Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Kamis, 17 Mei 2012

Sajak Sajak Kematian

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa satu persatu orang yang ku kenal dekat, telah pergi kepada-Nya tuk menghadap. Yeah, terlalu cepat. Bahkan terkadang waktunya terasa tak adil, ingin sekali menemani mereka satu persatu ketika di detik-detik terakhir. Tetapi apa daya? Takdir.


Tentang kematian, aku mungkin masih beruntung. Jauh lebih beruntung daripada Nabi Muhammad yang tidak pernah bisa melihat wajah Sang Abi ketika lahir dan hanya sedikit waktu tuk bersama Ummi Aminah ketika kecil. Di luar sana pula, ada pula jutaan warga Palestina, Afghan, Suriah dls yang sudah familiar dengan kematian orang yang mereka cintai setiap harinya.


Di antara lika liku kehidupan, selalu ada awal dan akhir serta pertemuan dan perpisahan. Keduanya ada, dan karena itulah kita hidup. Tak mungkin kisah ini berawal tanpa ada akhir, dan tidak mungkin kita berpisah kecuali ada pertemuan sebelumnya. Dan satu hal yang pasti dari kematian, ia adalah muara dari setiap perpisahan keduniawian. 

Ketika kita telah lulus sekolah, SD, SMP, SMA atau bahkan kuliah, perpisahan dengan teman-teman kita mungkin hanya sekadar dalam dimensi ruang saja. Kita masih bisa bertemu dan bersama kembali di lain waktu. Namun jika dengan kematian?

Kematian ibarat ketika kita kehilangan seseorang, bahkan seisi dunia kita jelajahi kita takkan menemui sosoknya. Seisi lautan kita selami takkan menjumpai dirinya. Selus jagat raya kita obrak-abrik takkan membuatnya menampakkan dirinya. Kecuali sisa tubuhnya yang tak lagi berdaya. Terdiam. Membisu. Penuh tanda tanya.

Kematian? Sebegitu kejamnya-kah?


Islam selalu mengajarkan kita akan kehidupan setelah kematian. Dan kehidupan di dunia ini hanya awal dari segalanya. Awal yang akan menentukan semuanya. Sebuah awal yang takkan begitu lama.

Tetapi masih saja berat. Jika Allah bisa membuat kita hidup selamanya, bersama mereka yang kita cintai,  melakukan apa yang kita ingini, tanpa ada batasan usia, mengapa tidak ia buat demikian? Dia Tuhan. Dia pasti bisa lakukan apa saja. Iya khan? Iya khan? Jawab!!!

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
QS Al Baqarah 216


Karena setiap yang berawal pasti merasakan akhirnya, yang bernyawa pasti akan merasakan ajal menjemputnya. Dialah yang awal, dan akhir. Maka mari kita syukuri, bahwa kita atau orang yang meninggalkan kita setidaknya mendapatkan karunia berupa kehidupan, yang memungkinkan kita mengenalnya, dan mereka mengenal kita, meski dalam waktu yang tak begitu lama.








Selasa, 08 Mei 2012

Tujuan Hidupku Apaan Ya?

Kemarin malam, Senin 7 Mei 2012, alhamdulillah aku berkesempatan dipertemukan dengan kembali seseorang hebat. Dia satu diantara sekian banyak orang yang ku masukkan kategori hebat, karena ilmunya, agamanya, prestasinya, visinya, dll

Subhanallah, malam itu saya mengikuti acara TFT atau biasa disebut Tahsin For Trainers. Dan malam itu Kang Cecep, nama beliau berkenan datang dari Bandung kota ke sekre SKI memenuhi undangan kami.

Langsung saja, hal yang bisa saya tangkap disana meski saya datang terlambat yaitu tentang tujuan hidup.

Sebelumnya saya ingin bertanya kepada pembaca blog saya sekalian, tujuan kamu hidup apaan sih? Loe hidup buat siapa? Buat ngapain? Buat apaan? 




Well, ketika seorang muslim ditanya seperti itu kata si akang mah pasti banyak yang jawab, "untuk meraih ridho Allah", "beribadah", dls. Iya khan?

Nah menurut beliau, tujuan hidup itu harus jelas, detail, spesifik. Kita tentunya ingin supaya hidup kita bisa bikin ntar pas di akhirat masuk surga khan pastinya? Tetapi ketahuilah banyak peran yang bisa kita lakukan untuk meraih surga Allah lho.

Ibarat di antara sahabat Rasul tuh ada sosok Abu Bakar, Umar, Ali, Usman, dls. Kita bisa memilih sosok kita sendiri. Nah setelah sosok idaman dari diri kita udah ada, tinggal nih gimana cara mencapainya. 



Tapi biasanya masalah pertama rada abu-abu, kita pengen jadi kayak gimana sih? CIta-cita kita? Sosok idaman dari kita atau biasa disebut the really I am. 

Itu semua bergantung pada potensi diri kita masing-masing menurut Kang Cecep. Kita bisa cari potensi diri kita gimana, atau tanya ke orang lain kita cocoknya tuh gimana menurut mereka. Bukan tanya ke dukun yang ngga tau apa apa lho ya, ntar tau tau dia bilang "tanggal lahir kamu bla bla bla, kamu cocoknya kerja di air" wkwkkw

Next,
untuk mempermudah mencapai tujuan hidup kita, kita harus bisa membuat tujuan-tujuan kecil, ibarat short term dan long term gituloh. Tujuan ini ibarat misi pas kita maen games, yang harus kita selesaikan. Tapi dengan demikian semuanya teratur, terencana, dan bisa meminimalisir hal ngga jelas dalam hidup kita yang singkat ini.

Nah pas malam itu juga, Kang Cecep kasih contoh tuh perencanaan hidup beliau kayak gimana. Subhanallah, pas saya ngeliat keren banget deh. Semua terencana banget. Ini bahkan bisa ngalahin diary ala cewek men. Menurut Kang Cecep, hal yang begituan tuh namanya Self Management atau bisa disebut Manajemen Diri. Dengan menuliskan target-target kita rasanya kita ngga bakal bisa diem gitu, kita pengen banget nyelesaiin itu. Termotivasi.



Konsep yang sama kayak yang ada di video Danang Pembuat Jejak sih. Namun yang dicontohkan Kang Cecep ini lebih kompleks. Kalau kita pengen bikin begituan, bisa dibuat per semester, pas jadwal kita udah FIX tuh. Jadi ketauan kita semester ini udah ngapain aja selain kuliah. Hafalan nambah ngga? Kamar masih berantakan ngga? Muka masih cakep ngga? hahaha

Ribet dan ruwet sih kawan kalau ngeliatnya dari kejauhan. Tapi aku jadi sadar juga sih, kalau bikin begituan tuh pasti waktu yang kita sia siakan untuk hal "NGGAK JELAS" bisa diminimalisir, karena kita selalu punya misi-misi dalam minggu ini, dalam semester ini dan dalam tahun ini dst.

Hidup ini pendek lho kawan. Iya khan? Aku juga baru nyadar udah semester 4 tapi aku masih gini-gini aja. Jangan tanya softskill deh, mental masih mental tempe dls perlu berbenah dan terus berbenah. Gimana dengan kalian? Well, jangan diem aja kawan. Salah satu cara untuk terus termotivasi memperbaiki diri, ya bisa ketemu ama orang-orang hebat seperti Kang Cecep yang saya ceritakan.

Apa sih pentingnya?

Nah kalau kita udah punya tujuan yang jelas, kita bisa memaksimalkan diri kita dalam mengambil peran. Entah mau jadi pejabat, nelayan, guru, engineer, presiden dls kita bisa melakukannya dengan sebaik-baiknya gituloh.. Jadi jelas.

Oia, ini nih ada video kesukaan saya tentang tujuan hidup. Dibikin anak UI, keren banget lho :)

Saya ngga pernah bosen liat ini pas galau. 









Gitu doank deh, makasih buat yang baca ya. :)

Assalamualaikum

Kamis, 26 April 2012

My Story Tonight

Wow, saya akan membuka curhat kali ini dengan membaca basmalah.

Bismilahirrahmanirrahiim

Kamis, 26 April 2012

Ketika 20 tahun lebih 21 hari

"Kakak Isaal", suara itu tampak familiar. Yeah, itu suara Ramdhan, anak manis pecinta kucing yang ada di TPA. Ku buka pintu perlahan.

"Iyaaaa", jawabku pelan.

"Ngajiii yuuuk", ujarnya kembali.

"Tunggu kakak di TPA ya boy", pintaku.

"Okee", balasnya seraya berlari meninggalkan teras kamar saya.

Masha Allah udah maghrib. Manga "Kuroko no basuke" yang sedang kubaca langsung ku tutup.
Dan akhirnya hari ini saya ngajar nih. Setelah kemarin sempet bolos alhamdulillah saya bisa ngajar juga.

Mandi, shalat maghrib dan.... hujan?

"Hujan terobos aja. Itulah totalitas namanya", kata mentor saya waktu itu. Saya selalu teringat kata-kata totalitas beliau ketika diri ini sedang termangu dalam kondisi seperti itu.

Payung?

Saya mengambil payung dan langsung melesat jauh ke tempat itu.
Tunggu payung? Benarkah itu payung?

Saking ngga jelas bentuknya saya malu mengakui punya payung ke orang tua temen sekost saya.  Iya, umurnya sama seperti waktu saya menginjakkan kaki di Bandung karena pertama kali datang langsung beli itu payung.

Next....

Seperti biasa, saya datang ke TPA disambut muka-muka anak-anak yang riuh dan penuh semangat menggelora.

Tapi jumlah yang ngaji kali ini banyak. Lebih banyak daripada minggu lalu ketika saya minggu lalu saya mengajar.

Ada 22 anak.

Alhamdulillah


Belum sempet mengkondisikan adik-adik, saya dikagetkan dengan Ramdhan yang meraung-raung bak macan kelaparan. Dia tampak marah kepada Ilham, kakaknya. Anak manis yang pernah videonya saya masukkan youtube disini  tampak kalap. Dia bantai semua yang mendekatinya.

Sontak saya suruh semua anak ke balkon atas.

Sial, saya seakan menghadapi naruto yang jincurikinya sedang marah. Untungnya anak ini bukan bijuu, jadi saya bisa menahannya walau harus tercakar-cakar juga.


Alhamdulillah, dia lebih tenang.
Akhirnya saya ke atas dan mencoba meyakinkan diri saya bahwa saya bisa menenangkan mereka semua. Walau suara ini hampir habis alhamdulillah kami sempet beberapa kali mengaji bersama surat-surat pendek. Melelahkan, bahkan saya mandi keringat karena terus berteriak mengatur mereka.

Hujan membuat emosi saya cukup mereda. Jujur, saya ingin menghadiahkan bogem sebenernya karena mereka sama sekali ngga bisa disiplin.

"Era ngaji dengan tenang ilang cuy. Adanya ngaji militer ama gue, hwahaha", teriak saya dalam hati.

Jadi ayamku?

Bercanda.


 

Yeah menguras tenaga dan suara banget. Tapi lihat tuh video, lumayan kondusif khan :)

Beberapa anak perempuan yang ababil turun ke bawah. Biasa, seakan mereka ingin caper gitu. Saya cuekin deh. Akhirnya saya ajak mereka membenahi gerakan sholat mereka.

Susah, kondisi tidak kondusif. Ketika berdiri banyak yang maen senggol-senggolan, cubit cubitan, grrrrrr

Dan membutuhkan waktu lama walau cuma mengajari gerakan berdiri pas sholat, posisi kaki dls mpe takbiratul ihram.

Tak terasa Isya telah tiba. Akhirnya salah satu anak adzan dan kami siap sholat berjamaah.

Hujan sedari tadi belum mereda. "Yuk sholat", ajakku.

Beberapa adik-adik mau juga sholat berjamaah.

Di tengah shalat, aku dikagetkan dengan sayup-sayup suara banjir.

"Ya Allah, masak saya hanyut dalam banjir ketika sholat gini, keren banget", pikirku yang akhirnya membuatku memilih surat-surat pendek saja.

Selesai shalat, aku melihat air telah memasuki kawasan musholla kami. Adik-adik yang tadi ngga shalat inisiatif menaikkan karpet ke balkon atas. Beberapa lainnya mencari sendal yang terbawa banjir. Di luar musholla banjir udah mencapai mata kaki lebih sedikit.

Beberapa adik agak ketakutan, "kakak airnya naik, gimana nih"
Namun ada beberapa lainnya yang cuek dan malah main-main air.

"
Heh kalian nanti sakit maen air gituuu", teriakku. Tetapi sedikitpun mereka tak menggubrisku. Kuatirin mereka saya akhirnya takut sendiri. Secara mahasiswa ngga boleh sakit cuy, sakitpun kuota 75% presensi harus jalan terus.

Oh meen, lu bocaaah minta diapain sihh -__-

"Semuanya naik ke atas, yang mau pulang, langsung aja pulang pelan-pelan. Kakak anter yang pulang gantian.

Beberapa anak laki-laki langsung menerjang banjir. Olala....
Uniknya ada beberapa perempuan yang tadinya berbusana muslim cantik ternyata takut basah dan berganti pakaian mini girlband di TV2 itu, hehehehe

Aku mengantarkan sebuah kelompok yang pulangnya searah. Payung yang tadinya ku anggap ngga berguna ternyata ngga berguna, tetep aja basah kuyup -__-

Keren, pertama kali saya berjalan penuh was-was di tengah banjir. Saya hanya ingin memastikan mereka ngga kenapa-kenapa, hanyut kek, dimakan buaya kek, apaan kek gituu... :)

Mereka sampai rumah, saya nganter lagi. Kali ini perempuan.


"Kak Faisal makasih ya", ucapnya ketika sampai di dekat rumahnya sambil tersenyum manis. Cukup meredakan ketegangan juga melihatnya.

Lalu terakhir, saya mengantar anak laki-laki, namanya Ian dan kami tutup pintu musholla dan matikan semua listrik walaupun air tinggal menunggu waktu memasukinya. Hmm melihat rumah Allah tergenang rasanya gimana gitu. Tempat sujud ummat, tempat kami mengaji bersama..............

Pengen sih ngelakuin sesuatu tapi....

Masalah lingkungan, drainase buruk, sampah, polusi. Lu mau ngomong apa aja, tapi di Bandung udah parah.





-------------------------------------
Aku pulang. Menikmati ayam bakar dengan tenang. Dan kutulis cerita malam ini dengan penuh tanda tanya apa yang harus aku lakukan

Cikapundung, sungai di dekat kostku
Sungai lautan sampah [foto tahun lalu]






Kini, bagaimana kondisinya?




Selasa, 24 April 2012

Totalitas, Dimanakah Dirimu?

Satu diantara sekian hal yang membuat kita bisa maksimal adalah sebuah komitmen yang tertuang dalam sebuah totalitas.

Totalitas, dimanakah dirimu?

Termangu aku terdiam membisu

Menantimu bangkit memenuhi jiwaku

Perkenalkan namaku Raffa, bukan nama sebenarnya. Seorang mahasiswa., seorang yang mungkin masih perlu banyak belajar tentang totalitas dalam kesehariannya.

Aku menghargai sebuah totalitas secara mahal, sesuatu yang luar biasa untuk dilakukan. Ia bukan sekadar bersumber dari cinta, atau keinginan yang kuat melaksanakan apa yang harus dilakukan. Ia lebih dari kesadaran, atau melakukan sesuatu tapi tanpa kejelasan yang mendalam. Ia bukanlah ketergesaan, ataupun sekadar keterpaksaan. Lalu siapakah dia?

-----------------------------------
*curcol

Suatu ketika aku merasa banyak agenda. Agenda ini dan itu berdekatan. Semuanya berbaris rapi seperti semut di dinding kamar. Ada jeda sih, tapi ada sesuatu yang susah dijedakan. Apakah itu?

Pas lagi ngerjain agenda pertama, pikiranku melayang karena agenda kedua blm siap,,, Pas ngerjain agenda kedua, hp berbunyi jadi pikiran kesana kemari. Haduhhh jadi ngga fokus dan ngga maksimal.

Padahal totalitas pengen bgt dilakukan tapi...............

------------------------------------

Demikianlah. Totalitas bukan semata-mata lahir dari perencanaan, tetapi implementasi yang sungguh-sungguh di lapangan. Saya baru menyadari, ketika kita masuk ke ranah agenda pertama, kita harus fokus melakukan agenda itu sebaik-baiknya. Jangan dipotong-potong untuk agenda kedua, ketiga dst saat yang penting dan genting.

Banyak hal yang akan dikorbankan ketika totalitas tidak kita lakukan.

Waktu  dan tenaga yang terbuang
kita sudah merasa menyisihkan waktu di antara padatnya agenda yang ada. Tetapi apa apa yang kita lakukan sepertinya tak tampak hasilnya sesuai keinginan semula. Padahal sang waktu begitu mahal untuk dibuang-buang, dan harusnya waktu yang kita sisihkan bisa mencapai targetan yang kita harapkan sesuai awal ketika kita membuat agenda tersebut.

Juga tenaga kita, nikmat kesehatan yang kadang-kadang kita pandang sebelah mata.

Ukhuwah dengan sekitar
Kita melakukan banyak kegiatan pasti berhubungan dengan orang lain. Dan ketika kita merasa melakukan yang terbaik sementara patner kita seperti ala kadarnya saja, ogah ogahan, bagaimana perasaan kita?

Hal yang sama boleh jadi kita lakukan jika totalitas tidak kita berikan. Melukai orang lain, mengecewakannya atau mungkin bisa merusak hubungan baik kita dengan mereka.

Sebuah kisah tentang dari Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang lain. Semua orang yang berinteraksi dengan Rasulullah selalu merasa dirinya istimewa di depan Rasul. Mengapa? Karena memang Rasulullah memperhatikan, mendengarkan dan menghargai orang tersebut hingga pembicaraan itu selesai.

Lihatlah, Rasulullah aja pas ngobrol selalu totalitas. Gimana pas ngelakuin hal lain coba. Subhanallah sekali bukan?

3. Penyesalan
Setelah tenaga, waktu dan pikiran kita curahkan tetapi rasanya kok ngga ada perubahan.

Jenuh? Galau? Nyesek?

Ujung-ujungnya nyesel khan.

Syukur deh kalau nemu masalahnya apa dan bisa dievaluasi. Tapi kalau ngga sadar bisa berbahaya.
Bukan cuman buat diri kita sendiri tetapi orang lain juga.

-----------------------------------------------

Totalitas
Ia adalah azzam, sebuah tekad kuat yang diiringi implementasi yang sungguh sungguh dengan penuh keikhlasan.
Karena berhubungan dengan keikhlasan, tentunya ia berhubungan dengan level ruhiyah kita saat agenda itu kita jalankan.

Emang iya?
Wallahu A'lam

Ngga tau sih, tapi aku ngerasa gt cuy......

Satu diantara quote yang aku sukai, dan ada dalam bagian atas blog ini.

Artinya kira2 gini
Kita ngga akan bisa balik lagi dan membuat sebuah permulaan baru. Tetapi kita bisa memulai saat ini dan membuat akhir yang baru.

Yuk semangat cuy :D

Jadikan hari esok lebih baik

Jumat, 30 Maret 2012

Memanusiakan Diri Kita

Mentari menampakkan sinarnya. Seperti biasanya pagi mengudara, menyerak kegelapan malam yang perlahan sirna. Cahayanya terpancar kesana kemari bak antena omnidirectional yang mentrasmisikan gelombang ke segala arah. Pagi telah tiba. Saat dimana semua aktivitas akan dimulai dengan semangat membara. Rencana yang telah disusun diharapkan terlaksana. “Sempurna, dan sempurna”, teriak sebongkah semangat yang tersemat dalam dada.

Dan diantara semua agenda yang ada, tentulah ada sebuah kesamaan satu dengan lainnya. Ya, kesamaan keinginan agar semua berjalan seperti apa yang diinginkan. “Siapa sih yang tidak menginginkan sebuah kesempurnaan tuk didapatkan?”, retorika yang akan terjawab mudah namun bisa jadi susah.



Kepuasan kan menjadi obat penenang ketika tidur malam, sebaliknya kegagalan justru berakhir mimpi buruk yang tak terlupakan. Bahkan mungkin mengisi liang-liang memori dan menjadi trauma berkepanjangan. Lebay, hahaha. Tapi beneran, pas ngeliatin apa yang kita lakuin jauh dari harapan, melenceng jauh dari targetan awal, rasanya nyesek banget mpe pengen pegang pisau n nebas leher orang, duh parah.


Manusia, sebongkah raga yang selalu takkan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya, dan anehnya manusia diberikan tugas sebagai pemakmur bumi dan segala isinya karena sifatnya yang memang demikian adanya. Malaikat dicipta dari cahaya, sempurna perangainya dan selalu taat kepada-Nya. Tetapi makhluk cahaya justru tak bisa memanusiakan dirinya hingga Allah tak memberikan amanat itu kepada mereka.


Sementara kita terkadang merasa aneh melihat seseorang yang terus mencoba tetapi hasilnya sama. Kadangkala merasa jijik pula melihatnya yang tetap keras berusaha meski berujung lelah. “Gila, dia emang udah gila, mundur sana”, ejek suara miring meremehkannya. Padahal hal yang demikian memang wajar-wajar saja. Dia hanya memanusiakan dirinyanya. Berbuat salah, dan mencari penyebabnya agar tak mengulanginya seperti semula. Menemui masalah dan segera mencari solusinya agar tak menemui kembali hal serupa. Kembali dan kembali berbenah. Dan sekarang pertanyaannya apakah kita sudah melakukannya?


Kita terkadang lupa, bahwa kita memiliki modal utama untuk mendapat apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, dan mewujudkan apa yang kita dambakan. Modal yang bahkan mungkin kita terkadang terlupa bahwa kita memang memilikinya.


نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)


Kita adalah potensi yang luar biasa. Ada dengan potensi yang berbeda-beda. Lahir ke dunia dengan takdir yang mungkin berbeda dan jalan akhir yang berbeda. Namun di antara segala perbedaan yang ada, akan berujung kepada muara yang sama. Bukan tentang kepuasan saja ataupun kebanggaan terhadap apa yang bisa kita lakukan. Tetapi lebih dari itu.

Dengan memaksimalkan potensi yang kita miliki, kita bisa menuliskan takdir terbaik yang pantas tuk kita dapatkan. Bahkan meski apa yang kita inginkan tak kita dapatkan, bukan berarti takdir terbaik belum bisa kita torehkan. Yuk, memanusiakan diri kita, berjuang bagaimanapun caranya, dan betapapun kecil hasilnya. Karena kita manusia, Allah pun akan memanusiakan kita, memahami apakah kita sudah berusaha atau hanya berkoar dengan lantang tanpa upaya. Keberhasilan bukan hal utama, tetapi tetap menjadi tujuan kita semua.


“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]:60).


Minggu, 06 November 2011

Pentingnya Berorganisasi Sejak Dini


Curhat dikit, saya adalah mahasiswa baru yang dulunya saat sekolah tidak pernah berorganisasi. Mengikuti organisasi atau kepanitiaan ibarat menambah pekerjaan tanpa bayaran. Tidak ada manfaatnya. Buang – buang waktu dan tenaga. Bahkan bisa memicu stres jika jadwal yang padat serta tak bisa membagi waktu dengan tugas tugas yang ada. Itulah pemahaman saya selama ini dan mungkin kebanyakan siswa sekolah. Tapi, benarkah demikian?

Tidak. Menyibukkan diri dalam hal yang demikian ternyata bukan seperti menegakkan benang basah. Telah banyak orang membuktikannya. Melakoni peran-peran sulit dengan jabatan penuh tanggung jawab adalah sebuah investasi diri. Percayalah, suatu saat investasi itu akan terakumulasi sehingga menciptakan diri kita dengan pribadi yang tak pernah kita duga diawal. Kita akan memiliki sesuatu yang tidak akan pernah diajarkan dosen ataupun guru semasa sekolah. Sebaliknya kita akan diajarkan oleh guru terbaik sepanjang hidup kita, yaitu pengalaman.

Pengalaman demi pengalaman akan membentuk pribadi kita ke arah positif. Dari situlah kita akan menguasai apa yang disebut softskill. Softskill adalah kemampuan yang takkan pernah kita dapatkan dari buku, teori ataupun litelatur manapun. Karena hal itu hanya bisa kita petik dengan mencoba, belajar dan melakukan.



Suatu ketika saya mengikuti sebuah seminar dengan pembicara Arya Bima, seorang pemuda yang sebelum terjun di dunia politik sering tampil sebagai pengamat dan pembicara di program parodi rakyat Metro TV dan TV One. Beliau menceritakan alasan mengapa memilih terjun ke dunia politik, menjadi aktor yang kerapkali terjebak dalam sistem kotor hingga menjadi koruptor.

Alasannya sederhana, di usianya yang relatif muda sebagai politikus beliau ingin mendapatkan apapun yang belum pernah didapatkannya selama ini sebagai pengamat politik. Ya, political sofskill. Beliau tidak akan pernah merasakan dijegal lawan politik, pahitnya persaingan politik, memimpin orang lain di dunia politik yang memiliki tujuan beragam. Bukan bermaksud ingin merasakan saja, tapi mendapat kemampuan mengatasi hal semacam itu. Karena menurut beliau, menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang pandai dalam teoritis, tapi juga cakap dan bijak dalam memimpin.

Kita mau tidak mau adalah seorang pemimpin nanti. Lelaki bagi keluarganya. Perempuan bagi pribadinya. Jika tak bisa kita arahkan diri ini menggapai tujuan kita di dalam naungan yang haq tentulah ending kisah kita akan sengsara.

“ Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan”. (D.Farhan Aulawi)

Masa-masa remaja seringkali disebut masa-masa paling indah. Dan kenyataannyapandangan tersebut seringkali membutakan hati dan mempersempit pemikiran pemuda. Padahal di masa itulahmasa yang paling menentukan kita ke depan. Masa dimana visi ke depan menjadi acuan. Bukannya malah sekadar bersenang-senang. Mari jadikan hari ini adalah impian kita di hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok.

Tentang berorganisasi hendaknya kita bisa arif. Pilihlah organisasi, himpunan atau kepanitiaan yang bisa memberikan sesuatu kepada kita. Jika bisa malah menjadikan kita lebih mengingatNya seperti Rohis. Tapi sesekali mengikuti yang lain juga boleh tapi tetaplah “Stay On The Line” karena dunia kemahasiswaan rentan akan hal yang malah menjerumuskan kita ke arah negatif.

So, it’s time to learn about professionalism and be the professional. It’s not disco lazy time but chance to be agent of changing. Dunia perkuliahan adalah dunia pembelajaran yang penuh akan kesempatan berorganisasi. Don’t miss it.



Sumber:


1. Hasil Tadabbur di kosan saat gak ada hiburan


2. Hasil PDKT (Pengenalan Dunia Kampus Telekomunikasi) semacam OSPEK di kampus


3. Hasil interview dan pengalaman pribadi

Kamis, 03 November 2011

Ku Petik Rindu Di Setiap Do'amu



Hawa dingin nan beriring. Tak terasa jejak-jejak kaki ini telah lama membumi. Melewati hari demi hari hingga kini seperempat semester tiga telah dilewati. Dan detik demi detik penuh pengorbanan yang silih berganti, takkan hanya menjadi kisah abadi. Ini kisahku. Kisah tentang jiwa yang rapuh. Melewati kehidupan mahasiswa dengan tekad yang masih abu-abu.

Deru semangat di saat itu, masih sayup-sayup terdengar syahdu. Ku kecup tanganmu, dan kurasakan hangatnya kasih sayang diantara bait-bait kata terakhirmu ketika melepasku. “Hati-hati”, seakan itu kata mujarab itu kau ucap dan selalu kuingat dalam memoriku. Mengharap keselamatan, dan tiada hal yang tak diinginkan terjadi kepadaku.

Aku yang rapuh, namun suaramu dari jauh yang selalu menjadi penguat hatiku. Aku tak menemukan kata-kata terbaik tuk melukiskan bahagiaku. Aku mencoba melakukan yang terbaik, untukmu, semua keluarga, dan sahabat yang selalu mendukungku.

Dan ketika langit senja tak lagi cerah, ada kalanya juga diri ini terbelah. Di antara kemalasan yang menjadi, prestasi yang terjal tuk didaki, dan konsistensi yang terus digali, ada harap kalian disana yang selalu percaya padaku. Percaya bahwa tiap tetes keringat yang kau dan ia lakukan untukku takkan sia-sia, sekadar menjadi pelengkap kisah dan tak sedikitpun memberikan asa. Dan ketahuilah, jika hal itu menjadi kenyataan, betapa penyesalan akan tiba. Bahkan mungkin takkan bisa termaafkan diri ini, yang sama saja menjadi beban tanpa memberi sesuatu yang berarti.

Aku memang belum bisa membuatmu bangga, dengan nilai-nilai di atas rata-rata, ataupun selaksa hal positif yang membelalakkan mata. Bahkan, aku lebih sering melagukan keluh nan kesahku ketika lewat senandung manja. Tetapi tak sedikitpun itu membuatmu menolakku ketika menghubungimu.

Aku membelitmu dengan masalah, yang tak bisa ku selesaikan walau diri ini seharusnya bisa lebih bersikap dewasa. Padahal, berkali lipat masalah pasti tlah kau jumpai disana. Duniamu yang membuat duniaku juga ada. Duniamu yang menjadi penyokong duniaku tuk tetap ada. Tetapi tetap, itu tak membuatmu menghindariku.

Dan suatu ketika, petir menyambar dan diri ini terjerembab dalam impian hambar. Aku menyalahkanmu ketika itu. Menyalahkan pilihan yang tlah kita sepakati bersama dan restu yang tlah kau beri untukku. Padahal kau pasti tahu potensiku tak setinggi langit yang ingin kuraih dan tak secepat kilat yang ingin kulangkahi. Tetapi kau tetap mempercayaiku.

Dan diantara sepertiga malam-malam ketika doamu terhempas syahdu, diri ini tetap saja terlelap membatu. Tak sedikitpun kuasa tuk terjaga dan membalas balik doamu kepada-Nya. Dan disana, kau tetap tiada lelah mengirim do’amu. Mengharap Sang Kuasa memberikan diri ini hidayah, dan senantiasa dalam naungan jalan-Nya tuk terhindar dari bahaya. Tiada lelah.



Kontemplasi Hati


Berkalang rasa nan penuh syahdu
Menatap sendu yang temaram mengelebat merdu
Merongrong sunyi ketika sanubari membeku
Hanyut dalam kontemplasi peretas rindu


Berterik mentari, bermalam purnama 
Hati terjerembab, tiada tahu masalah mendekat
Namun secuil kata bersemilir indah
Penyatu kepingan semangat tuk kembali merekat padat


Dan ketika...
Sepertiga malammu menjadi saksi di hadapan-Nya
Dan alunan penuh cinta kau haturkan setulus jiwa
Maka bagaimana diri bisa mendusta,
Bahwa usaha belumlah jua semaksimal yang bisa dilakukan
Namun sejuta keluh kesah yang terlanjur terlontarkan

Kontemplasi hati ini..
Kan buktikan semuanya lebih baik lagi...