Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Senin, 11 November 2013

Cukup sudah!

Cukup sudah menjadi lilin diantara kegelapan yang ada. Terus berusaha menebar cahaya, sementara tak terasa diri sendiri terbakar tanpa daya.

Cukup sudah!


Ingin Merdeka

Ah masih lama rasanya aku kembali ulang tahun dan menetapkan resolusi seperti biasanya. Namun kali ini aku ingin bebas. Bebas menetapkan apa yang kusuka. Bebas melakukan apa yang kudamba. Bebas bersikap. Dan dengan itu aku tetapkan resolusi tak selalu tiap usia berkurang setahun secara resmi, karena kematian pun datang tak pernah pasti.

Merdeka!!!

Hari pahlawan kian berlalu dan pelajaran tentang kemerdekaan ini membuat malu. Diri ini serasa masih saja menjadi benalu. Tak kunjung berani mandiri di tengah zaman hiruk pikuk penuh kelabu.

Aku lupa kapan tepatnya aku menjadi seperti ini. Perlahan goyah tak bisa mandiri. Dahulu aku tidak seperti ini. Pernah mengalami masa-masa merdeka lebih tepatnya, mengontrol diri sehingga ada kepuasan tersendiri.

Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali.....................
Hey, keinginanku yang tersisa masih banyak di kampus ini. Namun kembali ke keinginan utama, mengapa aku berada disini. Setidaknya aku ingin kembali kepada keinginan itu. Kembali fokus. Jadi anggaplah keinginan lainnya adalah manik-manik penghias yang menghantarkan ke muaranya semula.

Aku tak ingin kembali direpotkan hal menye-menye yang ternyata hanya benalu, menghabiskan waktu dan membuatku sibuk akan hal yang tak tentu.

Mati itu pasti. Tugas Akhir apalagi. Membahagiakan orang tua tak perlu ditanya lagi. Setidaknya ketiganya cukup, tak perlu hal lain lagi.

Jika ada hal-hal lain yang berani kembali membelenggu. Dengan ini aku menyatakan seorang Faizal Ramadhan merdeka! Kemarilah dan kau akan kuserbu.

Membiasakan kembali menjadi sosok lama akan membutuhkan waktu. Semoga tetap terkejar. Duhai Allah, ikhtiarku yang utama. Dan pertolonganmu akan menghantarkan itu semua. Hamba lemah penuh dosa ini tak bisa apa - apa. 




Senin, 04 November 2013

Overview Setengah Perjalanan

"Sekarang itu zamannya serba hebat. Teori-teori segala macem mudah didapat. Tinggal internetan semua sudah lengkap. Mentoring ini hanya pertemuan singkat. Dan kembali kepada diri kita masing-masing apakah perubahan nantinya didapat"

Selasa, 15 Oktober 2013

Akhir Tentang Kita

Entah seterjal apa ngarai yang kita tlah lalui
Mungkin sejengkal nyalipun enggan kembali
Ke masa dimana senyum pun terkembang tak pasti
Bagaimana ini? Lalu yang satunya juga, bagaimana ini? 
Semua penuh tanda tanya, bingung tuk melangkahkan kaki

Ketahuilah, 
Aku tidak pernah bisa memilih kerikil yang kan menyapa kaki-kaki kita
Debu yang menari mengejek barisan kita
Ataupun angin yang menghempaskan visi-misi kita

Dan perlahan memang
Hati-hati kita tlah terpenjara lesu
Lidah-lidah kita jadi terkunci kelu,
Dan kedekatan kita yang terbangun susah, payah, dan penuh pengorbanan itu... 
semua juga berakhir luruh

Entah ini hanya prasangkaku,
atau Allah yang belum mengizinkan kita tuk bersatu?
Dan ketika jemari ini memetik rindu
Aku hanya teringat, tentang hari-hari yang pasti kan kenang selalu

Aku mengingat senyum gilamu yang masih terkembang saat pendaftar kita masih dihitung dengan jari
Sementara malam itu kau isi dengan menyiapkan segalanya seakan esok 100 orang akan kau jumpai
Padahal proposal kita mengendap dalam momen PHP tingkat tinggi
Dan anggaran sudah kita usahakan tekan tapi tak bisa lagi

Atau wajah optimismu ketika kau rancang mimpi tampil di MTQ..
Saat itu pendaftaran sudah ditutup, dan benar-benar takdir Allah membuat panitia luluh membuat kita bisa daftarkan diri..
Tak ada dana, dan presentasi ke rektor benar-benar cairkan puluhan juta tuk kita lanjutkan mimpi

Aku tak pernah menyesali perjalanan ini..
Sekalipun tak selalu terbingkai indah momen-momen kita menangis dalam hati
Atau letih yang kita coba sembunyikan malu-malu meski muka ini tak bisa menutupi

Ketahuilah sahabatku,
Bahkan dunia ini takkan begitu membuatmu tertawan
Begitu kau tahu apa yang Dia sembunyikan di balik bilik-bilik relung keikhlasan

Akhir tentang kita,
Ialah bukan tentang cerita heroisme yang membelalakkan mata mereka
Yang aku inginkan hanya, 
sebuah generasi penerus yang jauh lebih siap dengan kaki-kakinya
Ketika duri tlah semakin tajam bermetamorfosa

Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending...



Senin, 09 September 2013

Aku, Dua Ribu Sepuluh

Pekan pertama tahun keempat dimulai sudah. Genderang perang diantara dedaunan kesempatan yang tersemai dalam perjalanan pohon kehidupan.

Aku, dua ribu sepuluh. Ini tahun terakhirku, dan ini targetku untuk semester ini. Baca dan ingatkan saat aku lalai ya :)

1. Aku pengen lulus dengan IPK di atas 3
2. Aku pengen lulus 4 tahun
3. Aku pengen segera kerja di 2015
4. Aku pengen bisa ikut nabung memberangkatkan haji orang tua
5. Aku pengen ikut biayain adik-adik sekolah
6. Aku pengen bisa melakukan yg terbaik di akhir amanah Direktur MQ
7. Aku pengen .............

IPK-ku mepet banget kawan -_- masih di bawah tiga. Tapi ga masalah. Aku bangga dengan hasilku itu. Itu adalah akumulasi hari-hari penuh kemalasan, perjuangan, hingga tangisan. Duhai robbi...

Semester lalu aku mendapatkan IP terburuk sepanjang sejarah. Well, that's shocks! 
Aku bahkan bingung pas pulang ke rumah mau cerita apa.

Dibilang apa penyebabnya, ya salahku sendiri. Masa mau nyalahin amanah-amanah yang aku emban sih?
Meski secara de facto really tiring semester lalu. Bad management! 

Aku hanya mendapati senyuman yang sama ketika melihat mereka. Senyuman kepercayaan. Senyuman penuh harapan. Senyuman penuh keyakinan, bahwa aku bisa, aku mampu.



Aku memiliki orang tua yang tidak terlalu pandai berekspresi. Mereka tak banyak berkata-kata, atau berucap nasihat panjang penuh makna. Well, tapi dari detik-detik yang mereka lakukan dalam bekerja, mereka pasti mengharapkan yang terbaik bisa aku lakukan.

Mereka tak menargetkan aku lulus kapan. Mereka tidak pernah memarahi IP-ku jelek. Mereka percaya aku bisa. 

Aku kangen dimarahi seperti pas SD, SMP dan SMA.

Ababil banget ya, udah gede pengen saja diperhatikan :'( hehe

Hal yang aku benci di tahun terakhir ini, aku jadi senior :(

Aku memiliki jabatan. Kata-kataku didengarkan. Aku punya banyak kenalan. Tapi makin jarang yang mengingatkan. Makin jarang yang menguatkan. :(

Sepertinya aku belum matang. Belum disiplin. Belum bisa sayang ama diri sendiri. Belum sayang ama target yang kumiliki. Masha Allah 

Tahun lalu emang bener2 dahsyat dah aku ngerepotin orang tua. Aku 2x kehilangan laptop, sekali kehilangan harddisk, dua kali kehilangan sepatu. Dan yang parah, aku menghilangkan laptop temanku. Semua karena lalai. Dan makin parah karena tidak berimplikasi pada IP yang tinggi. Malah IP terendah selama kuliah tahun lalu itu adanya :(

Aku, dua ribu sepuluh.

Ini tahun terakhirku. Aamiin. Ya Allah jadikan aku bisa. Jadikan aku mampu. Buang malas dan lemah dalam jiwa hamba-Mu yang hina ini. Dekatkan hamba kepada-Mu. Jauhkan dari yang menjauhkan dari-Mu. 










Minggu, 08 September 2013

#NeverStop

Satu tema, lain cerita, beda settingnya..
Sudah terprediksi megah dengan hebat oleh sang sutradara..
Terkumpul semua dengan satu tujuan yang sama..
Oh sayangnya aktris kita penuh talenta.. 

Improve seenaknya tak peduli naskah yang lama..
Oh dunia cepat sekali waktu adanya..
Mundur makin hancur, maju tetap lebur..
Tidak berhenti belajar teratur, agar tetap bisa menggempur..

#NeverStop

Jangan takut jadi sampah,
karena sampah pun masih bisa berguna
 
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

#RandomThought

Senin, 02 September 2013

Sebuah Poin Kontribusi

“Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu.” (HR. Al Bukhari)

Ada banyak hal yang belum kita tahu. Ada banyak ketrampilan yang kita belum bisa. Ada banyak wawasan yang kita lewatkan. Sementara ada ribuan buku yang terbit tiap hari. Ada miliaran ilmu yang berkembang setiap waktu. Ada miliaran manusia yang kita belum kenal. Ada jutaan tempat yang belum kita kunjungi. Ada banyak kata yang belum sempat terucap dan tersampaikan. Ada banyak buah pikiran yang belum tersalurkan. Ada banyak ide yang belum kita kemukakan. Ada pula banyak rancang karya yang belum kita wujudkan. Dan Demi Allah, ada banyak ilmu yang belum kita amalkan…

Padahal Allah telah menyediakan tempat belajar: ada banyak masjid tanpa jamaah dan pemakmur. Ada banyak TPA/TPQ yang kekurangan pengajar. Ada lembaga dakwah kampus yang terkesan berkubang persaingan hanya karena kurang orang. Himpunan yang krisis kaderisasi. UKM dan lab yang sepi peminat. Riset kampus yang makin tidak terlihat. Prestasi kampus baik nasional dan internasional yang perlahan makin jarang didapat.
Masih Banyak yang Butuh Kita
Sekitar kita masih banyak angka putus sekolah. Tengok saja bocah-bocah di PGA, Sukabirus dan sekitarnya. Mereka manis-manis. Bermain tertawa meringis. Tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi Sekolah memang gratis, tetapi banyak faktor membuatnya masih dianggap kurang efektif. Sarjana pengangguran. Walau sebenarnya lebih banyak pengangguran akibat minimnya pendidikan.


Anak-anak sekitar kampus

Itu yang dekat dan kecil. Ada yang dekat tapi besar. Misalnya tetangga kita (warga) yang masih terjerat kemiskinan di sekitar kampus. Tingginya biaya hidup membuat mereka kian tergerus. Sementara kita yang datang dari keluarga cukup berada perlahan menciptakan jurang pemisah yang kian menganga setiap tahunnya. Rumah mereka sudah sempit, sangat amat sederhana pula. Sementara tiap tahun bermunculan bangunan baru tuk hunian mahasiswa. Dan semuanya perlahan menutup rumah-rumah mereka dari sinar mentari yang ada. Menghalangi senja sebagai pemandangan indah kala sore menyapa. Hidup serba ada terkadang melalaikan kita. Meremehkan mereka. Mengacuhkan mereka. Membuat mereka seakan pribumi hina yang tak punya apa-apa.

Ratusan anak jalanan dan para pengemis lalu lalang di perempatan jalan di tiap sudut kota Bandung. Beberapa memilih menjadi peminta-minta. Dan kita hanya mencap-nya hina tanpa bisa membantu kepastian masa depan yang lebih cerah. Mental mereka sudah merasa nyaman di zonanya. Dan jangan harap pemandangan ini bisa berkurang setiap tahunnya jika tidak ada yang mencoba memperbaikinya.


Kriminalitas merajalela. Geng motor adalah cerita lama, tetapi tetap eksis jika disimak dengan seksama. Kebanyakan remaja. Putus sekolah. Putus penanganan orang tua. Dan putus segala-galanya. Angka pecandu narkoba juga cukup tinggi. Sama halnya dengan pertumbuhan angka saudari kita yang merelakan mahkota terindahnya dijual demi menyambung hidup atau sekadar mengikuti gaya. 

Tentang bencana? Banjir menjadi langganan di Baleendah. Sebagian Dayeuhkolot pun merasakannya. Lalu sudah bertahun-tahun kampus kita ada, masihkah kita menutup mata
Banjir di Dayeuhkolot 2013


Yang jauh di mata tapi harusnya dekat di hati? Jutaan pengungsi Palestina merenggang nyawa. Muslim Mesir yang dibantai diktator penguasa. Muslim minoritas rohingya yang hidup penuh derita. Muslimah yang diteror, ditarik jilbabnya dan diperkosa. Demi Allah, ada banyak hal yang akan ditanyakan-Nya kepada kita, soal ukhuwah, persaudaraan, cinta, dan kepedulian kita… 

Pantaskah Kita?
“Saya ‘kan juga masih bodoh soal agama, belum layak ambil bagian dalam dakwah. Sepantasnya saya didakwahi dulu sampai benar-benar bisa. Baru memang kalau nanti saya bisa ceramah, ajak saya berdakwah.”
Ketahuilah, kalau dakwah hanya ceramah, maka dunia hanya perlu lidah; tak perlu anggota badan yang lainnya!

"Saya khan masih mahasiswa. Amanah orang tua harus dijaga. Fokus kuliah. Tak perlulah berlelah-lelah mengurus lainnya. "

Ketahuilah, kuliah hanya tangga untuk membuka wawasan. Lalu tentang kesuksesan, kita yang membangunnya perlahan.

Kita bisa apa? Mari berkontribusi dalam karya..

Ada seseorang di antara kita yang hanya bisa mengebut, tak ada keterampilan lainnya. Betapa berharganya dia sebagai penjemput ustadz pengisi pengajian yang rumahnya memang jauh. 

Pun ada yang agak ‘pelit’ (baca: hati-hati) soal uang. Ada jabatan bendahara organisasi menanti tuk menjadi kontribusi. 


Pun ketika ada seseorang yang suka jajan, dialah referansi sie konsumsi kepanitiaan untuk mencari konsumsi terlezat dan termurah. 


Pun ketika ada seseorang yang suka bertualang, dia referensi dan surveyor sopir, bukanlah kita perlu sie transportasi jika himpunan hendak mengadakan kegiatan diluar?


Pun kalau ada yang bercita-cita menjadi pebisnis sukses, mengapa tak sejak sekarang belajar menjadi sie dana usaha?  Atau malah membantu warga memulai usaha dengan berinvestasi membantu permodalannya.


Kalau ada yang pandai komunikasi dan bergaul kok tidak mencoba melobi kaum kaya untuk membayar infaq dan zakat untuk diserahkan ke lembaga sosial hingga disalurkan mereka yang membutuhkannya? 


Yang bisa mengaji walau tak terlalu lancar, bisa membantu memberantas buta huruf walau hanya mengajar iqro'




Begitu banyak yang bisa kita lakukan. Bagaimanapun bentuk dan kemasannya, jika niat lillahi ta'ala, ketahuilah ini bernama dakwah. Buahnya pahala. Muaranya surga.


“Hai orang yang berkemul selimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-mu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-mu, bersabarlah! (QS. Al Muddatstir 1-7).
Mereka Sudah, Bagaimana Dengan Kita
Mari kita tengoklah ke belakang. Investasi Ustman bin Affan ra telah memakmurkan seluruh Madinah. Enterpreneurship Abdurrahman bin Auf ra telah membangun keseimbangan pasar yang sebelumnya dikungkung hegemoni Yahudi Madinah. Keuletan petani seperti Abu Thalhah ra telah menjamin ketahanan pangan Madinah. Kemahiran Asy Syifa’ binti Abdillah ra telah menjaga kesehatan penduduk Madinah. Administrasi ala Umar bin Al Khaththab membuat negerinya sentosa. Kejelian accounting seorang Abu Ubaidah ra telah menjaminkan keadilan dan pemeratan ekonomi masyarakat. Kelihaian perang Khalid bin Walid ra telah membuka wilayah-wilayah baru. Kecerdikan diplomasi Amr ibn Al Ash ra telah menaklukkan banyak tanah tanpa pertumpahan darah.
Lalu di sekitar kita?
Kegiatan di sebuah TPA yang dikelola mahasiswa
Relawan Cakrawala Baca, Pembinaan Pendidikan di daerah terpencil
Dokumentasi Relawan Telkom Mengajar di Sebuah Sekolah Dasar
Desa Binaan, Prakarsa BEM IT Telkom
dan lain sebagainya

Sebuah Poin Kontribusi
Berkontribusi itu menyenangkan. Membantu kita mendapatkan pemaknaan atas apa yang kita telah dapatkan. Membantu kita menjaga ilmu yang kita dapatkan. Memperdalam dan memahami bukan sekadar menghafal.

Berbagai lelah mengkaji dasar teorema dan ratusan kali percobaan alat berbuah manis ketika teman-teman Robotika menjadi juara. Pun dengan pengorbanan para langganan PIMNAS yang memutar otak, memancing ide kreatif untuk bisa berguna untuk sekitarnya. Para juara GEMASTIK, INAICTA dan kompetisi lainnya pun pasti merasakan.

Prestasi Lab 

Imagine Cup

Ayo cari tahu apa yang belum kita tahu. Belajar yang kita belum bisa. Salurkan buah pikiran yang belum tersalurkan. Kemukakan ide dan gagasan untuk perubahan. Wujudkan karya yang belum kita wujudkan. Amalkan segala yang kita bisa tahu tahu. Sekecil apapun. Sekecil apapun...

Mari kerjakan semuanya yang kau bisa sampai batas kelelahan menghampiri. Malam ini, saat kita rasakan pegal di punggung, ngilu di kaki, dan nyeri di sendi, berbaringlah bertafakkur di tempat tidur. Bermuhasabah-lah merilekskan tubuh. Rasakan kenyamanan istirahat yang sangat. 



Bila memiliki banyak harta, kita akan menjaga harta. Namun jika memiliki banyak ilmu, maka ilmu lah yang akan menjaga kita. 

Dan sebuah poin kontribusi adalah aktualisasi nyata dari keilmuan itu akan menjaga kita bisa bisa berguna dimanapun dan kapanpun kita berada




dikembangkan dari "Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim" Bab Memintal Seutas Benang, Judulnya "Kontribusi", Salim A. Fillah, 2006, cetakan I 2007, hlm. 151-154)