Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

#CeritaWisuda


Toga kukenakan pagi ini. Kulihat wajah mereka pun tersenyum bangga menatapnya. Duhai Allah, terima kasih atas karuniamu. Ini luar biasa istimewa. Salah satu hari terbaik yang pernah kurasa.

Foto Toga nyomot dari PP si Roni hehe
Baru Juli lalu, sulit rasanya melihat target Tugas Akhir yang belum tercapai juga. Padahal siang dan malam tak pernah lelah menemaniku memecahkannya. Hingga pada akhirnya, satu persatu teman mendaftarkan dirinya. Dan akhirnya terpaksa aku pulang dengan kecewa tertanam di dada.

“Maaf, harus nambah semester lagi”, ujarku sedih bercampur malu kepada orang tua. Tidak murah kuliah disini. Tidak semua PNS dengan beban empat anak mampu menyekolahkan anaknya setinggi ini.

Namun mereka tidak berupaya menghakimi. Sebaliknya mereka mendukung dan percaya aku bisa. Raut optimis ku lihat dengan seksama, tak jauh berbeda dengan semester satu dulu ketika aku merasa kalah karena IP di bawah rata-rata.

Agustus menjadi bulan berat bagi mahasiswa tingkat akhir yang belum bisa diwisuda. Dilema antara menyambut teman yang berbahagia, dengan meratapi nasib sendiri yang tentu iri melihatnya. Namun Alhamdulillah, mayoritas teman memilih menunda wisudanya. November dipilih agar bisa bersama-sama.

Dan akhirnya di bulan November ini, orang tuaku bisa menerima undangan wisuda. Aku bahagia. Akhirnya keluargaku menjejakkan kaki di Bandung juga. Tanah rantau yang selama ini mereka dengar dari cerita-ceritaku balik telefon, atau berita dari layar kaca. Maka agenda pun ku susun. Dari mulai hari pertama mereka datang, hingga nanti pulang agar bisa maksimal.

Sejak mereka datang, aku antarkan ke penginapan yang sebelumnya sudah kupersiapkan. Dan Ciwidey menjadi destinasi keesokan hari. Dari mulai kawah putih, hingga pesona pemandian air panas alami.

Family Trip - Graduation
Namun sebenarnya banyak tempat yang ingin kutunjukkan selain itu. Kelas tempatku kuliah sehari-hari, lab tempat favorit memperjuangkan tugas akhir, masjid tempatku biasa mendapatkan ketenangan dan pencerahan, organisasi tempatku memperoleh banyak kawan dan pengalaman dan masih banyak lagi. Tempat-tempat yang aku lihat dalam empat tahun lebih ini, tempat yang memberikanku banyak cerita dan menumbuhkan banyak mimpi hingga kini.

Ternyata 4 tahun kuliah bukan waktu yang singkat. Ku pandangi mereka, senyum mereka tetap sama, selalu indah. Hanya mereka menua, langkah mereka tak secepat dulu ketika menuntunku dan membuatku berlari-lari kecil. Fisik mereka lebih cepat lelah, dan udara Dayeuhkolot cukup terik membuatku akhirnya mengurungkan planning menyesuaikan kondisi.

Sebenarnya aku hanya ingin mereka tahu, banyak tempat-tempat indah disini yang mengajarkan banyak pengalaman istimewa. 
Dan aku ingin mereka tahu bahwa tempat-tempat indah itu, pengalaman hebat itu, dan kesempatan emas hingga menuntaskan amanah ini tak akan bisa dicapai tanpa kerja keras mereka, kesabaran mereka, doa-doa mereka. Setiap hari. Dari 5 April, 22 tahun silam, hingga kini.

Pak, Mik,
Akhirnya anakmu ini lulus.

Terima kasih ya untuk semua doanya, semua pengorbanannya.

Sabtu, 24 Mei 2014

Aktif Memilih, Memilih Aktif

Tahun pertama, semua tampak sama. Dengan mata berbinar mengangkasa, segenggam mimpi di hati terpupuk indah. Semuanya menunggu momen yang sudah diharapkan tuk segera tiba.

Apa yang diharapkan mahasiswa di tahun pertamanya? 

Aku salah seorang yang mendambakan pengalaman. Dan salah satu pintu mendapatkannya ialah berkecimpung di dunia organisasi atau kepanitiaan yang beraneka ragam.

Namun memilih organisasi bukan semudah memilih makanan apa yang akan kau makan esok hari. Ada pertimbangan. Karena organisasi bukan sekadar jabatan, ataupun kekuasaan. Itu adalah sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan. :)

Memilih organisasi berdasarkan hobi nampaknya patut dicoba. Walau menemukan hobi itu sendiri sebenarnya memerlukan sebuah proses tersendiri.

Organisasi adalah tempat dimana kita akan mengabdi. Bukan sehari-dua hari. Bisa satu semester lebih. Sementara, dengan aktivitas kuliah yang masih tak terduga tampaknya harus diperhitungkan ke depannya juga. Maka dari itu aku memilihnya hati-hati.

Dari mulai profil organisasi, bidangnya dan apa manfaatnya harus benar-benar dicermati. Tercatat aku bahkan pernah ikut tahap rekruitasi tapi menghilang ketika pelantikan hanya karena satu hal.

Hati.

Ia jatuh cinta pada organisasi lain. Dimana ia bisa melakukan sesuatu disana yang tidak dilakukan di tempat lain. Dimana dia bisa menemukan di tempat lain, juga ada tak beda dan tak lain.

:)
----------------------------------------------------------------------------

"Wah anak ** ya?", seloroh seorang senior saat it
"Loh kak kok tau?"
"Iya, biasanya yang malam minggu nongkrong tilawah bareng di MSU ya anak **.
"Oh ya gitu? Insha Allah. Saya masih tahap magang kok. ", jawabku sembari melayangkan senyum malu.

Aku merasa seakan sedikit lebih sholeh  akhir-akhir ini. Bayangkan di saat semua maba menikmati malam minggu di kostnya, malam mingguku berubah tempat mulai saat itu.

MSU? Ya masjid kampusku ini menjadi tempat bermalam minggu rutin organisasi pertamaku di tiap pekannya. Malam minggu diisi dengan tilawah, mengulang hafalan quran dan berdiskusi beraneka rupa. Lepas rehat, sambung lagi dengan qiyaamul lail dengan diimaami senior-senior yang bacaan dan hafalannya luar biasa.

Rutin? Ya, itu sudah budayanya katanya. Bahkan anak-anak LDK sebelah seringkali ikut serta, dan anak-anak ** lah yang menjadi tempat setoran hafalan biasanya.

Jumlah pengurusnya tidak banyak. Bukan karena tidak ingin banyak, namun tidak perlu banyak. Itu membuatnya seakan orang-orang terpilih. Walau sebenarnya mereka adalah sekumpulan orang yang "memilih dirinya".

Terkesima, aku pun mulai mantap berada disana. Apalagi berada di organisasi keislaman memang menjadi keinginanku.

-------------------------------------------------------------------------------------------
"Kuliah mahal-mahal di Telk** rugi kalau ngga ikut lab", kata temanku. Aku setuju. Jika hanya organisasi atau kepanitiaan yang di tempat lain ada, apa bedanya?

Aku pun sejak tahun pertama melanglangbuana berharap bisa mengikuti lab-lab yang ada. Pilihannya banyak, ada studi grup, riset grup hingga menjadi asisten lab. Namun pilihan tentang lab bukan hanya tentang hobi saja, juga tentang tugas akhir. Yang katanya bisa bikin senior ketar ketir. Ngeri nggak tuh?

Transmisi, Jaringan atau Sinyal?

Tiga pilihan itu menjadi jejak awal mahasiswa di jurusanku menapakkan langkah di tahun keduanya.
Namun akhirnya aku jatuh cinta pada suatu lab bukan karena ketiganya :)

"Terima kasih ya", senior itu menyalamiku ketika hendak pulang.
"Makasih buat apa nih mas?", tanyaku bingung.
"Makasih udah mampir", jawabnya sambil tersenyum. Ternyata bukan dia saja, senior-senior lainnya menampakkan tingkah laku yang sama. Entah apa ini namanya, tapi aku suka.

Dan lab itu seakan jadi rumah kedua. Bukan hanya tempat belajar dan berdiskusi, namun juga bercanda, berbagi, bahkan menginap dan mandi pun disana. Benar kata dosenku, rumah itu ada bukan karena sekadar bangunan yang berdiri megah, namun karena orang-orang yang ada di dalamnya.

:)
Sweet.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

not the gun, but the man behind the gun

kata-kata itu sering diucapkan teman-teman sekelasku dulu dalam candaannya. Entah tentang apa mereka berbicara. Tapi aku suka.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa tahun berlalu dan aku tetap setia di organisasi itu. Memang ada kalanya ingin berpindah ke lain hati, namun kenangan akan senior-senior yang berharap bisa melanjutkan mereka selalu saja membuatku bertahan.

Suatu kebanggaan pernah satu tim dengan mereka. Orang-orang hebat, dengan budaya hebat demi impian yng juga hebat. Memang tak selalu segala sesuatu berjalan mulus. Adany proker yang tak berjalan, pengurus yang ilang ilangan atau apapun itu, aku anggap saja penghias kehidupan.

Bagiku tetap, suatu kebanggaan pernah satu tim dengan mereka. Dan suatu kebanggaan tersendiri pula bisa melanjutkan impian mereka. Walau raga mereka tak selalu menemani, tapi doa mereka selalu menyertai. Indah bukan kawan?

Hingga saatnya tiba, aku menjadi ketua. Posisi yang bahkan tak pernah aku pernah bayangkan sebelum ini. Tahukah engkau kawan, ternyata mempertahankan sebuah budaya tak kalah susah dengan membangunnya dari awal. Susah mengumpulkan anggota untuk mabit di akhir pekan? Oke, ganti jadi per 2 pekan. Hingga akhirnya per bulan, dan hanya dihitung jari terlaksana. Dan di semester berikutnya, itu hanya jadi cerita lama.

Bagaimana dengan proker lainnya? Tak begitu buruk. Dan memang tantangan setiap zaman berbeda. Apapun yang terjadi kini Allah tlah mengambil amanah itu. Dan aku merasa sangat bersyukur pernah dipercaya mengembannya.

Aku baru sadar. It's not the gun, but the man behind the gun.


-------------------------------------------------------------------------------------------------

Senior-senior kebanyakan telah lulus. Cerita sukses mereka seakan membuat diri ini ingin sesegera mengikuti jejaknya. Lab kami pindah. Bukan di depan LC dengan bangunan unik berbentuk segi delapan sebagaimana sebelumnya. Dan budaya itu juga perlahan berubah. Tidak ada lagi acara shubuh berjamaah selepas menginap bersama. Atau jabat tangan sederhana setiap kali meninggalkan tempat. Dan lain sebagainya.

Aku merasa menjadi salah satu penyebab kesalahan itu. Seperti di organisasi sebelumnya, it's the man behind the gun.

Siapa sangka, senior yang selalu ramah, bercanda, menyapa dan menghargai juniornya itu sudah dari sononya begitu saja? Tidak. Mereka pun berproses. Dan itu yang aku lupa.

Mungkin aku terlalu sibuk dengan masalahku, agendaku, dan apalah yang berbau tentang "aku". Dan ketika sadar, demikian pula sekitarku.

Tidak semua orang dasarnya ingin tahu masalah orang lain. Ada yang pendiam. Ada yang memang tak acuh. Tetapi jika memang tidak ada keinginan, bagaimana bisa berlabuh sebuah kuatnya ikatan, yang bukan hanya tentang amanah dan jabatan. Ini tentang..................................................

-------------------------------------------------------------------------------------------------

not the gun, but the man behind the gun


memilih yang baik memang hak kita. Namun menjaga kebaikan itu tetap ada dan terjaga, siapa lagi selain kita?

Bukan hanya karena organisasi ini baik, kita akan jadi baik. Tetapi juga perlu orang-orang baik agar organisasi ini tetap berjalan baik.

Maka jika dulu aktif memilih, pantaskah kita enggan memilih aktif? 

:)

Siapapun kalian yang membacanya, semoga bermanfaat


Raffa Muhammad 
@sky_sparker









Senin, 14 April 2014

I Want to be Involved

Malam yang penuh hal luar biasa. Melihat prestasi, pencapaian atau planning yang pasti bukan sekedarnya. Namun melihatnya dan hanya jadi "amazed" apa gunanya? Setiap hari juga sama.

I Want to be Involved

Suatu ketika aku pernah bercerita kepada seorang teman pena yang sudah kuanggap kakakku sendiri walau tak pernah berjumpa di dunia nyata. "Kak, kenapa sih rumput tetangga selalu tampak lebih hijau?"

Beliau beberapa tahun di atasku. Pernah mengemban amanah pula di LDK Al Hurriyah IPB. Kebetulan aku melihat kegemilangan Gamais ITB membuat acara Ramadhan dengan panitia yang hanya "anak baru", sementara saat itu aku di tahun ketiga belum bisa maksimal dalam mengemban amanah yang ada.

"Sebenarnya bukan rumput tetangga yang lebih hijau. Tapi kamu hanya melihat hasil akhir kerja mereka, tanpa melihat bagaimana mereka mencapainya", kata kakak itu. Aku mengangguk setuju walau ia pun takkan pernah melihatnya.

I Want to be Involved
Memang, jemu rasanya hanya menjadi penonton lama-lama. Padahal waktu ini sangat berharga.

Malam ini aku melihat kemenangan Timas U-19 atas UEA U-19. Entah mengapa ikut senang. Tapi apakah pantas ikut menikmati kemenangan tanpa mengikuti perjuangan?

Pun ketika melihat sebuah komunitas yang digawangi teman seangkatan. Arisan Sepeda katanya. Keren. Hmm,

Melihat video gokil SkinnyIndonesian24 yang makin tenar dan membuktikan bahwa selera humor dibalut dengan cerdas bisa "menghasilkan".

Sebenarnya pilihan menjadi tokoh utama selalu ada. Hanya saja, terkadang mentalitas pasifis terhadap apa yang kita kerjakanlah.... Atau aku sendiri masih terlalu mengikuti arus yang ada tanpa menciptakan satupun gerakan tuk membawaku ke samudera yang kudamba?

Malam ini tak jadi lagi simulasi TA. Sorry blog ini makin lama makin seperti diary :3 Tak seperti dulu banyak cerita inspirasi.

Kuakhiri cerita malam ini, dengan harapan bisa membuat video OST Clannad The Place Where Wishes Come True  seperti The Ishter di videonya berikut. 
Bercerita tentang tempat-tempat ketika mimpi-mimpi ini tercapai nantinya. 






I want to be Involved, 

Wanna feel the greatness when the dream have been reach,

my own dream
Not just join the happiness of other people dream

Anymore!!!







Jumat, 11 April 2014

Irreplaceable


                                 Maybe it's just me, Couldn't you believe


                   That everything I said and did, wasn't just deceiving

And the tear in your eye, and your calm hard face

Makes me wish that I was never brought into this place
(Secondhand Serenade - Maybe)


Detik-detik terus berjalan seiring atmosfer kota perjuangan yang tlah terbiasa kurasakan. Perlahan, jalanan yang dulu terasa asing kini terasa ramah sekalipun tetap bising. Jika kau menyebutnya rumah, mungkin kinilah saatnya mengingatnya kembali hanya sebagai tempat singgah. Tempat sementara mengumpulkan kenangan, sebelum melangkah melanjutkan mimpi-mimpi lama yang dicanangkan.

Sebelumnya jika kau bertanya tentang hari esok, aku lebih ketakutan kehilangan yang tlah ada dan memikirkan esok di hari lusa saja. Karena ketika kau berpikir dipertemukan dengannya adalah yang terindah, maka pantaslah ketika malas itu ada, dan mimpi-mimpi lama kian terasa usang dimakan usia.

And I'm here to sing
About the things that mattered
About the things that made us feel alive for oh so long 
About the things that kept you on my side when I was wrong
(Secondhand Serenade - Maybe) 

Ketika hari-hari itu indah, bukan berarti episode kita berhenti disini saja. Karena tak ada kejelasan kapan season kita berakhir kapan dan bagaimana, maka kembali mengingat setiap kecil bagiannya anugrah. Maka menikmati setiap momennya ialah bentuk syukur kepada sang pencipta.

Tentang cinta yang tlah dikarantina oleh rasa, berbalut waktu nan lautan perjalanan yang tlah kita lalui bersama, apa adanya sajalah.

Irreplaceable, perjalanan ini tak akan pernah tergantikan.





Selasa, 24 Desember 2013

Diantara Rahasia Langit

Hari demi hari berlalu tak terasa..
Hingga disinilah saat ini berada..
Berdiri diantara bumi dan langit yang menyerta..
Langkah ini, sudahkah seperti seharusnya?


Sudah sejauh ini. Berbagai diorama pun mengemuka, diantara bayang-bayang abu-abu yang hanya diterawang saja. 

Andrea Hirata dalam bukunya Maryamah Karpov menuliskan, buah termanis dalam berani bermimpi adalah keajaiban-keajaiban dalam perjalanan menggapainya. 

Jika dipahami seksama, ada dua poin didalamnya. Tentang keberanian dan perjalanan.

Keberanian menghantarkan pada titik pemilihan awal, diantara berbagai opsional yang juga tak kalah membingungkan, berani memilih adalah salah satu pokok dasar. Sementara perjalanan menjadi proses selanjutnya tuk mengarungi samudera.

Lalu bagaimana dengan ketetapan-Nya?

.......boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Allah menggaransi bahwa Dia lebih tahu tentang yang terbaik untuk kita. Bahwa ketetapannya itulah yang terbaik. Di satu sisi memang terbaik tidak selalu dalam kondisi baik, ibarat dokter mau mengamputasi kaki pasien. Siapa yang ingin kehilangan kaki? Sungguh pasti pilihan yang tidak baik, namun bagi dokter apabila tidak diamputasi infeksi bisa menyebar ke anggota tubuh lainnya maka pilihan amputasi pastilah terbaik.

Sementara di sisi lain, ketahuilah terbaik juga bisa diartikan paling baik diantara yang baik. Jadi tinggal seberapa besar iman kita untuk memegangnya erat. Karena sesungguhnya takaran kebaikan relatif, dan Allah pasti yang Maha Tahu.

Tentang Rahasia Langit?
Apakah jalan yang kita pilih merupakan yang Allah maksud terbaik untuk kita? Siapa yang tahu? Menerka dan terlalu sok memprediksi apabila hanya membuat kita melambat buat apa juga?

Jadi jalani saja, dan terus selalu libatkan Allah dalam prosesnya.

Allah sesungguhnya bukan menguji kemampuan kita, namun kemauan kita. Karena di Al Quran sudah dijelaskan ujian bagi kita sudah ditakar sesuai kemampuan kita. Kita boleh jadi mampu mendapatkan yang lebih baik dari ini, namun jika kita tidak mau apalah artinya takdir terbaik?

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11

Apabila kemauan itu ada, ikhtiar kan jadi aksi nyata, hasilnya? kembalikanlah semua kepada-Nya. Bisakah kita?

Diantara rahasia langit Sang Kuasa 
Ada satu yang mudah dirasa, dan diterka
Kecuali 'pabila hati ini tlah terlalu rusak oleh noda

Hanya Dia yang masih mengizinkan nikmat iman dan Islam ini ada
Sekalipun diantara noda itu tlah menggunung tak terasa 
Semua tak terkecuali karena kasih sayangnya yang tak hingga

Ingatlah hanya Dia yang tahu siapa kita



#Terinspirasi Ceramah Ust Salim A Fillah tentang Qodho' dan Doar

Takut kehilangan?

Bukan karena takut kehilangan tapi ..
Karena takut tidak bisa mendapatkan yang lebih baik !!
Itulah yang membuat sebagian orang takut kehilangan #mungkin

biasanya sih ketika tangan mengepal kencang, maka tangan tidak mau melepaskan apa yg ada digenggaman

Bukankah itu sama saja meragukan kekuasaan Allah..??
Sedangkan yang ada digenggaman pun belum tentu itu baik dan terbaik

" Lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah daripada kehilangan Allah karena sesuatu"

*status teman :)



Senin, 11 November 2013

Sebait Rasa

Cukup sudah beranalogi mesra. Apalagi tentang rasa. Belum masanya, tapi sangat memperdaya. Takkan ada habisnya. Ujung-ujungnya sang waktu perlahan terkikis tanpa asa.

Hey!!! Itu bukan lagi masa dimana seonggok keinginan seperti remaja. Ini, itu serta merta tanpa visi bermakna.

I've grown up. 

Sekarang terserah kalian anggap apa. Penjahat? Musuh? Oke fine! Cukup masanya menjadi good person for everyone. Being good to everybody.

Mungkin ini saatnya mengecewakan. Mengecewakan seribu orang tak apa, daripada mengecewakan mereka yang selalu ada di saat suka maupun duka. Berjuang dari dulu, kini dan nanti tanpa henti. Selalu setia tanpa diminta.

#Salam Respect

Bismillah.

Allah, kuatkan hambamu ini





Cukup sudah!

Cukup sudah menjadi lilin diantara kegelapan yang ada. Terus berusaha menebar cahaya, sementara tak terasa diri sendiri terbakar tanpa daya.

Cukup sudah!


Ingin Merdeka

Ah masih lama rasanya aku kembali ulang tahun dan menetapkan resolusi seperti biasanya. Namun kali ini aku ingin bebas. Bebas menetapkan apa yang kusuka. Bebas melakukan apa yang kudamba. Bebas bersikap. Dan dengan itu aku tetapkan resolusi tak selalu tiap usia berkurang setahun secara resmi, karena kematian pun datang tak pernah pasti.

Merdeka!!!

Hari pahlawan kian berlalu dan pelajaran tentang kemerdekaan ini membuat malu. Diri ini serasa masih saja menjadi benalu. Tak kunjung berani mandiri di tengah zaman hiruk pikuk penuh kelabu.

Aku lupa kapan tepatnya aku menjadi seperti ini. Perlahan goyah tak bisa mandiri. Dahulu aku tidak seperti ini. Pernah mengalami masa-masa merdeka lebih tepatnya, mengontrol diri sehingga ada kepuasan tersendiri.

Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali.....................
Hey, keinginanku yang tersisa masih banyak di kampus ini. Namun kembali ke keinginan utama, mengapa aku berada disini. Setidaknya aku ingin kembali kepada keinginan itu. Kembali fokus. Jadi anggaplah keinginan lainnya adalah manik-manik penghias yang menghantarkan ke muaranya semula.

Aku tak ingin kembali direpotkan hal menye-menye yang ternyata hanya benalu, menghabiskan waktu dan membuatku sibuk akan hal yang tak tentu.

Mati itu pasti. Tugas Akhir apalagi. Membahagiakan orang tua tak perlu ditanya lagi. Setidaknya ketiganya cukup, tak perlu hal lain lagi.

Jika ada hal-hal lain yang berani kembali membelenggu. Dengan ini aku menyatakan seorang Faizal Ramadhan merdeka! Kemarilah dan kau akan kuserbu.

Membiasakan kembali menjadi sosok lama akan membutuhkan waktu. Semoga tetap terkejar. Duhai Allah, ikhtiarku yang utama. Dan pertolonganmu akan menghantarkan itu semua. Hamba lemah penuh dosa ini tak bisa apa - apa. 




Minggu, 08 September 2013

#NeverStop

Satu tema, lain cerita, beda settingnya..
Sudah terprediksi megah dengan hebat oleh sang sutradara..
Terkumpul semua dengan satu tujuan yang sama..
Oh sayangnya aktris kita penuh talenta.. 

Improve seenaknya tak peduli naskah yang lama..
Oh dunia cepat sekali waktu adanya..
Mundur makin hancur, maju tetap lebur..
Tidak berhenti belajar teratur, agar tetap bisa menggempur..

#NeverStop

Jangan takut jadi sampah,
karena sampah pun masih bisa berguna
 
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

#RandomThought

Minggu, 16 Juni 2013

Ku Petik Bintang



Setiap surat yang dihafal akan diberi tanda silang di lembaran hasil hafalan. Itulah yang kami tangkap sejak beberapa hari sebuah kertas bersama kolom-kolom dengan barisan surat juz amma sebagai keterangan di atasnya. Kertas itu ditempel di dinding kelas. Tidak terlalu tinggi, sehingga untuk ukuran anak sekolah dasar mudah melihatnya hanya dengan berdiri biasa. Juga tidak terlalu rendah sehingga cukup susah berbuat curang untuk menuliskan bintang sendiri di samping nama. Dan disinilah kisah ini bermula.

Satu demi satu dari kami melihatnya dengan seksama, berapa bintang yang tlah ada di samping nama-namanya. Entah bagaimana, setiap hari seakan bintang itu semakin indah dipandang mata. Dan sang bintang menjadi primadona dan topik menarik setiap kali para asatidz membubuhkannnya di samping nama-nama yang ada.

Perlahan namun pasti, ada yang berubah. Tanpa sadar kami semakin berpacu meningkatkan hafalan yang ada. Selintas dipikir demi apa? Bintang-bintang di atas kertas? Bahkan tidak ada iming-iming hadiah ketika bintang itu sudah penuh. Aku tak tahu. Tetapi aku menjadi satu diantara yang semakin semangat melihat bintang itu ada bersanding dengan namaku.

Oh ya, jangan bayangkan kami menghafal dengan metode tertentu. Tidak ada metode macam-macam waktu itu kecuali baca, dan kembali baca. Ulang dan kembali mengulang. Kami juga tidak memiliki rekaman murottal Syeikh dari Timur Tengah seperti yang sekarang mudah didapatkan. Tidak ada kawan J

Namun yang ada sedikit demi sedikit, setoran hafalan menjadi salah satu momen yang mengasyikkan. Semua teman-teman akan mengerubungi asatidz ketika ia akan memberi bintang di kertas itu. Dan karena jika dan hanya jika satu surat terlampaui sebuah bintang akan disematkan, maka perjalanan menghafal kami menjadi momen yang spesial.

Hingga akhirnya bintang demi bintang aku dapatkan, kecuali di kolom yang satu itu. Kolom itu adalah Surah Al Fajr. Begitu panjang dan membingungkan buatku. Malam itu aku putus asa, mengapa masih saja salah dan kembali salah. Saat kuceritakan ke Abi, untungnya ia membantu. Hari demi hari selanjutnya sesekali beliau menyimak dan membetulkan bacaanku. Di beberapa kesempatan pun ketika menjadi imam shalat beliau bacakan Surah Al Fajr sehingga dengan mudah disimak dan diikuti dalam hati.

“Mas Faiz hafal bagaimana hafal Al Fajr?”, pagi itu salah satu ustadzah menanyaiku. “Belum, masih sering lupa”. “Gapapa dicoba”, katanya. Aku pun setoran hafalan, di depan mata teman-teman yang penasaran apakah aku bisa menghafalkan surat yang di kelas kami belum ada yang sampai kesana.

Dan ternyata benar. Aku lupa. Hanya setengah. Mukaku memerah.

“Lupa, hehehe, nyerah deh”, ucapku lirih, rasanya kecewa dan bercampur malu tapi berusaha kututupi dengan simpul senyumku.

Aku kaget yang dilakukan Ustadzah itu. Benar-benar tak terpikirkan sebelumnya. Ia gambarkan setengah bintang di kolom Al Fajr.

Katanya, “karena Mas Faiz sudah hafal setengah bintangnya setengah dulu ya. Tapi karena sudah berusaha ini hadiah dari ustadzah”. Ia keluarkan sebuah amplop dari sakunya berisi sesuatu. Teman-teman pun iri melihatnya. Mereka mengerubungiku layaknya semut melihat gula. Aku senang. Tapi masih setengah senang. Karena rasanya belum sempurna jika masih setengah bintang adanya dan hadiah tlah didapatkan. Namun aku sangat menghargai keputusan ustadzah tersebut.

Bayangkan, malam demi malam selanjutnya Al Fajr ini semakin semangat tuk diulang dan diulang. Setengah bintang itu selalu lekat dalam ingatan. Dan amplop itu, yang membuat teman-teman iri dan juga semakin terpacu, saat itu belum sampai aku pikirkan darimana datangnya isinya.

Aku yang sekarang baru sadar pengorbanan hebat sang Ustadzah bagaimana ia bisa menyisihkan isi dompetnya sementara sekolah kami adalah sekolah swasta yang baru berdiri dimana gaji pengajarnya pun tidak menentu. Dan ketahuilah kawan, kami adalah angkatan pertama sekolah itu. Bayangkan betapa sulitnya perjuangan mereka saat itu.

Mukhoyyam Quran

Malam Ahad lalu, Allah menakdirkan aku bisa ikut Mukhoyyam Quran. Salah satu momen yang spesial ialah ketika Ust Ja’far, imam Qiyamul Lail ternyata membaca semua surah juz 30. Allahu Akbar!

Aku merasa terbawa ke suasana lama ketika surat demi surat dibacakan.

Selain Al Fajr yang mengingatkan pada kenangan asatidzh di SDIT Ar Rahmah dulu, An Naba adalah surat yang paling banyak kenangan. Salah satunya ketika murajaah bersama adik kecilku. Dia ayat pertama, aku ayat kedua, begitu seterusnya hingga habis dan berganti surat. Al Buruuj, Ath Thariq dan beberapa surat mengingatkan pada irama ketika Abi menjadi imam shalatku. Entah kapan terakhir aku menjadi makmum di belakangnya karena melihat kalender sudah cukup lama ternyata tidak pulang.

Kangen pulang T.T

Kangen masa lalu

Kangen semangat hafalan lagi


Dan yang paling penting kangen perjuangannya. Ketika satu demi satu surat dihafal dan bintang didapatkan. Karena baru sadar progress pasca SD belum ada apa-apanya.

Ya Allah, semoga engkau cukupkan umur untuk melengkapi cita-cita yang ada sejak masa lalu ini. Bukan hanya cita-citaku namun cita cita orang tua yang memilihkan sekolah terbaik untukku dan para asatidz yang pertama mengajarkanku menghafal ayat-ayat-Mu.

Malam minggu yang indah tlah berlalu, dan kini saatnya merajut rindu itu dan membuat bintang demi bintang sendiri hingga penuh 30 juz. Semoga cukup umur. Aamiin


Ku petik bintang

Untuk ku simpan

Cahayanya tenang

Berikan ku alasan berjuang

Sebagai pengingat harapan

Juga sebagai jawaban 

sebuah impian

Selasa, 07 Mei 2013

Kado Terakhir

Terlalu cepat ia tak terasa mendekat. Tidak bisa tidak, memang inilah yang harus diperbuat. Ada saatnya hanya bisa melihat, tak lagi mendekap, saling berbagi nasihat nan memperkuat. Sesaat. Hanya sesaat. Tahukah kawan, kaki-kaki kecil itu kini tumbuh dengan sehat. Mengendus hari-hari yang penuh nikmat. Dan kini nikmat itu memasuki fase perjalanan yang kini perlahan kian lebih berat.

"Kak, doakan. Aku lagi mencari informasi pekerjaan", celetuknya malam ini. Ia datang bersama sahabat karibnya. Pepaya mereka bawa. Masih berpikir berbagi seperti saat ini? Allahu robbi. Hanya bisa terenyuh sambil memutar otak yang usang ini.

Peluang itu ada. Pasti ada. Namun, menciptakannya di sela-sela persaingan tidak mudah. Ingin rasanya ikut berperan serta. Tahun ini tahun ketiga. Dan rasanya pasti ada yang hilang dengan ketiadaan mereka di tahun depan ketika lulus kuliah.

Hutang ini perlahan menumpuk rasanya. Ingin banyak berbuat, namun terbatas dan kembali terbatas. Sudah jemu bilang nanti, nanti dan nanti. Bagaimana jika tidak ada nanti? Bagaimana ini kesempatan terakhir? Menyesal selalu di belakang. Dan khilaf selalu dijadikan alasan. Kawan, mau sampai kapan pembenaran dan deretan pembenaran ada dan menyeruak sebagai penggugur keinginan?



Jika ini sebatas kado sederhana, yakinlah ini cukup indah. Namun jika ini jadi yang terakhir, mungkinlah ini kan jadi kenangan berharga

Hey kaki-kaki kecil
Kalian tumbuh dengan mimpi yang kita gali bersama setiap hari
Kami perlihatkan dunia
Kehebatannya, keindahan yang ada di dalamnya
Yang mungkin kalian tahu sebatas layar kaca
Kita pelajari akhirat bersama
Hingga kalian tahu batas yang kan menghantarkan kita ke jalan-Nya
Duhai robbi, perkenankanlah jalan ini
Mudahkan, lancarkan

“Kuberi satu rahasia padamu kawan…. Buah paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.(Andrea Hirata-Maryamah Karpov)”

Bismillah











Sabtu, 20 April 2013

Sang Amanah





Namaku terpampang indah disana khan? Cihuyyyyy

Kertas tadi memang biasa. Namun isinya yang luar biasa. Maknanya tidak biasa. Dan nilainya yang tak tertukar dengan apa saja. cieee

Tahukah kalian, apa yang pertama kali ku pikirkan ketika mereka (baca: dewan formatur) memilihku? Jingkrak-jingkrak? Nggaklah. Nangis karena nambah kerjaan baru lagi? Nggak juga. Sedih karena berkurangnyawaktu buat nonton anime, baca manga, maen PES dan hal GJ lainnya? Mungkin saja, hehehe

Entah kenapa saat itu aku merasa senang. Allahu robbi, aku senang dengan sang amanah sebenarnya aku sendiri tidak pernah memimpikannya, apalagi sedikitpun merasa mampu mengembannya.


Terlintas terpikir, kapan ya aku akan mengundurkan diri setelah ini? Hingga berapa bulan ya, aku akan kehilangan satu persatu orang yang akan berjuang bersama disini? Apa saja ya program kerja yang hanya jadi pemenuh presentasi musyawarah kerja namun tak terlaksana nanti? Berapa? Kapan? Apa? Bukankah aku sendiri sudah pengalaman menghilang diam-diam? Bukankah tidak pernah menjadi pemimpin sebelumnya? Selalu kabur jika ada yang susah? Jadi....




Namun, pemikiran itu salah. Itu tidak terjadi. Robbi, telah berburuk sangka. Genap enam lima bulan aku memegang sang amanah. Alhamdulillah. Sedikitpun tidak berpikir untuk mundur selangkah saja. Bertemu teman-teman yang luar biasa. Mimpi yang bertambah satu persatu setiap harinya. Semangat, dan terus semangat untuk lebih baik lagi dan lagi. Sungguh indah.

Ketahuilah para pembaca. Bahkan sampai sekarang, beberapa orang masih terheran ternyata aku yang memegang sang amanah.Walaupun sejujurnya, aku tidak peduli keremehan orang, karena aku sendiri merasa pantas untuk diremehkan. Aku justru merasa lebih hidup dengan cacian, kritikan dan remeh temehan. Entahlah. Mungkin karena aku orang yang mudah terbuai oleh pujian, yang sebenarnya perlahan mematikan. Cepat atau lambat, tinggal menunggu waktu.


Terkadang aku ingin melakukan sesuatu

Namun di waktu yang sama tak tahu 

Apa yang kuhasilkan dari pengasinganku

Siapa yang kutunggu dalam diamku


Aku memang takkan bisa berbuat banyak. Aku menyadarinya sejak awal. Jadi, aku tidak takut tak banyak bermanfaat. Menjadi penonton, backup eksekutor atau sekadar pemberi semangat. Aku tidak takut. Sungguh. Namun, aku hanya takut kehilangan semangat untuk berusaha memberi manfaat.


Ketika bisa namun aku enggan melakukannya. 
Ketika salah sementara enggan bermuhasabah atasnya, 
ketika ia sedang lemah tetapi enggan menguatkan dirinya.
Lalu bagaimana kabarmu, amanah...?

Sang amanah takkan pernah memilih orang yang salah, katanya. Memang demikian. Sang amanah takkan pernah diberikan pada orang yang salah. Hanya terkadang, ia perlu diberikan kepada mereka yang pantas. "Yah pantaskan diri donk", sayup-sayup terdengar.suara anggota Raffa Fansclub memberi semangat. Emang ada? hihi :p

Dan poin itu hadir dari proses pemantasan diri. Sang proses ternyata tak cukup lahir dari sebuah sistem dan akan menjadi output lebih baik. Ia tetap membutuhkan input. Masalah, konflik, petuah, dan apapaun yang bisa dipetik tuk dijadikan pembelajaran dan masuk dalam proses itu. Walau bagaimanapun, ada batas ketika kita menerima input mengolah berdasarkan sistem dan membuat output seperti yang diharapkan. Batas yang hanya bisa dipecahkan melalui usaha keras, dan pengorbanan yang selaras. Dan yang terpenting, biidznillah. Dengan izin-Nya, Sang Penguasa.

Seorang pemimpin tak selalu harus yang terbaik, namun harus selalu mempu membuat sekitarnya menjadi lebih baik. Alhamdulillah, mungkin sang amanah tidak sedang dipimpin oleh kualitas yang sama seperti sebelumnya. Ya, pendahulu terkesan selalu lebih mempesona. Aku dalam posisi ini, ataupun engkau dalam posisimu masing-masing, mungkin mengalami hal yang sama kawan. Kita mungkin tidak bisa sehebat pendahulu kita, namun ingatlah kita masih bisa menjadi lebih baik dari kemarin. Biarkan orang membanding-bandingkan, karena mereka tidak bisa menyediakan surga untuk kita, mereka tidak bisa menyediakan pahala, ataupun kebahagiaan yang sempurna.

Selagi ada 1% peluang, maka sebenarnya dalam ilmu matematika itu masih bisa, apalagi untuk Allah, apa sih yang tidak bisa.




Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya. (Umar bin Khattab ra)


Terus musahabah, terus berkarya..
Karena mungkin lewat amanah yang Ia titipkan pada kita..
Terselip rahmat dan kasih sayang..
Agar kita lebih mendekat kepada-Nya..
Memohon kepada-Nya..
Mengadu dan meminta petunjuk dari-Nya..
Hingga tanpa terasa suatu ketika,
Sang amanah telah saatnya bermuara,



Allah memang selalu memberikan apa yang kita butuhkan, walaupun tidak selalu itu yang kita inginkan. Mungkin juga tentang sang amanah. Lalu bagaimana denganmu kawan? Maukah percaya jika amanahmu adalah jalan dari-Nya untuk membuatmu lebih baik? Saking besarnya rasa sayang yang Allah miliki, hingga masih mau mempercayaimu, memberimu kesempatan. Padahal Dia yang paling mengetahuimu, apa yang dibalik busuknya hatimu, jahatnya niatmu, khianatnya janjimu, namun Ia tetap mempercayaimu. 




Senin, 15 April 2013

Watashi wa Anata na Shinjite iru, Minna-san

Kepercayaan adalah salah satu kekuatan ternyata. Ketika aku menceritakan peliknya momen di awal saat itu, sahabat pena sekaligus kakak dunia mayaku, Kak Tata memberitahuku. "Kamu harus belajar percaya dengan orang lain. Apalagi mereka teman-temanmu dek", begitulah kira-kira katanya.

Dan memang, ketika dirasakan The power of faith benar-benar meringankan beban. Karena semakit rasa kecewa yang ada, justru semakin menjadi-jadi dampak buruknya. Emosi tidak lagi stabil. Mudah tersinggung. Mudah marah. Jarang tegur sapa. Dan yang paling bahaya ketika kebencian menyerang. Disertai amarah yang sebenarnya justru membakar kebaikan. Ketika kebaikan-kebaikan yang ada terbakar dan jadi arang, lalu apa yang kita dapatkan kecuali kerugian besar?



Nabi Muhammad S.A.W. bersabda : ” telah terjangkit kepadamu penyakit umat-umat yang sebelum kamu, yaitu: dengki dan mudah tersinggung. Mudah tersinggung itu adalah ibarat gunting. Aku tidak mengatakan gunting rambut, akan tetapi gunting Agama. Demi Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya ! engkau tidak akan masuk surga, sehingga engkau beriman. Dan kamu belum tergolong insan yang beriman, sebelum kamu kasih mengasihi. Sudahkah aku beritakan kepadamu , apa Yang menetapkan demikian bagimu? Tebarkan Salam di antara kamu ! ”( H R : Turmudzi dan As Zubair ) 

Lalu sebaliknya, jika kepercayaan itu dikukuhkan. Pemikiran positif terus datang, dan akan memicu semangat diri untuk terus dan terus memperbaiki diri. Sebaliknya jika menyalahkan orang lain, dan belum tentu mereka merasa bersalah, bukan solusi muaranya.

Berikut adalah percakapan suatu ketika ketika rapat divisi yang diketuai C hendak dimulai. Temannya, A tidak hadir padahal acara mereka sudah dekat dan pekerjaan mereka cukup berat.

C : "Kawan-kawan ada yang tau ngga kenapa si A tidak hadir?"
B  : "Ahhh kayaknya ketiduran lagi tuh bocah. Parah gue udah capek-capek bangun pagi. Mandi. Nungguin daritadi. Masak ngga bisa profesional sih."
C: "Oh mungkin agenda lain bro. Saking pentingnya, lupa menginformasikan izin tidak bisa ikutan. Yuk kita doakan aja semoga Allah melancarkan agendanya sehingga di rapat kita lain kali bisa hadir.
B: "Ah ngga kok, cuman dianya aja. Semalem aku berpapasan ama dia kok. Jam 12an di depan PGA. Dia naik motor kayaknya habis seru-seruan tuh"
C: "Kok kayaknya. Belum tentu juga khan. Kita main-main deh nanti habis rapat ke rumahnya, ngecek tanya kabarnya sekalian silaturahmi sebelum berprasangka.
B : Tapi bener kok C, saya tahu sendiri dia ambil banyak amanah di luar. Mungkin udah setengah hati bersama kita disini.
C : Oh ya. Jika benar, luar biasa sahabat kita khan itu. Amanahnya banyak mungkin di luar, artinya banyak orang yang mempercayai dia. Jika orang lain bisa mempercayai dia, mengapa kita saudara seperjuangannya juga enggan percaya. Dia temen lu khan sob? Temen kita khan?
B : Hmm, iyasihh. Tapi khan... enak aja dia lari tanggungjawab ini.
D : Belum tentu lari sih, kadang kita pengeeen ngelakuin sesuatu, tapi kita emang lagi dalam kondisi nggak bisa.
C : Yup, dan keinginan itu kita sendiri nggak tahu. Sayang kalo menjudge dia macem-macem.
B : Trus gimana nih kerjaan kita makin berat.
C : Artinya kita harus lebih kerja keras.
D : Setuju! Kita percaya aja, Allah beneran ngga ngasih ujian yang selalu sanggup dihadapi hamba-Nya.
B : Tapi kalo ngga selesai gimana nih?
C : Khan belum dilakuin. Yuk dicoba dulu semaksimal mungkin.
D : yuk. Gue setuju
B : Oke deh.

Indah bukan cuplikan percakapan singkat di atas? :)

Mungkin ada jutaan alasan untuk menyalahkan orang lain, namun ada ratusan juta alasan lainnya untuk tetap mempercayainya.

CEO BM ITTelkom, kak Fardan pernah berkata, "Akhi, kita tidak akan pernah tahu titik balik dari teman kita. Terus dan terus diingatkan. Sabar. Karena hidayah hanya Allah yang tahu, bukan kita yang menentukan".

Dan sebuah pelajaran dari surat yang pendek dan mudah dihafal, namun sangat dalam dan luar biasa.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


Susah ya? Memang. Bukan perjuangan namanya kalau enggan bersusah payah. Bukan pengorbanan namanya jika enggan bersabar. Dan mungkin pengorbanan dari hati, akan menyentuh hati lainnya.


Langit yang begitu menjulang indah
Gunung yang begitu kokoh nan kuat
Justru manusia yang Allah beri amanah
Jika Allah saja percaya kita, mengapa kita enggan mempercayai saudara kita
Terus dan terus belajar lagi yuk bersama


“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. ....” (QS Al-Ahzab: 72)




 2013, I BELIEVE WE CAN, 
How About You?




Jumat, 08 Maret 2013

Mengapa Bertahan

Temanku Faiz. Ia menceritakannya padaku suatu hari. Tetapi, aku baru sempat menuliskannya saat ini. Cerita tentang suka dukanya bersama-bersama teman yang luar biasa. Al Ikhlas namanya.

'Sesunggguhnya manusia takkan bisa, menikmati surga tanpa ikhlas di hatinya", by Ungu

Ketika orang banyak bertanya mengapa Faiz memilih bertahan disana, Faiz hanya bisa acapkali bilang bahwa ia lebih nakal dari mereka ketika dahulu kecil. Sok tahu mungkin. Namun nyatanya Faiz memang nakal. Hyperaktif parah. Susah diberitahu, sering berlarian tak tentu, dan berbagai kenakalan seakan benalu.

Namun, lihatlah ia Alhamdulillah masih hidup sampai sekarang. Tumbuh dan berkembang. Jika tanpa buah kesabaran kedua orang tua dan keluarga bagaimana itu bisa terlaksana? Tentunya orang tua kalian juga tak mengangumkan khan kawan :)

Tengoklah kisah kekerasan terhadap anak yang sedang marak, sering dipicu ketidaksabaran akan malaikat kecil yang berulah ketika awal melihat dunia. Naudzubillah. Allah saja memberikan Faiz waktu untuk berbenah, bagaimana manusia itu seakan menentukan takdir usia anak-anak mereka? Faiz hanya hanya terdiam jutaan bahasa. Ia melanjutkan ceritanya.



Hal lain yang membuatnya bertahan, adalah disini adalah tempat pertama baginya. Tempat pertama dimana Faiz merasa bermanfaat dan berguna. Di SMA Faiz hanya pengangguran, cupu dan kurang kerjaan, mengkhawatirkan keluarga. Hingga keluarga tahu Faiz membantu di TPA, Faiz merasa sudah sedikit membanggakan mereka. Walau hanya sedikit namun bisa berguna sudah sedikit meringankan kekhawatiran yang ada. Akan kehidupan kota, Bandung yang penuh aliran sesat (saat itu), dan jarak dengan keluarga yang cukup jauh adanya.

Sementara kepanitiaan dan organisasi ketika itu belum tahu apa-apa. Adik-adik kecil membuatnya mengerti, bahwa ada hal yang bisa ia lakukan. Mungkin tidak besar. Hanya berbagi, dan semua orang sebenarnya bisa melakukannya setiap hari. Namun tak semua orang mau dan mengerti, bahwa suatu hari, malaikat-malaikat kecil itu akan menjadi pemimpin di negeri ini. Ketika kita tlah yang ada sebelumnya tak berdaya bak sekapur sirih, termakan usia dan zaman yang ada.

"Menjadi berguna, adalah hal yang menjadikan alasan keberadaanmu disana", tulisnya suatu hari dalam benaknya.

Hal lainnya yang membuatnya tetap bertahan, ialah keberadaan kekuatan yang saling menguat dan menguatkan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal : 63)

Ketika selentingan beredar, anak-anak Gang Demang nakal dan kurang arahan memang Faiz tak kuasa membantah. Beberapa pengajar perlahan menghilang karena tak tahan malah. Untung teman-teman yang tersisa selalu menguatkannya.



Namun, ada yang pergi, ada juga yang datang kembali. Juga ada yang baru menyambung dan terus menyambung tali perjuangan ini. Azmy, Andy, Iqbal, Syarif, Gujay, Diana, Ratih, Achi dan Muthi.

Faiz enggan menyesali kepergian teman-teman sebelumnya. Terlepas kesalahan ia karena tidak mampu mengendalikan keadaan, atau membagi semangat kebersamaan. Karena setiap detik bersama adik-adik adalah berharga, ketahuilah. Mungkin ia dan teman-teman belum bisa membuat yang malas jadi rajin, yang nakal jadi baik, dan yang bermasalah jadi berprestasi. Namun detik-detik berharga mengarungi kebaikan, tentunya pasti ikut berperan dalam mencegah detik-detik itu digunakan untuk mengetahui keburukan. Tidak ada yang sia-sia, pastinya.

"Anak-anak itu bukannya nakal, namun lingkungan yang membuatnya demikian", kata Revi dengan lantang suatu hari di syuro pagi. Hal yang sama diucapkan Anna, Riri, Wilda, dan kawan-kawan lainnya. Seiya sekata. Mereka bertahan, hingga 2013 tlah tiga tahun lamanya.

Menguatkan.
Hal yang membuat Faiz akhirnya berkata berani kapada Aldrin ketika ia mengucapkan salam perpisahan, "Bagiku, TPA ini ladang yang Allah berikan padaku. Mau subur atau layu, jika Allah berikan yang ini ya sudah. Mungkin lain ladang lain hasilnya. Namun Allah selalu melihat proses khan, bukan hasil".

Faiz hanya berusaha berbaik sangka kepada teman-teman yang sudah memutuskan tidak lagi untuk bersama lainnya. Kenapa? Karena selalu ada pertolongan dari Allah tentunya. Pasti!

Tentu ada yang memilih pergi, namun Allah selalu berikan pengganti.
Ia memang tak pernah berhenti meski Faiz dan teman-teman terkadang terlibat masalah klasik konsistensi.
Selalu ada saja jalan-Nya. Rahmi, Dayyah, Hamzah, Faqih, Ummi, Dodik, Omi, Halim, Desri, Elis, Ayu, Alan dkk lainnya. Mereka melanjutkan tali perjuangan selanjutnya.

Kekuatan
Entah mengapa, berjuang di jalan ini serasa istimewa. Bertemu dengan kawan-kawan yang sedari awal berniat menyumbangkan tenaganya, waktunya, dan apapun yang dimilikinya untuk mereka yang belum mereka kenal. Demi siapa? Bukan tetangga, bukan saudara, bukan kerabat pula.

Lillahi ta'ala.


 “Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. [Ali Imran:104].
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali Imran:110].


Ps :

Dear kakak-kakak pengajar

Maaf bila sering membuat emosi, dan sakit hati. 
Kami memang nakal. 
Berbuat ulah, membuat marah. 
Kakak disalahkan, kakak malu, kakak lelah. 
Demikian memang adanya kami. 
Kami masih belajar. 
Ingin rasanya menjadi manis dan cantik dengan hijabnya ala kakak perempuan. 
Juga menjadi tegas dan berani seperti kakak laki-laki. 

Suatu saat kak, tunggu saatnya kami menjadi seperti kalian





Jangan tinggalkan kami ya kak

Sekalipun tak lagi disini mengaji bersama kami, 

Temani kami dengan doamu kak
Agar kami cepat besar dan rajin belajar

Kaka juga disana
Dimanapun berada
Semoga Allah terus selalu sayang sama kakak
Karena kakak selalu sayang bagaimanapun adanya kami
Pasti Allah juga sayang kepada kami.



Terima kasih ya atas semuanya kak

Jangan berhenti menebar kebaikan seperti yang kakak lakuka terhadap kami

mewakili adik-adik.
Faiz menuliskannya

Terima kasih semuanya
Tiga tahun takkan terlupa
Rapuh memang diri ini
Namun kalian selalu ada tegak menyemangati
Mari lanjutkan kaki-kaki ini
Melangkah, membuat perubahan
Dimanapun Allah gariskan

Terakhir, nyontek status Muthi malam ini

karena kita takkan pernah tau sampai kapan kita terus bersama. untuk itu kukatakan, uhibbukumfillah :)


Sabtu, 05 Januari 2013

Sejumput Noda


Suatu hari, di dua ribu sepuluh.


Tepat di angka delapan. Jam di telepon genggamku malam itu.

"Eh, si kakak. Ngga nyapa ih", ujarnya seraya membuatku menepi.

"Oh, kamu. Darimana?", tanyaku berbasa basi. Ia hanya membalas dengan senyum dan dia beranjak pergi. Meninggalkanku dengan jalanan sempit yang biasa ku lalui.

"Dasar ababil GJ", pikirku dalam hati. "Perempuan, tingkahnya susah dimengerti", terkaku kembali.


----------------------------------------
The next days

TPA hari ini cukup ramai seperti biasa. Namun sosok adik yang menyapaku kemarin tak tampak. Mengapakah? Ketika kutanya, yang lain tak ada yang mengetahui jawabannya.

Ah biasa. Kucoba memakluminya. Sedikit memaksa. Ia sudah remaja. Pastilah lebih mengerti mana yang benar dan salah. Dibandingkan bocah-bocah di depanku yang beraneka rupa kenakalannya.
Demikianlah, sederet pikirku yang mengemuka. Dan perhatianku pun teralihkan oleh anak-anak lainnya.

Jika dipikirkan susah memang. Ketika kita dituntut memberikan perhatian sedemikian rupa bagi puluhan anak-anak yang ada. Tak sendiri?. Ya, aku memang bersama beberapa mahasiswa menjadi teman belajar mereka selepas senja beranjak pergi. Di musholla kecil itu, kami mencoba mengais sedikit ilmu. Berharap bisa menjadi bekal bagi anak-anak lugu yang menjadi generasi harapan di kemudian waktu. Namun....



----------------------------------------

Tahukah kawan, menjadi mahasiswa bukan perkara yang mudah.
Memang, kuliah, amanah dan lain sebagainya jika itu kau jadikan dalih semua atau salah satunya.
Tetapi anak-anak kecil itu, tak semua mengerti walaupun tlah mencoba.
Baginya kita cukup istimewa, bukan sekadar orang terpilih dan terpilah.
Namun ada kekuatan yang menggerakkan hati kita.
Karena itulah kita bergerak bukan, wahai kawan?
Lalu apakah itu kawan?
Masihkan itu ada dalam genggaman?
Jangan sampai ia menghilang dan menjadikanmu menoreh sejumput noda seperti yang kutinggalkan.
----------------------------------------

Sejujurnya aku merasa istimewa bila bercengkerama dengan mereka. Namun keistimewaan semu yang dirasa, akan segera dilibas jenuh, emosi dan berbagai halang rintang yang membuat hati enggan bertahan.

Mungkin bagi kita kawan yang mau menyisihkan waktu, bisa merasakan status menjadi pengajar. Atau jika diistilahkan, jadi murabbi kecil-kecilan. Walaupun sebenarnya terkadang ilmu yang kita ajarkan, belum tentu sudah benar kita resapi dalam-dalam sebelum kita celotehkan di khayalak raut muka para generasi harapan. Iya bukan? Namun, jangan pernah meremahkan. Atau kita hanya akan menuai sejumput noda, yang kan sulit terhapuskan.

Waktu bergulir.

Adik perempuan tadi masih enggan menampakkan kembali di TPA kami.
Ku pinta pengajar perempuan menanyakannya, namun tak menuai hasil. 
Kami terlalu sibuk mungkin. Dengan anak-anak yang lebih kecil, riang dan usil. Suasana TPA lebih ramai oleh mereka. Sementara yang remaja, seakan mendapat waktu sisa. Dan tenaga kami belum cukup menampung semuanya.

Sekadar tahu saja, dia adalah sosok yang cukup rajin sebenarnya. Ia cukup pandai mengajinya, hafalan pun lumayan, dari segi prestasi cukup menggembirakan. Dan dari situ mungkin kami terlena melakukan penjagaan.

------------------------------------
The next other days

"Eh, kok nggak ngaji lagi?", tanyaku suatu hari. Kami berpapasan. Rumahnya memang dekat dari musholla kecil kami.

"Errr, banyak tugas sekolah kak, hehehe", kelitnya. Ia beranjak pergi.

"Terlambatkah?", pikirku menyeruak. Mungkin juga. Sebelumnya aku memilih tak terlalu peduli, dan kini seketika ingin sedikit berbagi seakan canggung pun menyergap di hati.

"Ah pura-pura peduli, ah basa-basi, aahhhh"

Aku mencoba menenangkan diri. Mencoba mengurangi prasangka negatif tentang apa yang ia pikirkan terhadap kepeduliaan yang tampak tiba-tiba. Namun ternyata, alasan demi alasan membuat ia perlahan benar-benar tak kembali ke TPA kami.

------------------------------------

Sebaik-baik kata ketika menyapa. 
Apabila tergantikan oleh senyuman. 
Terdiam. 
Tetap saja, terekam diam.

-------------------------------------

The next other days

"Hei... Assala..", sapaku sembari terkejut melihatnya.
"Ia membalas sapaanku dengan hanya tersenyum malu seperti biasanya. Namun kini, sedikit berbeda.
Tak lagi tampak kain melindungi mahkotanya.  

"Mungkin lupa, mungkin dicuci, atau mungkin...", ah apapun aku mencoba berbaik sangka. Memang sih, dia telah mengaji di TPA jauh sebelum aku ikut mengajar disini. Jadilah pasti senior-senior yang ku ketahui sendiri jauh lebih baik, memberikan sesuatu yang berbekas di hati.

Perlahan, jilbabnya mulai lebih sering ditanggalkan ketika kami berpapasan.
"Hmm, mungkin dia sudah mulai puber", pikirku mencoba memahami. Memang, beberapa orang terkadang menganggap jilbab adalah penghambat bagi kecantikan. Namun sayang sekali jika dia berpikir demikian. Sayang sekali.

-----------------------------------

The next other days

"Ih kak Faisal", ujarnya sambil berlari dengan temannya yang juga makin jarang kelihatan mengaji akhir-akhir ini.

"Hei kok....", belum selesai aku berkata mereka telah meninggalkan jejak saja.

Hari demi hari berlalu, dan perlahan tahukah kawan apa yang kurasakan?

"Ah biarlah, ah lelah, ah jemu"

Semakin sering dan sering aku menjumpainya di sekitaran musholla ketika waktu mengaji tiba.
Tetapi sang waktu kian berlalu dan minim interaksi seakan membuat jarak diantara kami menengadah jauh. Sesekali kulihat dia asyik dengan sinetron di televisi.

"Ah memang sinetron remaja lepas maghrib makin seru akhir-akhir ini", pikirku.

Suatu ketika juga, kulihat rumahnya bergemuruh dengan suara musik walaupun maghrib baru saja berlalu.

"Hmm anak muda. Dia menggemari musik sepertiku dulu", pikirku.

Di lain waktu juga kutemui dia di teras rumah sedang bersenandung ria, bercengkerama dengan temannya. dan aktivitas lainnya.

Dan satu hal yang perlu dicatat.
Lidah ini seakan kelu.
Sedikitpun tak ada sapaan atau salam seperti yang terdahulu mampu tercuap meski sebenarnya hati merasa rindu.

------------------------------------------

Suatu ketika di dua ribu dua belas.

Azan maghrib memanggil. Sayup-sayup merdu mengisi ruang hati yang ikut menggigil. Bandung hujan malam ini. Bergegas ke MSU setelah dari seharian menikmati kuliah.

Setelahnya, beranjak ingin mengajar setelah beberapa lama tidak sempat karena berbagai kegiatan tak terduga.

"Hari apa ini?", pikirku. TPA kami memang memiliki jadwal rutin setiap hari. Dan pergi kesana biasanya aku tak lupa menyiapkan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan untuk hari itu.

Di plaza MSU kulihat, sesosok muda-mudi berduaan.

"Ah ini pasti malam Minggu", seketika terkaku.

Namun kulihat si pemudi itu berpakaian tak terlalu tertutup untuk udara sedingin itu. Sang pemuda justru lebih terlihat nyaman dengan jaketnya. Mereka duduk, berpegangan tangan.

"Oh saling menghangatkan, hehehe", pikirku.

Perlahan, pandanganku yang sedari tadi samar-samar menjadi lebih jelas.

Aku hanya bisa tertegun ketika yang kulihat adalah dia. Sosok adik perempuan yang tak lagi mengaji di TPA kami. Sesaat aku baru menyadari, selama ini aku menjadi saksi pasif perubahan yang dia alami.

Sedari awal ia enggan mengaji, karena keterbatasan perhatian pengajar hanya untuk yang kecil saja. Ia lepaskan jilbabnya. Pelan hingga aku semakin sering melihatnya tanpa jilbab kecuali ketika sekolah. Lalu perlahan pula berubah dari pakaiannya yang semakin lama semakin terbuka. Dan lainnya, lalu lainnya. 

Dan kini, aku melihatnya berdua dengan lelaki tak jelas asalnya dengan menggunakan pakaian sedemikian saja? Harusnya di jam ini, dia mengaji di TPA bersama kami.

Astaghfirullahaladzim...

Mana Quran yang senantiasa ia baca dengan semangatnya ketika dulu awal aku mengajar disana?
Mana jilbab yang biasa menjaga kecantikannya tuk tidak diumbar kemana-mana?
Mana sikap pemalu yang dia jaga?

Aku hanya bisa menangis dalam hati. Itukah sejumput noda yang kutinggal di masa lalu. Enggan kubersihkan karena malu. Dan kondisinya kini seperti itu?

T.T

Jujur kawan, aku bingung bagaimana memperbaikinya. Bingung darimana memulainya.

Mana orang tuanya?

Mana sekolah yang mendidiknya?

Mana saudara saudarinya?

Apakah lepas mengaji mereka biarkan ia sedemikian rupa?

Dan tahukah kalian. Salah satu sejumput noda itu tidak akan hilang dengan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Justru ketika enggan membersihkannya di muka, noda itu akan semakin menempel dan susah tuk kembali sedia kala. Maka setengah-setengah, dan apapun yang kita rasa, tahukah kalian apabila itu hanya menimbulkan sisa maka berhati-hatilah.

Keberanian adalah salah satu cabang dari kekuatan. Dan ilmu menjadikan keberanian bisa terukur sebagaimana mestinya.





Keluarga kecil kami :)
--------------------------------------------------

Kisah kecil tadi mungkin hanya contoh.

Adik-adik kita sekarang tlah semakin banyak yang menginjak masa remaja.
Mereka berada di jalur persimpangan yang akan bisa banyak mengubah dirinya.
Jangan berhenti.
Misi ini sederhana, tetapi tak semudah mengucapkannya dengan lisan ini

Perubahan itu memang takkan serta merta
Seperti cerita tadi, perlahan demi perlahan
Mereka pasti berubah
Yang harus kita lakukan hanya cukup meminimalisir perubahan ke arah yang kurang baik
Dan menumbuhkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Selamat berjuang,
Generasi penerus pengajar TPA Al Ikhlas

Khususnya angkatan 2012


Minggu, 18 November 2012

Mimpi Kita Bersama




November 19, 2012

Semua ini bermula bukan setelah kita tahu nama kita telah tercantum disana. Berurutan, dan tersusun rapi menghiasi nama pengurus organisasi ini.

Tetapi jauh lebih daripada itu. Sungguh.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Wawancara.

Aku tak pernah gagal melewati tes wawancara. Entah mengapa. Seakan aku sudah terbiasa menyihir kata. Sekalipun tak lebih dari 60 menit saja. Ratusan deret akan bisa terlontar apabila memang aku berazzam untuk mengikutinya.

Dan ternyata boleh jadi kisah ini bisa dimulai ketika itu.
Aku menjadi penanggungjawab rekruitasi.
Dan ini untuk pertama kali.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Keterbatasanku membuat berbagai kekurangan disini dan disana. Tampak jelas. Perencanaan yang kurang matang dan rasional, pengelolaan SDM dan kesesuaian di lapangan.

Namun aku tak pernah menyesal. Betapapun, ada kehendak Allah ketika kita sudah berupaya melakukan namun hasilnya tak memuaskan.

Dan aku takkan pernah menyesal. Karena saat itulah, awal aku melihat hal yang istimewa. Yang akan menjadikan kekuatan hebat bila diikat oleh ukhuwah yang kuat.
Harapan. 
Jelas terpancar dari sorot mata yang antusias mengikuti tiap rangkaian penjelasan yang disampaikan.

Semangat. 
Terwakili oleh cucuran keringat tuk dan tersenyum sekalipun cahya mentari menyengat.
Keniscayaan
Yang pasti, aku yakin kalian takkan disini jika tak memiliki apapun. "saya belum pandai", "saya belum pengalaman", "saya belum bisa", dan berbagai hal yang mungkin belum. Tetapi yakinlah itu semua akan terwujud di kemudian hari. Meskipun tak disini, jadikan kesempatan ini menjadi tangga awal tuk menggapainya.

Disini, deretan huruf penyusun nama kita terlihat rapi. Dan yakinlah, barisan pecinta Quran takkan kalah rapi  apabila memang memulainya sama-sama dari hati. Kata-kata ketika wawancara itu menjadi saksinya. Betapa kemauan kita ada. Boleh jadi berkurang, atau hingga hilang. Namun sebelum itu terjadi, kita akan pompa hingga ghirah ini tak ada habis-habisnya.

Mimpi kita bersama, bukan mimpi semu pendek dan penuh retorika. Ini adalah mimpi panjang para pendahulu yang tlah berjuang sebelumnya. Mewujudkan generasi pecinta Quran di bumi kampus tercinta.Dan mereka tlah membuat AKSI nyata tuk mewujudkannya.

Sekarang giliran kita, ikhwafillah.

Mari, siapkan diri kita semua.
Mimpi ini, adalah mimpi abadi. Mimpi yang takkan pernah mati. Sekarang dan hingga nanti.

Bismillah...

Mari melangkah bersama. Bukan demi organisasi ini, sungguh. Niatkan semua karena-Nya yang membuat segalanya ini ada.

Semangat militansi MQ 2012-2013
 

Kamus Kata :
Azzam = tekad kuat
Ghirah = semangat
ikhwafillah = saudara seperjuangan di jalan Allah
militansi = ketangguhan dalam berjuang, menghadapi kesulitan