Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Sabtu, 28 Juli 2012

Perlukah Standarisasi Masjid?




Mendirikan shalat adalah ibadah yang sangat spesial bagi umat Islam. Selain karena ibadah ini yang pertama dihisab, ibadah ini juga langsung diperintahkan Allah Swt kepada manusia melalui Nabi Muhammad ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Dan tentunya, shalat juga disebut tiangnya agama, pondasi yang tentunya harus kokoh untuk menopang bagian-bagian lainnya.

hadist shahih dari Muadz bin Jabal

سنن الترمذي - (ج 9 / ص 202) ...رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ ...

Intisari perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat (HR Ahmad-V/231,237; HR Tirmidzi-IX/202; Ibn Majah hadist no. 3973)


Dalam mendirikan shalat, tentunya harus khusuk dan tuma’ninah.
Ketika saya mengikuti pelatihan shalat khusuk beberapa tahun silam, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar kita bisa khusuk dalam shalat. Satu diantaranya adalah melakukan gerakan shalat dengan benar.

Ramadhan datang. Detik demi detik berharga menyambut hari kemenangan sudah dimulai dari sekarang. Bergunung-gunung pahala telah Allah siapkan, untuk tiap tetes kebaikan yang kita lakukan.
Masjid kian dimakmurkan. Tilawah dikumandangkan.

Namun suatu ketika saya mendapatkan pengalaman istimewa. Di sebuah masjid tempat saya tarawih ada seorang laki-laki bertubuh besar, tinggi dan kekar. Namun saya jadi bersimpati ketika beliau tidak bisa melaksanakan sujud dan ruku’ dengan baik dan lancar karena tempat shalat yang tidak mencukupi.

Hal itu mengingatkan saya pada berbagai pengalaman shalat di berbagai masjid yang ada. Memang beberapa tempat sujud terkesan tidak menjadikan saya leluasa. Tinggi badan saya sekitar 170 cm. Lelaki tadi tingginya hanya beberapa senti di atas saya, namun pengaruh tempat sujud lebih tampak menyulitkan bagi dia karena tubuhnya yang kekar.

Perlu diketahui, tinggi saya dan lelaki itu sebenarnya biasa. Walau mungkin terkesan tinggi dibanding orang dewasa di lingkungan sini, namun generasi muda Indonesia sekarang cenderung memiliki tubuh yang tinggi. Dan banyak pula yang melebihi tinggi orang tua masing-masing.


Pernah hal ini dibahas di sebuah kajian di kampus saya, tetapi kesimpulannya shalat dengan kondisi tempat sedemikian rupa bisa dianggap urgent sehingga posisi sujud tidak lagi bisa sempurna.
Lalu, apakah hal ini akan tetap menjadi keadaan darurat tanpa penyelesaian?

Di tempat ibadah yang menggunakan ubin keramik 30 cm, (kebanyakan saya temui di daerah saya, Jawa Timur), biasanya tempat sujud ialah 3 keramik yaitu 90 cm, ditambah tempat kaki berpijak 15 cm yaitu jadi 105 cm. Keadaan 105 cm sebenarnya kalau untuk saya pribadi sudah lumayanlah, namun sayangnya ada beberapa masjid yang menggunakan karpet panjang yang sedang ngetren (Lihat gambar) yang ukurannya kurang dari 105 cm. Yang lebih disayangkan beberapa masjid seakan tidak acuh dengan tidak memberikan jeda agar tetap 105 cm.


Entahlah, menurut saya ini tidak nyaman untuk digunakan shalat. Bagi kawan-kawan yang tinggi badan sekitar 170 cm, mungkin selain sujudnya harus rela agak membengkokkan punggungnya, juga harus waspada karena resiko bertabrakan dengan jamaah di depan maupun belakangnya juga besar. Tabrakan biasanya terjadi ketika peralihan dari rakaat pertama ke kedua, yaitu ketika sujud ke takbiratul ihram. Juga ketika ruku’, bisa jadi menabrak jamaah di depan, sehingga ruku’nya tidak lurus seperti seharusnya.

Alih-alih shalat dengan khusuk, pikiran bisa jadi was-was ketika mengantisipasi tabrakan sedemikian rupa.
Bagi saya, ini merupakan suatu diskriminasi bila tidak ada solusinya. Karena tidak semua orang akan bisa shalat dengan gerakan sesuai kaidah. Padahal, seiring peningkatan kesejahteraan dan kesehatan, generasi muda mungkin akan lebih tinggi dari generasi kita. Apakah kita rela menjadikan tiap-tiap shalat mereka merasa terdiskriminasi?

Standarisasi masjid. Patut dikaji untuk dilaksanakan suatu hari nanti. Ini bukan masjid kota ataupun desa, semua tempat ibadah muslim harus menyesuaikan menururt saya.
Wallahu a’lam.


Ramadhan, Apa Yang Kau Cari Kawan?





Ramadhan datang. Detik demi detik berharga menyambut hari kemenangan sudah dimulai dari sekarang. Bergunung-gunung pahala telah Allah siapkan, untuk tiap tetes kebaikan yang kita lakukan.

Di antara beberapa Ramadhan yang telah kita lalui bersama, mungkin ada masa-masa yang takkan pernah terlupakan. Yeah, kenangan. Momen istimewa selama Ramadhan akan menjadikannya spesial dan tidak pantas untuk masuk list folder yang akan memori otak kita buang. Dengan demikian, semangat Ramadhan akan terus mengalir setelah Syawal dan kawan-kawannya bergiliran mengambil perannya.

Lalu pertanyaannya, bagaimana membuat Ramadhan kali ini istimewa?

Ketahuilah, ada jutaan hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Ramadhan kali ini istimewa. Tetapi sebuah langkah besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mengharap sesuatu yang hebat selalu dimulai dari melakukan yang sederhana. Maka mari segera rumuskan bagaimana strategi untuk menjalaninya.

It’s gonna be the best Ramadan ever.

Bukan hanya slogan atau kata-kata yang enak di pandang ketika dipajang di dinding kamar. Ini adalah sebuah misi. Misi yang kita buat sendiri, kita awasi sendiri, dan kita pertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah.

Sosok ideal dari diri kita tidak perlu dicari, tetapi perlu dibentuk sejak dini

Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan Datang, Ayo Rapatkan Barisan!



Ramadhan. Bulan penuh ampunan di tiap detik-detiknya yang berjalan. Bulan yang terbaik tuk mengakui kesalahan. Kecil maupun besar, pintu ampunan terbuka jauh lebih lebar. Jauh lebih lebar ketika bulan-bulan lainnya, yang terangkai indah menjadi sebuah tahun dimana kita mengarungi dunia.

Ramadhan. Mungkin inilah saat dimana tempat ibadah paling banyak dikunjungi orang. Demikian pula Masjid Al Hidayah, tempatku melihat berbagai hal berguna disana. Masjid ini memang tak jauh dari tempat keluargaku memiliki rumah. Namun karena ada musholla yang lebih dekat, Al Hidayah biasanya hanya kami kunjungi ketika Shalat Jumat saja.

Jenuh dengan penuhnya musholla dekat rumah ketika Ramadhan, kami pun memilih ke Al Hidayah suatu ketika untuk tarawih. Allahu Akbar, aku menemukan hal menarik disini.

Berbeda dengan musholla dekat rumah, Al Hidayah kebanyakan diisi jamaah dewasa. Jika di musholla dekat rumah perbandingan anak-anak dan dewasa bisa 40:60. Namun di Al Hidayah prosentasenya 20 : 80.


Diantara orang dewasa yang ikut berjamaah, sebagian besar adalah mereka yang tergolong tua, beruban dan bisa dikatakan tak terlalu kuat secara fisik. Sebut saja Pak Jufri. Beliau mengalami kesulitan berjalan hingga harus memakai tongkat sejak mengalami kecelakaan beberapa tahun silam, dia pun harus bergerak perlahan ketika perpindahan gerakan shalat dan ada beberapa gerakan yang tidak bisa ia kerjakan.

Ada Pak Gendut, yang menderita stroke ringan hingga tangan kirinya tak bisa digerakkan sama sekali. Tangan kanannya pun akhirnya menjadi penopang dan pembantu ketika takbiratul ihram.

Ada yang hanya bisa shalat dengan duduk. Yang ini saya tidak mengenalnya. Yang terakhir juga ada Pak Karno, yang mengalami penyakit sehingga kakinya tidak bisa ditekuk. Akhirnya beliau harus bertahan duduk diantara dua sujud mau tasyadud awal dan akhir dengan posisi kedua tangan ikut menahan beban tubuhnya.

Dan semuanya datang untuk tarawih. Masha Allah

Hal yang mencengangkan adalah melihat semangat mereka ketika dua rakaat salam selesai dan akan dilanjut ke dua rakaat lagi. Biasa saya pribadi mencuri-curi waktu untuk istirahat sejenak. Namun melihat orang-orang itu, saya sendiri malu untuk itu.

Mereka langsung berdiri. Betapapun sulit untuk itu. Perlahan demi perlahan. Padahal, harusnya mereka juga mengalami lelah yang sama dengan apa yang saya alami setelah bacaan sang imam lumayan membuat tubuh kewalahan.

Tarawih. Ini hanya tarawih. Sholat sunnah bukan? Bahkan ketika ada sunnah yang lebih mudah seperti tilawah, mengapa mereka bersusah payah untuk tarawih?

Gemetar
Jemari melihat shaff rapi berjajar
Sedikitpun tak terlihat kantuk diantara mata tua itu
Ataupun mimik lelah yang terpancar dari wajah yang tergerus waktu

Sementara aku
Bugar tanpa penyakit yang membelenggu
Kuat, berlari kencang pun mampu
Terkadang masih merasa ogah tuk melaksanakan sunnah untuk-Mu
Astaghfirullah

Sementara, ketika masjid bukan lagi tempat istimewa bagi generasi muda. Akankah generasi lama seperti mereka hanya akan jadi cerita sejarah. Yang selalu dikira kuno, jadul dan ketinggalan zaman.

Ramadhan datang, ayo rapatkan barisan!

Ada seorang yang tidak punya kaki ditanya kenapa ia begitu bahagia dengan segala kekurangannya.

Dengan tersenyum dia menjawabnya, “Saya tidak bertanya kenapa saya tidak punya kaki. Saya bertanya apa yang bisa saya perbuat dengan tangan saya”.

Demikianlah, karena di balik semua karunia yang Allah berikan kepada kita, Allah menitipkan amanah bersamanya. 

(Arief Alamsyah, The Way To Happiness)

Jumat, 29 Juni 2012

Jangan Takut Masuk LDK !


Di sekitar kita terkadang kita jumpai orang yang takut memulai sesuatu dengan beragam alasannya. Dari mulai yang simpel hingga yang kompleks. Idealnya sebuah alasan memang dibutuhkan sebagai bukti-bukti penguat agar kita dapat menentukan pilihan dengan baik. Tapi, terkadang alasan-alasan tersebut lahir dari sudut pandang yang negatif sehingga terbentuklah berbagai alasan yang justru membuat hal positif yang akan kita lakukan mengalami status “pending” atau bahkan “canceled”

“Jangan pernah ragu dalam hal kebaikan”

Lembaga dakwah kampus (LDK) adalah satu diantara banyak hal di dunia kampus yang Insha Allah mendekatkan individu di sekitarnya ke arah yang diridhoi Allah. Tetapi kadangkala muncul beberapa hal menggelayuti pikiran kita terkadang ketika ingin masuk LDK. Setidaknya hal itu juga yang muncul dari pengalaman saya dahulu kala.

Ngapain sih takut?

Hal yang pertama berpotensi jadi pemicu keraguan adalah status. Status masuk LDK akan otomatis menjadikan kita ADK alias aktivis dakwah kampus. Cieee namanya keren bukan? Emang keren kok. Ga hanya di mata manusia lho, tapi di mata Allah juga. Saking kerennya terkadang kita bahkan merasa status ini bisa jadi sesuatu yang bisa kita banggakan.

Coba pas ditanya orang tuamu, “Nak kamu ikutan apa aja disana selain kuliah” dan kamu jawabnya, “ikutan lembaga dakwah kampus Bu”. Kira-kira apa yang Ibu kamu rasakan? Bangga? Bahagia? Kagum? Dilarang senyum-senyum GR ya bagi yang terlanjur jadi ADK ^_^.

Yeah, mungkin tak sedikit orang tua yang akan kagum dengan hal tersebut. Demikian pula beberapa orang temanmu nanti yang akan melihatmu dengan jaket identitas LDK yang kau pakai. Dari mulai teman nongkrong, teman belajar, teman sekosan, teman ngupil *oops, hingga teman ngapain aja, siapapun boleh jadi akan melihatmu berbeda dengan status itu.

Trus apa yang jadi masalah?

Pertama, dengan perubahan status itu apakah ada perubahan tertentu pada diri kita dan sekitar kita? Kebanyakan yang bikin risih adalah ketika perubahan itu membuat orang akan memberi atensi lebih terhadap kekurangan kita atau kesalahan yang kita perbuat.

“Eh masa aktivis dakwah begini, begitu, bla bla bla”, salah satu sindiran yang mungkin akan kita jumpai.
Kita ngapain dikit aja, status juga dibawa-bawa. Alhasil ngerasanya nggak bebas, terbebani, terkekang. Iya nggak?

Tapi jangan takut kawan, mungkin memang banyak anggapan awam bahwa LDK adalah kumpulan orang suci yang sempurna dalam segalanya. Padahal, tidak akan pernah ada manusia yang sempurna kecuali yang ditakdirkan Allah ada pada diri seorang Muhammad khan ya :D .

Dan nyatanya, LDK bukan kumpulan orang-orang yang terbaik, karena LDK adalah kumpulan orang berusaha menjadi lebih baik. Lebih baik dari tahun lalu, lebih baik dari kemarin dan lebih baik dari hari ini.

Jadi ngga ada alasan ngerasa ngga perfectlah, ngga panteslah, ngga matchinglah buat masuk LDK dan jadi ADK cuy. No reason, that’s it.

Mau mantesin diri dulu? Sampai kapan sob? Kita bahkan tidak tahu kapan masih diberikan kesempatan yang sama. Setiap detik-detik yang kita lalui, tidak pernah ada 0 persen peluang kita terhindar dari maut. Belum juga berbagai nikmat seperti kesehatan, waktu luang, dan bahkan nikmat iman, naudzubillah jika kehilangan yang satu ini, yang Alhamdulillah hingga saat ini bisa kita rasakan.

Ga usah nunggu suatu hari nanti, kalau sekarang bisa kenapa nggak?.

Coba tengok, apakah setelah menjadi ADK ibadah kita makin rajin, apakah sikap dan tingkah laku kita makin terjaga, apakah kita lebih berhati-hati dari perbuatan yang mungkin akan berbuah dosa, dan hal lainnya yang positif. Jika semua hal itu memang terjadi, disinilah yang harus kita takutkan kawan. Kita beribadah karena status sebagai ADK atau ketika berbuat baik karena jaket LDK yang kita pakai, dan itu terus menerus hingga kita lupa untuk melakukannya karena Allah.

Lagian bukan tugas aktivis dakwah atau ulama aja untuk berdakwah, namun semua muslim juga  khan
Mungkin di awal kita tertarik mendalami agama, berbuat baik dan bertingkah laku islami lainnya terkesan “dipaksa” karena tuntutan aktivitas LDK, namun Insha Allah dengan keikhlasan dan ketulusan akan ada taste yang berbeda nantinya. Allah ngga akan pernah menjauh ketika ada umatnya yang mendekat bukan?

Lagian masalahnya memang bukan perubahan status itu sih, ataupun sikap orang lain ketika menyikapinya. Namun masalahnya ada pada diri kita menghadapi perubahan status itu dan sikap orang lain ketika menyikapinya. So, ngapain ngeracunin pikiran ama hal-hal parno tentang LDK.  

Inget sob, hidayah itu ngga dateng sendiri. Kita musti cari, kalaupun ada di depan kita n kita diemin aja ya sama aja boong, cupslah.


Yuk bareng-bareng menjadi lebih baik lagi.

Don’t say to yourself, “I wish I was a better muslim”. No. Become it. Do it ! (Aneesah for IslamoGraphic.com)


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka”, (QS Ar Ra’du : 11)

Larilah hanya menujuNya.
Meloncatlah hanya ke haribaanNya.
Walau duri merentas kaki.
Walau kerikil mencacah telapak.
Sampai engkau lelah.
Sampai engkau payah.
Sampai keringat dan darah tumpah.
Maka kekhusyu’an akan datang padamu ketika engkau beristirahat dalam shalat.
Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat.
Lalu kau pun pasrah, berserah.
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia PASTI melihatmu!
(Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah)

Selasa, 29 Mei 2012

Ketika

Listrik padam. Kegelapan mencekam. Di antara sudut terduduk, diam. Naluri masih berbinar menikmati games sejak tadi siang, mendadak kaget, shock dan terbungkam. Sementara dingin tak ketinggalan. Ianya cepat menebar ancaman, membuat semuanya paham. "Udah malam, cepet banget", protesnya. Seakan waktu tak berkompromi dengannya.

Menanti. Baterai ponsel dan laptop sekarat membuatnya bersedih hati. Tak bisa berkata apa-apa lagi.

Terang. Seketika, secercah cahaya datang seiring lampu senter yang berhasil ditemukan, sedikit harapan. Namun, terlihat barang-barang berserakan. Menyulitkan ketika berjalan. Bahkan dalam kamar sendiri, tak banyak ruang untuk tubuh ini bermalas-malasan. Apalagi kalau bukan barang-barang "sialan" yang tak tahu diri menempatkan dirinya.

Tunggu apa salah mereka?

Perut meringkih, saatnya ia mendapatkan haknya tuk kembali berenergi. Mengambil dompet, satu-satunya yang selalu setia ketika ponsel tak lagi disini.

Berjalan. Tampak kegelapan segera berpadu dengan kesunyian. Jalanan lebih sepi dari biasa, ketika banyak lalu lalang kendaraan ataupun pejalan kaki yang menghiasinya.

"Mang, pesan nasi goreng ya".
"Pedas apa nggak mas?"
"Sedang aja, cepetan ya"
"Sip"

Enak. Begitulah semua yang lidah rasakan, ketika perut kosong seperti sekarang. Lahap, ia habiskan lebih cepat dari pada saat nasi goreng itu dibuat.

"Berapa semuanya Mang?"
"Delapan ribu mas"
"Hmmmmm, Mang nasinya nanti saya bayar ya"

Berlari. Menutupi malu ketika beberapa orang di warung tadi mendengarnya. Bagaimana sang dompet tak terisi, sementara nasi telah penuh berada di dalam perut sendiri.

"Ke ATM saja, pasti merepotkan cari duit di kamar gelap-gelap gini", kata ide kepadanya.

Berlari, memasuki kawasan kampus yang tampaknya tak terkena pemadaman bergilir serupa. Mengarah ke ATM dengan bangunan kecilnya yang berdiri megah.

"Jleeb"

Terdiam. Kartu dilahap. "Mesin gobloook", teriaknya seraya hendak memukulnya. Tetapi seketika sadar akan kamera CCTV yang ada, bisa berbuntut panjang masalah.

Ditekannya tombol-tombol yang ada satu persatu, sedikit digoyang-goyangkan pula mesin gemuk uang itu. Tidak ada hasil. Nihil.

Menghela nafas.

"Astaghfirullah"
Bergegas ke masjid, ingat belum sholat Isya'.
Teringat pula deretan agenda yang tak jadi terlaksanakan, sementara beberapa lainnya setia menunggu hingga deadline tiba


Jangan tunggu musibah lebih besar datang. Segera perbaiki dari sekarang !!!
Karena terkadang, masalah datang juga sebagai peringatan. :)







Kamis, 17 Mei 2012

Sajak Sajak Kematian

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa satu persatu orang yang ku kenal dekat, telah pergi kepada-Nya tuk menghadap. Yeah, terlalu cepat. Bahkan terkadang waktunya terasa tak adil, ingin sekali menemani mereka satu persatu ketika di detik-detik terakhir. Tetapi apa daya? Takdir.


Tentang kematian, aku mungkin masih beruntung. Jauh lebih beruntung daripada Nabi Muhammad yang tidak pernah bisa melihat wajah Sang Abi ketika lahir dan hanya sedikit waktu tuk bersama Ummi Aminah ketika kecil. Di luar sana pula, ada pula jutaan warga Palestina, Afghan, Suriah dls yang sudah familiar dengan kematian orang yang mereka cintai setiap harinya.


Di antara lika liku kehidupan, selalu ada awal dan akhir serta pertemuan dan perpisahan. Keduanya ada, dan karena itulah kita hidup. Tak mungkin kisah ini berawal tanpa ada akhir, dan tidak mungkin kita berpisah kecuali ada pertemuan sebelumnya. Dan satu hal yang pasti dari kematian, ia adalah muara dari setiap perpisahan keduniawian. 

Ketika kita telah lulus sekolah, SD, SMP, SMA atau bahkan kuliah, perpisahan dengan teman-teman kita mungkin hanya sekadar dalam dimensi ruang saja. Kita masih bisa bertemu dan bersama kembali di lain waktu. Namun jika dengan kematian?

Kematian ibarat ketika kita kehilangan seseorang, bahkan seisi dunia kita jelajahi kita takkan menemui sosoknya. Seisi lautan kita selami takkan menjumpai dirinya. Selus jagat raya kita obrak-abrik takkan membuatnya menampakkan dirinya. Kecuali sisa tubuhnya yang tak lagi berdaya. Terdiam. Membisu. Penuh tanda tanya.

Kematian? Sebegitu kejamnya-kah?


Islam selalu mengajarkan kita akan kehidupan setelah kematian. Dan kehidupan di dunia ini hanya awal dari segalanya. Awal yang akan menentukan semuanya. Sebuah awal yang takkan begitu lama.

Tetapi masih saja berat. Jika Allah bisa membuat kita hidup selamanya, bersama mereka yang kita cintai,  melakukan apa yang kita ingini, tanpa ada batasan usia, mengapa tidak ia buat demikian? Dia Tuhan. Dia pasti bisa lakukan apa saja. Iya khan? Iya khan? Jawab!!!

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
QS Al Baqarah 216


Karena setiap yang berawal pasti merasakan akhirnya, yang bernyawa pasti akan merasakan ajal menjemputnya. Dialah yang awal, dan akhir. Maka mari kita syukuri, bahwa kita atau orang yang meninggalkan kita setidaknya mendapatkan karunia berupa kehidupan, yang memungkinkan kita mengenalnya, dan mereka mengenal kita, meski dalam waktu yang tak begitu lama.








Selasa, 08 Mei 2012

Tujuan Hidupku Apaan Ya?

Kemarin malam, Senin 7 Mei 2012, alhamdulillah aku berkesempatan dipertemukan dengan kembali seseorang hebat. Dia satu diantara sekian banyak orang yang ku masukkan kategori hebat, karena ilmunya, agamanya, prestasinya, visinya, dll

Subhanallah, malam itu saya mengikuti acara TFT atau biasa disebut Tahsin For Trainers. Dan malam itu Kang Cecep, nama beliau berkenan datang dari Bandung kota ke sekre SKI memenuhi undangan kami.

Langsung saja, hal yang bisa saya tangkap disana meski saya datang terlambat yaitu tentang tujuan hidup.

Sebelumnya saya ingin bertanya kepada pembaca blog saya sekalian, tujuan kamu hidup apaan sih? Loe hidup buat siapa? Buat ngapain? Buat apaan? 




Well, ketika seorang muslim ditanya seperti itu kata si akang mah pasti banyak yang jawab, "untuk meraih ridho Allah", "beribadah", dls. Iya khan?

Nah menurut beliau, tujuan hidup itu harus jelas, detail, spesifik. Kita tentunya ingin supaya hidup kita bisa bikin ntar pas di akhirat masuk surga khan pastinya? Tetapi ketahuilah banyak peran yang bisa kita lakukan untuk meraih surga Allah lho.

Ibarat di antara sahabat Rasul tuh ada sosok Abu Bakar, Umar, Ali, Usman, dls. Kita bisa memilih sosok kita sendiri. Nah setelah sosok idaman dari diri kita udah ada, tinggal nih gimana cara mencapainya. 



Tapi biasanya masalah pertama rada abu-abu, kita pengen jadi kayak gimana sih? CIta-cita kita? Sosok idaman dari kita atau biasa disebut the really I am. 

Itu semua bergantung pada potensi diri kita masing-masing menurut Kang Cecep. Kita bisa cari potensi diri kita gimana, atau tanya ke orang lain kita cocoknya tuh gimana menurut mereka. Bukan tanya ke dukun yang ngga tau apa apa lho ya, ntar tau tau dia bilang "tanggal lahir kamu bla bla bla, kamu cocoknya kerja di air" wkwkkw

Next,
untuk mempermudah mencapai tujuan hidup kita, kita harus bisa membuat tujuan-tujuan kecil, ibarat short term dan long term gituloh. Tujuan ini ibarat misi pas kita maen games, yang harus kita selesaikan. Tapi dengan demikian semuanya teratur, terencana, dan bisa meminimalisir hal ngga jelas dalam hidup kita yang singkat ini.

Nah pas malam itu juga, Kang Cecep kasih contoh tuh perencanaan hidup beliau kayak gimana. Subhanallah, pas saya ngeliat keren banget deh. Semua terencana banget. Ini bahkan bisa ngalahin diary ala cewek men. Menurut Kang Cecep, hal yang begituan tuh namanya Self Management atau bisa disebut Manajemen Diri. Dengan menuliskan target-target kita rasanya kita ngga bakal bisa diem gitu, kita pengen banget nyelesaiin itu. Termotivasi.



Konsep yang sama kayak yang ada di video Danang Pembuat Jejak sih. Namun yang dicontohkan Kang Cecep ini lebih kompleks. Kalau kita pengen bikin begituan, bisa dibuat per semester, pas jadwal kita udah FIX tuh. Jadi ketauan kita semester ini udah ngapain aja selain kuliah. Hafalan nambah ngga? Kamar masih berantakan ngga? Muka masih cakep ngga? hahaha

Ribet dan ruwet sih kawan kalau ngeliatnya dari kejauhan. Tapi aku jadi sadar juga sih, kalau bikin begituan tuh pasti waktu yang kita sia siakan untuk hal "NGGAK JELAS" bisa diminimalisir, karena kita selalu punya misi-misi dalam minggu ini, dalam semester ini dan dalam tahun ini dst.

Hidup ini pendek lho kawan. Iya khan? Aku juga baru nyadar udah semester 4 tapi aku masih gini-gini aja. Jangan tanya softskill deh, mental masih mental tempe dls perlu berbenah dan terus berbenah. Gimana dengan kalian? Well, jangan diem aja kawan. Salah satu cara untuk terus termotivasi memperbaiki diri, ya bisa ketemu ama orang-orang hebat seperti Kang Cecep yang saya ceritakan.

Apa sih pentingnya?

Nah kalau kita udah punya tujuan yang jelas, kita bisa memaksimalkan diri kita dalam mengambil peran. Entah mau jadi pejabat, nelayan, guru, engineer, presiden dls kita bisa melakukannya dengan sebaik-baiknya gituloh.. Jadi jelas.

Oia, ini nih ada video kesukaan saya tentang tujuan hidup. Dibikin anak UI, keren banget lho :)

Saya ngga pernah bosen liat ini pas galau. 









Gitu doank deh, makasih buat yang baca ya. :)

Assalamualaikum