Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Jumat, 22 Februari 2013

Payback

"It's asking for payback", he shouted it loudly. I just can breath slowly and trying to face up what happened actually.

A bad circumstance.

"Do you have ever tried to fix something but it means nothing?"
"Yes, of course. I'm experienced for some kinds of motion like this. This means nothin', you see. You'll meet the worst. And surely..."
"Bruuuk", he just fell down with my weak punch.
"What the....... ", "Bruaaak", he gave me a hard counter. My nose's blooded few minutes after.

"So, you wanna fighting me?", said him clearly.
"Just stop it. You talk too much. I'm sick of this", answered me directly.
 Suddenly, he pointed at me. With his finger he touch my blood that comes out and drops slowly to the ground.

"It's payback. You know all of this will be happen, but you remain stupid. You know you'll hurt when you're attack me, the other person in your head, but you keep doing it. So it's payback.

"When you know it clearly, make your knowing be useful to be known".


Jumat, 15 Februari 2013

Miapah Kamoe Koeliah?


Waktu kian terasa cepat berlalu. Detik-detiknya seakan beriringan dengan aliran darah yang menyebar ke segala penjuru. Tak terasa, apalagi di kala kesibukan bergemuruh.

Sedari pagi, Dani hanya menyepi di kamarnya. Sendiri. Hanya ditemani lembaran demi lembaran catatan dan latihan soal. Separuhnya hasil fotokopi, sementara sebagian kecil lainnya hasil goresan tangannya sendiri. Semester ini ia bertekad untuk lebih baik lagi. Tekad yang sama seperti sebelumnya dan selalu mengemuka jelang ujian tiba.

“Dosen semester ini menyebalkan banget ya”, ujar Toni di perjalanan menunggu kelas.

“Kok bisa?”

“Yah gitu, udah banyak yang telat, eh nelat ding. Trus ngajarnya ngga jelas lagi”, sambungnya menggerutu. Dari mukanya Dani hanya bisa mengerti betapa sebal temannya yang satu ini.

“Mungkin hanya oknum dosen yang gitu Ton”, balasnya, mencoba menenangkan.

Sementara mereka telah sampai di ujung kelas. “Tuh liat sendiri khan”, deru Toni seraya menunjuk pengumuman yang ditulis di papan kelas.

“Kelas hari ini ditiadakan. Kelas pengganti akan didiskusikan di pertemuan selanjutnya”, begitu isinya.

“Ahhh sialaah, gw udah mandi pagi-pagi nyampe sini dosen malah ngga dateng”, kata Toni dengan kesalnya.

“Yaudah kita makan aja deh”

“Iya nih, gw bela-belain nahan lapar demi kelas pagi”.

Dani enggan ikut menggerutu seperti Toni tadi. Entah mengapa, ia lebih tertarik mengikuti kata-kata kak Salman, rekan mengajinya atau biasa disebut murobbi.

“Apakah jadi datang sang dosen bila kita mengumpat sekalipun? Tidak. Bahkan bisa memunculkan benih-benih kebencian kita kepada mata kuliah yang sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Mata kuliah tersebut adalah ilmu. Ilmu datangnya dari Allah. Sesuatu yang berasal dari Allah adalah kebaikan. Maka mengapa kita malah mencoba memunculkan kebencian terhadap kebaikan?” kata beliau ketika itu.

“Lalu ketika menerima sang dosen apa adanya, dan membuat kita lebih giat berusaha, apa salahnya?”

.................................................................


Miapah kamue koeliah?

Jika ditanya seperti itu, pasti akan dijawab demi masa depan yang lebih baik, demi orang tua, demi mensyukuri nikmat Allah berupa kesempatan untuk kuliah, dan yang paling parah jawab “miamu donk ayang”. Hueks alays gilak haha

Intinya semua kita lakukan demi mencapai kebahagiaan di masa yang akan datang. Itulah yang Dani dapatkan dari seorang teman yang ia kenal dari dunia maya.

“Makanya nikmatin aja kuliah. Bikin kuliah loe juga happy”, katanya.

“Ihh ngga lulus-lulus donk gw nanti. Ogah ah”, kilah Dani.

“Dunia itu ibarat penjara bagi orang-orang sukses. Jika memang kuliah membuat kita terpenjara, ya wajar jadinya. Hahaha”, celetuk Dani di depan teman-teman kelas sambil menunggu dosen tiba.

“Ihh ogah ah, gue hidup cuman sekali. Kemanapun enaknya ya happy”, kilah seorang temannya.

“iya, udah kuno begituan Dan. Sekarang ngga musti susah-susah juga kali. Peluang usaha banyak ngga hanya di bidang yang kita kuliahin”

“Emang kalo usaha juga udah pasti berhasil gitu”.

“Hahaha, kalo gagal ya tinggal minta backup dana bonyok dah haha”

“zzzzzzzzzz”

..................................................................................

“Kak, menghadapi dosen yang malas-malasan itu gimana sih? Dani ngga mau mengeluh sebenarnya, tapi khan beliau dateng selalu telat. Ngajar ngga pernah enak. Kuisnya dadakan, dan PR banyak namun ngga tau hasilnya. Udah dijadiin bungkus kacang kayaknya tuh PR. Jadinya ikut malas bawaannya untuk belajar sendiri.

Kak Salman tersenyum mendengarnya. Tadi Dani memang menginformasikan untuk datang lebih awal sehingga bisa berkonsultasi.

“jadi ingat tentang senior kakak nih Dan. Seperti hadist yang kita pelajari pekan lalu bahwa dunia itu seakan penjara bagi orang-orang mukmin, nah ini bisa nguati juga Dan.

“Ia kak, apaan tuh?”

“Di atas cobaan yang kita hadapi, pasti ada yang menghadapi cobaan yang lebih dari kita. Kamu tahu itu khan?

“Iya kak tahu”

“Nah, yang bikin kita bisa move on dengan mudah tuh ya kecepatan awal kita bisa melaju sampai saat ini karena tinggal ngatur ngasih percepatan berapa aja agar sebanding dengan perlambatan.”

“hah, apaan kak maksudnya. Fisika banget T.T “

“jika kita melaksanakan kuliah dengan niat yang tepat, harusnya faktor dosen ngga jadi masalah lho”

“hmmm, kok gitu”

“Yah, karena ngga ngaruh. Terserah mau dosen gimana, yang penting kita tetap berusaha karena ada hal lain yang selalu membuat kita sedemikian rupa”.

“Nah apaan tuh kak?

“Itu yang kita bahas hari ini. Nanti deh tunggu temen-temen lainnya ya”

Zzzzzzzzzzzzz

Demi apa kuliah? Demi deretan A yang memesonakah saja? Atau mencoba melakukannya untuk hal yang lebih besar lainnya? 
Melakukannya demi yang memberi kita nikmat sedari membuka mata di pagi hingga menutup mata di kala petanglah jawabannya

Selalu ada jalan, dan tidak pernah ada yang tidak mungkin untuk-NyaDan sekarang tergantung saya, karena berpangku tangan dan berjuang takkan pernah sama


Begitulah Dani tulis di resume liqo’nya hari itu.

Kamis, 14 Februari 2013

Apa kabar Ksatria?


Apa kabar ksatria?
Masihkah ingatkah cerita lama
Akan mimpi-mimpi sederhana
Yang sekarang sudah sehasta kita raih bersama

Aku memulai cerita ini dengan ucapan selamat kepada SMA kita tercinta yang merayakan ulang tahunnya.

Dirgahayu SMA-ku,
semoga semakin jaya selalu
tetaplah menjadi pintu
bagi generasi pembaharu
yang ingin merajut asanya dengan ilmu
dan prestasi yang membanggakan kota kecilku


 Tiga tahun berlalu. Hari yang sama waktu itu, kita pasti sedang riuh jelang Bondan n Fade 2 Black yang akan menggelar konser. Rangkaian acara kala tu dihelat untuk mensyukuri eksistensi sekolah yang tlah 33 tahun lamanya. Tak terasa, sudah ke-36 sekarang rupanya. Makin tua yah kita. Hehehe

Tetapi intinya, tiga tahun tlah berlalu. Kita telah tersebar ke segala penjuru. Jakarta, Bogor, Bandung, Malang, Jogja, Surabaya, Malang, Jember dan kota-kota lainnya tempat kita mengadu. Lalu bagaimana kabar tanah rantau? Masihkah ia sering menjadi galau?

Keras. Jika memang merasakannya, maka aku yakin semua mengalaminya. Baik yang melanjutkan kuliah, ataupun langsung bergelut di dunia kerja. Keras. Yah, dunia memang keras. Dimanapun, bagi yang masih menetap di kota kita sekalipun. Maka jangan pernah meremahkan siapapun. Karena semua ini belum berarti apapun. Jika setuju, tunjukkan senyum indah kalian kepada deretan kata-kata didepanmu. J

Apapun keluhannya, ketahuilah di luar sana. Ada yang mendapatkan yang lebih dari kita. Cobaan, halangan, rintangan silih berganti menerpa. Dan sebuah solusi takkan pernah berubah selain sabar dan tetap jalani apa yang ada. Solusi indah hanya akan datang bagi para ksatria yang takkan turun dari kudanya, dan tetap berjuang melawan musuh-musuh yang ada bukan? J

Lalu, bagaimana dengan targetmu?

Tiga tahun berlalu. Bagi yang D3 pasti sudah tinggal sejengkal meraih gelarnya. Dan S-1 sudah persiapan mengambil gelar sarjana. Tapi apakah selesai begitu sajakah?

Belum!
Jika ingat, bak kisah Habibie dengan Indonesia, apakah kita memiliki hal serupa dengan Lumajang tercinta. Yah kisah klasik. Dulu, pasti menginginkan bisa berguna bagi kota kecil kita. Entah bagaimana. Ingin melihatnya lebih sejahtera, makmur, dan lebih baik dari sedia kala. Tapi yah, entah bagaimana.

Visioner!
Jika masih bingung janganlah bimbang dan hanya termenung. Yuk nikmati peran yang ada sekarang saja. Mahasiswa, lulus dan membanggakan semuanya. Tentunya, bukan dengan berpangku tangan dan berdiam pasrah. Karena Ksatria takkan pernah melakukannya. Sekalipun lelah, bolehlah sesekali merebah, namun jangan sampai berubah. Cita-cita kita masih ada. Jalan panjang harapan yang tidak ada putusnya. Bidang apapun sama. Sama-sama berguna dan bermanfaat maka jangan pernah merasa tidak bisa.

Yah nikmatilah. Jungkir balik, jatuh bangun, hingga ngesot sekalipun. Ini masanya.

Lalu kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk kisah klasik kita.

Tetap berjuang, dan sampai jumpa kala kesuksesan kita genggam
Salam J

Sabtu, 05 Januari 2013

Sejumput Noda


Suatu hari, di dua ribu sepuluh.


Tepat di angka delapan. Jam di telepon genggamku malam itu.

"Eh, si kakak. Ngga nyapa ih", ujarnya seraya membuatku menepi.

"Oh, kamu. Darimana?", tanyaku berbasa basi. Ia hanya membalas dengan senyum dan dia beranjak pergi. Meninggalkanku dengan jalanan sempit yang biasa ku lalui.

"Dasar ababil GJ", pikirku dalam hati. "Perempuan, tingkahnya susah dimengerti", terkaku kembali.


----------------------------------------
The next days

TPA hari ini cukup ramai seperti biasa. Namun sosok adik yang menyapaku kemarin tak tampak. Mengapakah? Ketika kutanya, yang lain tak ada yang mengetahui jawabannya.

Ah biasa. Kucoba memakluminya. Sedikit memaksa. Ia sudah remaja. Pastilah lebih mengerti mana yang benar dan salah. Dibandingkan bocah-bocah di depanku yang beraneka rupa kenakalannya.
Demikianlah, sederet pikirku yang mengemuka. Dan perhatianku pun teralihkan oleh anak-anak lainnya.

Jika dipikirkan susah memang. Ketika kita dituntut memberikan perhatian sedemikian rupa bagi puluhan anak-anak yang ada. Tak sendiri?. Ya, aku memang bersama beberapa mahasiswa menjadi teman belajar mereka selepas senja beranjak pergi. Di musholla kecil itu, kami mencoba mengais sedikit ilmu. Berharap bisa menjadi bekal bagi anak-anak lugu yang menjadi generasi harapan di kemudian waktu. Namun....



----------------------------------------

Tahukah kawan, menjadi mahasiswa bukan perkara yang mudah.
Memang, kuliah, amanah dan lain sebagainya jika itu kau jadikan dalih semua atau salah satunya.
Tetapi anak-anak kecil itu, tak semua mengerti walaupun tlah mencoba.
Baginya kita cukup istimewa, bukan sekadar orang terpilih dan terpilah.
Namun ada kekuatan yang menggerakkan hati kita.
Karena itulah kita bergerak bukan, wahai kawan?
Lalu apakah itu kawan?
Masihkan itu ada dalam genggaman?
Jangan sampai ia menghilang dan menjadikanmu menoreh sejumput noda seperti yang kutinggalkan.
----------------------------------------

Sejujurnya aku merasa istimewa bila bercengkerama dengan mereka. Namun keistimewaan semu yang dirasa, akan segera dilibas jenuh, emosi dan berbagai halang rintang yang membuat hati enggan bertahan.

Mungkin bagi kita kawan yang mau menyisihkan waktu, bisa merasakan status menjadi pengajar. Atau jika diistilahkan, jadi murabbi kecil-kecilan. Walaupun sebenarnya terkadang ilmu yang kita ajarkan, belum tentu sudah benar kita resapi dalam-dalam sebelum kita celotehkan di khayalak raut muka para generasi harapan. Iya bukan? Namun, jangan pernah meremahkan. Atau kita hanya akan menuai sejumput noda, yang kan sulit terhapuskan.

Waktu bergulir.

Adik perempuan tadi masih enggan menampakkan kembali di TPA kami.
Ku pinta pengajar perempuan menanyakannya, namun tak menuai hasil. 
Kami terlalu sibuk mungkin. Dengan anak-anak yang lebih kecil, riang dan usil. Suasana TPA lebih ramai oleh mereka. Sementara yang remaja, seakan mendapat waktu sisa. Dan tenaga kami belum cukup menampung semuanya.

Sekadar tahu saja, dia adalah sosok yang cukup rajin sebenarnya. Ia cukup pandai mengajinya, hafalan pun lumayan, dari segi prestasi cukup menggembirakan. Dan dari situ mungkin kami terlena melakukan penjagaan.

------------------------------------
The next other days

"Eh, kok nggak ngaji lagi?", tanyaku suatu hari. Kami berpapasan. Rumahnya memang dekat dari musholla kecil kami.

"Errr, banyak tugas sekolah kak, hehehe", kelitnya. Ia beranjak pergi.

"Terlambatkah?", pikirku menyeruak. Mungkin juga. Sebelumnya aku memilih tak terlalu peduli, dan kini seketika ingin sedikit berbagi seakan canggung pun menyergap di hati.

"Ah pura-pura peduli, ah basa-basi, aahhhh"

Aku mencoba menenangkan diri. Mencoba mengurangi prasangka negatif tentang apa yang ia pikirkan terhadap kepeduliaan yang tampak tiba-tiba. Namun ternyata, alasan demi alasan membuat ia perlahan benar-benar tak kembali ke TPA kami.

------------------------------------

Sebaik-baik kata ketika menyapa. 
Apabila tergantikan oleh senyuman. 
Terdiam. 
Tetap saja, terekam diam.

-------------------------------------

The next other days

"Hei... Assala..", sapaku sembari terkejut melihatnya.
"Ia membalas sapaanku dengan hanya tersenyum malu seperti biasanya. Namun kini, sedikit berbeda.
Tak lagi tampak kain melindungi mahkotanya.  

"Mungkin lupa, mungkin dicuci, atau mungkin...", ah apapun aku mencoba berbaik sangka. Memang sih, dia telah mengaji di TPA jauh sebelum aku ikut mengajar disini. Jadilah pasti senior-senior yang ku ketahui sendiri jauh lebih baik, memberikan sesuatu yang berbekas di hati.

Perlahan, jilbabnya mulai lebih sering ditanggalkan ketika kami berpapasan.
"Hmm, mungkin dia sudah mulai puber", pikirku mencoba memahami. Memang, beberapa orang terkadang menganggap jilbab adalah penghambat bagi kecantikan. Namun sayang sekali jika dia berpikir demikian. Sayang sekali.

-----------------------------------

The next other days

"Ih kak Faisal", ujarnya sambil berlari dengan temannya yang juga makin jarang kelihatan mengaji akhir-akhir ini.

"Hei kok....", belum selesai aku berkata mereka telah meninggalkan jejak saja.

Hari demi hari berlalu, dan perlahan tahukah kawan apa yang kurasakan?

"Ah biarlah, ah lelah, ah jemu"

Semakin sering dan sering aku menjumpainya di sekitaran musholla ketika waktu mengaji tiba.
Tetapi sang waktu kian berlalu dan minim interaksi seakan membuat jarak diantara kami menengadah jauh. Sesekali kulihat dia asyik dengan sinetron di televisi.

"Ah memang sinetron remaja lepas maghrib makin seru akhir-akhir ini", pikirku.

Suatu ketika juga, kulihat rumahnya bergemuruh dengan suara musik walaupun maghrib baru saja berlalu.

"Hmm anak muda. Dia menggemari musik sepertiku dulu", pikirku.

Di lain waktu juga kutemui dia di teras rumah sedang bersenandung ria, bercengkerama dengan temannya. dan aktivitas lainnya.

Dan satu hal yang perlu dicatat.
Lidah ini seakan kelu.
Sedikitpun tak ada sapaan atau salam seperti yang terdahulu mampu tercuap meski sebenarnya hati merasa rindu.

------------------------------------------

Suatu ketika di dua ribu dua belas.

Azan maghrib memanggil. Sayup-sayup merdu mengisi ruang hati yang ikut menggigil. Bandung hujan malam ini. Bergegas ke MSU setelah dari seharian menikmati kuliah.

Setelahnya, beranjak ingin mengajar setelah beberapa lama tidak sempat karena berbagai kegiatan tak terduga.

"Hari apa ini?", pikirku. TPA kami memang memiliki jadwal rutin setiap hari. Dan pergi kesana biasanya aku tak lupa menyiapkan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan untuk hari itu.

Di plaza MSU kulihat, sesosok muda-mudi berduaan.

"Ah ini pasti malam Minggu", seketika terkaku.

Namun kulihat si pemudi itu berpakaian tak terlalu tertutup untuk udara sedingin itu. Sang pemuda justru lebih terlihat nyaman dengan jaketnya. Mereka duduk, berpegangan tangan.

"Oh saling menghangatkan, hehehe", pikirku.

Perlahan, pandanganku yang sedari tadi samar-samar menjadi lebih jelas.

Aku hanya bisa tertegun ketika yang kulihat adalah dia. Sosok adik perempuan yang tak lagi mengaji di TPA kami. Sesaat aku baru menyadari, selama ini aku menjadi saksi pasif perubahan yang dia alami.

Sedari awal ia enggan mengaji, karena keterbatasan perhatian pengajar hanya untuk yang kecil saja. Ia lepaskan jilbabnya. Pelan hingga aku semakin sering melihatnya tanpa jilbab kecuali ketika sekolah. Lalu perlahan pula berubah dari pakaiannya yang semakin lama semakin terbuka. Dan lainnya, lalu lainnya. 

Dan kini, aku melihatnya berdua dengan lelaki tak jelas asalnya dengan menggunakan pakaian sedemikian saja? Harusnya di jam ini, dia mengaji di TPA bersama kami.

Astaghfirullahaladzim...

Mana Quran yang senantiasa ia baca dengan semangatnya ketika dulu awal aku mengajar disana?
Mana jilbab yang biasa menjaga kecantikannya tuk tidak diumbar kemana-mana?
Mana sikap pemalu yang dia jaga?

Aku hanya bisa menangis dalam hati. Itukah sejumput noda yang kutinggal di masa lalu. Enggan kubersihkan karena malu. Dan kondisinya kini seperti itu?

T.T

Jujur kawan, aku bingung bagaimana memperbaikinya. Bingung darimana memulainya.

Mana orang tuanya?

Mana sekolah yang mendidiknya?

Mana saudara saudarinya?

Apakah lepas mengaji mereka biarkan ia sedemikian rupa?

Dan tahukah kalian. Salah satu sejumput noda itu tidak akan hilang dengan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Justru ketika enggan membersihkannya di muka, noda itu akan semakin menempel dan susah tuk kembali sedia kala. Maka setengah-setengah, dan apapun yang kita rasa, tahukah kalian apabila itu hanya menimbulkan sisa maka berhati-hatilah.

Keberanian adalah salah satu cabang dari kekuatan. Dan ilmu menjadikan keberanian bisa terukur sebagaimana mestinya.





Keluarga kecil kami :)
--------------------------------------------------

Kisah kecil tadi mungkin hanya contoh.

Adik-adik kita sekarang tlah semakin banyak yang menginjak masa remaja.
Mereka berada di jalur persimpangan yang akan bisa banyak mengubah dirinya.
Jangan berhenti.
Misi ini sederhana, tetapi tak semudah mengucapkannya dengan lisan ini

Perubahan itu memang takkan serta merta
Seperti cerita tadi, perlahan demi perlahan
Mereka pasti berubah
Yang harus kita lakukan hanya cukup meminimalisir perubahan ke arah yang kurang baik
Dan menumbuhkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Selamat berjuang,
Generasi penerus pengajar TPA Al Ikhlas

Khususnya angkatan 2012


Minggu, 16 Desember 2012

Mengikat Makna Cinta, Dari Lelaki Biasa


Diantara buku perpustakaan yang membuatku terkesan, inilah salah satunya. Buku kumpulan cerita pendek ini ku baca beberapa bulan yang lalu. Yang jelas, ketika aku membacanya aku tertarik pada kisah Nania dan Rafli, dalam salah satu cerpen berjudul “Cinta Laki-Laki Biasa”, oleh penulis yang namanya tak asing lagi, Asma Nadia. Meskipun di dalamnya sebenarnya banyak cerpen lain yang tak kalah memesona, ceritanya yang tentang cinta seorang laki-laki biasa begitu istimewa. Mungkin karena pas sekali bagiku dan mungkin kalian laki-laki yang menganggap diri kalian hanya seorang biasa.

Cerita ini dimulai ketika suatu hari, Nania menceritakan kepada keluarganya bahwa Rafli ingin melamarnya. Saking mantapnya, ia lakukan itu ketika semuanya berkumpul dalam sebuah acara keluarga.  Namun respon kurang setuju ditunjukkan keluarganya. Dari mulai Papa, Mama, hingga ketiga kakaknya.
Tahukah kalian, Nania adalah seorang istimewa di banding kakak-kakaknya. Asma Nadia menggambarkannya sebagai sosok yang berprestasi nan rupawan. Dari mulai menyanyi, hingga menjadi prestasi di pendidikan. Ketika aku membayangkan, lemarinya  pasti dipenuhi beragam jenis piala penghargaan. Dengan kondisinya, ia sebenarnya bisa memilih lelaki mana saja yang disukainya. Pasti. Siapa pula lelaki yang tidak ingin mendapatkan anugerah sepertinya. Karena semua hal istimewa yang dimilikinya, Nania pun menjadi buah anak emas orang tuanya. Mungkin karena itu mereka tidak akan menyerahkan anak bungsunya ke sembarang lelaki, apalagi kepada Rafli.

Sementara sosok Rafli tak asing lagi. Teman Nania ketika kuliah. Tidak tampan, dan tanpa prestasi seperti Nania. Pendidikannya pun biasa. Tak ada prestasi luar biasa. Keluarganya juga tidak kaya raya. Benar-benar biasa. Tidak cukup istimewa. Tidak cukup pantas untuk sosok penuh talenta seperti Nania. Dan keluarga Nania tak bisa menerimanya. Seakan terlalu jauh level diantara keduanya. Tidak hanya orang tuanya, namun ketiga kakaknya juga berpendapat sama. Nania pantas mendapat yang lebih baik, kata mereka.

Hari itu, Nania sampai kehabisan kata-kata ketika hendak kembali membela Rafli. Sama seperti hari demi hari kemudian ketika pembicaraan mereka mengarah ke arah Rafli. Kembali dan kembali. Nania dihadapkan pada kondisi tersudutkan. Ia tak memiliki bukti yang bisa membuat Rafli tampak luar biasa, dan istimewa. Karena Rafli memang demikian adanya.

Bayangkan, jika berada di posisi Nania. Kita dengan kelebihan yang kita miliki, justu dicintai seseorang yang biasa. Dia mengungkapkan keseriusannya. Padahal lebih banyak yang di luar sana lebih istimewa. Namun pada akhirnya, keteguhan hatinya membuatnya bertekad bulat untuk menerima pinangan Rafli. Di sisinya ia merasa bahagia. Dan pernikahan pun dilaksanakan keduanya.

Entah apa alasan Nania. Aku hanya bisa menerka. Apa mungkin dia berfikir, setiap orang yang memiliki kelebihan luar biasa, dan mencari pasangan yang juga luar biasa tidak akan merasakan cinta seutuhnya? Ya, mungkin akhirnya cinta ia pilih karena kelebihan itu. Sementara Nania pasti tahu, segalanya adalah semu.
-----------------------------
Setahun setelah pernikahannya, Asma Nadia menceritakan dengan narasi kata khasnya bahwa Nania masih dihadapkan pada kondisi serupa. Orang-orang, bukan hanya keluarganya bahkan, tetap bertanya mengapa Rafli menjadi pilihannya. Tidak sepadan, mereka bilang.

Ketika Nania berkilah, “tidak ada yang mencintaiku seperti halnya dia”. Kebanyakan tetap bersikukuh, lelaki manapun akan dengan mudah mencintainya. Nania pun hanya bisa pasrah. Susah meyakinkan mereka, bahwa Rafli adalah takdir terbaik yang diberikan Allah untuknya. Memang di luar sana pasti ada lelaki yang lebih memiliki kelebihan, prestasi dan apapun yang memang membuat jatuh hati wanita. Namun tidak pada Nania. Rafli telah menjadi pilihan hatinya. Melalui istikharah, ia merasa Allah ikut memantapkan pilihannya. Jadilah pilihan itu yang tak bisa digugat siapapun juga.

Sebuah keteguhan yang luar biasa menurutku. Apa yang dilihat Nania dari seorang Rafli? Bahkan ia tak punya banyak bukti yang membuat orang terkagum kepadanya. Nania teguh pada prinsipnya. Pada pilihannya.

Perlahan, waktu pun berlalu hingga tak terasa telah menginjak lima tahun saat ini. Nania dan Rafli telah dikaruniai dua buah hati. Mereka hidup lebih berbahagia kini. Rafli berusaha bekerja lebih giat lagi. Meski nyatanya, gajinya pun masih tak seberapa di banding Nania yang memiliki karir lebih memesona.
Syukurlah, kondisi tidak membuat keduanya terpecah belah. Rafli selalu belajar berlapang dada. Sementara Nania selalu berhati-hati agar tak sampai menyinggung perasaan lelaki yang dicintainya. Mereka menjaga satu sama lain. Saling menguatkan dan menenangkan ketika masalah hadir. Kata-kata sejuk Asma Nadia gambarkan tentang kondisi keluarga Nania. Benar-benar kesan sakinah dan penuh bahagia dilukiskannya dari setiap kata.

Sementara di luar, orang-orang masih menganggap Rafli orang yang sangat beruntung. Benar-benar beruntung hingga mendapatkan Nania. Seorang yang biasa, tidak sedikitpun nampak istimewa meski juga tak terlalu buruk perangainya. Jika aku menjadi Rafli, pasti tekanan ada di sisiku. Setiap jalan berdua, tetangga bergunjing yang membuat telinga merah. Berkunjung ke rumah keluarga, tidak mendapatkan perlakuan yang begitu ramah. Bagaimana apabila kalian mengalaminya? Pasti tidak nyaman juga khan ya?
Untunglah Nania selalu menguatkan Rafli. Sembari ia terus kuatkan dirinya kepada Sang Ilahi, dari perkataan macam-macam orang yang mendengki. Tidak peduli kata orang, bagi Nania, Rafli istimewa. Cintanya utuh. Tiada terbagi, ataupun semu.

Cerita ini berlanjut hingga tahun ketujuh sejak pernikahan. Kehidupan Nania semakin sempurna. Karir di kantornya perlahan namun pasti, semakin menanjak seiring profesionalisme yang disokong kepandaian yang memang dimilikinya. Anak-anak tumbuh dan berkembang setiap harinya, tentunya dalam pengawasan sempurna sosok Rafli juga sebagai kepala rumah tangga. Gaji Rafli kini, tentu kian tak bisa menandingi apa yang Nania miliki. Tetapi, hal itu tak menjadikannya masalah yang berarti. Mereka berdua saling percaya, saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Termasuk dalam bekerja. Percuma rasanya, menumpuk banyak harta sementara kebahagiaan keluarga tak terasa.
Bagaimana menikmati sejenak kisah Rafli? Seorang biasa yang mendapatkan sosok istimewa? Merasa iri? Tahan dulu iri kalian hingga menyimak kisah mereka saat sepuluh tahun sudah mereka kini menikah.
Nania sedang hamil anak ketiganya. Seperti sebelumnya, Rafli kian memperhatikannya. Seperti “suami siaga, siap antar jaga” jika kita melihat iklan Dinas Kesehatan. hehehe

Makanan, istirahat dan segalanya ia atur sedemikian rupa agar sang pujaan hati mendapatkan perawatan terbaik hingga sang jabang bayi membuka mata dan melihat indahnya dunia. Namun kali ini, semua tak berjalan seperti dua kali persalinan sebelumnya. Kandungan Nania tidak normal. Itulah yang membuatnya perlahan-lahan harus meninggalkan karirnya yang berada di puncak dengan mengikuti perawatan. Mendekati ke bulan sembilan, sang bayi tak jua ada tanda-tanda keluar. Operasi pun akhirnya dilakukan. Kalau tidak, nyawa sang bayi dan ibunya akan terancam.

Disinilah detik-detik mengharukan dimulai.

Beberapa jam sudah pintu ruang operasi masih tertutup. Dokter dan perawat yang sedari tadi tak jua keluar. Rafli hanya terduduk diam. Quran kecil yang dia baca biasanya hingga Nania bisa terlelap tak kuasa ia baca. Tangannya gemetaran. Dzikir terus ia lantunkan perlahan. Di sampingnya ada Papa dan Mama dengan raut wajah sama penuh kekhawatiran. Sementara ketiga kakak Nania bergantian datang dan pergi.
Beberapa lama, dokter telah keluar dan mengonfirmasi selesainya operasi. Bayinya lahir selamat dan sehat. Namun, Rafli mendapati bidadarinya dengan kelopak mata yang enggan membuka. Nania belum sadar. Belum bisa sadar.

Empat hari kemudian, sang bayi sudah bisa dibawa pulang. Namun Nania tidak demikian. Ia masih terbaring di atas ranjang. Koma. Tak sadarkan diri. Entah kenapa, mungkin karena kodisinya ketika melahirkan terlalu lemah. Atau memang kehendak Allah yang menguji Rafli dan keluarganya.
Setiap hari Rafli mengunjungi Nania. Diajaknya bicara istrinya. Walau tak jua menyahut kata-katanya. Ia tetap bercerita. Diceritakannya kondisi di rumah. Anak-anak yang kini kondisi bagaimana. Sekolah mereka. Makanan mereka. Dan kerinduan mereka akan sosok Ibunya.

Pasti jika menjadi Rafli kita memilih membayangkan kondisi seperti ini tak mungkin terjadi. Namun ketahuilah, apapun yang belum terjadi belum tentu juga tidak akan terjadi.

Hari demi hari, Nania masih tak sadarkan diri. Tak terasa, rindu demi rindu pun mengisi relung kalbu. Ia tak bisa membayangkan, wajah yang terbaring di depannya akan meninggalkannya selamanya. Rafli masih semangat untuk datang rutin setiap hari. Sementara kondisi Nania hingga pekan kedua tak menunjukkan perkembangan berarti.

Asma Nadia menggambarkan perasaan tidak karuan Rafli yang menyakitkan. Tak bisa kubayangkan memang. Namun tampaknya kehilangan sosok yang dicintai segenap hati benar-benar menyakitkan. Sakit. Lebih dari ketika sakit ketika akibat monyet ala remaja. Lebih galau dari mahasiswa ketika soal ujian susah di depan meja.

Perlahan, Rafli belajar untuk pasrah. Memang, Nania telah sebulan kini tak kunjung membuka mata. Andaikata ia putri tidur, dengan kecupan saja pasti kan segera bangun. Sayangnya kecupan Rafli tak bisa membangunkannya. Ayat-ayat cinta Allah yang dibacakannya dekat Nania juga sama. Rafli hanya bisa mengeluarkan airmata. Yang juga tak bisa membangunkan Nania.
Hingga hari ketiga puluh tujuh sejak persalinan saat itu. Akhirnya Nania membuka mata. Ia langsung dihadapkan pada sosok Rafli yang berlinang airmata. Namun kini kondisinya tidak seperti sedia kala.
Sahabat. Apabila kalian dihadapkan pada kondisi Rafli, mendapatkan sosok istri yang luar biasa pastikan sanggup dengan lantang mengucap kata setia bukan? Tetapi kondisi Nania kini begitu menyedihkan. Tak lagi luar biasa. Bahkan untuk mengurus diri sendiri kini dia tidak bisa. Nania lumpuh. Total seluruh tubuh. Dan disinilah sosok yang dikatakan biasa itu membuktikan cintanya.

Rafli mengurus semuanya. Ketiga anak-anaknya, dan Nania yang tak bisa bergerak dari kursi rodanya. Walaupun dia bisa memilih bercerai dan menikah lagi. Karena pastinya mengurus tiga anak dan seorang istri yang cacat tak berdaya juga perlu pengorbanan yang tidak sedikit adanya. Keluarga Nania pun saya duga bisa tahu diri, ketika awal mereka enggan merestui karena kondisi Rafli, pastilah kondisi Nania saat ini juga bisa membuat kata “cerai” bisa dimengerti. Namun tidak demikian ternyata khan?

Bertahun-tahun lamanya, Nania mendapat cemoohan karena suaminya yang tak istimewa sepertinya. Tetapi itu tak cukup lama, dibandingkan decap kagum pengorbanan untuk tetap setia pada di puluhan tahun setelahnya. Cintanya sama, tak sedikitpun berubah.

Rafli membuktikan cintanya yang luar biasa, walau ia hanya seorang yang biasa. Ia mencintai Nania bahkan ketika Nania kehilangan semua yang istimewa. Jelas terbukti, ia benar-benar mencintainya karena Illahi, bukan semata-mata cinta karena pesona kelebihan yang dimiliki.

Dari sini aku mendapatkan banyak hikmah. Salah satunya ialah, mungkin kita semua ingin mendapatkan yang istimewa. Cantik parasnya, cerdas otaknya, dan apalah terserah. Semuanya tidak salah. Benar-benar tidak salah. Namun pertanyaannya adalah, bagaimana kita melihat hakikat mencintai? Akankah ia suci tuk terus bertahan sehidup semati? Atau hanya semu bak debu yang dengan mudah tertiup angin kecil. Mari terus benahi diri agar nanti biasa mempertanggung jawabkan cinta yang kita miliki. Bukan hanya dengan lisan, tetapi hati dan perbuatan.

by Raffa Muhammad, nama Pena dari M. Faizal Ramadhan, 111100075, Telecomunication Engineering '10

Minggu, 18 November 2012

Mimpi Kita Bersama




November 19, 2012

Semua ini bermula bukan setelah kita tahu nama kita telah tercantum disana. Berurutan, dan tersusun rapi menghiasi nama pengurus organisasi ini.

Tetapi jauh lebih daripada itu. Sungguh.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Wawancara.

Aku tak pernah gagal melewati tes wawancara. Entah mengapa. Seakan aku sudah terbiasa menyihir kata. Sekalipun tak lebih dari 60 menit saja. Ratusan deret akan bisa terlontar apabila memang aku berazzam untuk mengikutinya.

Dan ternyata boleh jadi kisah ini bisa dimulai ketika itu.
Aku menjadi penanggungjawab rekruitasi.
Dan ini untuk pertama kali.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Keterbatasanku membuat berbagai kekurangan disini dan disana. Tampak jelas. Perencanaan yang kurang matang dan rasional, pengelolaan SDM dan kesesuaian di lapangan.

Namun aku tak pernah menyesal. Betapapun, ada kehendak Allah ketika kita sudah berupaya melakukan namun hasilnya tak memuaskan.

Dan aku takkan pernah menyesal. Karena saat itulah, awal aku melihat hal yang istimewa. Yang akan menjadikan kekuatan hebat bila diikat oleh ukhuwah yang kuat.
Harapan. 
Jelas terpancar dari sorot mata yang antusias mengikuti tiap rangkaian penjelasan yang disampaikan.

Semangat. 
Terwakili oleh cucuran keringat tuk dan tersenyum sekalipun cahya mentari menyengat.
Keniscayaan
Yang pasti, aku yakin kalian takkan disini jika tak memiliki apapun. "saya belum pandai", "saya belum pengalaman", "saya belum bisa", dan berbagai hal yang mungkin belum. Tetapi yakinlah itu semua akan terwujud di kemudian hari. Meskipun tak disini, jadikan kesempatan ini menjadi tangga awal tuk menggapainya.

Disini, deretan huruf penyusun nama kita terlihat rapi. Dan yakinlah, barisan pecinta Quran takkan kalah rapi  apabila memang memulainya sama-sama dari hati. Kata-kata ketika wawancara itu menjadi saksinya. Betapa kemauan kita ada. Boleh jadi berkurang, atau hingga hilang. Namun sebelum itu terjadi, kita akan pompa hingga ghirah ini tak ada habis-habisnya.

Mimpi kita bersama, bukan mimpi semu pendek dan penuh retorika. Ini adalah mimpi panjang para pendahulu yang tlah berjuang sebelumnya. Mewujudkan generasi pecinta Quran di bumi kampus tercinta.Dan mereka tlah membuat AKSI nyata tuk mewujudkannya.

Sekarang giliran kita, ikhwafillah.

Mari, siapkan diri kita semua.
Mimpi ini, adalah mimpi abadi. Mimpi yang takkan pernah mati. Sekarang dan hingga nanti.

Bismillah...

Mari melangkah bersama. Bukan demi organisasi ini, sungguh. Niatkan semua karena-Nya yang membuat segalanya ini ada.

Semangat militansi MQ 2012-2013
 

Kamus Kata :
Azzam = tekad kuat
Ghirah = semangat
ikhwafillah = saudara seperjuangan di jalan Allah
militansi = ketangguhan dalam berjuang, menghadapi kesulitan

Kamis, 15 November 2012

“Belum saatnya”. Belum!



Perlahan seiring waktu berjalan, jarak pun memangkas dirinya perlahan. Kesibukan yang sama. Tempat yang sama. Dan intensitas pertemuan akhirnya dengan sendirinya bertambah.

Allahu robbi,
Aku enggan menyalahkanmu. Namun dengan situasi ini yang kan terus berlalu, bagaimanakah nasib amanah yang nantinya kan kupertanggungjawabkan kepadamu?
---------------------------------------------------------------------------------------------

Semua bermula seperti biasa bagi Arfan. Biasa. Tak satupun istimewa ketika pertama kali bertemu dengannya. Kala itu hijab menjadi batasannya. Untunglah, sungguh.
Sebuah dauroh untuk mentaarufkan pengurus. Antara yang baru dan lama, agar lebih menyatu dalam jalinan ukhuwah. Dari situlah ia mengetahui namanya, dan tak lama berlanjut dengan pertama kali mendengarkan suaranya.
Plotting divisi dilakukan. Kombinasi musyawarah dan keputusan ketua memutuskan detail amanah yang ke depan akan diemban. Arfan dan semua wajah baru di lembaga itu penuh antusias menyimak penjelasan Kak Dedy, sang ketua organisasi.

Dan hasil keputusan itulah yang membuat cerita ini bermula. Arfan ditempatkan sedivisi dengannya, sosok yang bahkan sejak awal ia hanya tahu dari dauroh pertama para calon pengemban dakwah. Namun sosok itulah yang berbeda dari yang lainnya. Sungguh berbeda.

---------------------------------------------------------------------------------------------
 “Teman-temanku yang dirahmati oleh Allah, Insha Allah kita akan berjuang bersama dalam sebuah bidang kerja organisasi ini. Selama satu periode kepengurusan ini, Insha Allah pasti akan banyak yang kita lalui. Ketika kita berani mengambil langkah tuk memulai, pasti teman-teman juga tahu ke depan jalan ini tak akan mudah. Boleh jadi berliku, berkelok, dan bergelombang. Namun tetap saja pasti akan bermuara. Sampai saat itulah kita harus tetap bersama, saling menyokong satu dengan yang lain, bersatu, menguatkan dan menghadapinya bersama”, ujarnya dengan nada penuh cita-cita besar ke depannya.

Kak Rio adalah sosok ketua departemen yang supel. Ia mampu mencairkan es batu yang masih keras diantara para muka baru, pejuang peradaban. Tak terkecuali Arfan. Ia sedikit demi sedikit belajar. Sesuai kata Kak Rio, setelah semua saling mengenal, mengetahui maka dapat dilanjutkan tuk mencoba menyamakan kesepahaman. Dari situlah benih militansi akan ditanam, dipupuk dan berbuah kekuatan .
---------------------------------------------------------------------------------------------
Sayup-sayup terdengar suaranya dari bilik hijab yang ada. Ia memang akhwat yang aktif, dan kritis. Walaupun sama-sama bermula, Arfan melihatnya lebih kontributif menyumbangkan gagasan untuk program kerja yang ada. Ini syuro yang kesekian kalinya, setelah penentuan program kerja dan kini tinggal eksekusi dan pendalaman saja.

Semua tampak menyatu. Brainstorming kata Kak Rio istilahnya. Memunculkan berbagai ide dari setiap orang yang ada. Dari mulai yang serius, fokus, hingga nyeleneh dan super aneh.

“Tak apa nyeleneh, dari situ bisa memicu ide lain yang lebih baik”, rekam kata-kata kak Rio oleh Arfan.

Itulah yang membuat Arfan tak segan mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Dan ternyata dari sekian idenya, semua diluruskan olehnya. Sosok di balik hijab yang cerdas dan perlahan mulai terkesan mempesona.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Bertukar pesan di telpon genggam .
“ Kak Rio sedang berhalangan nih. Aryo juga.”
“Jadi gimana? Kak Shelly dan Arini juga sama”.
“Tetapi tetap harus selesai khan?”
“Iya. Yaudah kita syuronya di facebook saja ya, ngga enak cuma berdua khan”
“Okedeh”
Percakapan itu dimulai. Menggunakan jejaring sosial yang ramai dipakai. Tak ada kekhawatiran semula. Arfan hanya membicarakan tentang tugas divisinya. Demikian pula dengannya. Tampaknya ia lebih pandai menjaga fokusnya. Untunglah, karena dunia maya ternyata membuat Arfan tak lagi sestabil sebelumnya.
“Selesai disini saja. Jika tidak ada lagi yang perlu didiskusikan, afwan”, ketiknya mengakhiri.
“Kok dia jadi sewot gitu? Apa yang salah dengan kata-kataku”, pikirnya penuh tanda tanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Dunia maya bukanlah dunia yang membebaskan kita dari apapun, termasuk tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan di dalamnya. Namun terkadang, ia begitu melenakan.
Klik dan klik, lanjut klik dan klik.
Seketika ia bisa melihat fotonya. “Subhanallah”, gumam singkat Arfan melihat foto-foto lama di akun facebooknya. Tak semua disembunyikan. Bisa ditelusuri. Tunggu, demi apa ia lakukan ini. Untuk apa?
Arfan berhenti.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Lain waktu.
“Ah sekali doank apa salahnya?”

Klik dan klik, “wah ternyata ia penggemar Detective Conan juga, sama donk”

“Lalu kalau sama memang kenapa?”

Arfan berhenti.

---------------------------------------------------------------------------------------------
Terkadang kita tak menyadari hal kecil yang kita lakukan. Bermula sekadar keisengan. Namun ujungnya bisa keseriusan. Hingga prinsip dan tujuan awal dapat terancam kan terlupakan.
Berdebar. Arfan kini mulai menyadarinya. Ini akibat ulahnya. Ulah kecilnya. Ulah kecilnya yang bermula dari keisengan belaka.

Membuka akunnya, melihat fotonya, melihat profilnya, hingga terbesit menyimpan fotonya. Perlahan melihatnya setiap waktu. Hingga akhirnya mengagumi hal yang belum saatnya ia perlu. Dan bahkan kini sampai ingin memiliki?
“Astaghfirullah”, sesalnya.
Berdebar. Setiap kali sosok itu muncul di hadapan. Apa yang harus ia lakukan? Egonya bisa memberontak dan amanah bisa terancam. Mana profesionalisme yang awal bersama telah komitmen hendak dicapai bersama? Hilangkah? Semukah oleh rasa yang belum sepantasnya ada?
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, Arfan membaca artikel dari http://ukhti-shalihah.com/lelaki-shalih-itu/
Sebuah cerita tentang lelaki shaleh menurut seorang akhwat.

------------------------------

Di mataku, lelaki shalih adalah lelaki sederhana,tawadhu,sabar,dan tentu saja baik pemahaman agamanya. Kalau menurut akhwat lain, mungkin bisa berbeda-beda kan?

Keshalihan seorang akhwat,juga bisa menentukan kriteria apa saja yang harus dimiliki sang ikhwan,hingga bisa menjadi imam yang ia butuhkan..
Seorang akhwat hafidzah boleh dan bisa dipastikan,pasti mengharapkan seorang ikhwan yang hafidz juga sebagai suaminya…^^

Lelaki Shalih itu…Ya,tentang sosok lelaki shalih..
Apakah antum sudah cukup shalih?sehingga merasa pantas mendapatkan seorang akhwat shalihah itu..
Ya,cobalah tengok disekitar antum,pasti ada banyak akhwat yang begitu shalihah dan begitu anggun dalam balutan jilbabnya, kiprahnya dalam dakwah semakin memancarkan pesonanya…

Pernah mengagumi seorang akhwat seperti itu? mungkin saja,dan saya menduga antum bisa jadi pernah atau bahkan sekarang malah sedang merasakannya?^^ Bagi antum yang masih sendiri (belum menikah) bisa jadi kekaguman itu menjadi sesuatu yang begitu mengusik hati..
Ya gak sih? saya sok tau nih..
hehehe

Apa antum tahu?sebenarnya akhwat juga begitu lho..
Jangan salah kira,sikap diam para akhwat berarti mereka tak peduli ato malah mati rasa..
#haduuh

***^^***

“ada beberapa hal yang perlu diluruskan tentang interaksi kita akhi” kata seorang akhwat berbalut jilbab ungu itu dengan pandangan semakin tertunduk..

“ada apa ukht? adakah yang salah dengan sikap ana selama ini?” tanya ikhwan di hadapan akhwat itu..

“ya,banyak..
Tapi mungkin antum selama ini tidak menyadarinya…”

“apa itu ukhti? bisakah anti jelaskan,agar ana lebih paham”

“tolong akhi,bersikaplah lebih bijak di depan ana,mugkin antum merasa sikap antum biasa saja, tapi tidak bagi ana…afwan” suara akhwat itu kian tercekat..

***^^***

Antum pernah “dibegitukan” sama akhwat? kalo iya, berarti memang ada yang perlu diperbaiki dari sikap antum sekalian..

Bukan menggurui..
Tapi,ini berdasarkan pengalaman pribadi yang cukup mengusik dulu..

Taukah akhi? tiap senyum kalian,kalimat-kalimat sapaan bernada perhatian dalam sms dari kalian,mungkin antum anggap itu hal biasa..
Tapi apa iya bagi mereka,akhwat yang hatinya begitu peka..
Bisa jadi semua yang berasal dari antum bukannya menguatkan,tapi justru hanya akan semakin mengganggu dan menggoyahkan imannya..
Ia, yang awalnya begitu ikhlas berdakwah bisa jadi karena perhatian kalian,niatnya jadi terkotori..
Karena memang fitrah wanita,yang sebenarnya suka dipuji,walau tak semua begitu..

Taukah antum? bahwa hati seorang wanita itu begitu lembut? sedikit saja antum taburkan “benih”, bila ia terus menyiraminya maka benih itu akan tumbuh kian subur di hatinya..
Betapa kasiannya bila ia, hampir tiap malam teringat padamu akhi, ikhwan yang belum tentu jadi imam baginya…

Lalu? apa yang harus antum lakukan? ahh,rasanya saya tak perlu menjelaskan karena saya tau,antum semua jauh lebih paham..

Hanya saja,saya ingin berpendapat dari sudut pandang seorang akhwat..
Seorang ikhwan yang shalih tak akan pernah berkata “ukhti..ana mengagumi anti, bahkan ana telah jatuh cinta pada anti, maukah anti menunggu sampai ana siap mengkhitbah anti?”

Ya..
Lelaki shalih tak akan berkata begitu..
Apakah antum tau apa efek dari pertanyaan itu? 
Bisa jadi, hati akhwat itu kian rapuh..
Apa antum tega? membuatnya menunggu dalam ketidakpastian? Karena sebelum akad nikah,segala hal masih bersifat tidak pasti bukan? 
Apalagi bila kita hanya bergantung pada hati seorang anak manusia yang tiap detiknya bisa terbolak balik..
Betapa kasian ia ketika harus berharap pada sesuatu yang belum jelas ujungnya…

Lelaki shalih seharusnya ketika ia jatuh cinta, maka ia akan menyimpan sendiri perasaan itu rapat-rapat dalam hatinya dan hanya mengizinkan Allah saja yang tahu..
Ia akan terus memperbaiki diri hingga siap dan pantas untuk mengkitbah akhwat itu pada saat yang tepat..
Dan lelaki shalih akan berkata “ukhti,mungkin ana bukanlah lelaki yang sempurna keshalihannya…
Tapi ana hanyalah seorang laki-laki yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan ingin segera digenapkan diennya hingga sempurna, maka maukah anti menjadi akhwat penggenap dien ana itu?”

Ya,lelaki shalih tak kan pernah meminta untuk menunggu..
Ia hanya akan mengambil kesempatan atau akan berkorban mempersilahkan saudaranya yang lain..
Seperti kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah..

Akhi…bisakah ana minta tolong? tolong jaga saudari-saudari ana yaaa..
Jaga hati mereka, hingga tetap utuh sampai antum bisa mempersuntingnya dalam sebuah Mitsaqan Ghalidza itu^^


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terhenyak. Arfan tak bisa berkata apa-apa lagi.

Belum saatnya, belum!
Sementara diri ini masih perlu banyak berbenah, bagaimanakah pantas mengharap sosok pendamping yang sepertinya?
Belum saatnya, belum!






November 15, 2012
Raffa Muhammad

--------------------------
Sumpah ini cuman fiksi. Siapapun yg baca ambil positifnya ngga usah dihubungin ama penulisnya okeee :D