Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Sabtu, 18 Agustus 2012

Maaf

Diantara langkah demi langkah sejak saat itu..
Tangisku meledak-ledak memecah pilu ...
Kau lahirkan sesosok bayi mungil penuh cinta..

Dari rahimmu, wahai muslimah yang tak kenal menyerah...

Di saat seperti ini..
Kala takbir menggema ke segala sisi...

Kau kuatkan diri menahan sakitmu..
Meregang nyawa demi buah hati yang tlah lama dirindu..

Ketika malam takbir seperti ini, banyak hal yang masuk dalam pikiranku. Satu diantaranya, mengingatkanku atas peristiwa 5 April, sekitar 20 tahun lalu.

Seorang lelaki tampak kebingungan. Keringatnya bercucuran.Saat itu engkau hendak melahirkan. Sementara tak banyak uang ia punya karena pekerjaan tetap yang belum ada. Ia kesana kemari mencari pinjaman, alhamdulillah Ibumu memiliki tabungan dan sama sekali tidak keberatan membantu proses kelahiran cucu pertamanya.

"Operasi harus dilakukan!", kata Dokter, membuat suasana semakin tegang dan hanya bisa berdoa kepada Sang Penguasa Kehidupan.

"Tidak ada jalan lain. Proses kelahiran sudah terlalu lama. Posisi bayi sungsang dan susah untuk dilahirkan secara normal seperti biasa. ", tambahnya.

Lelaki itu tampak berkonsultasi dengan Ibumu, dan beberapa kerabatmu yang ada disana. Ia tak tega melihatmu yang tampak lelah berbaring terlalu lama.

"Lakukan Dok, bismillah", ucapnya dengan pasrah.

Sang dokter pun langsung melakukan tugasnya.

Malam itu pekik takbir terdengar membahana...
Maklumlah Ramadhan telah berada pada ujungnya..
Walau perjuanganmu jauh dimulai sebelum saat itu..
Semua terduduk dan bertakbir sembari menunggu operasimu berlalu.. 

 Dan akhirnya ...........................



"Alhamdulillah telah lahir putera pertama kami, pada hari Ahad, 5 April 1992, 1 Syawal 1412 H . Kami namai dia Muhammad Faizal Ramadhan, semoga menjadi anak yang shaleh, berbakti dan berguna bagi keluarga, agama, negara dan orang-orang sekitarnya", tulis lelaki itu dalam sebuah halaman buku catatannya.

Catatan : Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. 

Hingga akhirnya, bayi itu terus tumbuh dan tumbuh, hingga berkesempatan membaca catatan itu, dan menuliskan tulisan ini.

Ia kini sudah akan memasuki masa dewasa. Masa ketika kesulitan semakin kompleks dan mengisi dan ada di tiap detik-detiknya.

Namun ia masih rapuh. Dengan semua yang ada di hadapannya. Harapanmu bersama lelaki itu, mungkin tak bisa diwujudkannya. Belum! Sekarang, ia terus berjuang untuk menjadi harapanmu. Untuk membentuk  dirinya menjadi sosok yang shaleh, berbakti, dan berguna seperti mimpimu yang takkan berubah. Sedari dulu ketika berjam-jam menunggunya tak kunjung lahir dari rahimmu hingga kini ketika kau bersitkan rindu dalam doamu.

Maafkan aku ya Allah...
Beri aku kesempatan lebih...
Untuk wujudkan harapnya seperti dulu dan kini,,
Agar tiada sesal diri ini ada disini...

Jauhkan diri ini..
Dari setiap hal yang membuatnya kecewa dan sedih...

Kuatkan aku dalam jalan-Mu.. 
Wahai Sang pembolak-balik kalbu..









Rabu, 08 Agustus 2012

The Bureaucracy? Please, Cut it off


Catatan Geladi Part 1



“Dari kampus mana mas?”

“IT Telkom, Pak”, jawabku lugas.

“Oh STM Telkom. Coba cek apa ada surat magang dari STM?”, jawabnya menyuruh seorang karyawan.

“STM? please deh”, ujarku dalam hati. Tidak berani menyela.

“Ngga ada Pak”, jawab seorang lelaki. Rambutnya putih, tampak lebih tua dari orang gemuk yang sedari tadi kutemui, namun sepertinya ia bawahannya.

“Dari kampus mana tadi?”

“Institut Teknologi Telkom”, jawabku jelas.

“Diman` itu? Surabaya atau Purwokerto?”

oh meeen.. “Di Bandung Pak”, mendengar kata Bandung kuucapkan rasanya gimana gitu. Seluruh mata di ruangan langsung tertuju padaku *Masha Allah hehe

“Gini aja, surat copian dari kampusnya diperlihatkan saja Dik?”

“Surat?”, tanyaku bingung,“ngga ada surat apa-apa Pak. Dari kampus sudah dikirim harusnya”, tambahku.

“Hmm, Kok ngga ada ya? Biasanya yang magang dari kampus manapun selalu ada surat keterangan gitu”

“Tetapi dari kampus katanya saya tidak perlu surat apa-apa gitu Pak, langsung menghadap ke kantor Telkom untuk geladi di Divisi Akses”

“Ngirimnya kapan?”

“Kalau tidak salah sudah seminggu lalu, lebih malah”, jawabku pake tampang meyakinkan.

“Kalau tidak ada suratnya kami ya mohon maaf tidak berani menerima adik magang disini sementara waktu. Mungkin bisa minta ke kampusnya dulu Dik”

Fiuuh, aku menghela nafas. Ishh kok gini sih, “Sebentar Pak, saya telpon dosen saya dulu”
Langsung menghubungi dosen pembimbing namun tidak disuruh langsung menghubungi Bu Endang (koordinator geladi 2012 atau Pjnya lah ya hehe)

“Saya lagi rapat, 10 menit lagi nelpon lagi ya”, ujar beliau. Aku sendiri jadinya ngga enak ngerepotin banyak orang. Sementara disini dikira selundupan. Duh rempong bgt gw wkwkkw


“Ditunggu saja Dik, santai” ujar Bapak tadi. Kami pun berbincang-bincang. Dari situ pula ku tau namanya Pak Ali, posisinya Commerce Officer.

Akhirnya aku berhasil menghubungkan Pak Ali dengan Bu Endang. Pak Ali tampak bersikap ramah, “ishh to the point aja Pak, jangan lama-lama Pak, pulsakuuuu”, teriakku dalam hati.

*oia aku lupa cerita. Hal yang bikin ngakak tuh, instruksi kampus sebenernya dsruh ganti kartu jadi Telkomsel lho ketika geladi. Tapi punyaku.... olalaa haha

"Oh STT ya", sekilas terdengar dari Pak Ali dengan Bu Endang.

"Haduuh daritadi harusnya pake nama STT", sesalku

Pak Ali tampak masih bercakap-cakap dengan Bu Endang. Sekilas terdengar, suratnya sudah dikirim ke HR dan Diva Area. Dan ternyata Lumajang, tempatku geladi nih, Hrnya ikut Malang sementara Diva ikut Area Pasuruan.

JeduaaaaaaaarJadi suratnya nyangkut dimana. Derita geladi di kota kecil,

*Tapi ini desaku yang tercinta, pujaan hatiku. Tempat Ayah dan Bunda, dan handai taulanku. Nah kok nyanyi xixixixix

“Jangan ditelantarkan ya Pak mahasiswa kami” ujar Bu Endang. Kata-kata yang begitu melegakan ketika tak sengaja terdengar.

“Ohh tenang Bu, STT khan juga milik Telkom juga” balas Pak Ali diikuti candaan sebelum akhirnya mengakhiri pembicaraan.

Sementara seorang laki-laki muda tampak mendatangi meja bundar tempat kami berdiskusi.

“Ada apa ini Pak?”, tanya beliau.

“Ini adik ini magang tetapi katanya dari kampusnya belum ada surat izin magangnya. Tampaknya masih nyangkut entah di Malang atau Pasuruan ”, celetuk Pak Ali.

 “Kebetulan sekali Pak Bhayun ini juga alumni STT Dik”, tambahnya.

“Iya, saya angkatan pertama”, akunya,” Bhayun”, sahutnya sambil mengulurkan tangan.

“Faizal Pak”, balasku sambil berjabat tangan juga.

kereeen,, alumni kampus ngapain disinii...

“Oh ini buku geladinya ya?”

“Iya Pak.”

“Geladi satu apa geladi dua?”

“Geladi satu Pak”.

“Ya sudah kalau gitu. Ga usah nunggu surat segala deh, biar maksimal dan samean bisa geladi ngga ditunda-tunda karena nunggu suratnya.”

ohhhhhhhhhhhhhhhh meeeen, alhamdulillah akhirnyaaaaaaaa

“Biar saya antar adik ini ke Diva dan tempat-tempat yang ada Pak”, kata Pak Ali.

“Oh iya silahkan”.

Yeayyy

Geladi mode start.

Bye birokrasi, bikin riweuh wae 


*ternyata Pak Bhayun adalah Asisten Manager Telkom Lumajang. Kok cuman asisten? Lalu bukan boznya donk?
Penasaran? Cekidot terus catatan geladi :)

Minggu, 05 Agustus 2012

Jangan Hanya Mendekat, Tapi...




Ramadhan tiba. Bulan penuh berkah dari Allah untuk kita semua.  Diantara bulan-bulan lainnya ialah satu yang teristimewa. Pahala dilipat ganda, sementara segala rangkaian ibadah kan lebih mudah mendekatkan diri kita kepada-Nya.


Dari mulai bangun kita sudah menyiapkan diri berpuasa dengan menyantap sahur, berlanjut dengan shalat shubuh. Selanjutnya, seiring perut yang kosong detik-demi detik selalu teringat bahwa kita sedang berpuasa, menunaikan perintah-Nya. Shalat fardhu dan berbagai ibadah sunnah yang ada, silih berganti hingga waktu akhirnya tiba berbuka. Tak sampai disitu saja, sepertiga malam untuk tarawih, subhanallah begitu luar biasa kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

Mendekat. Menjadikan setiap langkah kita selalu diiringi dengan kemantapan karena kedekatan dengan Sang Khalik. Begitu sajakah? Sahabat, terkadang kita melupakan potensi yang kita bisa peroleh dari kedekatan itu dengan Allah Swt. Kita bisa berdo'a, meminta, memohon dan mengharap belas kasih dari Sang Maha Kuasa. 

"Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi)) HR Ahmad dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. 


Apa yang kita lakukan?

Lepas tarawih, shalat malam kita di bulan Ramadhan...
Usai shalat fardhu, yang sebenarnya juga waktu yang diijabahnya do'a ...
Di detik demi ketik ketika kita berpuasa ketika kita senggang..


Jangan sia-siakan kedekatan kita dengan-Nya
Yuk berdo'a...


Karena dengan do'a, takdir kita juga bisa berubah.




Sabtu, 28 Juli 2012

Perlukah Standarisasi Masjid?




Mendirikan shalat adalah ibadah yang sangat spesial bagi umat Islam. Selain karena ibadah ini yang pertama dihisab, ibadah ini juga langsung diperintahkan Allah Swt kepada manusia melalui Nabi Muhammad ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Dan tentunya, shalat juga disebut tiangnya agama, pondasi yang tentunya harus kokoh untuk menopang bagian-bagian lainnya.

hadist shahih dari Muadz bin Jabal

سنن الترمذي - (ج 9 / ص 202) ...رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ ...

Intisari perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat (HR Ahmad-V/231,237; HR Tirmidzi-IX/202; Ibn Majah hadist no. 3973)


Dalam mendirikan shalat, tentunya harus khusuk dan tuma’ninah.
Ketika saya mengikuti pelatihan shalat khusuk beberapa tahun silam, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan agar kita bisa khusuk dalam shalat. Satu diantaranya adalah melakukan gerakan shalat dengan benar.

Ramadhan datang. Detik demi detik berharga menyambut hari kemenangan sudah dimulai dari sekarang. Bergunung-gunung pahala telah Allah siapkan, untuk tiap tetes kebaikan yang kita lakukan.
Masjid kian dimakmurkan. Tilawah dikumandangkan.

Namun suatu ketika saya mendapatkan pengalaman istimewa. Di sebuah masjid tempat saya tarawih ada seorang laki-laki bertubuh besar, tinggi dan kekar. Namun saya jadi bersimpati ketika beliau tidak bisa melaksanakan sujud dan ruku’ dengan baik dan lancar karena tempat shalat yang tidak mencukupi.

Hal itu mengingatkan saya pada berbagai pengalaman shalat di berbagai masjid yang ada. Memang beberapa tempat sujud terkesan tidak menjadikan saya leluasa. Tinggi badan saya sekitar 170 cm. Lelaki tadi tingginya hanya beberapa senti di atas saya, namun pengaruh tempat sujud lebih tampak menyulitkan bagi dia karena tubuhnya yang kekar.

Perlu diketahui, tinggi saya dan lelaki itu sebenarnya biasa. Walau mungkin terkesan tinggi dibanding orang dewasa di lingkungan sini, namun generasi muda Indonesia sekarang cenderung memiliki tubuh yang tinggi. Dan banyak pula yang melebihi tinggi orang tua masing-masing.


Pernah hal ini dibahas di sebuah kajian di kampus saya, tetapi kesimpulannya shalat dengan kondisi tempat sedemikian rupa bisa dianggap urgent sehingga posisi sujud tidak lagi bisa sempurna.
Lalu, apakah hal ini akan tetap menjadi keadaan darurat tanpa penyelesaian?

Di tempat ibadah yang menggunakan ubin keramik 30 cm, (kebanyakan saya temui di daerah saya, Jawa Timur), biasanya tempat sujud ialah 3 keramik yaitu 90 cm, ditambah tempat kaki berpijak 15 cm yaitu jadi 105 cm. Keadaan 105 cm sebenarnya kalau untuk saya pribadi sudah lumayanlah, namun sayangnya ada beberapa masjid yang menggunakan karpet panjang yang sedang ngetren (Lihat gambar) yang ukurannya kurang dari 105 cm. Yang lebih disayangkan beberapa masjid seakan tidak acuh dengan tidak memberikan jeda agar tetap 105 cm.


Entahlah, menurut saya ini tidak nyaman untuk digunakan shalat. Bagi kawan-kawan yang tinggi badan sekitar 170 cm, mungkin selain sujudnya harus rela agak membengkokkan punggungnya, juga harus waspada karena resiko bertabrakan dengan jamaah di depan maupun belakangnya juga besar. Tabrakan biasanya terjadi ketika peralihan dari rakaat pertama ke kedua, yaitu ketika sujud ke takbiratul ihram. Juga ketika ruku’, bisa jadi menabrak jamaah di depan, sehingga ruku’nya tidak lurus seperti seharusnya.

Alih-alih shalat dengan khusuk, pikiran bisa jadi was-was ketika mengantisipasi tabrakan sedemikian rupa.
Bagi saya, ini merupakan suatu diskriminasi bila tidak ada solusinya. Karena tidak semua orang akan bisa shalat dengan gerakan sesuai kaidah. Padahal, seiring peningkatan kesejahteraan dan kesehatan, generasi muda mungkin akan lebih tinggi dari generasi kita. Apakah kita rela menjadikan tiap-tiap shalat mereka merasa terdiskriminasi?

Standarisasi masjid. Patut dikaji untuk dilaksanakan suatu hari nanti. Ini bukan masjid kota ataupun desa, semua tempat ibadah muslim harus menyesuaikan menururt saya.
Wallahu a’lam.


Ramadhan, Apa Yang Kau Cari Kawan?





Ramadhan datang. Detik demi detik berharga menyambut hari kemenangan sudah dimulai dari sekarang. Bergunung-gunung pahala telah Allah siapkan, untuk tiap tetes kebaikan yang kita lakukan.

Di antara beberapa Ramadhan yang telah kita lalui bersama, mungkin ada masa-masa yang takkan pernah terlupakan. Yeah, kenangan. Momen istimewa selama Ramadhan akan menjadikannya spesial dan tidak pantas untuk masuk list folder yang akan memori otak kita buang. Dengan demikian, semangat Ramadhan akan terus mengalir setelah Syawal dan kawan-kawannya bergiliran mengambil perannya.

Lalu pertanyaannya, bagaimana membuat Ramadhan kali ini istimewa?

Ketahuilah, ada jutaan hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Ramadhan kali ini istimewa. Tetapi sebuah langkah besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mengharap sesuatu yang hebat selalu dimulai dari melakukan yang sederhana. Maka mari segera rumuskan bagaimana strategi untuk menjalaninya.

It’s gonna be the best Ramadan ever.

Bukan hanya slogan atau kata-kata yang enak di pandang ketika dipajang di dinding kamar. Ini adalah sebuah misi. Misi yang kita buat sendiri, kita awasi sendiri, dan kita pertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah.

Sosok ideal dari diri kita tidak perlu dicari, tetapi perlu dibentuk sejak dini

Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan Datang, Ayo Rapatkan Barisan!



Ramadhan. Bulan penuh ampunan di tiap detik-detiknya yang berjalan. Bulan yang terbaik tuk mengakui kesalahan. Kecil maupun besar, pintu ampunan terbuka jauh lebih lebar. Jauh lebih lebar ketika bulan-bulan lainnya, yang terangkai indah menjadi sebuah tahun dimana kita mengarungi dunia.

Ramadhan. Mungkin inilah saat dimana tempat ibadah paling banyak dikunjungi orang. Demikian pula Masjid Al Hidayah, tempatku melihat berbagai hal berguna disana. Masjid ini memang tak jauh dari tempat keluargaku memiliki rumah. Namun karena ada musholla yang lebih dekat, Al Hidayah biasanya hanya kami kunjungi ketika Shalat Jumat saja.

Jenuh dengan penuhnya musholla dekat rumah ketika Ramadhan, kami pun memilih ke Al Hidayah suatu ketika untuk tarawih. Allahu Akbar, aku menemukan hal menarik disini.

Berbeda dengan musholla dekat rumah, Al Hidayah kebanyakan diisi jamaah dewasa. Jika di musholla dekat rumah perbandingan anak-anak dan dewasa bisa 40:60. Namun di Al Hidayah prosentasenya 20 : 80.


Diantara orang dewasa yang ikut berjamaah, sebagian besar adalah mereka yang tergolong tua, beruban dan bisa dikatakan tak terlalu kuat secara fisik. Sebut saja Pak Jufri. Beliau mengalami kesulitan berjalan hingga harus memakai tongkat sejak mengalami kecelakaan beberapa tahun silam, dia pun harus bergerak perlahan ketika perpindahan gerakan shalat dan ada beberapa gerakan yang tidak bisa ia kerjakan.

Ada Pak Gendut, yang menderita stroke ringan hingga tangan kirinya tak bisa digerakkan sama sekali. Tangan kanannya pun akhirnya menjadi penopang dan pembantu ketika takbiratul ihram.

Ada yang hanya bisa shalat dengan duduk. Yang ini saya tidak mengenalnya. Yang terakhir juga ada Pak Karno, yang mengalami penyakit sehingga kakinya tidak bisa ditekuk. Akhirnya beliau harus bertahan duduk diantara dua sujud mau tasyadud awal dan akhir dengan posisi kedua tangan ikut menahan beban tubuhnya.

Dan semuanya datang untuk tarawih. Masha Allah

Hal yang mencengangkan adalah melihat semangat mereka ketika dua rakaat salam selesai dan akan dilanjut ke dua rakaat lagi. Biasa saya pribadi mencuri-curi waktu untuk istirahat sejenak. Namun melihat orang-orang itu, saya sendiri malu untuk itu.

Mereka langsung berdiri. Betapapun sulit untuk itu. Perlahan demi perlahan. Padahal, harusnya mereka juga mengalami lelah yang sama dengan apa yang saya alami setelah bacaan sang imam lumayan membuat tubuh kewalahan.

Tarawih. Ini hanya tarawih. Sholat sunnah bukan? Bahkan ketika ada sunnah yang lebih mudah seperti tilawah, mengapa mereka bersusah payah untuk tarawih?

Gemetar
Jemari melihat shaff rapi berjajar
Sedikitpun tak terlihat kantuk diantara mata tua itu
Ataupun mimik lelah yang terpancar dari wajah yang tergerus waktu

Sementara aku
Bugar tanpa penyakit yang membelenggu
Kuat, berlari kencang pun mampu
Terkadang masih merasa ogah tuk melaksanakan sunnah untuk-Mu
Astaghfirullah

Sementara, ketika masjid bukan lagi tempat istimewa bagi generasi muda. Akankah generasi lama seperti mereka hanya akan jadi cerita sejarah. Yang selalu dikira kuno, jadul dan ketinggalan zaman.

Ramadhan datang, ayo rapatkan barisan!

Ada seorang yang tidak punya kaki ditanya kenapa ia begitu bahagia dengan segala kekurangannya.

Dengan tersenyum dia menjawabnya, “Saya tidak bertanya kenapa saya tidak punya kaki. Saya bertanya apa yang bisa saya perbuat dengan tangan saya”.

Demikianlah, karena di balik semua karunia yang Allah berikan kepada kita, Allah menitipkan amanah bersamanya. 

(Arief Alamsyah, The Way To Happiness)

Jumat, 29 Juni 2012

Jangan Takut Masuk LDK !


Di sekitar kita terkadang kita jumpai orang yang takut memulai sesuatu dengan beragam alasannya. Dari mulai yang simpel hingga yang kompleks. Idealnya sebuah alasan memang dibutuhkan sebagai bukti-bukti penguat agar kita dapat menentukan pilihan dengan baik. Tapi, terkadang alasan-alasan tersebut lahir dari sudut pandang yang negatif sehingga terbentuklah berbagai alasan yang justru membuat hal positif yang akan kita lakukan mengalami status “pending” atau bahkan “canceled”

“Jangan pernah ragu dalam hal kebaikan”

Lembaga dakwah kampus (LDK) adalah satu diantara banyak hal di dunia kampus yang Insha Allah mendekatkan individu di sekitarnya ke arah yang diridhoi Allah. Tetapi kadangkala muncul beberapa hal menggelayuti pikiran kita terkadang ketika ingin masuk LDK. Setidaknya hal itu juga yang muncul dari pengalaman saya dahulu kala.

Ngapain sih takut?

Hal yang pertama berpotensi jadi pemicu keraguan adalah status. Status masuk LDK akan otomatis menjadikan kita ADK alias aktivis dakwah kampus. Cieee namanya keren bukan? Emang keren kok. Ga hanya di mata manusia lho, tapi di mata Allah juga. Saking kerennya terkadang kita bahkan merasa status ini bisa jadi sesuatu yang bisa kita banggakan.

Coba pas ditanya orang tuamu, “Nak kamu ikutan apa aja disana selain kuliah” dan kamu jawabnya, “ikutan lembaga dakwah kampus Bu”. Kira-kira apa yang Ibu kamu rasakan? Bangga? Bahagia? Kagum? Dilarang senyum-senyum GR ya bagi yang terlanjur jadi ADK ^_^.

Yeah, mungkin tak sedikit orang tua yang akan kagum dengan hal tersebut. Demikian pula beberapa orang temanmu nanti yang akan melihatmu dengan jaket identitas LDK yang kau pakai. Dari mulai teman nongkrong, teman belajar, teman sekosan, teman ngupil *oops, hingga teman ngapain aja, siapapun boleh jadi akan melihatmu berbeda dengan status itu.

Trus apa yang jadi masalah?

Pertama, dengan perubahan status itu apakah ada perubahan tertentu pada diri kita dan sekitar kita? Kebanyakan yang bikin risih adalah ketika perubahan itu membuat orang akan memberi atensi lebih terhadap kekurangan kita atau kesalahan yang kita perbuat.

“Eh masa aktivis dakwah begini, begitu, bla bla bla”, salah satu sindiran yang mungkin akan kita jumpai.
Kita ngapain dikit aja, status juga dibawa-bawa. Alhasil ngerasanya nggak bebas, terbebani, terkekang. Iya nggak?

Tapi jangan takut kawan, mungkin memang banyak anggapan awam bahwa LDK adalah kumpulan orang suci yang sempurna dalam segalanya. Padahal, tidak akan pernah ada manusia yang sempurna kecuali yang ditakdirkan Allah ada pada diri seorang Muhammad khan ya :D .

Dan nyatanya, LDK bukan kumpulan orang-orang yang terbaik, karena LDK adalah kumpulan orang berusaha menjadi lebih baik. Lebih baik dari tahun lalu, lebih baik dari kemarin dan lebih baik dari hari ini.

Jadi ngga ada alasan ngerasa ngga perfectlah, ngga panteslah, ngga matchinglah buat masuk LDK dan jadi ADK cuy. No reason, that’s it.

Mau mantesin diri dulu? Sampai kapan sob? Kita bahkan tidak tahu kapan masih diberikan kesempatan yang sama. Setiap detik-detik yang kita lalui, tidak pernah ada 0 persen peluang kita terhindar dari maut. Belum juga berbagai nikmat seperti kesehatan, waktu luang, dan bahkan nikmat iman, naudzubillah jika kehilangan yang satu ini, yang Alhamdulillah hingga saat ini bisa kita rasakan.

Ga usah nunggu suatu hari nanti, kalau sekarang bisa kenapa nggak?.

Coba tengok, apakah setelah menjadi ADK ibadah kita makin rajin, apakah sikap dan tingkah laku kita makin terjaga, apakah kita lebih berhati-hati dari perbuatan yang mungkin akan berbuah dosa, dan hal lainnya yang positif. Jika semua hal itu memang terjadi, disinilah yang harus kita takutkan kawan. Kita beribadah karena status sebagai ADK atau ketika berbuat baik karena jaket LDK yang kita pakai, dan itu terus menerus hingga kita lupa untuk melakukannya karena Allah.

Lagian bukan tugas aktivis dakwah atau ulama aja untuk berdakwah, namun semua muslim juga  khan
Mungkin di awal kita tertarik mendalami agama, berbuat baik dan bertingkah laku islami lainnya terkesan “dipaksa” karena tuntutan aktivitas LDK, namun Insha Allah dengan keikhlasan dan ketulusan akan ada taste yang berbeda nantinya. Allah ngga akan pernah menjauh ketika ada umatnya yang mendekat bukan?

Lagian masalahnya memang bukan perubahan status itu sih, ataupun sikap orang lain ketika menyikapinya. Namun masalahnya ada pada diri kita menghadapi perubahan status itu dan sikap orang lain ketika menyikapinya. So, ngapain ngeracunin pikiran ama hal-hal parno tentang LDK.  

Inget sob, hidayah itu ngga dateng sendiri. Kita musti cari, kalaupun ada di depan kita n kita diemin aja ya sama aja boong, cupslah.


Yuk bareng-bareng menjadi lebih baik lagi.

Don’t say to yourself, “I wish I was a better muslim”. No. Become it. Do it ! (Aneesah for IslamoGraphic.com)


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka”, (QS Ar Ra’du : 11)

Larilah hanya menujuNya.
Meloncatlah hanya ke haribaanNya.
Walau duri merentas kaki.
Walau kerikil mencacah telapak.
Sampai engkau lelah.
Sampai engkau payah.
Sampai keringat dan darah tumpah.
Maka kekhusyu’an akan datang padamu ketika engkau beristirahat dalam shalat.
Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat.
Lalu kau pun pasrah, berserah.
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia PASTI melihatmu!
(Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah)