktu yang tak begitu lama.