Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Mei 2014

Aktif Memilih, Memilih Aktif

Tahun pertama, semua tampak sama. Dengan mata berbinar mengangkasa, segenggam mimpi di hati terpupuk indah. Semuanya menunggu momen yang sudah diharapkan tuk segera tiba.

Apa yang diharapkan mahasiswa di tahun pertamanya? 

Aku salah seorang yang mendambakan pengalaman. Dan salah satu pintu mendapatkannya ialah berkecimpung di dunia organisasi atau kepanitiaan yang beraneka ragam.

Namun memilih organisasi bukan semudah memilih makanan apa yang akan kau makan esok hari. Ada pertimbangan. Karena organisasi bukan sekadar jabatan, ataupun kekuasaan. Itu adalah sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan. :)

Memilih organisasi berdasarkan hobi nampaknya patut dicoba. Walau menemukan hobi itu sendiri sebenarnya memerlukan sebuah proses tersendiri.

Organisasi adalah tempat dimana kita akan mengabdi. Bukan sehari-dua hari. Bisa satu semester lebih. Sementara, dengan aktivitas kuliah yang masih tak terduga tampaknya harus diperhitungkan ke depannya juga. Maka dari itu aku memilihnya hati-hati.

Dari mulai profil organisasi, bidangnya dan apa manfaatnya harus benar-benar dicermati. Tercatat aku bahkan pernah ikut tahap rekruitasi tapi menghilang ketika pelantikan hanya karena satu hal.

Hati.

Ia jatuh cinta pada organisasi lain. Dimana ia bisa melakukan sesuatu disana yang tidak dilakukan di tempat lain. Dimana dia bisa menemukan di tempat lain, juga ada tak beda dan tak lain.

:)
----------------------------------------------------------------------------

"Wah anak ** ya?", seloroh seorang senior saat it
"Loh kak kok tau?"
"Iya, biasanya yang malam minggu nongkrong tilawah bareng di MSU ya anak **.
"Oh ya gitu? Insha Allah. Saya masih tahap magang kok. ", jawabku sembari melayangkan senyum malu.

Aku merasa seakan sedikit lebih sholeh  akhir-akhir ini. Bayangkan di saat semua maba menikmati malam minggu di kostnya, malam mingguku berubah tempat mulai saat itu.

MSU? Ya masjid kampusku ini menjadi tempat bermalam minggu rutin organisasi pertamaku di tiap pekannya. Malam minggu diisi dengan tilawah, mengulang hafalan quran dan berdiskusi beraneka rupa. Lepas rehat, sambung lagi dengan qiyaamul lail dengan diimaami senior-senior yang bacaan dan hafalannya luar biasa.

Rutin? Ya, itu sudah budayanya katanya. Bahkan anak-anak LDK sebelah seringkali ikut serta, dan anak-anak ** lah yang menjadi tempat setoran hafalan biasanya.

Jumlah pengurusnya tidak banyak. Bukan karena tidak ingin banyak, namun tidak perlu banyak. Itu membuatnya seakan orang-orang terpilih. Walau sebenarnya mereka adalah sekumpulan orang yang "memilih dirinya".

Terkesima, aku pun mulai mantap berada disana. Apalagi berada di organisasi keislaman memang menjadi keinginanku.

-------------------------------------------------------------------------------------------
"Kuliah mahal-mahal di Telk** rugi kalau ngga ikut lab", kata temanku. Aku setuju. Jika hanya organisasi atau kepanitiaan yang di tempat lain ada, apa bedanya?

Aku pun sejak tahun pertama melanglangbuana berharap bisa mengikuti lab-lab yang ada. Pilihannya banyak, ada studi grup, riset grup hingga menjadi asisten lab. Namun pilihan tentang lab bukan hanya tentang hobi saja, juga tentang tugas akhir. Yang katanya bisa bikin senior ketar ketir. Ngeri nggak tuh?

Transmisi, Jaringan atau Sinyal?

Tiga pilihan itu menjadi jejak awal mahasiswa di jurusanku menapakkan langkah di tahun keduanya.
Namun akhirnya aku jatuh cinta pada suatu lab bukan karena ketiganya :)

"Terima kasih ya", senior itu menyalamiku ketika hendak pulang.
"Makasih buat apa nih mas?", tanyaku bingung.
"Makasih udah mampir", jawabnya sambil tersenyum. Ternyata bukan dia saja, senior-senior lainnya menampakkan tingkah laku yang sama. Entah apa ini namanya, tapi aku suka.

Dan lab itu seakan jadi rumah kedua. Bukan hanya tempat belajar dan berdiskusi, namun juga bercanda, berbagi, bahkan menginap dan mandi pun disana. Benar kata dosenku, rumah itu ada bukan karena sekadar bangunan yang berdiri megah, namun karena orang-orang yang ada di dalamnya.

:)
Sweet.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

not the gun, but the man behind the gun

kata-kata itu sering diucapkan teman-teman sekelasku dulu dalam candaannya. Entah tentang apa mereka berbicara. Tapi aku suka.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa tahun berlalu dan aku tetap setia di organisasi itu. Memang ada kalanya ingin berpindah ke lain hati, namun kenangan akan senior-senior yang berharap bisa melanjutkan mereka selalu saja membuatku bertahan.

Suatu kebanggaan pernah satu tim dengan mereka. Orang-orang hebat, dengan budaya hebat demi impian yng juga hebat. Memang tak selalu segala sesuatu berjalan mulus. Adany proker yang tak berjalan, pengurus yang ilang ilangan atau apapun itu, aku anggap saja penghias kehidupan.

Bagiku tetap, suatu kebanggaan pernah satu tim dengan mereka. Dan suatu kebanggaan tersendiri pula bisa melanjutkan impian mereka. Walau raga mereka tak selalu menemani, tapi doa mereka selalu menyertai. Indah bukan kawan?

Hingga saatnya tiba, aku menjadi ketua. Posisi yang bahkan tak pernah aku pernah bayangkan sebelum ini. Tahukah engkau kawan, ternyata mempertahankan sebuah budaya tak kalah susah dengan membangunnya dari awal. Susah mengumpulkan anggota untuk mabit di akhir pekan? Oke, ganti jadi per 2 pekan. Hingga akhirnya per bulan, dan hanya dihitung jari terlaksana. Dan di semester berikutnya, itu hanya jadi cerita lama.

Bagaimana dengan proker lainnya? Tak begitu buruk. Dan memang tantangan setiap zaman berbeda. Apapun yang terjadi kini Allah tlah mengambil amanah itu. Dan aku merasa sangat bersyukur pernah dipercaya mengembannya.

Aku baru sadar. It's not the gun, but the man behind the gun.


-------------------------------------------------------------------------------------------------

Senior-senior kebanyakan telah lulus. Cerita sukses mereka seakan membuat diri ini ingin sesegera mengikuti jejaknya. Lab kami pindah. Bukan di depan LC dengan bangunan unik berbentuk segi delapan sebagaimana sebelumnya. Dan budaya itu juga perlahan berubah. Tidak ada lagi acara shubuh berjamaah selepas menginap bersama. Atau jabat tangan sederhana setiap kali meninggalkan tempat. Dan lain sebagainya.

Aku merasa menjadi salah satu penyebab kesalahan itu. Seperti di organisasi sebelumnya, it's the man behind the gun.

Siapa sangka, senior yang selalu ramah, bercanda, menyapa dan menghargai juniornya itu sudah dari sononya begitu saja? Tidak. Mereka pun berproses. Dan itu yang aku lupa.

Mungkin aku terlalu sibuk dengan masalahku, agendaku, dan apalah yang berbau tentang "aku". Dan ketika sadar, demikian pula sekitarku.

Tidak semua orang dasarnya ingin tahu masalah orang lain. Ada yang pendiam. Ada yang memang tak acuh. Tetapi jika memang tidak ada keinginan, bagaimana bisa berlabuh sebuah kuatnya ikatan, yang bukan hanya tentang amanah dan jabatan. Ini tentang..................................................

-------------------------------------------------------------------------------------------------

not the gun, but the man behind the gun


memilih yang baik memang hak kita. Namun menjaga kebaikan itu tetap ada dan terjaga, siapa lagi selain kita?

Bukan hanya karena organisasi ini baik, kita akan jadi baik. Tetapi juga perlu orang-orang baik agar organisasi ini tetap berjalan baik.

Maka jika dulu aktif memilih, pantaskah kita enggan memilih aktif? 

:)

Siapapun kalian yang membacanya, semoga bermanfaat


Raffa Muhammad 
@sky_sparker









Senin, 12 Agustus 2013

When It's Been Too Worth

Well, ini adalah kisah nyata kedua yang kudapat setelah mendapatkan inspirasi disini dari kisah hidup seorang tetangga di Lumajang. 

TRUE STORY :) 

Ujung diantara ujung yang paling ujung nikmat dunia memang merasakan bahagia. Tanpanya, harta yang ada, sehat yang dirasa, dan waktu yang lapang terasa hampa. Baru beberapa bulan lalu keluarganya berduka. Ibunya kini menemani Sang Ayah dipanggil sang kuasa dengan penyakit yang cukup lama dilawan di sisa-sisa akhir hidupnya, diabetes.

Tak berhenti sampai disitu, dua orang kakaknya, serta seorang adiknya juga didiagnosa memiliki kadar gula yang juga bermasalah. Seketika ia pun berkaca. Dilihatnya tampilan tubuhnya sendiri.

"Allahu Rabbi", pikirnya dalam hati. Ia masih ingat betul perjuangannya hari itu. Ketika hari dimana ia belum diangkat menjadi salah satu pendidik resmi. Ia rela kesana kemari meninggalkan anak istri, ke luar kota beberapa hari, kembali lagi dan lagi ikut seminar, pelatihan, dan berbagai acara yang dijalani dari kegiatan utamanya ikut sebagai pengajar sebuah bimbingan belajar di kota kecil ini.

Dan kini, perjuangan demi perjuangan yang berlalu telah terjawab sudah. Perlahan, kesejahteraan keluarga membaik dengan diangkatnya ia beserta sang istri sebagai guru tetap (PNS). Rumah yang dahulunya kecil, ia bisa renovasi hingga kini megah. Kendaraan yang dulunya seadanya bisa ia ganti hingga kini menjadi mewah. Dan perlahan-lahan kenikmatan yang ia damba bisa ia tuai dengan kerja kerasnya. Keluarganya pun makin harmonis, dengan seorang putra dan dua orang putri cantik yang menghiasinya.

Tapi sungguh, bayang bayang penyakit gula yang mematikan ini menghantuinya. Setelah dicek ternyata memang sama seperti saudara saudarinya, ia memiliki kecenderungan itu. Faktor turunan (genetik) memang mempunyai peranan penting terhadap berkembangnya penyakit diabetes pada seseorang. Selain itu lingkungan juga berpengaruh. Kesejahteraan telah membuatnya memiliki berat badan yang cukup gemuk.

Terkadang, banyak orang beranggapan sangat menyebalkan ketika memiliki materi tapi kita tidak bisa menikmatinya secara maksimal. Dengan dalih itulah beragam macam kenikmatan mereka upayakan. Tetapi karena itu pula justru terkadang silaunya dalam silaunya kenikmatan, kesehatan tergadaikan. Jika memang maut menjemput, maka dokter terbaik pun hanya bisa terdiam bukan?

Dan ternyata dia belajar memahaminya pelan-pelan. Dia mencoba yakinkan dirinya, bahwa dia tak akan diam melawan ancaman penyakitnya. Dia tak tahu memang kapan ajalnya datang, tapi ia ingin setidaknya ketika saat itu tiba ia bisa melihat buah hatinya menggapai cita-cita mereka. Maka ia pun berusaha. Melawan dirinya sendiri. Melawan segala nikmat yang harusnya halal, dan perlahan ia haramkan demi kesehatan.

Dia belajar mengubah pola hidupnya. Dari mulai olahraga rutin secara ringan, hingga jogging selepas shubuh datang. Agar bisa tepat waktu lari pagi, dia pun mulai membiasakan diri jamaah shubuh di masjid. Perlahan, ia pun merasakan nikmatnya berjamaah. Dan sejak saat itu ia rutin berjamaah.

Untuk mengecek perkembangan tubuhnya, ia pun rutin memeriksa darahnya. Mengatur makanan yang dilahapnya. Sekalipun ia bisa membeli, ia atur porsi secukupnya. Ia tahan dirinya dengan puasa sunnah.

Tahukah kini bagaimana kondisinya?
Dia semakin bugar. Berat badannya turun. Kadar gulanya cukup bagus dan teratur. Dia jauh terkesan kekar dibanding sebelumnya yang bisa disebut tambun. Dan tahukah kawan, Ramadhan kali ini, adalah Ramadhan pertamanya menjadi imam tarawih di musholla kecil sekitar rumahku, bergantian jadwal dengan para imam lainnya. Perlahan ia sering berjamaah, ia pun dipercaya menjadi imam. Karena asalnya memang cukup memilii dasar agama di keluarganya, menjadi da'i baru di RT kami pun tidak masalah.

Ketika kenikmatan itu begitu berharga
Kawan, ketika kita pikirkan. Mungkin ada yang memilih jalan yang berbeda jika memilih menjadi dia. Dengan kesejahteraan yang ada, beberapa mungkin enggan memilih menahan diri dari nikmatnya makanan dan berlepas dari lelahnya mengolah badan. Pasalnya, dokter terbaik bisa mereka datangkan. Obat terbaik bisa terbeli. Namun apa daya, obat terbaik dan dokter terbaik pun tidak akan bisa menyembuhkan, ketika raga ini sudah tidak kuat menahan beban.



Tidak selalu orang yang memilih sepertinya akan berakhir baik memang. Namun Allah tidak akan pernah mengkhianati perjuangan seorang hamba-Nya bukan? Umur Allah yang tentukan. Namun kekuatan raga tuk bertahan, kita bisa ikhtiarkan.

Setidaknya, sosok di atas benar-benar mengisahkan ketika kenikmatan yang ia dapati benar-benar ia syukuri (dalam hal ini kejahteraan) yakni dengan ikhtiar menjaga kesehatan, maka setidaknya tubuhnya bisa makin bugar, dan salah satu bonusnya ia bisa merasakan manisnya iman.


Wallahu a'lam.









Sabtu, 10 Agustus 2013

Cinta Realistis

Mencintai itu sederhana, laksana kunci menemukan gemboknya, saling melengkapi, bukan sekadar menemani. Lalu, bagaimanakah caranya?

Dari Bandung beberapa bulan lalu, kabar tentangnya terdengar sayup-sayup. Dia terkena musibah katanya. Ketika hendak ke luar rumah, sebuah kendaraan menyerempetnya. Tersungkur tak berdaya, ia pun menjadi santapan kendaraan di belakangnya. Braaak, orang-orang berlarian panik mendekatinya. Darah bercucuran.

Dia baru beberapa tahun tinggal di rumah itu. Sebuah bangunan sederhana, di lingkungan yang cukup padat. Tidak ada halaman, keluar pintu rumah sudah jalanan. Bersama seorang pujaan hati yang dinikahinya, ia dikaruniai seorang Tara, bayi mungil yang memang memiliki senyum tiada tara. Pagi itu, ia berniat mengemong Tara, tetapi tidak ada yang tahu kapan musibah akan tiba. Dan na'asnya musibah itu menimpanya.

Whatever happens, happens

Dengan kecepatan tinggi yang ada sang pengemudi mengaku khilaf, ia berjanji tanggung jawab. Saat aparat kepolisian pun dilibatkan, namun demi mempercepat urusan akhirnya diambil jalur kekeluargaan. Perlahan makin tak pasti, pihak keluarga tak kunjung mendapat biaya pengobatan yang dijanjikan. Antara iya dan tidak, kepolisian pun tampak tak berdaya, apalagi kasus serupa yang tidak sedikit adanya. Proses lama, berbelit, dan akhirnya pihak keluarga menyerah. I'tikad baik yang disangsikan berujung pemakluman mengetahui sang pengemudi berasal dari keluarga yang tidak cukup berada.

Sementara beberapa pekan koma, dan menjalani serangakaian operasi dan pengobatan, akhirnya kelopak matanya kembali terbuka. Namun apa daya ketika luka yang diderita cukup parah. Hilang ingatan sebagian, dan luka di bagian kaki dan lengan. Jangankan tentang Tara, beberapa keluarganya saja tak lagi ia ingat dalam memori. Seperti sinetron, dan sayangnya ini bukan cerita khayalan yang berakhir selalu bahagia dengan skenario sutradara yang bisa ditebak sebelumnya.

Entah parade cobaan atau justru pintu keselamatan dari Sang Khaliq, sang istri merasa tak ada lagi harapan. Begitu pula keluarga besar yang ternyata sama tak kuasa menerima keadaan. Dan akhirnya jalan itu dipilih, perceraian. Tara tak akan pernah membayangkan memiliki orang tua terpisah sementara ia belum bisa berkata-kata. Hanya sedikit langkah dan tangis sesekali ekspresi yang dimilikinya. 

Ramadhan kali ini alhamdulillah kepulanganku ke kampung halaman bisa mengunjunginya hingga tahu ceritanya pasti. Dia mulai pulih, bisa duduk sendiri di kursi. Namun untuk berjalan masih butuh bantuan. Tidak ada lagi bayangan Tara yang tiba-tiba hilang ketika digendongnya dan dari belakang disambar kendaraan. Atau sang istri yang akhirnya memilih jalan perpisahan dengan alasan ketidakmampuan memberikan kewajiban nafkah lahir batin. 

Banyak yang menyayangkan. Usia muda memang bisa dijadikan ajang aji mumpung. Mumpung masih cantik, masih ada yang tertarik. Mumpung masih muda, janda tidak apalah. Mumpung masih muda, cinta? Sudah kelaut saja.

Tetapi apa sang perempuan sepenuhnya salah? Entahlah. Mungkin cinta yang mereka bangun tidak sekuat film-film romantis. Atau mungkin justru fenomena ini yang realistis. Lalu bagaimana jika ini terjadi denganku atau denganmu kawan? Pengen ga sih dapet pasangan yang susah seneng bareng bukan seneng doank tapi pas susah bye bye sayang..?

Absolutely.

Lalu bagaimana?

Satu diantara nasihat Malaikat Jibril kepada Rasulullah dalam hadist ialah, "Cintailah siapa saja yang engkau senangi namun sesungguhnya engkau PASTI berpisah dengannya"

Dan mungkin makna perpisahan disini bukan hanya perpisahan raga berupa, namun juga kenikmatan lainnya mulai materi, maupun fisik yang bisa tercabut entah perlahan, ataupun seketika. Lalu siapkah kita tetap mencinta? Atau makna realistis membutakan segalanya?




Tara tidak sendiri. Banyak Tara-Tara lain di negeri ini. Namun sedih rasanya ketika tahu dia tetanggaku sendiri


Lumajang, 11 Agustus 2013
3 Ramadhan 1434 H

Raffa Muhammad,

Minggu, 16 Juni 2013

Ku Petik Bintang



Setiap surat yang dihafal akan diberi tanda silang di lembaran hasil hafalan. Itulah yang kami tangkap sejak beberapa hari sebuah kertas bersama kolom-kolom dengan barisan surat juz amma sebagai keterangan di atasnya. Kertas itu ditempel di dinding kelas. Tidak terlalu tinggi, sehingga untuk ukuran anak sekolah dasar mudah melihatnya hanya dengan berdiri biasa. Juga tidak terlalu rendah sehingga cukup susah berbuat curang untuk menuliskan bintang sendiri di samping nama. Dan disinilah kisah ini bermula.

Satu demi satu dari kami melihatnya dengan seksama, berapa bintang yang tlah ada di samping nama-namanya. Entah bagaimana, setiap hari seakan bintang itu semakin indah dipandang mata. Dan sang bintang menjadi primadona dan topik menarik setiap kali para asatidz membubuhkannnya di samping nama-nama yang ada.

Perlahan namun pasti, ada yang berubah. Tanpa sadar kami semakin berpacu meningkatkan hafalan yang ada. Selintas dipikir demi apa? Bintang-bintang di atas kertas? Bahkan tidak ada iming-iming hadiah ketika bintang itu sudah penuh. Aku tak tahu. Tetapi aku menjadi satu diantara yang semakin semangat melihat bintang itu ada bersanding dengan namaku.

Oh ya, jangan bayangkan kami menghafal dengan metode tertentu. Tidak ada metode macam-macam waktu itu kecuali baca, dan kembali baca. Ulang dan kembali mengulang. Kami juga tidak memiliki rekaman murottal Syeikh dari Timur Tengah seperti yang sekarang mudah didapatkan. Tidak ada kawan J

Namun yang ada sedikit demi sedikit, setoran hafalan menjadi salah satu momen yang mengasyikkan. Semua teman-teman akan mengerubungi asatidz ketika ia akan memberi bintang di kertas itu. Dan karena jika dan hanya jika satu surat terlampaui sebuah bintang akan disematkan, maka perjalanan menghafal kami menjadi momen yang spesial.

Hingga akhirnya bintang demi bintang aku dapatkan, kecuali di kolom yang satu itu. Kolom itu adalah Surah Al Fajr. Begitu panjang dan membingungkan buatku. Malam itu aku putus asa, mengapa masih saja salah dan kembali salah. Saat kuceritakan ke Abi, untungnya ia membantu. Hari demi hari selanjutnya sesekali beliau menyimak dan membetulkan bacaanku. Di beberapa kesempatan pun ketika menjadi imam shalat beliau bacakan Surah Al Fajr sehingga dengan mudah disimak dan diikuti dalam hati.

“Mas Faiz hafal bagaimana hafal Al Fajr?”, pagi itu salah satu ustadzah menanyaiku. “Belum, masih sering lupa”. “Gapapa dicoba”, katanya. Aku pun setoran hafalan, di depan mata teman-teman yang penasaran apakah aku bisa menghafalkan surat yang di kelas kami belum ada yang sampai kesana.

Dan ternyata benar. Aku lupa. Hanya setengah. Mukaku memerah.

“Lupa, hehehe, nyerah deh”, ucapku lirih, rasanya kecewa dan bercampur malu tapi berusaha kututupi dengan simpul senyumku.

Aku kaget yang dilakukan Ustadzah itu. Benar-benar tak terpikirkan sebelumnya. Ia gambarkan setengah bintang di kolom Al Fajr.

Katanya, “karena Mas Faiz sudah hafal setengah bintangnya setengah dulu ya. Tapi karena sudah berusaha ini hadiah dari ustadzah”. Ia keluarkan sebuah amplop dari sakunya berisi sesuatu. Teman-teman pun iri melihatnya. Mereka mengerubungiku layaknya semut melihat gula. Aku senang. Tapi masih setengah senang. Karena rasanya belum sempurna jika masih setengah bintang adanya dan hadiah tlah didapatkan. Namun aku sangat menghargai keputusan ustadzah tersebut.

Bayangkan, malam demi malam selanjutnya Al Fajr ini semakin semangat tuk diulang dan diulang. Setengah bintang itu selalu lekat dalam ingatan. Dan amplop itu, yang membuat teman-teman iri dan juga semakin terpacu, saat itu belum sampai aku pikirkan darimana datangnya isinya.

Aku yang sekarang baru sadar pengorbanan hebat sang Ustadzah bagaimana ia bisa menyisihkan isi dompetnya sementara sekolah kami adalah sekolah swasta yang baru berdiri dimana gaji pengajarnya pun tidak menentu. Dan ketahuilah kawan, kami adalah angkatan pertama sekolah itu. Bayangkan betapa sulitnya perjuangan mereka saat itu.

Mukhoyyam Quran

Malam Ahad lalu, Allah menakdirkan aku bisa ikut Mukhoyyam Quran. Salah satu momen yang spesial ialah ketika Ust Ja’far, imam Qiyamul Lail ternyata membaca semua surah juz 30. Allahu Akbar!

Aku merasa terbawa ke suasana lama ketika surat demi surat dibacakan.

Selain Al Fajr yang mengingatkan pada kenangan asatidzh di SDIT Ar Rahmah dulu, An Naba adalah surat yang paling banyak kenangan. Salah satunya ketika murajaah bersama adik kecilku. Dia ayat pertama, aku ayat kedua, begitu seterusnya hingga habis dan berganti surat. Al Buruuj, Ath Thariq dan beberapa surat mengingatkan pada irama ketika Abi menjadi imam shalatku. Entah kapan terakhir aku menjadi makmum di belakangnya karena melihat kalender sudah cukup lama ternyata tidak pulang.

Kangen pulang T.T

Kangen masa lalu

Kangen semangat hafalan lagi


Dan yang paling penting kangen perjuangannya. Ketika satu demi satu surat dihafal dan bintang didapatkan. Karena baru sadar progress pasca SD belum ada apa-apanya.

Ya Allah, semoga engkau cukupkan umur untuk melengkapi cita-cita yang ada sejak masa lalu ini. Bukan hanya cita-citaku namun cita cita orang tua yang memilihkan sekolah terbaik untukku dan para asatidz yang pertama mengajarkanku menghafal ayat-ayat-Mu.

Malam minggu yang indah tlah berlalu, dan kini saatnya merajut rindu itu dan membuat bintang demi bintang sendiri hingga penuh 30 juz. Semoga cukup umur. Aamiin


Ku petik bintang

Untuk ku simpan

Cahayanya tenang

Berikan ku alasan berjuang

Sebagai pengingat harapan

Juga sebagai jawaban 

sebuah impian

Selasa, 30 April 2013

Ketika Bersama Wajah Teduh

"Salam kenal", ia memberikan salam sembari menjabat tangan seusai menyebutkan namanya. Beragam respon terlihat dari wajah-wajah muda. Kaku, dan asing. Mungkin karena ini yang pertama. Nongkrong di tempat seperti ini untuk berbincang? Well.

Mereka berbincang ringan. Wajah teduh mengatur pembicaraan. Ia pandai. Terkesan dari bobot pembicaraan yang dalam tetapi tidak menjemukan. Walau ini pertama kali berjumpa, rasanya dekat dan akrab. Memang pertemuan kali ini bukanlah kebetulan. Allah telah merancang. Namun, kesediaan semua wajah menghadap membuat yang hadir disana adalah orang-orang pilihan. Bukan sembarangan. Dan wajah teduh itu meyakinkan semuanya.

Pertemuan kedua, kali ini lebih bersemangat. Tepatnya penasaran. Apa yang hendak wajah teduh sampaikan. Satu persatu wajah-wajah penuh gelora muda ini belum bisa menerka. Mereka kembali berkumpul dan melingkar. Ternyata wajah teduh telah sampai lebih dahulu. Ia jabat tangan semuanya, ucapkan salam dan tanyakan kabar. Doa pembuka dipanjatkan. Dan mulailah pertemuan kali ini.

Setelah mendapatkan hal tak terduga tentang keimanan dan keislaman sebelumnya, kali ini wajah-wajah muda kembali penasaran. Apalagi ketika rerumputan menjadi saksi pertemuan yang kedua. Ternyata wajah teduh kali ini menceritakan tentang niat dan ikhlas. Hal yang sebenarnya bukan tidak diketahui wajah-wajah muda, namun sering terlupa. Wajah teduh sambil tersenyum menyampaikan, "Al imaanu yazidu wa yankus", dia suatu kali juga pasti tersilap dan khilaf. Sehingga ia menuturkan agar tak pernah menutup pintu nasehat dari siapa saja, terlepas siapa yang muda ataupun tua, karena saling menasehati dalam kebaikan ibarat investasi kehidupan.

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya bersama wajah teduh semakin menarik untuk disimak. Wajah-wajah muda tak pernah absen bersamanya. Mereka kian bersemangat mencari tahu, dan mengutarakan opini yang mungkin keliru. Masalah yang ada pun dibahas bersama, dan wajah teduh selalu mengambil referensi dari Quran dan sunnah Rasul-Nya. 

Satu hal yang tak terasa, ada yang berbeda ketika pekan demi pekan berlalu. Wajah-wajah muda merasa berat untuk menjauh dari Sang Pencipta. Sehari tanpa tilawah ataupun sholat berjamaah. Wajah teduh memang tak selalu mengajak dengan kata-kata. Tetapi selalu tersirat dari wajahnya, dan tergambar dari cerita-ceritanya betapa nikmatnya menghiasi iman dengan ibadah.

Ketika wajah muda bertanya, "Kak, aku ingin menjadi sepertimu nanti", wajah teduh mengelus kepalanya. Ia merendahkan dirinya. Katanya, ia bukan apa-apa tanpa Allah yang menuntunnya. Seorang lainnya berkata, "Kak, terima kasih ya", sambil tersimpul senyum dalam wajahnya. Wajah teduh dengan kata-kata yang menentramkan. Jabat tangan, salam dan senyum yang manis di tiap pertemuan. Dan ajakan bersama teladan yang menggugah.

Wajah teduh menjawab, "Berterima kasihlah pada Allah. Kebaikan apapun yang kakak sampaikan hanya berasal dari Allah.  Juga kepada Rasulullah, serta para orang-orang yang senantiasa menjaga nikmat iman dan islam ini hingga kakak juga berkesempatan untuk berbagi dengan kalian".

Akhirnya, tibalah saatnya berpisah. Wajah-wajah muda terasa berat awalnya. Namun wajah teduh hanya berujar, bahwa hanya itu yang ia miliki dan saatnya mendapatkannya dari orang lainnya. Ia meyakinkan, hidup kita itu singkat. Jangan hanya berpuas melangkah jika bisa berlari. Raih keinginan, namun selalu ingat semuanya akan kembali kepada Ilahi.

Akhirnya semua wajah wajah muda mengikhlaskannya. Mereka berpamitan dan pergi. Di dalam hati, mereka saling mendoakan. Ketika bersama wajah teduh memang tak terlupa. Wajahnya tak hanya teduh, namun meneduhkan. Bersamanya, ketika masalah datang dan ada seperti biasa, keyakinan bahwa Allah bersama hamba yang shalat dan sabar juga makin besar. Dan kini saatnya mengukir cerita bersama wajah teduh lainnya. Semoga semangat yang sama tetap berkobar.











Selasa, 12 Maret 2013

Memori Shubuh

Serial Inspirasi Ikhwah Tangguh



Ikhwah tangguh? Mencari tahu tentangnya bisa dimulai dari apa yang dilakukannya di kala shubuh. Mengapa? Karena banyak peristiwa besar yang justru terjadi di sekitar shubuh.

Al Fatih, ia beserta pasukannya berhasil membuat banyak pihak tercengang karena dapat merebut Konstantinopel, kota dengan banyak benteng dan pertahanan yang kuat. Dan itu terjadi di kala shubuh. Saat musuh sedang terlelap dalam hangatnya selimut dan nikmatnya kasur empuk.


Rasul SAW bersabda: "Konstatinopel akan ditaklukan. Dan sebaik-baik pemimpin ialah pemimpin pasukan itu dan sebaik-baik Pasukan ialah pasukan itu" (HR Ahmad).
-------------------------------------------------------------

Kampus putih biru. Sebutan itu melekat dari seragam yang diwajibkan kami kenakan sebagai mahasiswa. Shubuh disini memang cukup dingin adanya. Aku sekian diantara ratusan bahkan yang mungkin masih sering terlelap ketika melewatinya. Namun, kali ini aku akan menceritakan tentangnya. Sosok yang Insha Allah memiliki kebiasaan yang patut diteladani.

Sebut saja Ahmad. Di pagi ini, aku melihatnya di masjid kampus melaksanakan shalat shubuh berjamaah. "Wah dia khan sudah lulus. Masih rajin sholat shubuh berjamaah", gumamku kagum.

Seketika memori ini kembali kepada momen dimana aku selalu melihatnya disini. Ketahuilah kawan, Ahmad telah lulus sebenarnya. Istimewa. 3,5 tahun dengan IPK yang "wah".

Namun di balik prestasi akademiknya, ia juga aktivis yang tidak biasa. Sosok yang tegas, ambisius dan sangat total jika dilihat dari kesungguhannya mengemban amanah sebagai aktivis dakwah. 


Terkadang membagi waktu menjadi kendala aktivis dakwah, hingga kuliah seakan terpaksa menjadi nomer dua. Namun Ahmad berbeda. Ia bisa. Dan ia bukti nyata. Boleh jadi kegiatan kuliah 3,5 tahun dengan dakwah akan menyita tenaga, dan waktunya. Namun nyatanya bahkan subuh ia masih rajin berjamaah.




Lalu bagaimana dengan kita?

Kuliah boleh jadi keteteran karena alasan amanah. Dan amanah terkadang tergadaikan karena masalah kuliah. Shalat jamaah? Jangan ditanya. Fisik ini terlampau lelah. Kantuk ini terlampau menyiksa.

STOP !

Salah satu kunci dari permasalahan klasik kita adalah manajemen waktu.

Padahal Allah telah membantu kita dengan mewajibkan shalat di lima waktu tuk senantiasa mengingatkan kita akan waktu yang berlalu.

Ahmad bisa melakukannya. Ia disiplin, dan mungkin juga susah di awalnya. Namun lihat buahnya di akhir kisah, manis bukan?

Susah?

Terlaaaaluuuu...

Bahkan belum berniat -) bertekad -) mencoba -) malah menganggapnya susah.

Melaksanakan apapun jika didasari karena Allah pasti selalu ada jalannya. Semua tersinergikan. Ibadah, dakwah maupun kuliah.

Ayo perbaiki subuh kita. Isi memori subuh ini dengan hal yang berguna. Belajar, mengulang kuliah, tilawah dan tentunya shubuh berjamaah.

Dimulai dari mengamalkan Sunnah, :
1. Berwudhu dan shalat witir sebelum tidur
2. Berdoa di sebelum dan sesudah tidur.
3. Langsung tidur daripada memperbanyak bincang malam kurang bermanfaat
4. Menjauhi begadang



“Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka, jangan coba-coba membuat Allah membuktikan jaminanNya.” (HR Muslim).



Ahmad ; Bukan tentang siapa sosoknya, namun tentang bagaimana meneladaninya
------------------------------------------------------------------------------------------------------



Kutulis untukku di masa yang akan datang, dan yang akan sekarang mencoba tuk belajar dan terus belajar  Juga untukmu kawan, yang ingin memperbaiki shubuhnya.

Memori Subuh

Tatkala mentari masih malu tuk bercahaya
Kau pinta kami sambutnya dengan ibadah
Kokok ayam menemaninya
Beserta azan subuh yang Kau jadikan lebih nyaring daripada biasanya

Duhai Robbi

Pemilik jiwa dan hati ini yang rapuh
Izinkan hamba-Mu ini memperbaiki waktu subuh
Agar kami teladani para pejuang di jalan-Mu
Sesuai sunnah Rasul-Mu





Jumat, 08 Maret 2013

Mengapa Bertahan

Temanku Faiz. Ia menceritakannya padaku suatu hari. Tetapi, aku baru sempat menuliskannya saat ini. Cerita tentang suka dukanya bersama-bersama teman yang luar biasa. Al Ikhlas namanya.

'Sesunggguhnya manusia takkan bisa, menikmati surga tanpa ikhlas di hatinya", by Ungu

Ketika orang banyak bertanya mengapa Faiz memilih bertahan disana, Faiz hanya bisa acapkali bilang bahwa ia lebih nakal dari mereka ketika dahulu kecil. Sok tahu mungkin. Namun nyatanya Faiz memang nakal. Hyperaktif parah. Susah diberitahu, sering berlarian tak tentu, dan berbagai kenakalan seakan benalu.

Namun, lihatlah ia Alhamdulillah masih hidup sampai sekarang. Tumbuh dan berkembang. Jika tanpa buah kesabaran kedua orang tua dan keluarga bagaimana itu bisa terlaksana? Tentunya orang tua kalian juga tak mengangumkan khan kawan :)

Tengoklah kisah kekerasan terhadap anak yang sedang marak, sering dipicu ketidaksabaran akan malaikat kecil yang berulah ketika awal melihat dunia. Naudzubillah. Allah saja memberikan Faiz waktu untuk berbenah, bagaimana manusia itu seakan menentukan takdir usia anak-anak mereka? Faiz hanya hanya terdiam jutaan bahasa. Ia melanjutkan ceritanya.



Hal lain yang membuatnya bertahan, adalah disini adalah tempat pertama baginya. Tempat pertama dimana Faiz merasa bermanfaat dan berguna. Di SMA Faiz hanya pengangguran, cupu dan kurang kerjaan, mengkhawatirkan keluarga. Hingga keluarga tahu Faiz membantu di TPA, Faiz merasa sudah sedikit membanggakan mereka. Walau hanya sedikit namun bisa berguna sudah sedikit meringankan kekhawatiran yang ada. Akan kehidupan kota, Bandung yang penuh aliran sesat (saat itu), dan jarak dengan keluarga yang cukup jauh adanya.

Sementara kepanitiaan dan organisasi ketika itu belum tahu apa-apa. Adik-adik kecil membuatnya mengerti, bahwa ada hal yang bisa ia lakukan. Mungkin tidak besar. Hanya berbagi, dan semua orang sebenarnya bisa melakukannya setiap hari. Namun tak semua orang mau dan mengerti, bahwa suatu hari, malaikat-malaikat kecil itu akan menjadi pemimpin di negeri ini. Ketika kita tlah yang ada sebelumnya tak berdaya bak sekapur sirih, termakan usia dan zaman yang ada.

"Menjadi berguna, adalah hal yang menjadikan alasan keberadaanmu disana", tulisnya suatu hari dalam benaknya.

Hal lainnya yang membuatnya tetap bertahan, ialah keberadaan kekuatan yang saling menguat dan menguatkan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal : 63)

Ketika selentingan beredar, anak-anak Gang Demang nakal dan kurang arahan memang Faiz tak kuasa membantah. Beberapa pengajar perlahan menghilang karena tak tahan malah. Untung teman-teman yang tersisa selalu menguatkannya.



Namun, ada yang pergi, ada juga yang datang kembali. Juga ada yang baru menyambung dan terus menyambung tali perjuangan ini. Azmy, Andy, Iqbal, Syarif, Gujay, Diana, Ratih, Achi dan Muthi.

Faiz enggan menyesali kepergian teman-teman sebelumnya. Terlepas kesalahan ia karena tidak mampu mengendalikan keadaan, atau membagi semangat kebersamaan. Karena setiap detik bersama adik-adik adalah berharga, ketahuilah. Mungkin ia dan teman-teman belum bisa membuat yang malas jadi rajin, yang nakal jadi baik, dan yang bermasalah jadi berprestasi. Namun detik-detik berharga mengarungi kebaikan, tentunya pasti ikut berperan dalam mencegah detik-detik itu digunakan untuk mengetahui keburukan. Tidak ada yang sia-sia, pastinya.

"Anak-anak itu bukannya nakal, namun lingkungan yang membuatnya demikian", kata Revi dengan lantang suatu hari di syuro pagi. Hal yang sama diucapkan Anna, Riri, Wilda, dan kawan-kawan lainnya. Seiya sekata. Mereka bertahan, hingga 2013 tlah tiga tahun lamanya.

Menguatkan.
Hal yang membuat Faiz akhirnya berkata berani kapada Aldrin ketika ia mengucapkan salam perpisahan, "Bagiku, TPA ini ladang yang Allah berikan padaku. Mau subur atau layu, jika Allah berikan yang ini ya sudah. Mungkin lain ladang lain hasilnya. Namun Allah selalu melihat proses khan, bukan hasil".

Faiz hanya berusaha berbaik sangka kepada teman-teman yang sudah memutuskan tidak lagi untuk bersama lainnya. Kenapa? Karena selalu ada pertolongan dari Allah tentunya. Pasti!

Tentu ada yang memilih pergi, namun Allah selalu berikan pengganti.
Ia memang tak pernah berhenti meski Faiz dan teman-teman terkadang terlibat masalah klasik konsistensi.
Selalu ada saja jalan-Nya. Rahmi, Dayyah, Hamzah, Faqih, Ummi, Dodik, Omi, Halim, Desri, Elis, Ayu, Alan dkk lainnya. Mereka melanjutkan tali perjuangan selanjutnya.

Kekuatan
Entah mengapa, berjuang di jalan ini serasa istimewa. Bertemu dengan kawan-kawan yang sedari awal berniat menyumbangkan tenaganya, waktunya, dan apapun yang dimilikinya untuk mereka yang belum mereka kenal. Demi siapa? Bukan tetangga, bukan saudara, bukan kerabat pula.

Lillahi ta'ala.


 “Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. [Ali Imran:104].
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali Imran:110].


Ps :

Dear kakak-kakak pengajar

Maaf bila sering membuat emosi, dan sakit hati. 
Kami memang nakal. 
Berbuat ulah, membuat marah. 
Kakak disalahkan, kakak malu, kakak lelah. 
Demikian memang adanya kami. 
Kami masih belajar. 
Ingin rasanya menjadi manis dan cantik dengan hijabnya ala kakak perempuan. 
Juga menjadi tegas dan berani seperti kakak laki-laki. 

Suatu saat kak, tunggu saatnya kami menjadi seperti kalian





Jangan tinggalkan kami ya kak

Sekalipun tak lagi disini mengaji bersama kami, 

Temani kami dengan doamu kak
Agar kami cepat besar dan rajin belajar

Kaka juga disana
Dimanapun berada
Semoga Allah terus selalu sayang sama kakak
Karena kakak selalu sayang bagaimanapun adanya kami
Pasti Allah juga sayang kepada kami.



Terima kasih ya atas semuanya kak

Jangan berhenti menebar kebaikan seperti yang kakak lakuka terhadap kami

mewakili adik-adik.
Faiz menuliskannya

Terima kasih semuanya
Tiga tahun takkan terlupa
Rapuh memang diri ini
Namun kalian selalu ada tegak menyemangati
Mari lanjutkan kaki-kaki ini
Melangkah, membuat perubahan
Dimanapun Allah gariskan

Terakhir, nyontek status Muthi malam ini

karena kita takkan pernah tau sampai kapan kita terus bersama. untuk itu kukatakan, uhibbukumfillah :)


Selasa, 26 Februari 2013

Senjata Ampuh Itu Bernama Keberanian


Mentari perlahan meninggi. Ahad pagi. Kampus didatangi masyarakat yang menikmati udara pagi. Salah satu sudut kampus tampak ramai. Seperti biasa, sekelilingnya memang sering digunakan sebagai jalanan untuk lari. Danau.

Danau itu baru setahun berdiri. Untuk resapan air katanya. Dan memang menjadi daya tarik tersendiri karena letaknya yang strategis diapit 4 kampus sekitarnya. Mahasiswa juga tak jarang memanfaatkan fasilitas di sekitarnya untuk kegiatan organisasi atau komunitasnya. Sebuah komunitas tampak melakukan upgrading

Mereka berkumpul di jembatan yang dibangun di atas danau sedari pagi. Fyi, Upgrading adalah kegiatan outdoor yang biasa dilakukan untuk meningkatkan kekompakan dan menjaga kebersamaan suatu kelompok. Biasanya mereka melakukan games, olahraga bersama dan bercanda ria.

Menyenangkan. Itulah yang bisa tergambarkan dari raut muka yang hadir disana. Tampaknya komunitas itu melakukan upgradingnya dengan baik, sesuai yang pasti mereka rencanakan sebelumnya.

Namun, skenario tak berjalan sesuai rencana. Atau mereka bahkan tidak tahu. Ya mungkin. Ketidaktahuan acapkali menjadi penyebab, namun ketidakacuhan juga tak kalah sering menjadi musabab. Seorang akhwat berjilbab terlihat protes terhadap games yang diberikan. Singkat. “Kak, saya khan berjilbab... “, begitu kira-kira kata-katanya. Sepertinya games yang ada memang terkesan kurang menjaga posisinya. Aku hanya terbengong takjub mendengar suaranya sayup-sayup. “Subhanallah”

Tampaknya, panitia segera memakluminya. Syukurlah. Ia tampak tak ambil bagian dari games yang satu itu.
Pagi itu, aku mendapat pelajaran yang berharga. Ini tentang keberanian. Bayangkan kawan jika perempuan tersebut malu, sungkan, dan merasa takut untuk mengucapkan. Dia masih bisa berkata spontan, mencari alasan cerdas, tidak berbelit dan bisa dimengerti lainnya yang mungkin belum paham. Jika tidak? Boleh jadi permainan yang keterlaluan bisa diikuti walau dengan keterpaksaan.

Ketahuilah, permainan dengan dalih untuk merekatkan malah terkesan berlebihan sudah sering adanya. Tidak munafik, setan sangat lihai membuat kesan menyenangkan apabila tlah perlahan menjurus ke arah yang kurang pantas dilakukan.

Seperti halnya berdiri di atas kertas koran terbatas untuk satu kelompok yang ada anggotanya perempuan juga. Pantaskah?

Disinilah kita bisa memetik hikmah.

Kita sudah diberikan senjata terbaik untuk menjaga diri kita. Dari segala bentuk apapun yang mengundang bahaya. Bagi kawan perempuan tadi, ialah jilbabnya. Bukan menjadi pembatas baginya untuk bersenang-senang, namun jadi pelindung ketika memang ia gunakan. Boleh jadi teman yang belum berjilbab akan bingung mencari alasan apabila berhadapan dengan kondisi yang sama, mengharuskan terlalu berdekatan dengan lawan jenisnya.

Namun senjata itu tidaklah berguna. Sama sekali yakinlah, jika tanpa ada keberanian yang menyertainya. Dengan kata lain, mereka adalah satu paket tak terjual terpisah agar bisa bermakna.

Lalu darimana datangnya keberanian itu?
Tentunya ia takkan datang dari keraguan. Ia takkan pula datang dari sikap penakut dan pengecut yang tumbuh beserta lemahnya iman.

Karena tahukah kawan, bahwa keberanian adalah salah satu kekuatan. Tentunya tiada kekuatan terbesar melainkan yang bersumber dari Allah, bukan?

Lalu seberapa beranikah kita menjadikan nikmat iman dan islam yang tlah ada menjadi penyuara kebenaran? Atau kita malah masih ragu dan malu? Jika kita sendiri masih belum bisa meyakinkan diri ini, bagaimana bisa membuat mereka mau belajar memahami?

Yuk, terus perkuat diri kita. Agar sekitar kita menjadi terjaga, sesuai Quran dan sunnah rasul-Nya.


Kamis, 14 Februari 2013

Apa kabar Ksatria?


Apa kabar ksatria?
Masihkah ingatkah cerita lama
Akan mimpi-mimpi sederhana
Yang sekarang sudah sehasta kita raih bersama

Aku memulai cerita ini dengan ucapan selamat kepada SMA kita tercinta yang merayakan ulang tahunnya.

Dirgahayu SMA-ku,
semoga semakin jaya selalu
tetaplah menjadi pintu
bagi generasi pembaharu
yang ingin merajut asanya dengan ilmu
dan prestasi yang membanggakan kota kecilku


 Tiga tahun berlalu. Hari yang sama waktu itu, kita pasti sedang riuh jelang Bondan n Fade 2 Black yang akan menggelar konser. Rangkaian acara kala tu dihelat untuk mensyukuri eksistensi sekolah yang tlah 33 tahun lamanya. Tak terasa, sudah ke-36 sekarang rupanya. Makin tua yah kita. Hehehe

Tetapi intinya, tiga tahun tlah berlalu. Kita telah tersebar ke segala penjuru. Jakarta, Bogor, Bandung, Malang, Jogja, Surabaya, Malang, Jember dan kota-kota lainnya tempat kita mengadu. Lalu bagaimana kabar tanah rantau? Masihkah ia sering menjadi galau?

Keras. Jika memang merasakannya, maka aku yakin semua mengalaminya. Baik yang melanjutkan kuliah, ataupun langsung bergelut di dunia kerja. Keras. Yah, dunia memang keras. Dimanapun, bagi yang masih menetap di kota kita sekalipun. Maka jangan pernah meremahkan siapapun. Karena semua ini belum berarti apapun. Jika setuju, tunjukkan senyum indah kalian kepada deretan kata-kata didepanmu. J

Apapun keluhannya, ketahuilah di luar sana. Ada yang mendapatkan yang lebih dari kita. Cobaan, halangan, rintangan silih berganti menerpa. Dan sebuah solusi takkan pernah berubah selain sabar dan tetap jalani apa yang ada. Solusi indah hanya akan datang bagi para ksatria yang takkan turun dari kudanya, dan tetap berjuang melawan musuh-musuh yang ada bukan? J

Lalu, bagaimana dengan targetmu?

Tiga tahun berlalu. Bagi yang D3 pasti sudah tinggal sejengkal meraih gelarnya. Dan S-1 sudah persiapan mengambil gelar sarjana. Tapi apakah selesai begitu sajakah?

Belum!
Jika ingat, bak kisah Habibie dengan Indonesia, apakah kita memiliki hal serupa dengan Lumajang tercinta. Yah kisah klasik. Dulu, pasti menginginkan bisa berguna bagi kota kecil kita. Entah bagaimana. Ingin melihatnya lebih sejahtera, makmur, dan lebih baik dari sedia kala. Tapi yah, entah bagaimana.

Visioner!
Jika masih bingung janganlah bimbang dan hanya termenung. Yuk nikmati peran yang ada sekarang saja. Mahasiswa, lulus dan membanggakan semuanya. Tentunya, bukan dengan berpangku tangan dan berdiam pasrah. Karena Ksatria takkan pernah melakukannya. Sekalipun lelah, bolehlah sesekali merebah, namun jangan sampai berubah. Cita-cita kita masih ada. Jalan panjang harapan yang tidak ada putusnya. Bidang apapun sama. Sama-sama berguna dan bermanfaat maka jangan pernah merasa tidak bisa.

Yah nikmatilah. Jungkir balik, jatuh bangun, hingga ngesot sekalipun. Ini masanya.

Lalu kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk kisah klasik kita.

Tetap berjuang, dan sampai jumpa kala kesuksesan kita genggam
Salam J

Sabtu, 05 Januari 2013

Sejumput Noda


Suatu hari, di dua ribu sepuluh.


Tepat di angka delapan. Jam di telepon genggamku malam itu.

"Eh, si kakak. Ngga nyapa ih", ujarnya seraya membuatku menepi.

"Oh, kamu. Darimana?", tanyaku berbasa basi. Ia hanya membalas dengan senyum dan dia beranjak pergi. Meninggalkanku dengan jalanan sempit yang biasa ku lalui.

"Dasar ababil GJ", pikirku dalam hati. "Perempuan, tingkahnya susah dimengerti", terkaku kembali.


----------------------------------------
The next days

TPA hari ini cukup ramai seperti biasa. Namun sosok adik yang menyapaku kemarin tak tampak. Mengapakah? Ketika kutanya, yang lain tak ada yang mengetahui jawabannya.

Ah biasa. Kucoba memakluminya. Sedikit memaksa. Ia sudah remaja. Pastilah lebih mengerti mana yang benar dan salah. Dibandingkan bocah-bocah di depanku yang beraneka rupa kenakalannya.
Demikianlah, sederet pikirku yang mengemuka. Dan perhatianku pun teralihkan oleh anak-anak lainnya.

Jika dipikirkan susah memang. Ketika kita dituntut memberikan perhatian sedemikian rupa bagi puluhan anak-anak yang ada. Tak sendiri?. Ya, aku memang bersama beberapa mahasiswa menjadi teman belajar mereka selepas senja beranjak pergi. Di musholla kecil itu, kami mencoba mengais sedikit ilmu. Berharap bisa menjadi bekal bagi anak-anak lugu yang menjadi generasi harapan di kemudian waktu. Namun....



----------------------------------------

Tahukah kawan, menjadi mahasiswa bukan perkara yang mudah.
Memang, kuliah, amanah dan lain sebagainya jika itu kau jadikan dalih semua atau salah satunya.
Tetapi anak-anak kecil itu, tak semua mengerti walaupun tlah mencoba.
Baginya kita cukup istimewa, bukan sekadar orang terpilih dan terpilah.
Namun ada kekuatan yang menggerakkan hati kita.
Karena itulah kita bergerak bukan, wahai kawan?
Lalu apakah itu kawan?
Masihkan itu ada dalam genggaman?
Jangan sampai ia menghilang dan menjadikanmu menoreh sejumput noda seperti yang kutinggalkan.
----------------------------------------

Sejujurnya aku merasa istimewa bila bercengkerama dengan mereka. Namun keistimewaan semu yang dirasa, akan segera dilibas jenuh, emosi dan berbagai halang rintang yang membuat hati enggan bertahan.

Mungkin bagi kita kawan yang mau menyisihkan waktu, bisa merasakan status menjadi pengajar. Atau jika diistilahkan, jadi murabbi kecil-kecilan. Walaupun sebenarnya terkadang ilmu yang kita ajarkan, belum tentu sudah benar kita resapi dalam-dalam sebelum kita celotehkan di khayalak raut muka para generasi harapan. Iya bukan? Namun, jangan pernah meremahkan. Atau kita hanya akan menuai sejumput noda, yang kan sulit terhapuskan.

Waktu bergulir.

Adik perempuan tadi masih enggan menampakkan kembali di TPA kami.
Ku pinta pengajar perempuan menanyakannya, namun tak menuai hasil. 
Kami terlalu sibuk mungkin. Dengan anak-anak yang lebih kecil, riang dan usil. Suasana TPA lebih ramai oleh mereka. Sementara yang remaja, seakan mendapat waktu sisa. Dan tenaga kami belum cukup menampung semuanya.

Sekadar tahu saja, dia adalah sosok yang cukup rajin sebenarnya. Ia cukup pandai mengajinya, hafalan pun lumayan, dari segi prestasi cukup menggembirakan. Dan dari situ mungkin kami terlena melakukan penjagaan.

------------------------------------
The next other days

"Eh, kok nggak ngaji lagi?", tanyaku suatu hari. Kami berpapasan. Rumahnya memang dekat dari musholla kecil kami.

"Errr, banyak tugas sekolah kak, hehehe", kelitnya. Ia beranjak pergi.

"Terlambatkah?", pikirku menyeruak. Mungkin juga. Sebelumnya aku memilih tak terlalu peduli, dan kini seketika ingin sedikit berbagi seakan canggung pun menyergap di hati.

"Ah pura-pura peduli, ah basa-basi, aahhhh"

Aku mencoba menenangkan diri. Mencoba mengurangi prasangka negatif tentang apa yang ia pikirkan terhadap kepeduliaan yang tampak tiba-tiba. Namun ternyata, alasan demi alasan membuat ia perlahan benar-benar tak kembali ke TPA kami.

------------------------------------

Sebaik-baik kata ketika menyapa. 
Apabila tergantikan oleh senyuman. 
Terdiam. 
Tetap saja, terekam diam.

-------------------------------------

The next other days

"Hei... Assala..", sapaku sembari terkejut melihatnya.
"Ia membalas sapaanku dengan hanya tersenyum malu seperti biasanya. Namun kini, sedikit berbeda.
Tak lagi tampak kain melindungi mahkotanya.  

"Mungkin lupa, mungkin dicuci, atau mungkin...", ah apapun aku mencoba berbaik sangka. Memang sih, dia telah mengaji di TPA jauh sebelum aku ikut mengajar disini. Jadilah pasti senior-senior yang ku ketahui sendiri jauh lebih baik, memberikan sesuatu yang berbekas di hati.

Perlahan, jilbabnya mulai lebih sering ditanggalkan ketika kami berpapasan.
"Hmm, mungkin dia sudah mulai puber", pikirku mencoba memahami. Memang, beberapa orang terkadang menganggap jilbab adalah penghambat bagi kecantikan. Namun sayang sekali jika dia berpikir demikian. Sayang sekali.

-----------------------------------

The next other days

"Ih kak Faisal", ujarnya sambil berlari dengan temannya yang juga makin jarang kelihatan mengaji akhir-akhir ini.

"Hei kok....", belum selesai aku berkata mereka telah meninggalkan jejak saja.

Hari demi hari berlalu, dan perlahan tahukah kawan apa yang kurasakan?

"Ah biarlah, ah lelah, ah jemu"

Semakin sering dan sering aku menjumpainya di sekitaran musholla ketika waktu mengaji tiba.
Tetapi sang waktu kian berlalu dan minim interaksi seakan membuat jarak diantara kami menengadah jauh. Sesekali kulihat dia asyik dengan sinetron di televisi.

"Ah memang sinetron remaja lepas maghrib makin seru akhir-akhir ini", pikirku.

Suatu ketika juga, kulihat rumahnya bergemuruh dengan suara musik walaupun maghrib baru saja berlalu.

"Hmm anak muda. Dia menggemari musik sepertiku dulu", pikirku.

Di lain waktu juga kutemui dia di teras rumah sedang bersenandung ria, bercengkerama dengan temannya. dan aktivitas lainnya.

Dan satu hal yang perlu dicatat.
Lidah ini seakan kelu.
Sedikitpun tak ada sapaan atau salam seperti yang terdahulu mampu tercuap meski sebenarnya hati merasa rindu.

------------------------------------------

Suatu ketika di dua ribu dua belas.

Azan maghrib memanggil. Sayup-sayup merdu mengisi ruang hati yang ikut menggigil. Bandung hujan malam ini. Bergegas ke MSU setelah dari seharian menikmati kuliah.

Setelahnya, beranjak ingin mengajar setelah beberapa lama tidak sempat karena berbagai kegiatan tak terduga.

"Hari apa ini?", pikirku. TPA kami memang memiliki jadwal rutin setiap hari. Dan pergi kesana biasanya aku tak lupa menyiapkan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan untuk hari itu.

Di plaza MSU kulihat, sesosok muda-mudi berduaan.

"Ah ini pasti malam Minggu", seketika terkaku.

Namun kulihat si pemudi itu berpakaian tak terlalu tertutup untuk udara sedingin itu. Sang pemuda justru lebih terlihat nyaman dengan jaketnya. Mereka duduk, berpegangan tangan.

"Oh saling menghangatkan, hehehe", pikirku.

Perlahan, pandanganku yang sedari tadi samar-samar menjadi lebih jelas.

Aku hanya bisa tertegun ketika yang kulihat adalah dia. Sosok adik perempuan yang tak lagi mengaji di TPA kami. Sesaat aku baru menyadari, selama ini aku menjadi saksi pasif perubahan yang dia alami.

Sedari awal ia enggan mengaji, karena keterbatasan perhatian pengajar hanya untuk yang kecil saja. Ia lepaskan jilbabnya. Pelan hingga aku semakin sering melihatnya tanpa jilbab kecuali ketika sekolah. Lalu perlahan pula berubah dari pakaiannya yang semakin lama semakin terbuka. Dan lainnya, lalu lainnya. 

Dan kini, aku melihatnya berdua dengan lelaki tak jelas asalnya dengan menggunakan pakaian sedemikian saja? Harusnya di jam ini, dia mengaji di TPA bersama kami.

Astaghfirullahaladzim...

Mana Quran yang senantiasa ia baca dengan semangatnya ketika dulu awal aku mengajar disana?
Mana jilbab yang biasa menjaga kecantikannya tuk tidak diumbar kemana-mana?
Mana sikap pemalu yang dia jaga?

Aku hanya bisa menangis dalam hati. Itukah sejumput noda yang kutinggal di masa lalu. Enggan kubersihkan karena malu. Dan kondisinya kini seperti itu?

T.T

Jujur kawan, aku bingung bagaimana memperbaikinya. Bingung darimana memulainya.

Mana orang tuanya?

Mana sekolah yang mendidiknya?

Mana saudara saudarinya?

Apakah lepas mengaji mereka biarkan ia sedemikian rupa?

Dan tahukah kalian. Salah satu sejumput noda itu tidak akan hilang dengan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Justru ketika enggan membersihkannya di muka, noda itu akan semakin menempel dan susah tuk kembali sedia kala. Maka setengah-setengah, dan apapun yang kita rasa, tahukah kalian apabila itu hanya menimbulkan sisa maka berhati-hatilah.

Keberanian adalah salah satu cabang dari kekuatan. Dan ilmu menjadikan keberanian bisa terukur sebagaimana mestinya.





Keluarga kecil kami :)
--------------------------------------------------

Kisah kecil tadi mungkin hanya contoh.

Adik-adik kita sekarang tlah semakin banyak yang menginjak masa remaja.
Mereka berada di jalur persimpangan yang akan bisa banyak mengubah dirinya.
Jangan berhenti.
Misi ini sederhana, tetapi tak semudah mengucapkannya dengan lisan ini

Perubahan itu memang takkan serta merta
Seperti cerita tadi, perlahan demi perlahan
Mereka pasti berubah
Yang harus kita lakukan hanya cukup meminimalisir perubahan ke arah yang kurang baik
Dan menumbuhkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Selamat berjuang,
Generasi penerus pengajar TPA Al Ikhlas

Khususnya angkatan 2012


Senin, 15 Oktober 2012

Ketika


Semua berawal ketika semuanya sama. Semangat yang membara, antusiasme yang melimpah, serta jiwa muda yang masih menggelora.

Perlahan, waktu berlalu dan semuanya berubah.

Jarak itu perlahan menengadah.

Meninggalkan satu sama lain karena kemampuan yang memang berbeda.

Atau takdir yang memang lain berkata?

Entahlah...

"Jalan kita mungkin berbeda", ujarmu menghiburku.

"Aku ingin sepertimu, tapi aku tak mampu", teriakku kesal.

"Jangan salahkan dirimu, kalau kau telah berusaha", tambahmu menguatkanku.


Dan ketika, jarak itu makin lebar
Tak lagi ada kata-kata dalam tuk saling ditukar

Kau hidup dengan duniamu
Dan aku kian asing dengan itu

Kau hidup dengan duniamu kawan,
Maka selamat jalan

Ku kan hidup dengan duniaku,
Takkan sehebat dirimu, mungkin
Tapi tlah cukup membuat bahagia hatiku



Sabtu, 18 Agustus 2012

Maaf

Diantara langkah demi langkah sejak saat itu..
Tangisku meledak-ledak memecah pilu ...
Kau lahirkan sesosok bayi mungil penuh cinta..

Dari rahimmu, wahai muslimah yang tak kenal menyerah...

Di saat seperti ini..
Kala takbir menggema ke segala sisi...

Kau kuatkan diri menahan sakitmu..
Meregang nyawa demi buah hati yang tlah lama dirindu..

Ketika malam takbir seperti ini, banyak hal yang masuk dalam pikiranku. Satu diantaranya, mengingatkanku atas peristiwa 5 April, sekitar 20 tahun lalu.

Seorang lelaki tampak kebingungan. Keringatnya bercucuran.Saat itu engkau hendak melahirkan. Sementara tak banyak uang ia punya karena pekerjaan tetap yang belum ada. Ia kesana kemari mencari pinjaman, alhamdulillah Ibumu memiliki tabungan dan sama sekali tidak keberatan membantu proses kelahiran cucu pertamanya.

"Operasi harus dilakukan!", kata Dokter, membuat suasana semakin tegang dan hanya bisa berdoa kepada Sang Penguasa Kehidupan.

"Tidak ada jalan lain. Proses kelahiran sudah terlalu lama. Posisi bayi sungsang dan susah untuk dilahirkan secara normal seperti biasa. ", tambahnya.

Lelaki itu tampak berkonsultasi dengan Ibumu, dan beberapa kerabatmu yang ada disana. Ia tak tega melihatmu yang tampak lelah berbaring terlalu lama.

"Lakukan Dok, bismillah", ucapnya dengan pasrah.

Sang dokter pun langsung melakukan tugasnya.

Malam itu pekik takbir terdengar membahana...
Maklumlah Ramadhan telah berada pada ujungnya..
Walau perjuanganmu jauh dimulai sebelum saat itu..
Semua terduduk dan bertakbir sembari menunggu operasimu berlalu.. 

 Dan akhirnya ...........................



"Alhamdulillah telah lahir putera pertama kami, pada hari Ahad, 5 April 1992, 1 Syawal 1412 H . Kami namai dia Muhammad Faizal Ramadhan, semoga menjadi anak yang shaleh, berbakti dan berguna bagi keluarga, agama, negara dan orang-orang sekitarnya", tulis lelaki itu dalam sebuah halaman buku catatannya.

Catatan : Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. 

Hingga akhirnya, bayi itu terus tumbuh dan tumbuh, hingga berkesempatan membaca catatan itu, dan menuliskan tulisan ini.

Ia kini sudah akan memasuki masa dewasa. Masa ketika kesulitan semakin kompleks dan mengisi dan ada di tiap detik-detiknya.

Namun ia masih rapuh. Dengan semua yang ada di hadapannya. Harapanmu bersama lelaki itu, mungkin tak bisa diwujudkannya. Belum! Sekarang, ia terus berjuang untuk menjadi harapanmu. Untuk membentuk  dirinya menjadi sosok yang shaleh, berbakti, dan berguna seperti mimpimu yang takkan berubah. Sedari dulu ketika berjam-jam menunggunya tak kunjung lahir dari rahimmu hingga kini ketika kau bersitkan rindu dalam doamu.

Maafkan aku ya Allah...
Beri aku kesempatan lebih...
Untuk wujudkan harapnya seperti dulu dan kini,,
Agar tiada sesal diri ini ada disini...

Jauhkan diri ini..
Dari setiap hal yang membuatnya kecewa dan sedih...

Kuatkan aku dalam jalan-Mu.. 
Wahai Sang pembolak-balik kalbu..









Minggu, 05 Agustus 2012

Jangan Hanya Mendekat, Tapi...




Ramadhan tiba. Bulan penuh berkah dari Allah untuk kita semua.  Diantara bulan-bulan lainnya ialah satu yang teristimewa. Pahala dilipat ganda, sementara segala rangkaian ibadah kan lebih mudah mendekatkan diri kita kepada-Nya.


Dari mulai bangun kita sudah menyiapkan diri berpuasa dengan menyantap sahur, berlanjut dengan shalat shubuh. Selanjutnya, seiring perut yang kosong detik-demi detik selalu teringat bahwa kita sedang berpuasa, menunaikan perintah-Nya. Shalat fardhu dan berbagai ibadah sunnah yang ada, silih berganti hingga waktu akhirnya tiba berbuka. Tak sampai disitu saja, sepertiga malam untuk tarawih, subhanallah begitu luar biasa kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

Mendekat. Menjadikan setiap langkah kita selalu diiringi dengan kemantapan karena kedekatan dengan Sang Khalik. Begitu sajakah? Sahabat, terkadang kita melupakan potensi yang kita bisa peroleh dari kedekatan itu dengan Allah Swt. Kita bisa berdo'a, meminta, memohon dan mengharap belas kasih dari Sang Maha Kuasa. 

"Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi)) HR Ahmad dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. 


Apa yang kita lakukan?

Lepas tarawih, shalat malam kita di bulan Ramadhan...
Usai shalat fardhu, yang sebenarnya juga waktu yang diijabahnya do'a ...
Di detik demi ketik ketika kita berpuasa ketika kita senggang..


Jangan sia-siakan kedekatan kita dengan-Nya
Yuk berdo'a...


Karena dengan do'a, takdir kita juga bisa berubah.