Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Kamis, 03 November 2011

Ku Petik Rindu Di Setiap Do'amu



Hawa dingin nan beriring. Tak terasa jejak-jejak kaki ini telah lama membumi. Melewati hari demi hari hingga kini seperempat semester tiga telah dilewati. Dan detik demi detik penuh pengorbanan yang silih berganti, takkan hanya menjadi kisah abadi. Ini kisahku. Kisah tentang jiwa yang rapuh. Melewati kehidupan mahasiswa dengan tekad yang masih abu-abu.

Deru semangat di saat itu, masih sayup-sayup terdengar syahdu. Ku kecup tanganmu, dan kurasakan hangatnya kasih sayang diantara bait-bait kata terakhirmu ketika melepasku. “Hati-hati”, seakan itu kata mujarab itu kau ucap dan selalu kuingat dalam memoriku. Mengharap keselamatan, dan tiada hal yang tak diinginkan terjadi kepadaku.

Aku yang rapuh, namun suaramu dari jauh yang selalu menjadi penguat hatiku. Aku tak menemukan kata-kata terbaik tuk melukiskan bahagiaku. Aku mencoba melakukan yang terbaik, untukmu, semua keluarga, dan sahabat yang selalu mendukungku.

Dan ketika langit senja tak lagi cerah, ada kalanya juga diri ini terbelah. Di antara kemalasan yang menjadi, prestasi yang terjal tuk didaki, dan konsistensi yang terus digali, ada harap kalian disana yang selalu percaya padaku. Percaya bahwa tiap tetes keringat yang kau dan ia lakukan untukku takkan sia-sia, sekadar menjadi pelengkap kisah dan tak sedikitpun memberikan asa. Dan ketahuilah, jika hal itu menjadi kenyataan, betapa penyesalan akan tiba. Bahkan mungkin takkan bisa termaafkan diri ini, yang sama saja menjadi beban tanpa memberi sesuatu yang berarti.

Aku memang belum bisa membuatmu bangga, dengan nilai-nilai di atas rata-rata, ataupun selaksa hal positif yang membelalakkan mata. Bahkan, aku lebih sering melagukan keluh nan kesahku ketika lewat senandung manja. Tetapi tak sedikitpun itu membuatmu menolakku ketika menghubungimu.

Aku membelitmu dengan masalah, yang tak bisa ku selesaikan walau diri ini seharusnya bisa lebih bersikap dewasa. Padahal, berkali lipat masalah pasti tlah kau jumpai disana. Duniamu yang membuat duniaku juga ada. Duniamu yang menjadi penyokong duniaku tuk tetap ada. Tetapi tetap, itu tak membuatmu menghindariku.

Dan suatu ketika, petir menyambar dan diri ini terjerembab dalam impian hambar. Aku menyalahkanmu ketika itu. Menyalahkan pilihan yang tlah kita sepakati bersama dan restu yang tlah kau beri untukku. Padahal kau pasti tahu potensiku tak setinggi langit yang ingin kuraih dan tak secepat kilat yang ingin kulangkahi. Tetapi kau tetap mempercayaiku.

Dan diantara sepertiga malam-malam ketika doamu terhempas syahdu, diri ini tetap saja terlelap membatu. Tak sedikitpun kuasa tuk terjaga dan membalas balik doamu kepada-Nya. Dan disana, kau tetap tiada lelah mengirim do’amu. Mengharap Sang Kuasa memberikan diri ini hidayah, dan senantiasa dalam naungan jalan-Nya tuk terhindar dari bahaya. Tiada lelah.



Kontemplasi Hati


Berkalang rasa nan penuh syahdu
Menatap sendu yang temaram mengelebat merdu
Merongrong sunyi ketika sanubari membeku
Hanyut dalam kontemplasi peretas rindu


Berterik mentari, bermalam purnama 
Hati terjerembab, tiada tahu masalah mendekat
Namun secuil kata bersemilir indah
Penyatu kepingan semangat tuk kembali merekat padat


Dan ketika...
Sepertiga malammu menjadi saksi di hadapan-Nya
Dan alunan penuh cinta kau haturkan setulus jiwa
Maka bagaimana diri bisa mendusta,
Bahwa usaha belumlah jua semaksimal yang bisa dilakukan
Namun sejuta keluh kesah yang terlanjur terlontarkan

Kontemplasi hati ini..
Kan buktikan semuanya lebih baik lagi...


Jumat, 21 Oktober 2011

Menerawang Bayang-Bayang

Bandung menampakkan malam yang dingin seperti biasa. Sedingin embun yang selalu yang terjaga di malam-malam menemaniku akhir-akhir ini. Senandung pagi hari demi hari ke depan akan berbeda. Ya, minggu depan adalah minggu ujian. Minggu yang akan sangat menentukan, bagaimana perjuangan di semester ini akan diarahkan.

Tetapi terkadang, musuh utama bukan datang diantara ilalang dan semak belukar, ataupun jurang di tengah perjalanan. Justru diri inilah menjadi penghalang. Ketika rencana memang dibukukan dan sesiap raga ini melaksanakan, ada saja hal yang membuat sang waktu seperti berputar lebih cepat meninggalkan.

Aku harus belajar, dan itu keharusan yang aku lakukan. Seketika kata-kata itu seraya hidup menggetar tetapi mudah goyah dan merintih lemah. “Ah ngantuk”, “Ah bosan”, “Ah besok saja”.

Masih teringat liburan lalu, raga ini berdiri gagah diantara mata-mata kecil yang memandang. Mulut ini berteriak lantang, menyusupi pemikiran mereka dengan motivasi yang membakar. Motivasi? Mengapa sekarang justru kehilangan konsistensi untuk termotivasi? “Bagaimana aku bisa begitu dahulu?”

Ah entahlah.

Menerawang bayang-bayang, mengingat masa lalu penuh kenangan terkadang memang berguna. Aku membuka catatan lama, tepat dimana puluhan draft naskah tanpa ending cerita menyesakkan mata. Beralih ke catatan yang sudah pernah terpasang. membacanya satu persatu. Tersenyum. “Bagaimana bisa aku membuat begitu dahulu?”.

Sebuah pesan masuk di ponselku. “Mas ini endorsementnya”, begitu tertulis awalnya. Hingga teringat bahwa proyek besar menjadi panitia Lomba Puisi yang kemarin dipegang bukan mimpi. Bukan mimpi pula akun facebookku tiba-tiba menerima ratusan permintaan pertemanan dan email dipenuhi ratusan naskah besarta pertanyaan dari peserta. Diri ini juga akhirnya berkesempatan berhubungan dengan mereka dengan orang-orang tenar dan berpengalaman di bidang sastra. “Bagaimana bisa?”

Ternyata, diantara semua jawabannya semua bermula dari alasan bahwa aku menyukainya. Bahkan meski sulit pun terkadang hati ini takkan enggan mengalah. Bahkan ketika otak ini sudah merengek lemah dan lelah bersambut raga yang terserang hawa kantuk sebegitu dahsyatnya, aku tetap menyukainya. Kuliah di jurusan yang amat kusuka, di kampus yang kusuka, di kota yang kusuka. Memiliki hobi menulis meski sangat malas membaca. Menjalani takdirNya yang selalu ku syukuri adanya. Aku suka. Pulang malam dari lab, mabit dan berbagai aktivitas di luar kuliah. Aku menyukainya.

Seketika mengingatnya. Bagaimana aku bisa dahulu begini dan begitu. Jawabnya memang karena memang aku suka. Berlelah tetapi menikmati ibarat waktu tak terasa berlalu. Jadi apakah ketika bermalasan aku menikmatinya? Mungkin juga begitu kita semua kawan. Menikmati disaat diri kita sedang terpuruk, hingga akhirnya lama kita untuk bangkit. Tidak membenci di saat kita futur hingga enggan memperbaiki.

Menerawang bayang-bayang, apakah yang kita impikan malam itu? Malam dimana kisah ini bermula. Ketika kau rasakan udara sekitarmu berubah, tak seperti biasa. Malam dimana kau terjaga, memikirkan apa yang akan terjadi ketika esok mentari menyapa. Apa yang kau pikirkan kawan?

Apakah kau memikirkan bahwa kau akan mendapat kemudahan? Kau akan membuat mereka yang menyayangimu menjadi bangga dan mengelukanmu di akhir kisah? Kau akan dengan segera menggunakan waktumu untuk ini dan itu mencapai target dan sesegera mungkin meraih malam-malammu yang lain? Demikiankah?

Segalanya memang terkadang terasa tak mudah dan diri ini tak bisa menerima. Tetapi dari semua itu, terawanglah bayang-bayangmu. Ketika kau berani memutar kisah ini tuk jadi catatan sejarah hidupmu, ketika kau putuskan langkah ini tuk mengisi waktu-waktumu. Kau tersenyum, kau berharap cemas, kau bahkan mungkin takut. Tetapi kau bersiap untuk semuanya. Bertanya kemana-mana, mencari informasi sedemikian rupa. Kau mencipta bayang-bayang nan elok rupanya. Dan ketika kini bayang-bayangmu kini hampir mati, apakah kau akan meninggalkannya sendiri?

Aku meninggalkannya kawan. Di antara tumpukan jerami aku menyiramkan minyak tanah dan membiarkan diri ini membakarnya. Itulah kenapa aku seringkali gusar ketika malam. Aku merindukan bagaimana aku dahulu berpijak, menatap hari dan berjuang seakan bayang-bayang ini telah memprediksikan.

Tetapi kini, aku telah mendapatkannya kembali. Aku membuatnya dengan harapan, dan keyakinan bahwa memang sesuatu yang sulit diraih akan lebih mudah dijaga nanti. Lalu, bagaimana denganmu?

Rabu, 19 Oktober 2011

Ikut Aksi Tanpa Refleksi, Apa Kata Dunia?



Mahasiswa, makhluk berpendidikan yang masih saja bisa dibilang langka di negeri kita. Kemiskinan yang menjerat dimana-mana dan biaya pendidikan yang memang menjulang takkan pernah dijangkau setiap generasi muda. Tak pelak status mahasiswa boleh saja dibilang membanggakan jika dilihat secara seksama.

Tetapi kadangkala status ini juga cukup membuat hati kecewa. Tengok mereka yang duduk di singgasana kekuasaan, banyak dari mereka dulu juga mahasiswa vokal, menyuarakan perubahan, tetapi sama saja ketika sudah masa mereka menerima giliran. Korupsi, dan berbagai penyelewengan ibarat hal yang tak tertahankan. Idealisme terbeli dengan harga yang mungkin tak bisa disetarakan. Semua dianggap masa lalu, dan masa kini adalah sebuah kepentingan.

Juga lain halnya dengan prestasi yang diukir mahasiswa Indonesia tercinta. Beraneka rupa, dari yang tawuran masal hingga memang membanggakan bangsa di mata dunia. Dan kita harus menyadari, bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki harapan besar dan membutuhkan orang-orang yang memang bisa memberikan pengorbanan besar bukan untuk sekadar hal fana semacam kekuasaan, ataupun tanda simaptik dari orang.

Anda mahasiswa, Anda pemuda, lalu apa? Terlepas dari status mahasiswa Anda, menjadi mahasiswa bukan sekadar untuk bergaya dengan almamater yang Anda banggakan di depan kaca, juga bukan untuk berteaterikal seakan Anda pahlawan pembawa perubahan. Please, sadarlah, mereka juga melakukan hal yang sama.

Mereka runtuhkan tirani demi kekuasaan tertinggi yang katanya untuk rakyat dan dari rakyat. Dan kini mereka bahkan lupa setiap hari yang mereka makan berasal dari rakyat. Rakyat yang merintih di tengah kekayaan negeri ini, rakyat yang menangis di antara janji-janji pemikat yang tak lain bak nyanyian berkarat.

Anda itu berpendidikan. Bukan mereka yang ikut aksi dengan bayaran. Atau mereka yang memang mahasiswa abal-abal, berdendang ria mengatakan, “Inilah aku, kaum intelektual di negeri ini. Akan membawa perubahan. Akan menebar kesejahteraan. Inilah aku”

Sebuah kata-kata yang amat membanggakan bagi saya pribadi sekaligus sindiran pahit datang dari seorang Bima Arya, politikus muda yang dulunya sempat berposisi sebagai pengamat tenar di TV swasta, ketika awal menginjakkan kaki dengan status mahasiswa, “Pemuda sekarang itu banyak yang teriak perubahan, tetapi jika diserahi wewenang tidak memiliki kecakapan.” Berkoar-koar bak singa kelaparan tanpa ada arahan. Pertanggungjawaban? Nol besar. Apakah itu yang Anda inginkan? Menjadi sekian diantara mereka, mantan agen perubahan yang akan segera tergilas perubahan?

Anda akan hilang kawan, hanya menjadi terkamanan generasi muda selanjutnya yang akan melanjutkan aksi tusuk belakang. Mensimfonikan kemerdekaan, tetapi sama saja tidak bermoral. Anda mahasiswa? Maka, beraksilah dengan sebenar-benar tujuan mulia. Jangan bernada Anda bisa, tetapi tiada juga memiliki noda. Jangan berlagak Anda cerdas, tetapi berperilaku kurang waras. Jangan berkata mereka salah tetapi Anda juga tak mampu lebih baik.


Ikut aksi tanpa misi,

demo sana dan disini,

tetapi diam hati nurani,

ketika amanah diemban sendiri tiada perubahan berarti.

Penuhi almari dengan setumpuk prestasi,

buktikan diri mampu berkreasi,

berguna bagi siapa saja yang disayangi,

bukan hanya sekadar cari sensasi.

Refleksikan aksimu

Dengan semangat pantang ragu

Giat berprestasi di tiap denyut nadimu

Disertai tanggung jawab yang tak hanya melagu


Raffa Muhammad

Telecommunication Engineering 2010,

Telkom Institute Of Technology

Senin, 20 Juni 2011

Berpetualang Dengan Generasi Masa Depan



Detak-detik jam berlalu kian terasa. Sang waktu memang kan selalu terus berlalu tanpa ada halang waktu kuasa-Nya. Bersama nyanyiannya ku utarakan sebuah janji yang harusnya terlaksana. Aku pun menari riang gembira saat membayangkan semua kan berjalan seperti rencana.

Janji yang biasa disebut amanah karena hanya melaksanakan berniat untuk mendapat ridho-Nya memang mudah diucapkan tetapi kadang sulit dilaksanakan. Tubuh ini selalu bergetar ketika mendengar kata itu, amanah. Disaat lalai, maka amanah itu pun terbengkalai. Sang waktu pun takkan mau mendengar kita beralasan dengan santai. Alih-alih akan ada hati yang terdzolimi ketika malah sibuk urusan pribadi.

bernarsis ria



Ditemani tubuh yang mulai lunglai, aku membasuh muka dengan air wudhu’, membuang sisa-sisa lelah yang terlukis di wajahku. Hari ini agendaku padat, walau memang tak ada alasan untuk terlambat. Kuliah ini dan itu hingga harus mengemban amanah disini dan disitu.

“Kak Fikriii, Assalamualaikum”, sebuah suara mengawali rentetan suara-suara lainnya yang bersahutan memanggil namaku. Sajak sepi yang tadi mengalun merdu sirna tiba-tiba. Suara ini tak asing lagi, suara emas para generasi masa depan yang biasa ku temui di masjid tempat kami merangkai mimpi, menjadi generasi muslim sejati.

Jemariku mendekat ke arah pintu dan membukanya perlahan.“Kakak sholat dulu ya”, pintaku dengan nada ramah. Nada yang jika kupikir masih jarang tergambar dari kata maupun mimik wajah sebelum aku mengenal mereka.

Sambil menungguku melakukan tarian penghambaan kepada Tuhan, mereka bercakap ria seperti biasa. Tertawa bergurau hingga dinding sepi kostku menggema, merasakan keceriaan dan sukacita. Pastilah jemu ia berdiri tegak, menopang atap hingga ku bisa tidur dan beraktivitas dengan bahagia di bawah. Sementara tak ada keceriaan yang ku bagi dengannya. Malah raut penuh kesal dan nada kecewa ku lantunkan ketika pulang kuliah.

“Mau kemana ini kak?”

“Ke danau lagi aja kak”

“Keliling STT lagi”

“Bentar ya”, tanganku masih sibuk menyiapkan apa yang telah ku rencanakan tuk hari ini. Hari ini adalah hari minggu, hari yang sama sejak dua minggu lalu ku canangkan program tadabbur alam dan belajar Islam di luar. Belajar Islam memang sebuah kewajiban, dan usia sangat sayang jika hanya mengenal dunia saja yang takkan ada habisnya.

“Nanti kita main games”, ujarku.

“Horeee”, teriak mereka serempak kegirangan. Aku pun menuntun kaki-kaki kecil pembawa harapan besar itu melangkah keluar. Kampusku minggu sore tampak lengang. Waktu liburan yang tlah datang membuat aspal hanya sesekali menerima ciuman dari ban, sesuatu yang sudah terlalu sering ia rasakan ketika hari-hari sibuk jalanan Sukabirus berjalan.

Enam anak hari ini ikut, jumlah yang sama ketika dua minggu lalu semua mulai digelar. Bermula dari sesuatu yangSaat itu mereka menawarkan untuk tetap mengaji di hari minggu, hari dimana biasanya TPA kecil kami diliburkan. Namun, ternyata masjid digunakan untuk Ibu-Ibu pengajian, jadilah aku mengajak mereka keliling kampus dengan seorang pengajar.

Dan hari ini senja menyapa kami dengan ramah. Tak ada mendung sedikitpun terhampar di angkasa. Jadilah ku persiapkan semuanya dengan suka cita.

“Ko’ hanya berenam?”

“Lha emangnya mau berapa kak?’

“Kakak kira ada sepuluh atau lebih”, selorohku hingga membuat mereka geram. Bahkan si kecil Sri juga ikut-ikutan, meniru kata-kata kakaknya, Yuli yang mencoba protes karena aku berniat memanggil lainnya. Mereka berenam memang termasuk yang paling rajin diantara yang lain. Jadilah mereka terkesan kurang suka dengan yang lain karena hanya main-main dan membuat keributan saat mengaji.

“Lagian lama kak nunggunya. Mereka belum mandi, masih bau kayak kakak”, celetuk Erika.

“Iya kak, mereka juga banyak yang ke rumah Gilang. Dia hari ini disunat. Makanya khan ada dangdutan”, tambah Sundari.

Aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Bisa-bisa tangis Sri pecah disini, bidadari paling mungil ini memiliki tangisan besar yang bisa membuatku panik karena pasti mengundang perhatian orang. Nanti aku dikira nyulik nih bayi, atau dikira macem-macem.



Dua pengajar lain datang hingga membuat acara kami lebih semarak lagi. Sebuah games kecil di depan gedung megah Learning Center, kebanggaan seantero kampusku. Dan senja kemballi menjadi saksi, pesona yang mulai perlahan tanpa ku sadar menghampiri. Aku menikmatinya. Aku mensyukurinya. Sebuah canda tawa, momen indah dengan mereka, para mujahid - mujahidah masa depan.

“Braak”, Dika jatuh dan menangis keras. Namun syukurlah ada Fantri, teman seperjuangan yang dengan sigap mengobati dan menenangkan laki-laki kelas dua sekolah dasar ini. Permainan merangkai huruf estafet akhirnya usai sudah. Terpaksa diganti tanpa merangkai huruf menjadi nama Nabi tanpa lari. Dan angin senja membuat suasana lebih meriah. Kertas-kertas yang ku gunting sebelumnya itu tertiup berhamburan, membuat mereka panik tetapi riang.

Dika dengan hasil mewarnainya



Itulah permainan yang tampaknya bisa maksimal. Permainan kedua hanya teka-teki silang. Revi dan Fantri membacakan soal. Aku sibuk menjadi pengawal Sri yang lincah menggodaku berlari menginjakkan kaki kecilnya di tangga LC. Dua kelompok tampaknya berat sebelah sehingga salah satu terlihat muram tanpa menikmatinya. Dan alhamdulillah semua berujung senyum di akhir cerita ketika hadiah dibagikan. Tak ada raut tangisan ataupun muram lagi bermunculan.

Petualangan kami berakhir disitu hari ini. Namun akan terus berlanjut lagi di lain kesempatan. Berlanjut dan berlanjut, hingga senja kan jemu melihat pesona mereka tumbuh dan menjadi generasi masa depan yang berilmu. Hari ini adalah hari terakhir bermain dengan mereka, sebelum kepulanganku ke tanah kelahiran tercinta selama tiga bulan lamanya. Aku pasti merindukan mereka. Sebuah kepastian yang terbersit ketika melihat senyum tulus mereka terbayang.

Sayonara, we’ll continue later!

Generasi Masa Depan (Della, Erika, Sri, Yuli, Sera)


“Jika mau ngajar maksimal, luruskan niatmu. Lalu tanamkan pada dirimu bahwa bukan mereka yang membutuhkanmu, namun kamu yang membutuhkan mereka. Akhirnya nikmati semua itu”.



Pesan murobbiku itu sangat jelas terpampang di benak. Walau belum sepenuhnya bisa terserak, namun akan terus berusaha selagi jantung ini masih berdetak.

Rabu, 06 April 2011

Sebuah Kado Istimewa

“Dibawa ke rumah sakit? Dimana?”

“Di Surabaya. Di Jember sudah tidak sanggup lagi menangani”

“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”

“Alhamdulillah sudah ditangani dengan baik. Doakan ya Nak, semoga kakek cepat sembuh”. Ucapan lirihmu membuatku trenyuh. Baru beberapa bulan lalu, ya aku ingat jelas kau dan kakek melepas kepergianku. Menatapku dan mengecup kedua pipiku. “Yang baik-baik ya disana”, pintamu. Begitu pula kakek, di saat kondisinya yang lemah masih saja memberi wejangan dan doa.

Baru beberapa bulan lalu, bahkan aroma Bandung masih abu-abu untukku. Tapi agaknya rindu ini terkumpul menjadi satu. Padahal jelas beberapa bulan sebelum kepergianku. Kakek selalu rajin bersepeda di hari minggu, mengantarmu jalan-jalan ke alun-alun tuk melatih kakimu yang sempat terkena stroke beberapa tahun lalu, atau rutin menyirami tanaman anggrek dan lainnya yang selalu kau rawat sepenuh hati di kebun kecil di samping rumahmu.

Kakek kini lemah. Tak lagi bisa menghadiri pengajian di masjid tempatnya selalu rutin beribadah, apalagi menemani hari-harimu yang penuh warna, mengantar sepupuku pergi les seperti biasa. Pasti kau terpukul mengetahuinya. Apalagi tahu-tahu keadaan kakek sampai harus dirujuk keluar Jember yang dulu kau bilang lebih baik dari Lumajang.

“Jatuh?”

“Iya. Sekarang sudah dirawat di Rumah Sakit juga.”

Ucapan anakmu yang melahirkanku itu membuatku tak habis pikir. Mengapa kau paksakan membunuh letihmu dengan senantiasa tengah malam berdzikir. Itukah kekuatan cinta yang selama ini telah terukir?

Masalah dana yang awalnya masih bisa dipenuhi patungan anak-anakmu mulai bermasalah. Tulangmu bergeser saat kau jatuh. Sementara kakek juga bukannya makin sembuh. Untunglah perdebatan kecil antara anak-anakmu dengan anak-anak kandung kakek sedikit memberi harapan baru. Walau sempat tangis terpancar karena anak-anak kakek agak enggan ikut berperan membantu.

Anak-anakmu kembali kebingungan. Situasi dilematis muncul ke permukaan. Ruang inapmu dijadikan satu dengan kakek akan membuat mereka mudah menjaga bergantian. Tapi, kau akan kehilangan motivasi tuk cepat sembuh karena nyatanya penyakit kakek lebih parah darimu. Benjolan itu ternyata kanker, bukan benjolan biasa yang selalu kau rasa bisa ditanggulangi dengan pijat rutin kepada seorang spesialis sebelum kakek makin melemah.

Kanker itu bukan penyakit biasa yang bisa sembuh dengan penanganan cepat. Begitulah nyatanya sehingga anak-anakmu memutuskan di kamar berbeda kalian dirawat. Hari demi hari, kondisimu dan kakek masing-masing mulai membaik. Dan kakek mulai dirawat di rumah anak-anaknya, sedang kau dipulangkan ke Lumajang karena anak-anakmu juga tak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.

Libur jelang lebaran, aku pun pulang. Melepas kepenatan selama enam bulan juga rindu yang tak tertahankan. Kau sambut dengan sukacita walau ku tahu dari kejauhan, kau memendam sedih yang teramat dalam. Kakek hanya bisa kau hubungi jarak jauh. Seseorang yang biasa ada disampingmu, kini teramat jauh disana sedang melawan penyakitnya.

Sementara kakimu yang harus dioperasi membuatmu kakimu ditanam logam yang kau sendiripun sebenarnya membencinya. Kau tak bisa berjalan seperti biasa. Apalagi agaknya kau terlalu memikirkan kondisi kakek hingga kau pun enggan berlatih melangkah. Ya, bunga-bunga di taman yang layu pun menyiratkan demikian adanya.

Hari lebaran keluarga berkumpul seperti tahun-tahun biasanya di rumahmu. Bermaaf-maafan dan saling berbagi kebahagiaan. Tapi kali ini tidak ku temukan. Apalagi setelah mendengar berita kondisi kakek memburuk perlahan. Walau sebenarnya sudah ada anak-anak kandungnya yang merawatnya disana.

Kondisi kakek jauh lebih buruk daripada saat sebelum dirujuk ke Surabaya. Sementara, anak-anakmu tak bisa berbuat apa-apa karena jarak Lumajang ke tempatnya lumayan jauh dan memakan waktu pula. Kemoterapi dilakukan, dan anak-anakmu merahasiakan opsi itu karena sejak awal kau telah mengetahui resikonya yang membahayakan.

Sementara ada juga pihak keluarga yang mengusulkan agar kakek dibawa saja pulang ke Lumajang. Itupun seperti permintaanmu sendiri setelah membongkar rahasia yang anak-anakmu pendam. Biar meninggal di sampingmu dengan tenang, dan kau pun bisa menemuinya disaat terakhir sebelum ajalnya datang.

“Pokoknya bawa pulang saja. Dia satu-satunya lelaki yang setia, dan menemaniku sejak masa sulit”, begitu pintamu dengan nada rengekan yang belum pernah ku jumpa. Ya memang benar adanya. Kau selalu saja bersikap tegar di depan semuanya. Tapi jauh di dalam hatimu, kau rapuh. Bagaimanapun kau perempuan biasa dengan kesabaran luar biasa tapi tetap membutuhkan seseorang yang dicintai di sampingmu selamanya.

Dia memang bukan laki-laki yang sama yang mengalirkan darahnya ke anak-anakmu hingga terkait pula denganku. Bukan dia. Bukan cinta pertamamu yang kau harap kan jadi cinta terakhirmu. Bukan laki-laki pujaanmu yang akhirnya menikahi perempuan lain di saat hartanya melimpah ruah dan kesuksesan digenggam dimana-mana. Meninggalkanmu dengan anak-anak kecil yang masih sekolah dan membutuhkan banyak dana.

Bukan. Bukan dia yang membuatmu kecewa dan sakit hati. Membuat anak-anakmu terancam kehilangan masa depan, setelah sebelumnya semuanya terjamin dengan rapi. Bukan dia yang membuat anak-anakmu terpaksa kuliah dengan keadaan serba terbatas dan penuh derita. Tapi dialah yang selalu menemanimu setelah kau buka warung untuk menghidupi anak-anakmu. Membesarkanmu hingga akhirnya aku pun terlahir dari rahim salah satu anak yang kau besarkan dengan sungguh-sungguh.

Air matamu mengucur deras, diikuti air mata anak-anakmu yang membuatku memilih keluar kamarmu karena tak kuat situasi yang ada. Sementara menantumu dan beberapa anakmu sejak pagi sudah menjemput kakek tuk dibawa pulang menemuimu.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal ....”

Pesan itu membuat tangisan pecah seketika anggota keluarga yang ada di rumahmu. Suasana haru bertumpah ruah. Tapi semua menutupinya, takut kau tak bisa menerima. Apalagi kondisi kesehatanmu yang juga kurang stabil agaknya.

Jenazah datang sementara para pelayat berdatangan. Diikuti teman-teman pengajian kakek yang juga hendak membantu prosesi memandikan. Di balik kamar, aku hanya bisa mendengar tangismu pecah. Ditemani adik-adik dan kakakmu kau disana, kau mencoba tegar tapi tetap tak percaya terhadap semua keadaan. Walaupun sebelumnya sempat terucap, “aku rela dan ikhlas sudah”, dari bibirmu karena semuanya masih merahasiakan bahwa kakek sudah dipanggil ke pangkuan Allah disana. Tapi tetap saja tak bisa dipungkiri, tangisanmu itu tak bisa menyembunyikan kepedihanmu yang mendalam. Ratapanmu tak bisa mengobati rindumu dan juga kepedihan yang dirasakan anak-anakmu yang juga tak kuasa menahan air mata malam itu.


Mendiang alm Kakek dan Nenek

Kakek dikuburkan pagi harinya. Saat itu ku lihat kau sudah mulai lebih tenang daripada malam hari sebelumnya. Kepergiannya menyisakan segenap luka dan duka bagi semuanya. Tak hanya dirimu, anak-anakmu yang juga mendapat sosok pengganti ayah, serta aku dan cucumu lainnya yang mendapat sosok kakek dan mengenalnya.

Sekarang kau masih menjalani terapi penyembuhan. Kau sudah mulai berlatih berjalan. Berjalan meski kini hanya tersisa kenangan. Tak ada lagi dia yang selalu menemanimu, di saat pekerjaan menyibukkan anak-anakmu, juga sekolah yang membuat cucu-cucumu jarang mengunjungimu.

Cucu terbesarmu sudah sembilan belas tahun kini. Tepat disaat aku menulis ini. Tepat disaat kau menelponku tadi, dan kau ucap harapanmu kepadaku agar senantiasa berjalan dalam naungannya, mewujudkan harapan orang tua dan menjadi contoh bagi cucu-cucumu lainnya. Kado istimewaku adalah menjadi cucumu, menjadi anak yang terlahir dari anakmu.



Bandung, 5 April 2011

Ditulis dengan berlinang airmata



by Raffa Muhammad

Senin, 04 April 2011

Petuah Sederhana


Ujian nasional kian dekat. Sekolah manapun pasti akan meningkatkan kesiapan siswanya dengan kompak. Tugas dikurangi, dan penjelasan ditambah hingga semua mengerti. Tak ada penyesalan di akhir nanti, semuanya berharap begitu tanpa kecuali.


Tapi tidak, saat itu entah mengapa tugas di SMA ku tak kunjung tamat. Semuanya ada dan terus ada dengan alasan memang target pembelajaran yang membuat hari serasa kiamat. Bayangkan, ada tugas membuat film, membuat laporan percobaan, membuat maket rumah, dan beberapa laporan serta tugas tambahan yang membuat waktu serasa cepat. Pulang sekolah jam dua, sudah harus melanjutkan jadwal les disana sini untuk UAN dan SNMPTN yang kian dekat.

Malam, jika ogah-ogahan belajar, bisa dipastikan esok sekolah akan ketinggalan. Maka malam pun memaksakan tuk tetap belajar meski mata seberat beras kiloan. Mencicil tugas juga bisa dilakukan, tapi apa daya kadang malas juga berdatangan. Bangun pagi pun diharamkan kesiangan, dilanjut les pagi di sekolah yang memang diprogramkan setiap tahunnya.

Begitu setiap harinya, membuat akhir pekan semua masalah dilupakan untuk berhura-hura. Begitulah hingga akhirnya, UAN kian dekat dan mendekat sementara deadline tugas juga tak kalah semakin singkat. Sementara hasil juga tak bisa dibilang sempurna karena kadang malas menjadi penghadang utama.

Hari itu, semua disibukkan diskusi mata pelajaran bahasa Indonesia dimana esok akan didiskusikan tugas kelompok minggu lalu. Aku termasuk yang kalang kabut, tugas minggu lalu tapi hingga sehari jelang dikumpulkan belum sama sekali disentuh. Resah dan gelisah bercampur begitu rupa tatkala membaca UAN akan lebih sulit dari sebelumnya. Akhirnya sore itu ku putuskan ke rumah guru bahasa Indonesiaku yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Tujuannya sederhana, ingin berkeluh kesah karena kebetulan guru yang satu ini sosok yang terbuka dan ramah terhadap muridnya.

Ku kendarai sepeda, dan menuju ke kompleks perumahan dimana guruku tinggal. Aku disambut hangat dengan senyum dan sapa, dan akhirnya ku jelaskan maksud kedatanganku kesana.

“Baru pulang mas”, tanyanya seraya tangannya mengisyaratkan tuk menyilahkanku duduk.

“Iya Bu, belum sempat ganti baju. Tadi nyicil ngerjakan tugas film Bu”, jawabku.

“Memang belum selesai? Bukankah sebulan jelang UAN, tugas sudah harus ditiadakan?”, tanyanya pelan.

“Iya sih, tapi ya gitulah Bu, banyak ulangan, try out dan tugas lainnya”, balasku. “Ibu pilek?”

“Iya mas, saya juga agak meriang rasanya. Kemarin sudah minta dikerokin sama adik tapi tetap nggak enak rasanya”

“Ya sambil istirahat saja Bu”

“Mau istirahat gimana mas”, dia menghentikan bicaranya. Diambilnya sesuatu dari balik meja di depanku.

“Ini lihat”, diperlihatkannya beberapa tumpukan kertas. Seperti hasil ujian yang dibungkus rapi dengan beberapa coretan di depan.

“Apa ini Bu?”

“Yang ini hasil ujian semester kalian. Ada tiga kelas. Sementara yang lain hasil ujian Widya Gama” jelasnya sambil menunjuk dan membolak-satu persatu. Ibu Guruku ini mengajar tiga kelas di sekolahku. Widya Gama adalah perguruan tinggi swasta di kota kecilku, tempatnya juga mengajar di sela waktu.

“Ini dikoreksi semua?”, tanyaku heran. Ku lihat perlahan, tumpukan itu pasti berisi banyak lembaran-lembaran.

“Nah itu mas. Belum selesai ngoreksi, tadi saya sudah dipanggil Pak Marin disuruh buat soal try out minggu depan. ‘Nggak Pak Marin. Saya sudah banyak tanggungan’, ‘ Bu Moel, untuk bahasa Indonesia anak-anak, saya percayakan sama Bu Moel’, serunya. “Nggak didenger protes saya”, akunya.

“Ya sudah Bu, try outnya Ibu acak aja soal tahun lalu”

“Nggak mas”, akunya tegas. Mukanya menyiratkan kesungguhan penolakannya terhadap ideku itu.

“Saya nggak mau kalian menjadi generasi yang terkorbankan”, tambahnya.

Dikisahkannya kisah masa kecilnya yang hanya sekolah dengan guru-guru terbatas. Guru Fisika merangkap jadi guru Kewarganegaraan, guru olahraga merangkap guru Bahasa Indonesia dan beberapa guru lainnya yang juga melakukan hal yang sama. Akibatnya jelas, disiplin ilmu yang berbeda membuat penjelasan kadang kala itu itu saja.

“Misalnya untuk menyontohkan penggunaan majas personifikasi selalu saja ‘nyiur melambai di tepi pantai’. Ditanya lagi di lain hari, jawabnya sama tak berganti, seakan contoh lain nggak dia ketahui lagi. Karena itu saya selalu buatkan tipe soal baru, yang tentunya masih mengacu ke Ujian Nasional nanti,”ujarnya.

Memang setelah kuingat, try out yang sudah ada bacaan di soal bahasa Indonesia selalu baru dan berbeda. Jika pelajaran lain bisa ada yang sama dengan soal ujian nasional lama, tipe dan bacaan di soal try out bahasa Indonesia selalu pertama dijumpai saat itu juga.

“Ya kalau gitu, koreksinya aja minta bantuan orang lain Bu. Kan Ibu bisa buat kunci jawaban sehingga bisa ....”

“Nggak bisa mas, bentar ya saya ambilkan minum”, selanya sambil melangkahkan kakinya ke arah kulkas di ruang tengah rumahnya.

Sementara ku lihat hasil koreksi Ibu beberapa, dan ternyata semuanya tak hanya dikoreksi begitu saja. Dibetulkan satu persatu yang salah, maka pantaslah akan membutuhkan waktu lama.

“Ibu ngoreksinya gini...?”, tanyaku heran

“Jika nggak gitu, mereka nggak akan tahu mengapa Ibu menganggapnya salah. Kalau yang pilihan ganda, Ibu pun harus tahu dimana letak kelemahan siswa. Jadi bisa dijelaskan lagi materi yang kiranya kurang dipahami”, tuturnya.

“Tapi kan lama Bu...”, kata-kataku dijawabnya dengan senyuman lembut darinya. “Ya dicicil mas, setelah Isya, hingga jam sembilan. Sebelum shubuh hingga shubuh dan berangkat memberikan les pagi. Juga di sela-sela sebelum mengajar di Widya Gama sore harinya”

Aku terdiam. “Betapa padatnya agenda Bu Moel ini”, pikirku. Jauh lebih padat dari agendaku yang terbilang memang kewajibanku. Agendanya adalah pilihannya. Guruku ini, adalah orang yang sama yang mengajar Ibuku dan Paman serta Bibiku. Jadi bisa diketahui di usia senjanya, sebenarnya materi bukanlah tujuan utamanya menyibukkan diri di dunia pendidikan yang membuatnya sibuk setiap harinya. “Ya Allah, aku kesini mau berkeluh kesah padahal hari hari beliau pasti jauh lebih berat dariku. Sementara aku ini masih muda, dan beliau sudah terbilang tua, apakah pantas begini adanya?”, ujarku dalam hati.

“Kamu kesini ada apa?”, pertanyaannya membuyarkan lamunanku yang membawaku ke perasaan bersalah.

“Hmm tidak ada Bu, cuma ingin silaturahmi saja”, jawabku dengan meringis menutupi kebohonganku. Aku pun meminta izin pulang karena hari sudah sore. Malamnya aku kerjakan tugas itu semalaman dengan semangat penuh. Gelisah tadi pun hilang sebelum dikeluhkan sudah terobati dengan kisah semangat yang menyuntik segenap raga. Hilang oleh sebuah petuah sederhana yang tersirat dari untaian kisah penuh makna dari guruku tercinta.


Raffa Muhammad


Kisah Lama Sebelum Kuliah

Selasa, 22 Maret 2011

Sang Waktu

Kokok ayam menjadi teman terbaikku, dengan embun pagi dan hawa dingin sebagai saksinya yang selalu menemaniku. Bersama nyanyian pagi, aku bergerak perlahan melewati temaram mentari yang mengejarku, di belakang, tertinggal menyertai angin yang menyapu jatuh dedaunan.

Terkadang langkahku pun berpacu dengan alunan nada waktu. Dan kokok ayam enggan menyapaku. Padahal, alunan itu senantiasa memercik keharuman yang turut serta menyemarakkan hari-hariku, memacu segenap jiwa dan raga ini untuk padu, bergerak maju dengan tujuan yang satu.

Dahulu, aku memang pengagum ketepatan waktu, menyertainya dalam tiap aktivitasku, dan memujanya sebagai bagian dari disiplin ilmu. Namun apa daya, sang waktu kadangkala meninggalkanku tanpa sedikitpun pertanda tuk menyuntik segala memori akan rencana di masa lalu. Langsung menjauh, sejauh mentari yang kian meninggi, dan kesejukan pagi yang sirna ditelan sunyi.

“Assalamu’alaikum akh, maaf ane izin terlambat ya”, Ku kirim langsung sementara selimut hangat masih melekat.

“Baru bangun ya akh? Udah sholat shubuh belum?”, balasnya menyindir. Dia seorang yang selalu mengingatkanku pada amanah yang ku pikul dengan rapuhnya iman. Dan kerapuhan itu bersaudara dengan kemalasan hingga akhirnya sebuah kewajiban boleh jadi dilalaikan di tengah jalan.

Aku bergegas. Tanpa menyapa sunyi di pelataran kamarku yang sepertinya tak acuh dengan kegelapan yang telah berganti secara total. Sekejap saja dan kaki ini kembali melewati tanah-tanah lumpur bekas hujan yang lama kering di tanah Parahiyangan yang terkenal berhawa dingin.

Mentari mempertegas posisinya. Sinarnya membawa segala rona makhluk fana memulai aktivitasnya. Berkomplot dengan waktu. Membuat sebuah awal dari perubahan, yang juga akhir dari penundaan sebuah perubahan.

Hari itu, sebuah syuro’ ku awali dengan sebuah keterlambatan, sebuah pelanggaran kecil terhadap amanah yang diberikan Tuhan. Pelanggaran besarnya, shubuh tak lagi sesuai waktu yang telah ditentukan.

Padahal, masih teringat jelas sebuah hadist Rasulullah, “Dua raka’at Shalat Shubuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” Bayangkan, bagaimana bisa mengamalkan apabila suara penyeru kewajiban sudah tak bisa terdengar ketika terlelap di kala malam?

Sehari, dua hari hingga tak terhitung lagi. Sebuah kebiasaan itu kini menjadi budaya sehari hari. Kokok ayam dan merdunya suara adzan tak terdengar lagi. Embun pagi tak terasa segarnya kembali. Deburan dingin air kala shubuh kini sama saja dengan pagi menjelang siang hari. Pun mentari mengejek balik setelah sebelumnya selalu tertinggal di waktu pagi.

Akankah terus seperti itu?

Aku terus menerus bertanya pada sang waktu, yang juga berkawan mesra dengan kokok ayam yang tak pernah telat sembari adzan berkumandang jelang shubuh. Sapaan cintaku disapa balasan penuh kasih yang syahdu.

QS. al-An’am (6) : 131
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Aku bangun dari tidurku. Mengusap wajah yang tadinya lelah mengeluh. Memulai dan memilih sebuah motivasi baru.Yang dulu sempat sirna dan menjadi masa lalu.

Sang waktu kembali menemaniku. Dalam sepi dan seiring ia berlalu, didendangkannya sebuah fakta bahwa hati ini tak jua bisa menyatu. Ingin ini dan itu. Tapi raga tak jua bisa memberikan apa yang terbaik. Ya Allah, ketika ada kesadaran mengapa kejenuhan menyeruak ke permukaan? Apakah memang tlah kau takdirkan waktu selalu mendahuluiku, menjadikan keterlambatan sebagai ciri khasku, dan membuat segala penyesalan di ujung karena persiapan yang kurang seperti angiin lalu?

Allahumma ya muqolibul qulub tsabit qalbi ‘ala diinika …
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, 
tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu
[HR. Muslim 2654, Ahmad 6533]

Ya Allah karuniakanlah kami hidayah-Mu agar senantiasa dapat memperbaiki diri…

Dan diantara tanda tanda kuasa-Nya, sang waktu menjadi kawan terbaikku. Harus. Ketika ditinggalnya aku di belakang, tak ada lagi kokok ayam, suasana pagi yang menyejukkan dan berbagai karunia Illahi kala pagi menjelang tuk bisa dirasakan. Tidak ada lagi. Karenanya, tak perlu ku memintanya menunggu. Mentari tuk tak menyapa dunia ini, sementara dalam lelapku semua menanti.

Aku harus bangun.


pemandangan pagi dari jendela kamarku nan jauh disana


Harus!