Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Kamis, 26 April 2012

My Story Tonight

Wow, saya akan membuka curhat kali ini dengan membaca basmalah.

Bismilahirrahmanirrahiim

Kamis, 26 April 2012

Ketika 20 tahun lebih 21 hari

"Kakak Isaal", suara itu tampak familiar. Yeah, itu suara Ramdhan, anak manis pecinta kucing yang ada di TPA. Ku buka pintu perlahan.

"Iyaaaa", jawabku pelan.

"Ngajiii yuuuk", ujarnya kembali.

"Tunggu kakak di TPA ya boy", pintaku.

"Okee", balasnya seraya berlari meninggalkan teras kamar saya.

Masha Allah udah maghrib. Manga "Kuroko no basuke" yang sedang kubaca langsung ku tutup.
Dan akhirnya hari ini saya ngajar nih. Setelah kemarin sempet bolos alhamdulillah saya bisa ngajar juga.

Mandi, shalat maghrib dan.... hujan?

"Hujan terobos aja. Itulah totalitas namanya", kata mentor saya waktu itu. Saya selalu teringat kata-kata totalitas beliau ketika diri ini sedang termangu dalam kondisi seperti itu.

Payung?

Saya mengambil payung dan langsung melesat jauh ke tempat itu.
Tunggu payung? Benarkah itu payung?

Saking ngga jelas bentuknya saya malu mengakui punya payung ke orang tua temen sekost saya.  Iya, umurnya sama seperti waktu saya menginjakkan kaki di Bandung karena pertama kali datang langsung beli itu payung.

Next....

Seperti biasa, saya datang ke TPA disambut muka-muka anak-anak yang riuh dan penuh semangat menggelora.

Tapi jumlah yang ngaji kali ini banyak. Lebih banyak daripada minggu lalu ketika saya minggu lalu saya mengajar.

Ada 22 anak.

Alhamdulillah


Belum sempet mengkondisikan adik-adik, saya dikagetkan dengan Ramdhan yang meraung-raung bak macan kelaparan. Dia tampak marah kepada Ilham, kakaknya. Anak manis yang pernah videonya saya masukkan youtube disini  tampak kalap. Dia bantai semua yang mendekatinya.

Sontak saya suruh semua anak ke balkon atas.

Sial, saya seakan menghadapi naruto yang jincurikinya sedang marah. Untungnya anak ini bukan bijuu, jadi saya bisa menahannya walau harus tercakar-cakar juga.


Alhamdulillah, dia lebih tenang.
Akhirnya saya ke atas dan mencoba meyakinkan diri saya bahwa saya bisa menenangkan mereka semua. Walau suara ini hampir habis alhamdulillah kami sempet beberapa kali mengaji bersama surat-surat pendek. Melelahkan, bahkan saya mandi keringat karena terus berteriak mengatur mereka.

Hujan membuat emosi saya cukup mereda. Jujur, saya ingin menghadiahkan bogem sebenernya karena mereka sama sekali ngga bisa disiplin.

"Era ngaji dengan tenang ilang cuy. Adanya ngaji militer ama gue, hwahaha", teriak saya dalam hati.

Jadi ayamku?

Bercanda.


 

Yeah menguras tenaga dan suara banget. Tapi lihat tuh video, lumayan kondusif khan :)

Beberapa anak perempuan yang ababil turun ke bawah. Biasa, seakan mereka ingin caper gitu. Saya cuekin deh. Akhirnya saya ajak mereka membenahi gerakan sholat mereka.

Susah, kondisi tidak kondusif. Ketika berdiri banyak yang maen senggol-senggolan, cubit cubitan, grrrrrr

Dan membutuhkan waktu lama walau cuma mengajari gerakan berdiri pas sholat, posisi kaki dls mpe takbiratul ihram.

Tak terasa Isya telah tiba. Akhirnya salah satu anak adzan dan kami siap sholat berjamaah.

Hujan sedari tadi belum mereda. "Yuk sholat", ajakku.

Beberapa adik-adik mau juga sholat berjamaah.

Di tengah shalat, aku dikagetkan dengan sayup-sayup suara banjir.

"Ya Allah, masak saya hanyut dalam banjir ketika sholat gini, keren banget", pikirku yang akhirnya membuatku memilih surat-surat pendek saja.

Selesai shalat, aku melihat air telah memasuki kawasan musholla kami. Adik-adik yang tadi ngga shalat inisiatif menaikkan karpet ke balkon atas. Beberapa lainnya mencari sendal yang terbawa banjir. Di luar musholla banjir udah mencapai mata kaki lebih sedikit.

Beberapa adik agak ketakutan, "kakak airnya naik, gimana nih"
Namun ada beberapa lainnya yang cuek dan malah main-main air.

"
Heh kalian nanti sakit maen air gituuu", teriakku. Tetapi sedikitpun mereka tak menggubrisku. Kuatirin mereka saya akhirnya takut sendiri. Secara mahasiswa ngga boleh sakit cuy, sakitpun kuota 75% presensi harus jalan terus.

Oh meen, lu bocaaah minta diapain sihh -__-

"Semuanya naik ke atas, yang mau pulang, langsung aja pulang pelan-pelan. Kakak anter yang pulang gantian.

Beberapa anak laki-laki langsung menerjang banjir. Olala....
Uniknya ada beberapa perempuan yang tadinya berbusana muslim cantik ternyata takut basah dan berganti pakaian mini girlband di TV2 itu, hehehehe

Aku mengantarkan sebuah kelompok yang pulangnya searah. Payung yang tadinya ku anggap ngga berguna ternyata ngga berguna, tetep aja basah kuyup -__-

Keren, pertama kali saya berjalan penuh was-was di tengah banjir. Saya hanya ingin memastikan mereka ngga kenapa-kenapa, hanyut kek, dimakan buaya kek, apaan kek gituu... :)

Mereka sampai rumah, saya nganter lagi. Kali ini perempuan.


"Kak Faisal makasih ya", ucapnya ketika sampai di dekat rumahnya sambil tersenyum manis. Cukup meredakan ketegangan juga melihatnya.

Lalu terakhir, saya mengantar anak laki-laki, namanya Ian dan kami tutup pintu musholla dan matikan semua listrik walaupun air tinggal menunggu waktu memasukinya. Hmm melihat rumah Allah tergenang rasanya gimana gitu. Tempat sujud ummat, tempat kami mengaji bersama..............

Pengen sih ngelakuin sesuatu tapi....

Masalah lingkungan, drainase buruk, sampah, polusi. Lu mau ngomong apa aja, tapi di Bandung udah parah.





-------------------------------------
Aku pulang. Menikmati ayam bakar dengan tenang. Dan kutulis cerita malam ini dengan penuh tanda tanya apa yang harus aku lakukan

Cikapundung, sungai di dekat kostku
Sungai lautan sampah [foto tahun lalu]






Kini, bagaimana kondisinya?




Selasa, 24 April 2012

Totalitas, Dimanakah Dirimu?

Satu diantara sekian hal yang membuat kita bisa maksimal adalah sebuah komitmen yang tertuang dalam sebuah totalitas.

Totalitas, dimanakah dirimu?

Termangu aku terdiam membisu

Menantimu bangkit memenuhi jiwaku

Perkenalkan namaku Raffa, bukan nama sebenarnya. Seorang mahasiswa., seorang yang mungkin masih perlu banyak belajar tentang totalitas dalam kesehariannya.

Aku menghargai sebuah totalitas secara mahal, sesuatu yang luar biasa untuk dilakukan. Ia bukan sekadar bersumber dari cinta, atau keinginan yang kuat melaksanakan apa yang harus dilakukan. Ia lebih dari kesadaran, atau melakukan sesuatu tapi tanpa kejelasan yang mendalam. Ia bukanlah ketergesaan, ataupun sekadar keterpaksaan. Lalu siapakah dia?

-----------------------------------
*curcol

Suatu ketika aku merasa banyak agenda. Agenda ini dan itu berdekatan. Semuanya berbaris rapi seperti semut di dinding kamar. Ada jeda sih, tapi ada sesuatu yang susah dijedakan. Apakah itu?

Pas lagi ngerjain agenda pertama, pikiranku melayang karena agenda kedua blm siap,,, Pas ngerjain agenda kedua, hp berbunyi jadi pikiran kesana kemari. Haduhhh jadi ngga fokus dan ngga maksimal.

Padahal totalitas pengen bgt dilakukan tapi...............

------------------------------------

Demikianlah. Totalitas bukan semata-mata lahir dari perencanaan, tetapi implementasi yang sungguh-sungguh di lapangan. Saya baru menyadari, ketika kita masuk ke ranah agenda pertama, kita harus fokus melakukan agenda itu sebaik-baiknya. Jangan dipotong-potong untuk agenda kedua, ketiga dst saat yang penting dan genting.

Banyak hal yang akan dikorbankan ketika totalitas tidak kita lakukan.

Waktu  dan tenaga yang terbuang
kita sudah merasa menyisihkan waktu di antara padatnya agenda yang ada. Tetapi apa apa yang kita lakukan sepertinya tak tampak hasilnya sesuai keinginan semula. Padahal sang waktu begitu mahal untuk dibuang-buang, dan harusnya waktu yang kita sisihkan bisa mencapai targetan yang kita harapkan sesuai awal ketika kita membuat agenda tersebut.

Juga tenaga kita, nikmat kesehatan yang kadang-kadang kita pandang sebelah mata.

Ukhuwah dengan sekitar
Kita melakukan banyak kegiatan pasti berhubungan dengan orang lain. Dan ketika kita merasa melakukan yang terbaik sementara patner kita seperti ala kadarnya saja, ogah ogahan, bagaimana perasaan kita?

Hal yang sama boleh jadi kita lakukan jika totalitas tidak kita berikan. Melukai orang lain, mengecewakannya atau mungkin bisa merusak hubungan baik kita dengan mereka.

Sebuah kisah tentang dari Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang lain. Semua orang yang berinteraksi dengan Rasulullah selalu merasa dirinya istimewa di depan Rasul. Mengapa? Karena memang Rasulullah memperhatikan, mendengarkan dan menghargai orang tersebut hingga pembicaraan itu selesai.

Lihatlah, Rasulullah aja pas ngobrol selalu totalitas. Gimana pas ngelakuin hal lain coba. Subhanallah sekali bukan?

3. Penyesalan
Setelah tenaga, waktu dan pikiran kita curahkan tetapi rasanya kok ngga ada perubahan.

Jenuh? Galau? Nyesek?

Ujung-ujungnya nyesel khan.

Syukur deh kalau nemu masalahnya apa dan bisa dievaluasi. Tapi kalau ngga sadar bisa berbahaya.
Bukan cuman buat diri kita sendiri tetapi orang lain juga.

-----------------------------------------------

Totalitas
Ia adalah azzam, sebuah tekad kuat yang diiringi implementasi yang sungguh sungguh dengan penuh keikhlasan.
Karena berhubungan dengan keikhlasan, tentunya ia berhubungan dengan level ruhiyah kita saat agenda itu kita jalankan.

Emang iya?
Wallahu A'lam

Ngga tau sih, tapi aku ngerasa gt cuy......

Satu diantara quote yang aku sukai, dan ada dalam bagian atas blog ini.

Artinya kira2 gini
Kita ngga akan bisa balik lagi dan membuat sebuah permulaan baru. Tetapi kita bisa memulai saat ini dan membuat akhir yang baru.

Yuk semangat cuy :D

Jadikan hari esok lebih baik

Jumat, 30 Maret 2012

Memanusiakan Diri Kita

Mentari menampakkan sinarnya. Seperti biasanya pagi mengudara, menyerak kegelapan malam yang perlahan sirna. Cahayanya terpancar kesana kemari bak antena omnidirectional yang mentrasmisikan gelombang ke segala arah. Pagi telah tiba. Saat dimana semua aktivitas akan dimulai dengan semangat membara. Rencana yang telah disusun diharapkan terlaksana. “Sempurna, dan sempurna”, teriak sebongkah semangat yang tersemat dalam dada.

Dan diantara semua agenda yang ada, tentulah ada sebuah kesamaan satu dengan lainnya. Ya, kesamaan keinginan agar semua berjalan seperti apa yang diinginkan. “Siapa sih yang tidak menginginkan sebuah kesempurnaan tuk didapatkan?”, retorika yang akan terjawab mudah namun bisa jadi susah.



Kepuasan kan menjadi obat penenang ketika tidur malam, sebaliknya kegagalan justru berakhir mimpi buruk yang tak terlupakan. Bahkan mungkin mengisi liang-liang memori dan menjadi trauma berkepanjangan. Lebay, hahaha. Tapi beneran, pas ngeliatin apa yang kita lakuin jauh dari harapan, melenceng jauh dari targetan awal, rasanya nyesek banget mpe pengen pegang pisau n nebas leher orang, duh parah.


Manusia, sebongkah raga yang selalu takkan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya, dan anehnya manusia diberikan tugas sebagai pemakmur bumi dan segala isinya karena sifatnya yang memang demikian adanya. Malaikat dicipta dari cahaya, sempurna perangainya dan selalu taat kepada-Nya. Tetapi makhluk cahaya justru tak bisa memanusiakan dirinya hingga Allah tak memberikan amanat itu kepada mereka.


Sementara kita terkadang merasa aneh melihat seseorang yang terus mencoba tetapi hasilnya sama. Kadangkala merasa jijik pula melihatnya yang tetap keras berusaha meski berujung lelah. “Gila, dia emang udah gila, mundur sana”, ejek suara miring meremehkannya. Padahal hal yang demikian memang wajar-wajar saja. Dia hanya memanusiakan dirinyanya. Berbuat salah, dan mencari penyebabnya agar tak mengulanginya seperti semula. Menemui masalah dan segera mencari solusinya agar tak menemui kembali hal serupa. Kembali dan kembali berbenah. Dan sekarang pertanyaannya apakah kita sudah melakukannya?


Kita terkadang lupa, bahwa kita memiliki modal utama untuk mendapat apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, dan mewujudkan apa yang kita dambakan. Modal yang bahkan mungkin kita terkadang terlupa bahwa kita memang memilikinya.


نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)


Kita adalah potensi yang luar biasa. Ada dengan potensi yang berbeda-beda. Lahir ke dunia dengan takdir yang mungkin berbeda dan jalan akhir yang berbeda. Namun di antara segala perbedaan yang ada, akan berujung kepada muara yang sama. Bukan tentang kepuasan saja ataupun kebanggaan terhadap apa yang bisa kita lakukan. Tetapi lebih dari itu.

Dengan memaksimalkan potensi yang kita miliki, kita bisa menuliskan takdir terbaik yang pantas tuk kita dapatkan. Bahkan meski apa yang kita inginkan tak kita dapatkan, bukan berarti takdir terbaik belum bisa kita torehkan. Yuk, memanusiakan diri kita, berjuang bagaimanapun caranya, dan betapapun kecil hasilnya. Karena kita manusia, Allah pun akan memanusiakan kita, memahami apakah kita sudah berusaha atau hanya berkoar dengan lantang tanpa upaya. Keberhasilan bukan hal utama, tetapi tetap menjadi tujuan kita semua.


“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]:60).


Minggu, 06 November 2011

Pentingnya Berorganisasi Sejak Dini


Curhat dikit, saya adalah mahasiswa baru yang dulunya saat sekolah tidak pernah berorganisasi. Mengikuti organisasi atau kepanitiaan ibarat menambah pekerjaan tanpa bayaran. Tidak ada manfaatnya. Buang – buang waktu dan tenaga. Bahkan bisa memicu stres jika jadwal yang padat serta tak bisa membagi waktu dengan tugas tugas yang ada. Itulah pemahaman saya selama ini dan mungkin kebanyakan siswa sekolah. Tapi, benarkah demikian?

Tidak. Menyibukkan diri dalam hal yang demikian ternyata bukan seperti menegakkan benang basah. Telah banyak orang membuktikannya. Melakoni peran-peran sulit dengan jabatan penuh tanggung jawab adalah sebuah investasi diri. Percayalah, suatu saat investasi itu akan terakumulasi sehingga menciptakan diri kita dengan pribadi yang tak pernah kita duga diawal. Kita akan memiliki sesuatu yang tidak akan pernah diajarkan dosen ataupun guru semasa sekolah. Sebaliknya kita akan diajarkan oleh guru terbaik sepanjang hidup kita, yaitu pengalaman.

Pengalaman demi pengalaman akan membentuk pribadi kita ke arah positif. Dari situlah kita akan menguasai apa yang disebut softskill. Softskill adalah kemampuan yang takkan pernah kita dapatkan dari buku, teori ataupun litelatur manapun. Karena hal itu hanya bisa kita petik dengan mencoba, belajar dan melakukan.



Suatu ketika saya mengikuti sebuah seminar dengan pembicara Arya Bima, seorang pemuda yang sebelum terjun di dunia politik sering tampil sebagai pengamat dan pembicara di program parodi rakyat Metro TV dan TV One. Beliau menceritakan alasan mengapa memilih terjun ke dunia politik, menjadi aktor yang kerapkali terjebak dalam sistem kotor hingga menjadi koruptor.

Alasannya sederhana, di usianya yang relatif muda sebagai politikus beliau ingin mendapatkan apapun yang belum pernah didapatkannya selama ini sebagai pengamat politik. Ya, political sofskill. Beliau tidak akan pernah merasakan dijegal lawan politik, pahitnya persaingan politik, memimpin orang lain di dunia politik yang memiliki tujuan beragam. Bukan bermaksud ingin merasakan saja, tapi mendapat kemampuan mengatasi hal semacam itu. Karena menurut beliau, menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang pandai dalam teoritis, tapi juga cakap dan bijak dalam memimpin.

Kita mau tidak mau adalah seorang pemimpin nanti. Lelaki bagi keluarganya. Perempuan bagi pribadinya. Jika tak bisa kita arahkan diri ini menggapai tujuan kita di dalam naungan yang haq tentulah ending kisah kita akan sengsara.

“ Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan”. (D.Farhan Aulawi)

Masa-masa remaja seringkali disebut masa-masa paling indah. Dan kenyataannyapandangan tersebut seringkali membutakan hati dan mempersempit pemikiran pemuda. Padahal di masa itulahmasa yang paling menentukan kita ke depan. Masa dimana visi ke depan menjadi acuan. Bukannya malah sekadar bersenang-senang. Mari jadikan hari ini adalah impian kita di hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok.

Tentang berorganisasi hendaknya kita bisa arif. Pilihlah organisasi, himpunan atau kepanitiaan yang bisa memberikan sesuatu kepada kita. Jika bisa malah menjadikan kita lebih mengingatNya seperti Rohis. Tapi sesekali mengikuti yang lain juga boleh tapi tetaplah “Stay On The Line” karena dunia kemahasiswaan rentan akan hal yang malah menjerumuskan kita ke arah negatif.

So, it’s time to learn about professionalism and be the professional. It’s not disco lazy time but chance to be agent of changing. Dunia perkuliahan adalah dunia pembelajaran yang penuh akan kesempatan berorganisasi. Don’t miss it.



Sumber:


1. Hasil Tadabbur di kosan saat gak ada hiburan


2. Hasil PDKT (Pengenalan Dunia Kampus Telekomunikasi) semacam OSPEK di kampus


3. Hasil interview dan pengalaman pribadi

Kamis, 03 November 2011

Ku Petik Rindu Di Setiap Do'amu



Hawa dingin nan beriring. Tak terasa jejak-jejak kaki ini telah lama membumi. Melewati hari demi hari hingga kini seperempat semester tiga telah dilewati. Dan detik demi detik penuh pengorbanan yang silih berganti, takkan hanya menjadi kisah abadi. Ini kisahku. Kisah tentang jiwa yang rapuh. Melewati kehidupan mahasiswa dengan tekad yang masih abu-abu.

Deru semangat di saat itu, masih sayup-sayup terdengar syahdu. Ku kecup tanganmu, dan kurasakan hangatnya kasih sayang diantara bait-bait kata terakhirmu ketika melepasku. “Hati-hati”, seakan itu kata mujarab itu kau ucap dan selalu kuingat dalam memoriku. Mengharap keselamatan, dan tiada hal yang tak diinginkan terjadi kepadaku.

Aku yang rapuh, namun suaramu dari jauh yang selalu menjadi penguat hatiku. Aku tak menemukan kata-kata terbaik tuk melukiskan bahagiaku. Aku mencoba melakukan yang terbaik, untukmu, semua keluarga, dan sahabat yang selalu mendukungku.

Dan ketika langit senja tak lagi cerah, ada kalanya juga diri ini terbelah. Di antara kemalasan yang menjadi, prestasi yang terjal tuk didaki, dan konsistensi yang terus digali, ada harap kalian disana yang selalu percaya padaku. Percaya bahwa tiap tetes keringat yang kau dan ia lakukan untukku takkan sia-sia, sekadar menjadi pelengkap kisah dan tak sedikitpun memberikan asa. Dan ketahuilah, jika hal itu menjadi kenyataan, betapa penyesalan akan tiba. Bahkan mungkin takkan bisa termaafkan diri ini, yang sama saja menjadi beban tanpa memberi sesuatu yang berarti.

Aku memang belum bisa membuatmu bangga, dengan nilai-nilai di atas rata-rata, ataupun selaksa hal positif yang membelalakkan mata. Bahkan, aku lebih sering melagukan keluh nan kesahku ketika lewat senandung manja. Tetapi tak sedikitpun itu membuatmu menolakku ketika menghubungimu.

Aku membelitmu dengan masalah, yang tak bisa ku selesaikan walau diri ini seharusnya bisa lebih bersikap dewasa. Padahal, berkali lipat masalah pasti tlah kau jumpai disana. Duniamu yang membuat duniaku juga ada. Duniamu yang menjadi penyokong duniaku tuk tetap ada. Tetapi tetap, itu tak membuatmu menghindariku.

Dan suatu ketika, petir menyambar dan diri ini terjerembab dalam impian hambar. Aku menyalahkanmu ketika itu. Menyalahkan pilihan yang tlah kita sepakati bersama dan restu yang tlah kau beri untukku. Padahal kau pasti tahu potensiku tak setinggi langit yang ingin kuraih dan tak secepat kilat yang ingin kulangkahi. Tetapi kau tetap mempercayaiku.

Dan diantara sepertiga malam-malam ketika doamu terhempas syahdu, diri ini tetap saja terlelap membatu. Tak sedikitpun kuasa tuk terjaga dan membalas balik doamu kepada-Nya. Dan disana, kau tetap tiada lelah mengirim do’amu. Mengharap Sang Kuasa memberikan diri ini hidayah, dan senantiasa dalam naungan jalan-Nya tuk terhindar dari bahaya. Tiada lelah.



Kontemplasi Hati


Berkalang rasa nan penuh syahdu
Menatap sendu yang temaram mengelebat merdu
Merongrong sunyi ketika sanubari membeku
Hanyut dalam kontemplasi peretas rindu


Berterik mentari, bermalam purnama 
Hati terjerembab, tiada tahu masalah mendekat
Namun secuil kata bersemilir indah
Penyatu kepingan semangat tuk kembali merekat padat


Dan ketika...
Sepertiga malammu menjadi saksi di hadapan-Nya
Dan alunan penuh cinta kau haturkan setulus jiwa
Maka bagaimana diri bisa mendusta,
Bahwa usaha belumlah jua semaksimal yang bisa dilakukan
Namun sejuta keluh kesah yang terlanjur terlontarkan

Kontemplasi hati ini..
Kan buktikan semuanya lebih baik lagi...


Jumat, 21 Oktober 2011

Menerawang Bayang-Bayang

Bandung menampakkan malam yang dingin seperti biasa. Sedingin embun yang selalu yang terjaga di malam-malam menemaniku akhir-akhir ini. Senandung pagi hari demi hari ke depan akan berbeda. Ya, minggu depan adalah minggu ujian. Minggu yang akan sangat menentukan, bagaimana perjuangan di semester ini akan diarahkan.

Tetapi terkadang, musuh utama bukan datang diantara ilalang dan semak belukar, ataupun jurang di tengah perjalanan. Justru diri inilah menjadi penghalang. Ketika rencana memang dibukukan dan sesiap raga ini melaksanakan, ada saja hal yang membuat sang waktu seperti berputar lebih cepat meninggalkan.

Aku harus belajar, dan itu keharusan yang aku lakukan. Seketika kata-kata itu seraya hidup menggetar tetapi mudah goyah dan merintih lemah. “Ah ngantuk”, “Ah bosan”, “Ah besok saja”.

Masih teringat liburan lalu, raga ini berdiri gagah diantara mata-mata kecil yang memandang. Mulut ini berteriak lantang, menyusupi pemikiran mereka dengan motivasi yang membakar. Motivasi? Mengapa sekarang justru kehilangan konsistensi untuk termotivasi? “Bagaimana aku bisa begitu dahulu?”

Ah entahlah.

Menerawang bayang-bayang, mengingat masa lalu penuh kenangan terkadang memang berguna. Aku membuka catatan lama, tepat dimana puluhan draft naskah tanpa ending cerita menyesakkan mata. Beralih ke catatan yang sudah pernah terpasang. membacanya satu persatu. Tersenyum. “Bagaimana bisa aku membuat begitu dahulu?”.

Sebuah pesan masuk di ponselku. “Mas ini endorsementnya”, begitu tertulis awalnya. Hingga teringat bahwa proyek besar menjadi panitia Lomba Puisi yang kemarin dipegang bukan mimpi. Bukan mimpi pula akun facebookku tiba-tiba menerima ratusan permintaan pertemanan dan email dipenuhi ratusan naskah besarta pertanyaan dari peserta. Diri ini juga akhirnya berkesempatan berhubungan dengan mereka dengan orang-orang tenar dan berpengalaman di bidang sastra. “Bagaimana bisa?”

Ternyata, diantara semua jawabannya semua bermula dari alasan bahwa aku menyukainya. Bahkan meski sulit pun terkadang hati ini takkan enggan mengalah. Bahkan ketika otak ini sudah merengek lemah dan lelah bersambut raga yang terserang hawa kantuk sebegitu dahsyatnya, aku tetap menyukainya. Kuliah di jurusan yang amat kusuka, di kampus yang kusuka, di kota yang kusuka. Memiliki hobi menulis meski sangat malas membaca. Menjalani takdirNya yang selalu ku syukuri adanya. Aku suka. Pulang malam dari lab, mabit dan berbagai aktivitas di luar kuliah. Aku menyukainya.

Seketika mengingatnya. Bagaimana aku bisa dahulu begini dan begitu. Jawabnya memang karena memang aku suka. Berlelah tetapi menikmati ibarat waktu tak terasa berlalu. Jadi apakah ketika bermalasan aku menikmatinya? Mungkin juga begitu kita semua kawan. Menikmati disaat diri kita sedang terpuruk, hingga akhirnya lama kita untuk bangkit. Tidak membenci di saat kita futur hingga enggan memperbaiki.

Menerawang bayang-bayang, apakah yang kita impikan malam itu? Malam dimana kisah ini bermula. Ketika kau rasakan udara sekitarmu berubah, tak seperti biasa. Malam dimana kau terjaga, memikirkan apa yang akan terjadi ketika esok mentari menyapa. Apa yang kau pikirkan kawan?

Apakah kau memikirkan bahwa kau akan mendapat kemudahan? Kau akan membuat mereka yang menyayangimu menjadi bangga dan mengelukanmu di akhir kisah? Kau akan dengan segera menggunakan waktumu untuk ini dan itu mencapai target dan sesegera mungkin meraih malam-malammu yang lain? Demikiankah?

Segalanya memang terkadang terasa tak mudah dan diri ini tak bisa menerima. Tetapi dari semua itu, terawanglah bayang-bayangmu. Ketika kau berani memutar kisah ini tuk jadi catatan sejarah hidupmu, ketika kau putuskan langkah ini tuk mengisi waktu-waktumu. Kau tersenyum, kau berharap cemas, kau bahkan mungkin takut. Tetapi kau bersiap untuk semuanya. Bertanya kemana-mana, mencari informasi sedemikian rupa. Kau mencipta bayang-bayang nan elok rupanya. Dan ketika kini bayang-bayangmu kini hampir mati, apakah kau akan meninggalkannya sendiri?

Aku meninggalkannya kawan. Di antara tumpukan jerami aku menyiramkan minyak tanah dan membiarkan diri ini membakarnya. Itulah kenapa aku seringkali gusar ketika malam. Aku merindukan bagaimana aku dahulu berpijak, menatap hari dan berjuang seakan bayang-bayang ini telah memprediksikan.

Tetapi kini, aku telah mendapatkannya kembali. Aku membuatnya dengan harapan, dan keyakinan bahwa memang sesuatu yang sulit diraih akan lebih mudah dijaga nanti. Lalu, bagaimana denganmu?

Rabu, 19 Oktober 2011

Ikut Aksi Tanpa Refleksi, Apa Kata Dunia?



Mahasiswa, makhluk berpendidikan yang masih saja bisa dibilang langka di negeri kita. Kemiskinan yang menjerat dimana-mana dan biaya pendidikan yang memang menjulang takkan pernah dijangkau setiap generasi muda. Tak pelak status mahasiswa boleh saja dibilang membanggakan jika dilihat secara seksama.

Tetapi kadangkala status ini juga cukup membuat hati kecewa. Tengok mereka yang duduk di singgasana kekuasaan, banyak dari mereka dulu juga mahasiswa vokal, menyuarakan perubahan, tetapi sama saja ketika sudah masa mereka menerima giliran. Korupsi, dan berbagai penyelewengan ibarat hal yang tak tertahankan. Idealisme terbeli dengan harga yang mungkin tak bisa disetarakan. Semua dianggap masa lalu, dan masa kini adalah sebuah kepentingan.

Juga lain halnya dengan prestasi yang diukir mahasiswa Indonesia tercinta. Beraneka rupa, dari yang tawuran masal hingga memang membanggakan bangsa di mata dunia. Dan kita harus menyadari, bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki harapan besar dan membutuhkan orang-orang yang memang bisa memberikan pengorbanan besar bukan untuk sekadar hal fana semacam kekuasaan, ataupun tanda simaptik dari orang.

Anda mahasiswa, Anda pemuda, lalu apa? Terlepas dari status mahasiswa Anda, menjadi mahasiswa bukan sekadar untuk bergaya dengan almamater yang Anda banggakan di depan kaca, juga bukan untuk berteaterikal seakan Anda pahlawan pembawa perubahan. Please, sadarlah, mereka juga melakukan hal yang sama.

Mereka runtuhkan tirani demi kekuasaan tertinggi yang katanya untuk rakyat dan dari rakyat. Dan kini mereka bahkan lupa setiap hari yang mereka makan berasal dari rakyat. Rakyat yang merintih di tengah kekayaan negeri ini, rakyat yang menangis di antara janji-janji pemikat yang tak lain bak nyanyian berkarat.

Anda itu berpendidikan. Bukan mereka yang ikut aksi dengan bayaran. Atau mereka yang memang mahasiswa abal-abal, berdendang ria mengatakan, “Inilah aku, kaum intelektual di negeri ini. Akan membawa perubahan. Akan menebar kesejahteraan. Inilah aku”

Sebuah kata-kata yang amat membanggakan bagi saya pribadi sekaligus sindiran pahit datang dari seorang Bima Arya, politikus muda yang dulunya sempat berposisi sebagai pengamat tenar di TV swasta, ketika awal menginjakkan kaki dengan status mahasiswa, “Pemuda sekarang itu banyak yang teriak perubahan, tetapi jika diserahi wewenang tidak memiliki kecakapan.” Berkoar-koar bak singa kelaparan tanpa ada arahan. Pertanggungjawaban? Nol besar. Apakah itu yang Anda inginkan? Menjadi sekian diantara mereka, mantan agen perubahan yang akan segera tergilas perubahan?

Anda akan hilang kawan, hanya menjadi terkamanan generasi muda selanjutnya yang akan melanjutkan aksi tusuk belakang. Mensimfonikan kemerdekaan, tetapi sama saja tidak bermoral. Anda mahasiswa? Maka, beraksilah dengan sebenar-benar tujuan mulia. Jangan bernada Anda bisa, tetapi tiada juga memiliki noda. Jangan berlagak Anda cerdas, tetapi berperilaku kurang waras. Jangan berkata mereka salah tetapi Anda juga tak mampu lebih baik.


Ikut aksi tanpa misi,

demo sana dan disini,

tetapi diam hati nurani,

ketika amanah diemban sendiri tiada perubahan berarti.

Penuhi almari dengan setumpuk prestasi,

buktikan diri mampu berkreasi,

berguna bagi siapa saja yang disayangi,

bukan hanya sekadar cari sensasi.

Refleksikan aksimu

Dengan semangat pantang ragu

Giat berprestasi di tiap denyut nadimu

Disertai tanggung jawab yang tak hanya melagu


Raffa Muhammad

Telecommunication Engineering 2010,

Telkom Institute Of Technology