Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Selasa, 12 Maret 2013

Memori Shubuh

Serial Inspirasi Ikhwah Tangguh



Ikhwah tangguh? Mencari tahu tentangnya bisa dimulai dari apa yang dilakukannya di kala shubuh. Mengapa? Karena banyak peristiwa besar yang justru terjadi di sekitar shubuh.

Al Fatih, ia beserta pasukannya berhasil membuat banyak pihak tercengang karena dapat merebut Konstantinopel, kota dengan banyak benteng dan pertahanan yang kuat. Dan itu terjadi di kala shubuh. Saat musuh sedang terlelap dalam hangatnya selimut dan nikmatnya kasur empuk.


Rasul SAW bersabda: "Konstatinopel akan ditaklukan. Dan sebaik-baik pemimpin ialah pemimpin pasukan itu dan sebaik-baik Pasukan ialah pasukan itu" (HR Ahmad).
-------------------------------------------------------------

Kampus putih biru. Sebutan itu melekat dari seragam yang diwajibkan kami kenakan sebagai mahasiswa. Shubuh disini memang cukup dingin adanya. Aku sekian diantara ratusan bahkan yang mungkin masih sering terlelap ketika melewatinya. Namun, kali ini aku akan menceritakan tentangnya. Sosok yang Insha Allah memiliki kebiasaan yang patut diteladani.

Sebut saja Ahmad. Di pagi ini, aku melihatnya di masjid kampus melaksanakan shalat shubuh berjamaah. "Wah dia khan sudah lulus. Masih rajin sholat shubuh berjamaah", gumamku kagum.

Seketika memori ini kembali kepada momen dimana aku selalu melihatnya disini. Ketahuilah kawan, Ahmad telah lulus sebenarnya. Istimewa. 3,5 tahun dengan IPK yang "wah".

Namun di balik prestasi akademiknya, ia juga aktivis yang tidak biasa. Sosok yang tegas, ambisius dan sangat total jika dilihat dari kesungguhannya mengemban amanah sebagai aktivis dakwah. 


Terkadang membagi waktu menjadi kendala aktivis dakwah, hingga kuliah seakan terpaksa menjadi nomer dua. Namun Ahmad berbeda. Ia bisa. Dan ia bukti nyata. Boleh jadi kegiatan kuliah 3,5 tahun dengan dakwah akan menyita tenaga, dan waktunya. Namun nyatanya bahkan subuh ia masih rajin berjamaah.




Lalu bagaimana dengan kita?

Kuliah boleh jadi keteteran karena alasan amanah. Dan amanah terkadang tergadaikan karena masalah kuliah. Shalat jamaah? Jangan ditanya. Fisik ini terlampau lelah. Kantuk ini terlampau menyiksa.

STOP !

Salah satu kunci dari permasalahan klasik kita adalah manajemen waktu.

Padahal Allah telah membantu kita dengan mewajibkan shalat di lima waktu tuk senantiasa mengingatkan kita akan waktu yang berlalu.

Ahmad bisa melakukannya. Ia disiplin, dan mungkin juga susah di awalnya. Namun lihat buahnya di akhir kisah, manis bukan?

Susah?

Terlaaaaluuuu...

Bahkan belum berniat -) bertekad -) mencoba -) malah menganggapnya susah.

Melaksanakan apapun jika didasari karena Allah pasti selalu ada jalannya. Semua tersinergikan. Ibadah, dakwah maupun kuliah.

Ayo perbaiki subuh kita. Isi memori subuh ini dengan hal yang berguna. Belajar, mengulang kuliah, tilawah dan tentunya shubuh berjamaah.

Dimulai dari mengamalkan Sunnah, :
1. Berwudhu dan shalat witir sebelum tidur
2. Berdoa di sebelum dan sesudah tidur.
3. Langsung tidur daripada memperbanyak bincang malam kurang bermanfaat
4. Menjauhi begadang



“Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka, jangan coba-coba membuat Allah membuktikan jaminanNya.” (HR Muslim).



Ahmad ; Bukan tentang siapa sosoknya, namun tentang bagaimana meneladaninya
------------------------------------------------------------------------------------------------------



Kutulis untukku di masa yang akan datang, dan yang akan sekarang mencoba tuk belajar dan terus belajar  Juga untukmu kawan, yang ingin memperbaiki shubuhnya.

Memori Subuh

Tatkala mentari masih malu tuk bercahaya
Kau pinta kami sambutnya dengan ibadah
Kokok ayam menemaninya
Beserta azan subuh yang Kau jadikan lebih nyaring daripada biasanya

Duhai Robbi

Pemilik jiwa dan hati ini yang rapuh
Izinkan hamba-Mu ini memperbaiki waktu subuh
Agar kami teladani para pejuang di jalan-Mu
Sesuai sunnah Rasul-Mu





Jumat, 08 Maret 2013

Mengapa Bertahan

Temanku Faiz. Ia menceritakannya padaku suatu hari. Tetapi, aku baru sempat menuliskannya saat ini. Cerita tentang suka dukanya bersama-bersama teman yang luar biasa. Al Ikhlas namanya.

'Sesunggguhnya manusia takkan bisa, menikmati surga tanpa ikhlas di hatinya", by Ungu

Ketika orang banyak bertanya mengapa Faiz memilih bertahan disana, Faiz hanya bisa acapkali bilang bahwa ia lebih nakal dari mereka ketika dahulu kecil. Sok tahu mungkin. Namun nyatanya Faiz memang nakal. Hyperaktif parah. Susah diberitahu, sering berlarian tak tentu, dan berbagai kenakalan seakan benalu.

Namun, lihatlah ia Alhamdulillah masih hidup sampai sekarang. Tumbuh dan berkembang. Jika tanpa buah kesabaran kedua orang tua dan keluarga bagaimana itu bisa terlaksana? Tentunya orang tua kalian juga tak mengangumkan khan kawan :)

Tengoklah kisah kekerasan terhadap anak yang sedang marak, sering dipicu ketidaksabaran akan malaikat kecil yang berulah ketika awal melihat dunia. Naudzubillah. Allah saja memberikan Faiz waktu untuk berbenah, bagaimana manusia itu seakan menentukan takdir usia anak-anak mereka? Faiz hanya hanya terdiam jutaan bahasa. Ia melanjutkan ceritanya.



Hal lain yang membuatnya bertahan, adalah disini adalah tempat pertama baginya. Tempat pertama dimana Faiz merasa bermanfaat dan berguna. Di SMA Faiz hanya pengangguran, cupu dan kurang kerjaan, mengkhawatirkan keluarga. Hingga keluarga tahu Faiz membantu di TPA, Faiz merasa sudah sedikit membanggakan mereka. Walau hanya sedikit namun bisa berguna sudah sedikit meringankan kekhawatiran yang ada. Akan kehidupan kota, Bandung yang penuh aliran sesat (saat itu), dan jarak dengan keluarga yang cukup jauh adanya.

Sementara kepanitiaan dan organisasi ketika itu belum tahu apa-apa. Adik-adik kecil membuatnya mengerti, bahwa ada hal yang bisa ia lakukan. Mungkin tidak besar. Hanya berbagi, dan semua orang sebenarnya bisa melakukannya setiap hari. Namun tak semua orang mau dan mengerti, bahwa suatu hari, malaikat-malaikat kecil itu akan menjadi pemimpin di negeri ini. Ketika kita tlah yang ada sebelumnya tak berdaya bak sekapur sirih, termakan usia dan zaman yang ada.

"Menjadi berguna, adalah hal yang menjadikan alasan keberadaanmu disana", tulisnya suatu hari dalam benaknya.

Hal lainnya yang membuatnya tetap bertahan, ialah keberadaan kekuatan yang saling menguat dan menguatkan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal : 63)

Ketika selentingan beredar, anak-anak Gang Demang nakal dan kurang arahan memang Faiz tak kuasa membantah. Beberapa pengajar perlahan menghilang karena tak tahan malah. Untung teman-teman yang tersisa selalu menguatkannya.



Namun, ada yang pergi, ada juga yang datang kembali. Juga ada yang baru menyambung dan terus menyambung tali perjuangan ini. Azmy, Andy, Iqbal, Syarif, Gujay, Diana, Ratih, Achi dan Muthi.

Faiz enggan menyesali kepergian teman-teman sebelumnya. Terlepas kesalahan ia karena tidak mampu mengendalikan keadaan, atau membagi semangat kebersamaan. Karena setiap detik bersama adik-adik adalah berharga, ketahuilah. Mungkin ia dan teman-teman belum bisa membuat yang malas jadi rajin, yang nakal jadi baik, dan yang bermasalah jadi berprestasi. Namun detik-detik berharga mengarungi kebaikan, tentunya pasti ikut berperan dalam mencegah detik-detik itu digunakan untuk mengetahui keburukan. Tidak ada yang sia-sia, pastinya.

"Anak-anak itu bukannya nakal, namun lingkungan yang membuatnya demikian", kata Revi dengan lantang suatu hari di syuro pagi. Hal yang sama diucapkan Anna, Riri, Wilda, dan kawan-kawan lainnya. Seiya sekata. Mereka bertahan, hingga 2013 tlah tiga tahun lamanya.

Menguatkan.
Hal yang membuat Faiz akhirnya berkata berani kapada Aldrin ketika ia mengucapkan salam perpisahan, "Bagiku, TPA ini ladang yang Allah berikan padaku. Mau subur atau layu, jika Allah berikan yang ini ya sudah. Mungkin lain ladang lain hasilnya. Namun Allah selalu melihat proses khan, bukan hasil".

Faiz hanya berusaha berbaik sangka kepada teman-teman yang sudah memutuskan tidak lagi untuk bersama lainnya. Kenapa? Karena selalu ada pertolongan dari Allah tentunya. Pasti!

Tentu ada yang memilih pergi, namun Allah selalu berikan pengganti.
Ia memang tak pernah berhenti meski Faiz dan teman-teman terkadang terlibat masalah klasik konsistensi.
Selalu ada saja jalan-Nya. Rahmi, Dayyah, Hamzah, Faqih, Ummi, Dodik, Omi, Halim, Desri, Elis, Ayu, Alan dkk lainnya. Mereka melanjutkan tali perjuangan selanjutnya.

Kekuatan
Entah mengapa, berjuang di jalan ini serasa istimewa. Bertemu dengan kawan-kawan yang sedari awal berniat menyumbangkan tenaganya, waktunya, dan apapun yang dimilikinya untuk mereka yang belum mereka kenal. Demi siapa? Bukan tetangga, bukan saudara, bukan kerabat pula.

Lillahi ta'ala.


 “Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. [Ali Imran:104].
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali Imran:110].


Ps :

Dear kakak-kakak pengajar

Maaf bila sering membuat emosi, dan sakit hati. 
Kami memang nakal. 
Berbuat ulah, membuat marah. 
Kakak disalahkan, kakak malu, kakak lelah. 
Demikian memang adanya kami. 
Kami masih belajar. 
Ingin rasanya menjadi manis dan cantik dengan hijabnya ala kakak perempuan. 
Juga menjadi tegas dan berani seperti kakak laki-laki. 

Suatu saat kak, tunggu saatnya kami menjadi seperti kalian





Jangan tinggalkan kami ya kak

Sekalipun tak lagi disini mengaji bersama kami, 

Temani kami dengan doamu kak
Agar kami cepat besar dan rajin belajar

Kaka juga disana
Dimanapun berada
Semoga Allah terus selalu sayang sama kakak
Karena kakak selalu sayang bagaimanapun adanya kami
Pasti Allah juga sayang kepada kami.



Terima kasih ya atas semuanya kak

Jangan berhenti menebar kebaikan seperti yang kakak lakuka terhadap kami

mewakili adik-adik.
Faiz menuliskannya

Terima kasih semuanya
Tiga tahun takkan terlupa
Rapuh memang diri ini
Namun kalian selalu ada tegak menyemangati
Mari lanjutkan kaki-kaki ini
Melangkah, membuat perubahan
Dimanapun Allah gariskan

Terakhir, nyontek status Muthi malam ini

karena kita takkan pernah tau sampai kapan kita terus bersama. untuk itu kukatakan, uhibbukumfillah :)


Selasa, 26 Februari 2013

Senjata Ampuh Itu Bernama Keberanian


Mentari perlahan meninggi. Ahad pagi. Kampus didatangi masyarakat yang menikmati udara pagi. Salah satu sudut kampus tampak ramai. Seperti biasa, sekelilingnya memang sering digunakan sebagai jalanan untuk lari. Danau.

Danau itu baru setahun berdiri. Untuk resapan air katanya. Dan memang menjadi daya tarik tersendiri karena letaknya yang strategis diapit 4 kampus sekitarnya. Mahasiswa juga tak jarang memanfaatkan fasilitas di sekitarnya untuk kegiatan organisasi atau komunitasnya. Sebuah komunitas tampak melakukan upgrading

Mereka berkumpul di jembatan yang dibangun di atas danau sedari pagi. Fyi, Upgrading adalah kegiatan outdoor yang biasa dilakukan untuk meningkatkan kekompakan dan menjaga kebersamaan suatu kelompok. Biasanya mereka melakukan games, olahraga bersama dan bercanda ria.

Menyenangkan. Itulah yang bisa tergambarkan dari raut muka yang hadir disana. Tampaknya komunitas itu melakukan upgradingnya dengan baik, sesuai yang pasti mereka rencanakan sebelumnya.

Namun, skenario tak berjalan sesuai rencana. Atau mereka bahkan tidak tahu. Ya mungkin. Ketidaktahuan acapkali menjadi penyebab, namun ketidakacuhan juga tak kalah sering menjadi musabab. Seorang akhwat berjilbab terlihat protes terhadap games yang diberikan. Singkat. “Kak, saya khan berjilbab... “, begitu kira-kira kata-katanya. Sepertinya games yang ada memang terkesan kurang menjaga posisinya. Aku hanya terbengong takjub mendengar suaranya sayup-sayup. “Subhanallah”

Tampaknya, panitia segera memakluminya. Syukurlah. Ia tampak tak ambil bagian dari games yang satu itu.
Pagi itu, aku mendapat pelajaran yang berharga. Ini tentang keberanian. Bayangkan kawan jika perempuan tersebut malu, sungkan, dan merasa takut untuk mengucapkan. Dia masih bisa berkata spontan, mencari alasan cerdas, tidak berbelit dan bisa dimengerti lainnya yang mungkin belum paham. Jika tidak? Boleh jadi permainan yang keterlaluan bisa diikuti walau dengan keterpaksaan.

Ketahuilah, permainan dengan dalih untuk merekatkan malah terkesan berlebihan sudah sering adanya. Tidak munafik, setan sangat lihai membuat kesan menyenangkan apabila tlah perlahan menjurus ke arah yang kurang pantas dilakukan.

Seperti halnya berdiri di atas kertas koran terbatas untuk satu kelompok yang ada anggotanya perempuan juga. Pantaskah?

Disinilah kita bisa memetik hikmah.

Kita sudah diberikan senjata terbaik untuk menjaga diri kita. Dari segala bentuk apapun yang mengundang bahaya. Bagi kawan perempuan tadi, ialah jilbabnya. Bukan menjadi pembatas baginya untuk bersenang-senang, namun jadi pelindung ketika memang ia gunakan. Boleh jadi teman yang belum berjilbab akan bingung mencari alasan apabila berhadapan dengan kondisi yang sama, mengharuskan terlalu berdekatan dengan lawan jenisnya.

Namun senjata itu tidaklah berguna. Sama sekali yakinlah, jika tanpa ada keberanian yang menyertainya. Dengan kata lain, mereka adalah satu paket tak terjual terpisah agar bisa bermakna.

Lalu darimana datangnya keberanian itu?
Tentunya ia takkan datang dari keraguan. Ia takkan pula datang dari sikap penakut dan pengecut yang tumbuh beserta lemahnya iman.

Karena tahukah kawan, bahwa keberanian adalah salah satu kekuatan. Tentunya tiada kekuatan terbesar melainkan yang bersumber dari Allah, bukan?

Lalu seberapa beranikah kita menjadikan nikmat iman dan islam yang tlah ada menjadi penyuara kebenaran? Atau kita malah masih ragu dan malu? Jika kita sendiri masih belum bisa meyakinkan diri ini, bagaimana bisa membuat mereka mau belajar memahami?

Yuk, terus perkuat diri kita. Agar sekitar kita menjadi terjaga, sesuai Quran dan sunnah rasul-Nya.


Jumat, 22 Februari 2013

Payback

"It's asking for payback", he shouted it loudly. I just can breath slowly and trying to face up what happened actually.

A bad circumstance.

"Do you have ever tried to fix something but it means nothing?"
"Yes, of course. I'm experienced for some kinds of motion like this. This means nothin', you see. You'll meet the worst. And surely..."
"Bruuuk", he just fell down with my weak punch.
"What the....... ", "Bruaaak", he gave me a hard counter. My nose's blooded few minutes after.

"So, you wanna fighting me?", said him clearly.
"Just stop it. You talk too much. I'm sick of this", answered me directly.
 Suddenly, he pointed at me. With his finger he touch my blood that comes out and drops slowly to the ground.

"It's payback. You know all of this will be happen, but you remain stupid. You know you'll hurt when you're attack me, the other person in your head, but you keep doing it. So it's payback.

"When you know it clearly, make your knowing be useful to be known".


Jumat, 15 Februari 2013

Miapah Kamoe Koeliah?


Waktu kian terasa cepat berlalu. Detik-detiknya seakan beriringan dengan aliran darah yang menyebar ke segala penjuru. Tak terasa, apalagi di kala kesibukan bergemuruh.

Sedari pagi, Dani hanya menyepi di kamarnya. Sendiri. Hanya ditemani lembaran demi lembaran catatan dan latihan soal. Separuhnya hasil fotokopi, sementara sebagian kecil lainnya hasil goresan tangannya sendiri. Semester ini ia bertekad untuk lebih baik lagi. Tekad yang sama seperti sebelumnya dan selalu mengemuka jelang ujian tiba.

“Dosen semester ini menyebalkan banget ya”, ujar Toni di perjalanan menunggu kelas.

“Kok bisa?”

“Yah gitu, udah banyak yang telat, eh nelat ding. Trus ngajarnya ngga jelas lagi”, sambungnya menggerutu. Dari mukanya Dani hanya bisa mengerti betapa sebal temannya yang satu ini.

“Mungkin hanya oknum dosen yang gitu Ton”, balasnya, mencoba menenangkan.

Sementara mereka telah sampai di ujung kelas. “Tuh liat sendiri khan”, deru Toni seraya menunjuk pengumuman yang ditulis di papan kelas.

“Kelas hari ini ditiadakan. Kelas pengganti akan didiskusikan di pertemuan selanjutnya”, begitu isinya.

“Ahhh sialaah, gw udah mandi pagi-pagi nyampe sini dosen malah ngga dateng”, kata Toni dengan kesalnya.

“Yaudah kita makan aja deh”

“Iya nih, gw bela-belain nahan lapar demi kelas pagi”.

Dani enggan ikut menggerutu seperti Toni tadi. Entah mengapa, ia lebih tertarik mengikuti kata-kata kak Salman, rekan mengajinya atau biasa disebut murobbi.

“Apakah jadi datang sang dosen bila kita mengumpat sekalipun? Tidak. Bahkan bisa memunculkan benih-benih kebencian kita kepada mata kuliah yang sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Mata kuliah tersebut adalah ilmu. Ilmu datangnya dari Allah. Sesuatu yang berasal dari Allah adalah kebaikan. Maka mengapa kita malah mencoba memunculkan kebencian terhadap kebaikan?” kata beliau ketika itu.

“Lalu ketika menerima sang dosen apa adanya, dan membuat kita lebih giat berusaha, apa salahnya?”

.................................................................


Miapah kamue koeliah?

Jika ditanya seperti itu, pasti akan dijawab demi masa depan yang lebih baik, demi orang tua, demi mensyukuri nikmat Allah berupa kesempatan untuk kuliah, dan yang paling parah jawab “miamu donk ayang”. Hueks alays gilak haha

Intinya semua kita lakukan demi mencapai kebahagiaan di masa yang akan datang. Itulah yang Dani dapatkan dari seorang teman yang ia kenal dari dunia maya.

“Makanya nikmatin aja kuliah. Bikin kuliah loe juga happy”, katanya.

“Ihh ngga lulus-lulus donk gw nanti. Ogah ah”, kilah Dani.

“Dunia itu ibarat penjara bagi orang-orang sukses. Jika memang kuliah membuat kita terpenjara, ya wajar jadinya. Hahaha”, celetuk Dani di depan teman-teman kelas sambil menunggu dosen tiba.

“Ihh ogah ah, gue hidup cuman sekali. Kemanapun enaknya ya happy”, kilah seorang temannya.

“iya, udah kuno begituan Dan. Sekarang ngga musti susah-susah juga kali. Peluang usaha banyak ngga hanya di bidang yang kita kuliahin”

“Emang kalo usaha juga udah pasti berhasil gitu”.

“Hahaha, kalo gagal ya tinggal minta backup dana bonyok dah haha”

“zzzzzzzzzz”

..................................................................................

“Kak, menghadapi dosen yang malas-malasan itu gimana sih? Dani ngga mau mengeluh sebenarnya, tapi khan beliau dateng selalu telat. Ngajar ngga pernah enak. Kuisnya dadakan, dan PR banyak namun ngga tau hasilnya. Udah dijadiin bungkus kacang kayaknya tuh PR. Jadinya ikut malas bawaannya untuk belajar sendiri.

Kak Salman tersenyum mendengarnya. Tadi Dani memang menginformasikan untuk datang lebih awal sehingga bisa berkonsultasi.

“jadi ingat tentang senior kakak nih Dan. Seperti hadist yang kita pelajari pekan lalu bahwa dunia itu seakan penjara bagi orang-orang mukmin, nah ini bisa nguati juga Dan.

“Ia kak, apaan tuh?”

“Di atas cobaan yang kita hadapi, pasti ada yang menghadapi cobaan yang lebih dari kita. Kamu tahu itu khan?

“Iya kak tahu”

“Nah, yang bikin kita bisa move on dengan mudah tuh ya kecepatan awal kita bisa melaju sampai saat ini karena tinggal ngatur ngasih percepatan berapa aja agar sebanding dengan perlambatan.”

“hah, apaan kak maksudnya. Fisika banget T.T “

“jika kita melaksanakan kuliah dengan niat yang tepat, harusnya faktor dosen ngga jadi masalah lho”

“hmmm, kok gitu”

“Yah, karena ngga ngaruh. Terserah mau dosen gimana, yang penting kita tetap berusaha karena ada hal lain yang selalu membuat kita sedemikian rupa”.

“Nah apaan tuh kak?

“Itu yang kita bahas hari ini. Nanti deh tunggu temen-temen lainnya ya”

Zzzzzzzzzzzzz

Demi apa kuliah? Demi deretan A yang memesonakah saja? Atau mencoba melakukannya untuk hal yang lebih besar lainnya? 
Melakukannya demi yang memberi kita nikmat sedari membuka mata di pagi hingga menutup mata di kala petanglah jawabannya

Selalu ada jalan, dan tidak pernah ada yang tidak mungkin untuk-NyaDan sekarang tergantung saya, karena berpangku tangan dan berjuang takkan pernah sama


Begitulah Dani tulis di resume liqo’nya hari itu.

Kamis, 14 Februari 2013

Apa kabar Ksatria?


Apa kabar ksatria?
Masihkah ingatkah cerita lama
Akan mimpi-mimpi sederhana
Yang sekarang sudah sehasta kita raih bersama

Aku memulai cerita ini dengan ucapan selamat kepada SMA kita tercinta yang merayakan ulang tahunnya.

Dirgahayu SMA-ku,
semoga semakin jaya selalu
tetaplah menjadi pintu
bagi generasi pembaharu
yang ingin merajut asanya dengan ilmu
dan prestasi yang membanggakan kota kecilku


 Tiga tahun berlalu. Hari yang sama waktu itu, kita pasti sedang riuh jelang Bondan n Fade 2 Black yang akan menggelar konser. Rangkaian acara kala tu dihelat untuk mensyukuri eksistensi sekolah yang tlah 33 tahun lamanya. Tak terasa, sudah ke-36 sekarang rupanya. Makin tua yah kita. Hehehe

Tetapi intinya, tiga tahun tlah berlalu. Kita telah tersebar ke segala penjuru. Jakarta, Bogor, Bandung, Malang, Jogja, Surabaya, Malang, Jember dan kota-kota lainnya tempat kita mengadu. Lalu bagaimana kabar tanah rantau? Masihkah ia sering menjadi galau?

Keras. Jika memang merasakannya, maka aku yakin semua mengalaminya. Baik yang melanjutkan kuliah, ataupun langsung bergelut di dunia kerja. Keras. Yah, dunia memang keras. Dimanapun, bagi yang masih menetap di kota kita sekalipun. Maka jangan pernah meremahkan siapapun. Karena semua ini belum berarti apapun. Jika setuju, tunjukkan senyum indah kalian kepada deretan kata-kata didepanmu. J

Apapun keluhannya, ketahuilah di luar sana. Ada yang mendapatkan yang lebih dari kita. Cobaan, halangan, rintangan silih berganti menerpa. Dan sebuah solusi takkan pernah berubah selain sabar dan tetap jalani apa yang ada. Solusi indah hanya akan datang bagi para ksatria yang takkan turun dari kudanya, dan tetap berjuang melawan musuh-musuh yang ada bukan? J

Lalu, bagaimana dengan targetmu?

Tiga tahun berlalu. Bagi yang D3 pasti sudah tinggal sejengkal meraih gelarnya. Dan S-1 sudah persiapan mengambil gelar sarjana. Tapi apakah selesai begitu sajakah?

Belum!
Jika ingat, bak kisah Habibie dengan Indonesia, apakah kita memiliki hal serupa dengan Lumajang tercinta. Yah kisah klasik. Dulu, pasti menginginkan bisa berguna bagi kota kecil kita. Entah bagaimana. Ingin melihatnya lebih sejahtera, makmur, dan lebih baik dari sedia kala. Tapi yah, entah bagaimana.

Visioner!
Jika masih bingung janganlah bimbang dan hanya termenung. Yuk nikmati peran yang ada sekarang saja. Mahasiswa, lulus dan membanggakan semuanya. Tentunya, bukan dengan berpangku tangan dan berdiam pasrah. Karena Ksatria takkan pernah melakukannya. Sekalipun lelah, bolehlah sesekali merebah, namun jangan sampai berubah. Cita-cita kita masih ada. Jalan panjang harapan yang tidak ada putusnya. Bidang apapun sama. Sama-sama berguna dan bermanfaat maka jangan pernah merasa tidak bisa.

Yah nikmatilah. Jungkir balik, jatuh bangun, hingga ngesot sekalipun. Ini masanya.

Lalu kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk kisah klasik kita.

Tetap berjuang, dan sampai jumpa kala kesuksesan kita genggam
Salam J

Sabtu, 05 Januari 2013

Sejumput Noda


Suatu hari, di dua ribu sepuluh.


Tepat di angka delapan. Jam di telepon genggamku malam itu.

"Eh, si kakak. Ngga nyapa ih", ujarnya seraya membuatku menepi.

"Oh, kamu. Darimana?", tanyaku berbasa basi. Ia hanya membalas dengan senyum dan dia beranjak pergi. Meninggalkanku dengan jalanan sempit yang biasa ku lalui.

"Dasar ababil GJ", pikirku dalam hati. "Perempuan, tingkahnya susah dimengerti", terkaku kembali.


----------------------------------------
The next days

TPA hari ini cukup ramai seperti biasa. Namun sosok adik yang menyapaku kemarin tak tampak. Mengapakah? Ketika kutanya, yang lain tak ada yang mengetahui jawabannya.

Ah biasa. Kucoba memakluminya. Sedikit memaksa. Ia sudah remaja. Pastilah lebih mengerti mana yang benar dan salah. Dibandingkan bocah-bocah di depanku yang beraneka rupa kenakalannya.
Demikianlah, sederet pikirku yang mengemuka. Dan perhatianku pun teralihkan oleh anak-anak lainnya.

Jika dipikirkan susah memang. Ketika kita dituntut memberikan perhatian sedemikian rupa bagi puluhan anak-anak yang ada. Tak sendiri?. Ya, aku memang bersama beberapa mahasiswa menjadi teman belajar mereka selepas senja beranjak pergi. Di musholla kecil itu, kami mencoba mengais sedikit ilmu. Berharap bisa menjadi bekal bagi anak-anak lugu yang menjadi generasi harapan di kemudian waktu. Namun....



----------------------------------------

Tahukah kawan, menjadi mahasiswa bukan perkara yang mudah.
Memang, kuliah, amanah dan lain sebagainya jika itu kau jadikan dalih semua atau salah satunya.
Tetapi anak-anak kecil itu, tak semua mengerti walaupun tlah mencoba.
Baginya kita cukup istimewa, bukan sekadar orang terpilih dan terpilah.
Namun ada kekuatan yang menggerakkan hati kita.
Karena itulah kita bergerak bukan, wahai kawan?
Lalu apakah itu kawan?
Masihkan itu ada dalam genggaman?
Jangan sampai ia menghilang dan menjadikanmu menoreh sejumput noda seperti yang kutinggalkan.
----------------------------------------

Sejujurnya aku merasa istimewa bila bercengkerama dengan mereka. Namun keistimewaan semu yang dirasa, akan segera dilibas jenuh, emosi dan berbagai halang rintang yang membuat hati enggan bertahan.

Mungkin bagi kita kawan yang mau menyisihkan waktu, bisa merasakan status menjadi pengajar. Atau jika diistilahkan, jadi murabbi kecil-kecilan. Walaupun sebenarnya terkadang ilmu yang kita ajarkan, belum tentu sudah benar kita resapi dalam-dalam sebelum kita celotehkan di khayalak raut muka para generasi harapan. Iya bukan? Namun, jangan pernah meremahkan. Atau kita hanya akan menuai sejumput noda, yang kan sulit terhapuskan.

Waktu bergulir.

Adik perempuan tadi masih enggan menampakkan kembali di TPA kami.
Ku pinta pengajar perempuan menanyakannya, namun tak menuai hasil. 
Kami terlalu sibuk mungkin. Dengan anak-anak yang lebih kecil, riang dan usil. Suasana TPA lebih ramai oleh mereka. Sementara yang remaja, seakan mendapat waktu sisa. Dan tenaga kami belum cukup menampung semuanya.

Sekadar tahu saja, dia adalah sosok yang cukup rajin sebenarnya. Ia cukup pandai mengajinya, hafalan pun lumayan, dari segi prestasi cukup menggembirakan. Dan dari situ mungkin kami terlena melakukan penjagaan.

------------------------------------
The next other days

"Eh, kok nggak ngaji lagi?", tanyaku suatu hari. Kami berpapasan. Rumahnya memang dekat dari musholla kecil kami.

"Errr, banyak tugas sekolah kak, hehehe", kelitnya. Ia beranjak pergi.

"Terlambatkah?", pikirku menyeruak. Mungkin juga. Sebelumnya aku memilih tak terlalu peduli, dan kini seketika ingin sedikit berbagi seakan canggung pun menyergap di hati.

"Ah pura-pura peduli, ah basa-basi, aahhhh"

Aku mencoba menenangkan diri. Mencoba mengurangi prasangka negatif tentang apa yang ia pikirkan terhadap kepeduliaan yang tampak tiba-tiba. Namun ternyata, alasan demi alasan membuat ia perlahan benar-benar tak kembali ke TPA kami.

------------------------------------

Sebaik-baik kata ketika menyapa. 
Apabila tergantikan oleh senyuman. 
Terdiam. 
Tetap saja, terekam diam.

-------------------------------------

The next other days

"Hei... Assala..", sapaku sembari terkejut melihatnya.
"Ia membalas sapaanku dengan hanya tersenyum malu seperti biasanya. Namun kini, sedikit berbeda.
Tak lagi tampak kain melindungi mahkotanya.  

"Mungkin lupa, mungkin dicuci, atau mungkin...", ah apapun aku mencoba berbaik sangka. Memang sih, dia telah mengaji di TPA jauh sebelum aku ikut mengajar disini. Jadilah pasti senior-senior yang ku ketahui sendiri jauh lebih baik, memberikan sesuatu yang berbekas di hati.

Perlahan, jilbabnya mulai lebih sering ditanggalkan ketika kami berpapasan.
"Hmm, mungkin dia sudah mulai puber", pikirku mencoba memahami. Memang, beberapa orang terkadang menganggap jilbab adalah penghambat bagi kecantikan. Namun sayang sekali jika dia berpikir demikian. Sayang sekali.

-----------------------------------

The next other days

"Ih kak Faisal", ujarnya sambil berlari dengan temannya yang juga makin jarang kelihatan mengaji akhir-akhir ini.

"Hei kok....", belum selesai aku berkata mereka telah meninggalkan jejak saja.

Hari demi hari berlalu, dan perlahan tahukah kawan apa yang kurasakan?

"Ah biarlah, ah lelah, ah jemu"

Semakin sering dan sering aku menjumpainya di sekitaran musholla ketika waktu mengaji tiba.
Tetapi sang waktu kian berlalu dan minim interaksi seakan membuat jarak diantara kami menengadah jauh. Sesekali kulihat dia asyik dengan sinetron di televisi.

"Ah memang sinetron remaja lepas maghrib makin seru akhir-akhir ini", pikirku.

Suatu ketika juga, kulihat rumahnya bergemuruh dengan suara musik walaupun maghrib baru saja berlalu.

"Hmm anak muda. Dia menggemari musik sepertiku dulu", pikirku.

Di lain waktu juga kutemui dia di teras rumah sedang bersenandung ria, bercengkerama dengan temannya. dan aktivitas lainnya.

Dan satu hal yang perlu dicatat.
Lidah ini seakan kelu.
Sedikitpun tak ada sapaan atau salam seperti yang terdahulu mampu tercuap meski sebenarnya hati merasa rindu.

------------------------------------------

Suatu ketika di dua ribu dua belas.

Azan maghrib memanggil. Sayup-sayup merdu mengisi ruang hati yang ikut menggigil. Bandung hujan malam ini. Bergegas ke MSU setelah dari seharian menikmati kuliah.

Setelahnya, beranjak ingin mengajar setelah beberapa lama tidak sempat karena berbagai kegiatan tak terduga.

"Hari apa ini?", pikirku. TPA kami memang memiliki jadwal rutin setiap hari. Dan pergi kesana biasanya aku tak lupa menyiapkan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan untuk hari itu.

Di plaza MSU kulihat, sesosok muda-mudi berduaan.

"Ah ini pasti malam Minggu", seketika terkaku.

Namun kulihat si pemudi itu berpakaian tak terlalu tertutup untuk udara sedingin itu. Sang pemuda justru lebih terlihat nyaman dengan jaketnya. Mereka duduk, berpegangan tangan.

"Oh saling menghangatkan, hehehe", pikirku.

Perlahan, pandanganku yang sedari tadi samar-samar menjadi lebih jelas.

Aku hanya bisa tertegun ketika yang kulihat adalah dia. Sosok adik perempuan yang tak lagi mengaji di TPA kami. Sesaat aku baru menyadari, selama ini aku menjadi saksi pasif perubahan yang dia alami.

Sedari awal ia enggan mengaji, karena keterbatasan perhatian pengajar hanya untuk yang kecil saja. Ia lepaskan jilbabnya. Pelan hingga aku semakin sering melihatnya tanpa jilbab kecuali ketika sekolah. Lalu perlahan pula berubah dari pakaiannya yang semakin lama semakin terbuka. Dan lainnya, lalu lainnya. 

Dan kini, aku melihatnya berdua dengan lelaki tak jelas asalnya dengan menggunakan pakaian sedemikian saja? Harusnya di jam ini, dia mengaji di TPA bersama kami.

Astaghfirullahaladzim...

Mana Quran yang senantiasa ia baca dengan semangatnya ketika dulu awal aku mengajar disana?
Mana jilbab yang biasa menjaga kecantikannya tuk tidak diumbar kemana-mana?
Mana sikap pemalu yang dia jaga?

Aku hanya bisa menangis dalam hati. Itukah sejumput noda yang kutinggal di masa lalu. Enggan kubersihkan karena malu. Dan kondisinya kini seperti itu?

T.T

Jujur kawan, aku bingung bagaimana memperbaikinya. Bingung darimana memulainya.

Mana orang tuanya?

Mana sekolah yang mendidiknya?

Mana saudara saudarinya?

Apakah lepas mengaji mereka biarkan ia sedemikian rupa?

Dan tahukah kalian. Salah satu sejumput noda itu tidak akan hilang dengan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Justru ketika enggan membersihkannya di muka, noda itu akan semakin menempel dan susah tuk kembali sedia kala. Maka setengah-setengah, dan apapun yang kita rasa, tahukah kalian apabila itu hanya menimbulkan sisa maka berhati-hatilah.

Keberanian adalah salah satu cabang dari kekuatan. Dan ilmu menjadikan keberanian bisa terukur sebagaimana mestinya.





Keluarga kecil kami :)
--------------------------------------------------

Kisah kecil tadi mungkin hanya contoh.

Adik-adik kita sekarang tlah semakin banyak yang menginjak masa remaja.
Mereka berada di jalur persimpangan yang akan bisa banyak mengubah dirinya.
Jangan berhenti.
Misi ini sederhana, tetapi tak semudah mengucapkannya dengan lisan ini

Perubahan itu memang takkan serta merta
Seperti cerita tadi, perlahan demi perlahan
Mereka pasti berubah
Yang harus kita lakukan hanya cukup meminimalisir perubahan ke arah yang kurang baik
Dan menumbuhkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Selamat berjuang,
Generasi penerus pengajar TPA Al Ikhlas

Khususnya angkatan 2012