Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Rabu, 02 Februari 2011

Kepada Malam Aku Bercerita

“Kondisimu jauh lebih baik dari Om Marwan dulu le”, ujar nenek tadi sore. Berkali kali memang orang mengatakan itu kepadaku. Dari mulai nenek, tante Yenti, hingga Abi dan Umi. Ya, kondisiku jauh lebih baik. Tak terbelit masalah keuangan, makan pun cukup tak pernah kelaparan, tak sedikitpun perpecahan keluarga yang membayang.

Jika dibandingkan dengan Om Marwan, aku memang jauh. Dia memang langganan juara semasa SMA, melanjutkan tradisi kakak-kakaknya sebelumnya. Dan aku generasi setelahnya, memang di SMA yang sama bersekolah, tak kuasa mengukir sesuatu yang “wah”. Hanya biasa. Bahkan masuk kesana pun hanya sekadar keberuntungan yang tak terkira.

IP semester pertama yang kurang nol koma nol lima mencapai tiga buktinya saat kini kuliah. Aku tidak beruntung, walau sudah berusaha. Dan itulah hasilnya. Kecewa? Tentu iya. Dengan berbagai jaminan fasilitas, aku tak bisa menjalankan peran sesungguhnya. Berbeda dengan mereka, sembari kerja sambilan prestasi masih digenggam tuk dipersembahkan kepada orang tua.

Sebenarnya musuhku hanya satu. Saat keinginan sudah direncanakan digapai, dengan langkah ini dan itu musuh itu datang menyerbu. Aku ingin perbaiki seranganku. Tapi apa daya kala musuhku adalah diriku sendiri.

Saat memenuhi target belajar, tak kuat rasanya. Parah memang. Tak sampai tiga jam, aku pasti sudah KO oleh bosan. Apakah ini sikap pemalas? Entahlah. Tapi saat jelang hari H, seakan penyakit itu lenyap dengan sendirinya.

Konsentrasi bisa penuh berjam jam, tapi apa daya. IQ yang pas-pasan tak mendukung sistem kebut-kebutan seperti ini. Hasilnya takkan maksimal.

Andai aku pandai pasti aku bisa. Belajar berkualitas tanpa cepat bosan ataupun terserang kantuk hingga hasilnya pun memuaskan. Jadilah tak perlu sering apalagi dengan prekuensi tinggi. Jadilah itu belajar cerdas, bukan belajar keras.

Tapi IQ pas-pasan ini menjadi kendala tersendiri. Jadilah hanya bisa belajar keras.

“Sudah malas, bodoh pula.” Parah kali itu kata-kata. Jika malas tapi pandai, bolehlah. Tapi ini, bagaimanakah?

Setidaknya aku ingin, “walau bodoh masih [agak] rajin”. Karena terdengar masih mending. hehehe

Tapi bagaimana bisa rajin jika belajar tak kurang dari 2 jam saja udah nggak tahan. Ada saja yang jadi ganjalan.

Aku iri dengan banyak kawan. Misal, sepupuku yang tahan belajar habis maghrib hingga jam sepuluh malam. Itupun sore masih ikutan beljar di les-lesan. Dia tahan berjam-jam di depan buku pelajaran. Hasilnya pun menggembirakan, hingga pernah menang olimpiade matematika tingkat kabupaten.

Bayangkan. Itulah kekuatan konsistensi pikiran. Dan aku tak memilikinya.

Tapi, bukan kamusku jika menyerah dengan keadaan yang ada. “Tak ada yang sia-sia”, sama seperti kata kakak mentorku tercinta. Semester lalu sudah ku buktikan walau masih belum bisa jadi bukti nyata.

Matematika yang dulu sewaktu SMA selalu (baca always) remedi, kemarin sudah mulai bertemu titik terang hingga dapat B di semester pertama kuliah. Ajaiblah, apalagi itu jauh lebih murni dari hasil SMA. Walau jika lebih giat lagi nilai A bukan sekadar wacana.

Ah sudahlah. Harus lebih baik semester depan. Kemarin sempat patah arang hingga merengek ingin diberi opsi ikut kembali ujian STAN. Tapi penyakit lainku masih ada, "Suka padahal tak Bisa". Beda dengan kebanyakan orang yang menyukai sesuatu dimana mereka ahli di dalamnya. Bahkan ikut olimpiade fisika, tak pernah menang dan hanya partisipan juga masih tetap saja "suka". Jadilah STAN hanya tak lebih dari rencana orang tua, karena aku telah terlanjur suka di bidang ini.

Ku tutup ceritaku kepada malam dengan asa indah. Yang tak hanya di pelupuk mata, tapi hingga ke hati biar selalu terjaga.



Lumajang, 2 Februari 2011


Catatan Aneh Sebelum Kembali Ke Tanah Perantauan

Selasa, 01 Februari 2011

Hari Ini Ku Lepaskan Kau Dari Hatiku


Uraian Fiksi.

Terinspirasi Sebuah Lomba Yang Tak Jadi Ku Ikuti.

30 Januari dini hari, aku terbangun sama seperti dua tahun belakangan ini. Entah karena kalender di telepon genggamku yang terlanjur ku set untuk mengingatkan diri, atau mungkin aku yang terlalu munafik untuk mengakui masih saja ada rasa itu di hati.

Pikiranku sendiri tak bisa bertoleransi dengan janjiku pada diri sendiri ketika pesan pesan singkatmu yang perlahan ku baca ulang. Entah sudah berapa lama itu ku simpan. Tanpa tujuan. Tapi aku ingat momen itu, saat tiap bunyi pesan darimu di selalu ku tunggu. Dag Dig Dug...

“Aku tak berubah, sama seperti dulu”, ungkapmu kala itu. Aku hanya bisa membaca pesan singkatmu itu dengan senyum. Dingin malam yang menusuk pula membangkitkan kerinduan lama yang sudah ranum.

"Aku malah sudah berubah”, balasku saat itu. Ya, aku memang berubah, tapi tak sepenuhnya berubah. Seperti Surabaya yang selalu saja kau anggap indah kala petang menyapa. Akan tetap Surabaya walau polusi udara merenggut udara segarnya.

Perubahanku, aku membanggakannya. Walau terbesit di benakku akan keraguanmu dari nada rangkaian indah kata-kata. “Maaf aku sok tahu”, entah berapa kali ku ucap itu kepadamu. Aku memang tak seperti dulu, selalu aktif mencari kabarmu tuk selalu berusaha ada saat kau butuh. Dari teman-teman dekatmu, ataupun status facebook milikmu, selalu ku dapati info terbaru. Dengan itu, aku punya alasan menghubungimu. Tidak hanya sekadar basa basi menanyakan kabar terbaru. Tapi untuk meringankan beban pikiranmu, walau aku pun tahu sepatah kata dari pesanku tak cukup berarti untukmu.

Tapi sejujurnya, dari semua itu aku ingin menemuimu. Setidaknya niat kecil itu terbesit kala ku langkahkan kakiku menyusuri stasiun dengan sendu. Namun hingga saat terakhir liburanku, aku tak bisa mengatakan itu kepadamu. Jangankan mengajakmu bertemu, sikapmu yang mendingin saja sudah membuat lidahku kelu. Tapi aku tak ingin banyak mengeluh. Aku tahu, mungkin takdir tak membuat rasaku ini menjadi rasamu.

Hari ini, ku lepaskan kau dari hatiku.


--------------------

“Fa, kamu sekarang ama siapa?”, berbagai pertanyaan yang kerap kali mengganggu. Mengganggu, karena akan mengingatkanku pada dirimu. Menelisik kenangan lama yang telah kau isyaratkan tuk kau tutupi dengan kenangan barumu yang mungkin jauh lebih indah. Indah? Aku hanya bisa menerka. Tatkala dirimu yang tak lagi terbuka, bagaimana aku tahu hatimu sedang terluka.

“Bukannya kamu sedang dekat sama si anu, si itu ...” , begitu ucapan penolakanmu dua tahun silam kau ungkapkan. Padahal sudah jelas, tanpa secercah kesangsian yang menggilas tiap kata yang ku retas. Tapi tidak bagimu.

“Fa, kamu pulang sama siapa?”

“Sendirian”

“Boleh nebeng ya...”

“Hmm, gimana ya.. Baiklah”

Percakapan yang seringkali menghadangku. Dan kau pasti tahu aku tak kuasa menolak permintaan bantuan teman-temanku. Walau aku selalu berharap kau tak pernah melihatku jika begitu. Kau tahu itu, atau mungkin memang tak sekalipun mau tahu. Entahlah. Tapi tahukah kau saat itu? Aku hanya tak ingin dianggap baik hanya kepadamu, hanya karena kau adalah yang spesial di hatiku.

Mereka teman-temanku. Dan aku tak ingin mereka kehilanganku hanya karenamu.

Dan itulah juga kenapa hari ini, ku lepaskan kau dari hatiku.

Aku ingin seperti Pras, tokoh dalam novel Istana Kedua karya Asma Nadia. Tahukah kau, dia tak pernah jatuh cinta. Atau boleh dikatakan setidaknya dia membelenggu hatinya untuk memiliki rasa indah. Bahkan dikisahkan diapun hingga dianggap kuno oleh rekan di kampusnya. Padahal tujuannya satu, tujuan mulia dengan penuh pengorbanan di dalamnya. Dia menyadari betul sulitnya bersikap setia. Karenanya, dia putuskan cinta pertamanya hanya untuk pendamping hidupnya. Agar tak terbesit sisa-sisa rasa dengan yang lain di luar sana.

Awalnya aku tak kuasa mengikuti jejak Pras. Dia membukukan tiap untaian cintanya, bait-bait indah dari rasa kepada seseorang yang tidaklah tahu siapa dan dimana. Hingga tiba saatnya, buku itu diserahkan pada permaisuri yang dipinangnya. Buku itupun menjadi saksi setianya.

Aku terlanjur, memiliki rasa ini untukmu. Itu masalah utamaku. Bagaimana mencegah keterlanjuran itu?

Pras memang tak lebih dari tokoh novel. Yang ada dalam sebuah imajinasi keren. Tapi tidak. Dimana pun Pangeran harus melawan sesuatu yang jahat sebelum menyelamatkan Puteri idamannya. Dan jika sesuatu yang jahat itu adalah diriku sendiri aku pun rela untuk itu. Termasuk jika rasa kepadamu itulah yang harus ku lucuti dengan nyanyian kebangkitanku.

“Aku ingin seperti Pras. Bukan karena dia memilih istana kedua, tapi dia hanya membuat kata-kata indah penuh cinta hanya tuk seorang saja”, itu yang ada di benakku saat membaca novel itu.

Dan tahukah kau, aku memang sudah berubah. Keinginanku, adalah kamus dalam prinsipku yang akan ku ikuti selagi maut belum jua merenggut waktuku.

Karena itu, hari ini ku lepaskan kau dari hatiku.

Jumat, 21 Januari 2011

Sayap- sayap Patah Para Pencari Cinta


Bersama kita lewati
Tiap momen dengan hati
Perlahan saling mengerti
Hingga terpaut penuh arti

“Pak, kelompoknya milih sendiri ya”, suara yang sudah tak asing lagi. Pasti mereka. Mereka? Siapa sih yang tak kenal mereka? Kemanapun mereka bersama. Melangkahkan kaki penuh canda tawa. Dihiasi keceriaan dan kekompakan indah. Ya siapa lagi kalau bukan mereka.

Mereka memang komplit. Anna yang rajin, Vira yang keibuan, Nana yang manja dan Nuri yang suka bergosip ria. Apalagi kepandaian mereka pun sudah tak perlu ditanya. Tiap ulangan pasti tak tercantum nama mereka di daftar remedial. Mereka pun ibarat primadona di kelasku.

“Kan sudah Bapak bilang, satu kelompok lima anak”, ujar Pak Nazril, guru Bahasa Indonesia kami saat itu.

“Tapi Pak, kami sudah cukup berempat saja. Boleh kan Pak”, balas Nana dengan yakinnya.

“Huuuuh”, reriuhan kelas membalas pertanyaan Nana tadi. Memang begitulah mereka, sangat ekslusif. Mereka selalu berkelompok bersama. Pelajaran apapun itu, kecuali guru kami kebetulan tegas dalam mengambil langkah. Itulah yang menyebabkan beberapa kawan kurang simpati kepada mereka. 
Namun, tidak demikian denganku. Karena sedikitpun keekslusifan mereka tak membuat mereka pelit. Mereka murah hati mengajari teman lain bila bertanya. Memberi jawaban tugas atau PR pun juga.
“An, kenapa sich kamu dan teman-teman kelompokmu itu bisa kompak abiisss?”, tanyaku waktu itu. Aku memang penasaran. Aku sudah sejak lama menginginkan memiliki teman teman dekat yang kompak seperti itu. Saling berbagi, saling membantu, dan saling mengingatkan tuk kepentingan semua. Apakah karena mereka perempuan? Dan apakah memang karena para lelaki tak bisa seperti itu?

“Hmm gimana ya”, Anna mengerutkan dahinya. Agaknya dia bingung. “Mungkin karena kami memiliki kesukaan yang sama”, jawabnya dengan cengengesan.

“Apaan emang?”

“Gini Fa, kami itu sukaaaanya Matematika…” , jawab Anna dengan wajah berbinar binar.

“Gila,, matematika disukain? Aku aja akan tasyakuran tujuh hari tujuh malam kalau Matematika dihapus dari peredaran pelajaran SMA”, selaku dalam hati.

“Sukaa film Korea”, tambahnya.

“Iya, Fa, apalagi yayangku Kim Boom yang manis itu hahaha”, sela si Nana.

“Hushh dia milikku, bukan milikmu”, balas Nuri, riuh.

“Betul betul betul”, tambah Vira membenarkan dan bergaya Upin Ipin.

“Dan yang paling penting Fa….”

“Yang paling penting?”, tanyaku balik, penasaran.

“Iya.. Penting buanget nich Fa..”

“Ckckck, naon neng emangna?” balasku, geregetan.

“Kami sama-sama suka cowoook”, seru Nuri dengan lantang. Lainnya pun mengikuti dengan cekikian tak kalah lantang. Anna yang tertawa ala kuda, Vira ala Mak lampir, Nuri ala presenter silet, dan Nana yang malu-malu hingga ketawanya tak sedikitpun memperlihatkan giginya. Saking lantangnya, hingga beberapa anak yang saat itu di kelas melihat ke arah kami.

“Dasar anak perempuan gila, beginilah”, pikirku. Tapi tak bisalah disebut gila. Mana ada orang gila yang selalu lancar ulangan ketika yang lain bercucuran keringat tanda tak mampu, mana ada orang gila yang rajin belajar bersama ketika yang lain menikmati suguhan sinetron di depan layar kaca. Mana ada? Jika ada mereka itulah buktinya. hahaha

Betapapun uniknya mereka, aku masih penasaran bagaimana mereka membangun kekompakan macam itu. Sedang aku, hanya merasa cocok dengan orang tertentu saja dari kaum Adam. Selebihnya mereka tertutup, tidak bisa diajak berbagi, hanya ingin berbagi kesenangan saja. Bagaimana bisa kompak kalau begitu adanya?

“Hei hei, aku masuk kelompok kalian ya bahasa Indonesianya. Dengan begitu kelompok kalian akan pas lima orang”,rayuku. Aku memang ingin tertarik berkelompok dengan mereka. Siapa tahu ketularan rajin. hihi

“Gimana ya. Hmm… Gimana nich guys?”, Anna bertanya balik kepada yang lain.
Mereka berbisik-bisik selama beberapa menit. Dan akhirnya mereka menyetujuiku.

“Lebay amat, gitu aja pake rapat kabinet”, ledekku dengan cengingisan.

“Terserah kami donk”, balas Nana.

Akhirnya aku bisa sekelompok dengan mereka. Awalnya hanya dalam pelajaran bahasa Indonesia, namun setelah waktu berjalan, aku pun terus mencoba hingga dalam pelajaran lain aku diterima lagi untuk satu kelompok dengan mereka.

Tak mudah memang, apalagi bagi anak laki-laki sepertiku masuk di kelompok super ekslusif seperti mereka. Namun waktu berjalan tak sesuai rencana awal. Mereka masih tertutup dan sering berbisik-bisik di depanku.

Dan rumput hijau yang bergoyang menguning sudah
Waktu telah berjalan sesuai jalurnya
Tapi tertutup jua peti hati itu
Terkunci rapat dengan balutan filosofi yang membeku

Setahun berlalu. Kami tak lagi satu kelas. Komunikasi terputus, tersisa memori memori yang aus. Hingga suatu malam, tiba-tiba Anna mengirimu pesan.

“Fa, aku pengen curhat”, tulisnya singkat.

“Yuup, silahkan”, balasku sambil terheran-heran bukan kepalang.

Malam itu diceritakanlah olehnya semuanya. Cerita nyata yang tak terbayangkan siapapun juga tentang mereka. Cerita fenomena anak muda yang tak asing tersampaikan sebagai ide cerita dalam sinetron di layar kaca. Tentang apakah ini? Tentang satu hal, yaitu tentang cinta.

Usut punya usut ternyata tiga dari mereka menyukai orang yang sama. “Itu sudah sejak tahun lalu”, jelas Anna. Orang yang sama? Apakah begitu dekatnya mereka hingga kriteria yang disukai hati juga sama?

“Mengapa baru sekarang ada konflik?”, tanyaku penasaran.

“Karena baru kemarin-kemarin kami sharing masalah ini”.

Parah. Benar adanya saat ku cek lagi keesokan harinya. Sesuai penuturan Anna, mereka terpecah belah. Bak kawanan burung yang selalu terbang bersama, mereka tak lagi sejalan. Satu sama lain saling curiga, tak lagi percaya.

“Bahkan Nuri bilang Fa, persaingan dalam cinta itu tak mengenal batas. Entah itu persaudaraan ataupun sekadar persahabatan. Sejak itu dia tak pernah menyapa. Anna dan Nana sudah mau mengalah, tapi…”, celetuk Vira yang ku temui di parkiran seusai sekolah. Dia sudah menengahkan, tapi apa daya. Ibarat pepatah lama, cinta agaknya membuat satu diantara mereka buta.

“Trus gimana Fa?”, tambah Anna dengan suara lirih.

“Mungkin waktu kan mengubah segalanya”, jawabku singkat. Ya, tak ada lagi cara. Jika sudah bersikeras seperti itu.

Baja keras itu pun kini seperti buih
Terombang ambing terhantam perih
Kala gelombang dahsyat bernama cinta menyapa
Merusak simfoni akan nada-nada indahnya

Sadar disukai para primadona, lelaki itu tampaknya bersikap bijaksana. Dipilihnya salah satu dengan segera. Nuri kecewa, demikian pula Anna walau hanya bisa memendamnya seribu bahasa. Tapi Vira menganggap inilah akhir pertengkaran mereka. Ialah Guntur namanya. Cowok blasteran Indo-Jerman ini memang ramah, gokil dan santun. Pantaslah jika Empat Srikandi itu hingga sempat saling tak tegur sapa. Tapi haruskah sampai begitu?

Dulu kita sahabat berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu kupu
Kini kita tlah berjalan berjauh jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin kita terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku ….(adapted by lyric of Sindentocsa)

Seminggu jelang UAN, aku melihat mereka bersama. Berpegangan tangan membentuk lingkaran di halaman belakang sekolah. Dengan perlahan aku menguping pembicaraan mereka. Penasaran. Apalagi setelah mendengar Nana mengakhiri kisahnya dengan Guntur.

“Kita mungkin memang sama- sama para pencari cinta. Terbang bersama laksana kawanan burung di angkasa. Tapi kala salah satu sayap kawan kita patah, kita harus tetap bersamanya. Bagaimanapun caranya”, ucap Vira dengan bijaknya.

“Iya Vir, aku minta maaf ya. Mungkin aku terlalu egois kepada kalian teman-teman”, celetuk Nuri.

“Aku juga. Aku janji akan berusaha menjaga cinta ini demi kalian kawan. Karena kita menyukai orang yang sama, jadi aku hanya mewakili kalian tuk mendampinginya”, balas Nana dengan sesenggukan menahan haru. Guntur tlah berjanji menikahi Nana setelah kuliah, tapi dengan syarat hubungan mereka diakhiri sementara.

“Kita baikaaan”, teriak mereka kompak.

Aku senang, akhir yang bahagia. Tuk semua seperti semula. Dan kini, pelajaran pun tlah ku dapat dari mereka. Sebuah pelajaran akan egosime cinta, yang takkan bisa diungkapkan dengan kata. Karena kala cinta menyapa dan semua terbutakan, hanya pikiran jernih yang bisa mengatasinya.

Minggu, 09 Januari 2011

Ketika Tersungkur Tanpa Busur


Sebuah Curahan Hati Motivasi
By Raffa Muhammad


Ingatlah ketika kau disini
hendak berlari tanpa kaki
ingin melihat tanpa mata
mendengar tanpa telinga si samping kepala

Dan apakah yang kau dapat kawan?
Kala berharap tanpa suatu tuk diusahakan
Saat menanti tanpa kepastian
Ketika berjuang tanpa kejelasan kemenangan



Secara teroritis, semua kemampuan yang diwariskan secara genetika sering disebut bakat atau talenta. Ibarat jika ingin memanah, itulah busurnya yang bisa kita jadikan modal. Sebuah modal untuk menarik sebuah minat dan kesungguhan, membantu kita mengaruhi lika liku yang akan penuh kita hadapi dalam sebuah kehidupan.

Sulit memang saat kita merasakan tidak memiliki sesuatu yang istimewa dalam diri kita. Bukan sebagai bentuk representasi tidak bersyukur terhadap apa yang ada, tapi ada hal lain dimana kita harus fokus tentang apa yang akan kita lakukan di masa mendatang. Di saat itulah jika memang bidang yang kita masuki sesuai dengan bakat kita tentunya semua akan berjalan lebih mudah.

Apalagi jika dari bakat itu dibarengi dengan minat kita di bidang yang sama. Jadilah sebuah kombinasi minat-bakat yang akan menjadi busur kita tuk menarik anak panah, membidik target masa depan yang ingin kita dapati. Melipatgandakan segala motivasi yang akan menjadi saksi, perjuangan meraih mimpi dengan penuh kesungguhan hati.

Tapi bagaimana kita mengetahui busur itu? Dimanakah letaknya dalam diri ini? Sementara berbagai tes minat-bakat yang seringkali digelar pun tak berguna banyak. Tak efektif tuk mengetahui bagaimanakah wajah masa depan yang diri ini sebenarnya ingin dapati. Bahkan terkadang hanya waktu yang bisa menjadi pelipur penasaran tentang jati diri.

Kesuksesan itu 99% hasil keringat, 1% dari bakat.

Itulah yang selama ini ingin selalu ku pegang. Buah kerja keras yang akan mengubah jalan masa depan. Sebuah pengharapan yang dibarengi usaha mati-matian. Tanpa bakatpun tak mengapa, karena minat akan melahirkan motivasi berlipat walau hanya disertai do’a dan kesungguhan usaha.

Tapi kadangkala memang pasang surut tak terbendung. Saat kesulitan datang sebagai jawaban agar terus menempa diri, aku justru menjadi satu dari beberapa orang di dunia yang tak merasa memiliki bakat. Dari situlah keinginan menentukan minat pun seringkali tersendat. Apalagi dibarengi dengan kekurangan sebagai pribadi yang dalam menentukan pilihan digelayuti kebimbangan yang amat sangat. Jadilah lingkungan tak bisa dilepaskan sebuah keputusan dibuat.

Bahkan aku pun menetukan masuk Teknik Telekomunikasi dalam keputusan sesaat. Tepat saat mendaftar ulang secara online di depan komputer. Hanya karena tergiur kesuksesan Paman, dengan gaji melimpah yang berujung dukungan penuh keluarga memasuki bidang yang sama.

Tapi apa, Indeks Prestasiku di semester awal hanya berkisar dua koma. Aku harusnya pulang membawa sebuah kemenangan. Tapi kekalahan yang tak sedikitpun ku janjikan mengikutiku sekarang. Apalah ini artinya? Saat awal-awal begini yang hanya mempelajari dasar aku sudah tersungkur. Apa yang terjadi nanti saat sudah mulai menghadapi rintangan sesungguhnya? Matikah? Terkapar tanpa daya tuk kembali merajut harap keluarga? Jujur aku sudah ragu bisa bertahan. Bertahanpun hanya akan menghasilkan sebuah hasil pas-pasan. Tak cukup bisa tuk disandingkan dengan 22 juta per tahun yang harus orang tuaku keluarkan.

Aku bingung. Siapakah yang harus disalahkan? Apa yang patut disalahkan? Aku sudah berjuang. Tapi hanya berujung kekalahan. Tapi bukan berakhir disini kisahku bukan? Pastinya iya, demikian pula semangat kedua orang tuaku yang masih mempercayaiku tuk kembali meneruskan perjuangan di bidang serupa. Tak peduli apakah aku tak berbakat, tak cocok ataupun tak bisa menjadi kelompok atas di bidangku ini. Selagi masih bisa bertahan, apapun hasil yang didapatkan mereka yakin bahwa itulah yang terbaik dan pantas tuk ku dapatkan.

Aku memang jatuh tersungkur
Setelah sekian membidik tanpa busur
Tapi sekarang aku tlah cukup terlelap dalam tidur
Sudah waktunya kembali membentang peluang tuk diukur
Menebar jala tuk dituai nanti di akhir umur


Memang sangat riskan jika menyadari modal yang kita punyai tidaklah sebanding dengan hambatan awal yang sempat membuat kita tersungkur. Kita boleh jatuh, tapi segera pula bangkit dari keterpurukan. Sebagaimana Thomas Alva Edison yang harus berjuang ratusan kali tanpa kenal menyerah hingga berhasil menemukan bola lampu dengan kawat Wolfram yang cocok, dan juga berbagai perjuangan lain di sekitar kita.

Lalu bagaimana dengan modal berupa bakat itu tadi yang tak dimiliki? Entahlah, tapi tak bijak kiranya jika bakat yang tak dimiliki menjadi alasan tuk menjadi malas berusaha, tuk menjadi takut bersaing, tuk menjadi segan tampil. Biarlah mereka dengan bakatnya, toh itu seua karunia. Dan kita dengan apa yang kita miliki dalam diri ini. Sedikitpun yang kita miliki baik berupa kepintaran maupun keahlian, akan sangat berharga jika itu bisa kita maksimalkan. Jadilah kita memiliki bakat, yaitu bakat berupa karunia keteguhan hati tuk tetap gigih berusaha, tanpa kenal lelah melangkah hingga tak sanggup lagi diri ini berdaya.




Selasa, 21 Desember 2010

Andai Ada Hari Ayah


Hari Ibu adalah hari ini, tepat di 22 Desember. Mungkin sangat berkesan sekali sosok ibu di benaknya. Sangat berkesan. Jauh berbeda dengan Ayah. Jadi apalah arti Ayah andai ada hari Ayah untuknya. Ayah. Hanya sebatas sebutankah atau hanya gelar? Apa semua Ayah pantas menjadi Ayah?



Sebut saja Rasyid, bocah kelas lima SD yang kebetulan sering mengaji bersamaku dan mampir ke kosku juga. Ketika itu, untuk ke sekian kalinya dia datang. Dan entah mengapa dia akhirnya menceritakan kisah yang menurutku hanya ada dalam sinetron.

“Aku kangen dengan adikku kak”, ucapnya lirih.

“Kakak juga. Memang adikmu dimana? Kok nggak kamu kunjungi saja?”

“Tapi adikku sedang bersama Ayah kak. Dan Ibu nggak mau kembali ke sana”.

Aku heran. Apa salahnya jika bersama Ayah? Sebegitu menakutkankah sosok Ayah baginya? Sementara dia pun melanjutkan kisahnya. Kisah yang sebelumnya belum pantas diketahui anak seumurannya. Tapi apa daya. Siapa yang mau ia salahkan? Dia hanya rindu adiknya, bukan Ayahnya.

Dari ceritanya, dia ternyata datang ke Bandung di bulan yang sama denganku yaitu Agustus. Asalnya dari Lampung. Anehnya, dia sudah mahir berbahasa sunda, hingga saat ngaji pun kadang mengucap “fa” jadi “pa” seperti kebanyakan orang sunda. Disini memang banyak anak kecil. Dan ia sering bermain dengan mereka. Sekali lagi hanya satu alasannya. Rindu kepada adik dan teman sebayanya, bukan lagi kepada Ayah.

“Tapi adik saya mungkin diajari yang nggak baik sama Ayah kak, itu masalahnya”, akunya polos.

Dari situlah kisah sebenarnya terungkap jua. Mengenai alasan kepindahannya ke Bandung, yang dengan sengaja meninggalkan adik perempuannya yang cantik itu nan jauh disana. Alasannya terpaksa. Ya terpaksa, bagaimana tidak dia meninggalkan adik yang sangat disayanginya nan jauh disana.

“Ketika itu Ayah marah Kak, sepulang Ibu, saya dan adik dari pasar. Ayah sedang mabuk. Bau minuman keras. Dia menuduh Ibu dari hotel. Lantas dia pukuli Ibu dan memarahinya”.

Mataku terbelalak ketika itu. Tak bisa juga menghela napas, mendengar celotehan Rasyid tentang Ayahnya. Dari mata bocah ini ternyata tersimpan kenangan kekerasan dan kepedihan yang begitu nyata. Aku pun tak berniat menanyakan maksud dari hotel itu apa. Aku tahu jika aku menjadi dia aku pasti mencari tahu mengapa hanya dituduh dari hotel saja lantas dipukuli. Dan itu tak baik untuk diketahui anak seumurannya.

“Lalu ?”

“Saat dini hari Ibu membangunkan saya kak. “Ayo ikut Ibu ke suatu tempat”, katanya. Saat Ayah dan Adik juga terlelap. Memar-memar Ibu pun masih ada. Ibu mengajak saya pergi hingga ke Bandung sini”.

Mengapa kabur? Niat hati ingin menanyakan ini, tapi bisa dipastikan sosok Ayah yang sedemikian rupa hingga ditakuti sang Ibu pastilah sudah berkali kali melakukan kekerasan. Bisa diyakini pula, Ibu pun sudah tak kuat lagi. Apalagi saat ditanya mengapa tidak kembali kesana dan mengajak serta adik, Rasyid hanya berkata, “Ibu sudah tak mau lagi menginjakkan kaki disana kak”.

‘Nah bagaimana adikmu?”, tanyaku penasaran.

“Adik ditinggal kak. Dia masih kecil dan terlelap tidur. Saat itu aku bilang ke Ibu, “ Bu, adik gimana? Masak ditinggal?” dan ia hanya hanya menjawab, “Kasihan, adikmu masih kecil dan sedang tidur”. Aku nggak tahu jika akan diajak pindah, cuma dikira hanya pergi ke suatu tempat saja”.

Memang, menurutku untuk membawa anak sekecil Rasyid saja mungkin sudah sulit, bagaimana bisa membawa balita. Sangat beresiko.

“Moga aja, nenek bisa menjaga adik ya kak”.

Aku mengangguk. Juga tak langsung tersentak yang mengingatkanku pada sosok adik-adikku yang manis di rumah. Aku juga kangen mereka. Kangen sekali.

“Mengapa Ayah bisa sejahat itu Kak?”, tanya dia.

Aku terdiam sejenak. Ingin hati ini merangkaikan kata dan mengucap bahwa tak semua Ayah begitu adanya. Tapi itu hanya akan membuat dia membenci sosok Ayahnya, menanamkan rasa iri dalam hatinya kepada Ayah-Ayah yang lain dan mungkin mendendam. Aku tak mau itu.

“Rasyid, kakak tahu kamu kangen banget sama adik kamu. Mungkin jauh lebih kangen daripada rasa kangen kakak ke adik-adik kakak sendiri. Tapi kamu harus tahu satu hal, dan kamu harus ingat ini”.

“Apa itu kak”

“Kamu tahu nggak mengapa kamu diajak Ibu kesini. Mengapa tidak Ibu kamu pergi sendiri saja?”

“Mengapa?”

“Karena kamu adalah harapan Ibumu. Kamu yang dia harap bisa mewakili dia mengambil kembali adik. Mungkin Ibu kamu sudah tidak kuat lagi Ras”.

“Tapi saya masih kecil kak”.

“Kakak tahu. Kamu belum bisa apa-apa sekarang. Karena itu cepatlah dewasa dan rajinlah belajar. Kakak yakin suatu saat nanti tiba saatnya kamu mengambil kembali adik kamu. Adik kamu pasti sangat kangen sama kakak sepertimu. Apalagi kakak laki-laki yang sayang kepadanya sepertimu”.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mataku sudah cukup berkaca-kaca. Aku pun tak mau sok bijak. Entah mengapa, malam itu sendu sekali suasananya. Aku pun menyuruhnya pulang karena sudah terlalu larut. Berlanjut, aku pun terpaku dalam lamunan kisahnya.

“Ayah, aku beruntung terlahir sebagai anakmu. Tanpa kehedakNya agar kau nikahi Ibu, aku tak ada. Apalagi memiliki Ayah sebaik dirimu, yang rela membanting tulang sedemikian rupa untuk anak-anakmu”, pikirku.

Aku tak berharap Rasyid memikirkan hal yang sama. Sosok Ayah kami berbeda. Jauh berbeda. Andai ada Hari Ayah, mungkin hanya akan menyakitinya. Membuka kenangan pahitnya tentang Ayah. Mempertebal rindunya kepada adiknya.

“Rasyid andai ada hari ayah, apakah yang kau pikirkan kawan?”.

Aku tak bisa berbuat banyak untuk membantu. Hanya satu hal, menemaninya sebagai murobbi di TPA. Itu saja. Ya Allah mudahkanlah jalan anak ini. Juga jalanku tuk senantiasa bersama naunganMu. Amien.




Sabtu, 27 November 2010

Masih Iseng Isengkah Menulis?


Iseng-iseng, itulah kata-kata yang ku gunakan tuk menjawab pertanyaan Kak Edo Segara dalam Workshop dan Training Jurnalistik di IT Telkom Bandung yang berujung hadiah buku yang bertitel “Menulis, Tradisi Intelektual Muslim”. Buku itu berisi banyak motif para penulis mengenai alasan mereka untuk menulis, dengan berbagai sudut pandang. Yang paling mengejutkan bagiku adalah karya dalam buku itu yang sudah tak asing lagi, termasuk beberapa penulis yang sering disebut Kak Edo. Ya, mereka adalah pengguna Multiply tempatku bernaung tuk belajar menulis selama ini. Sebut saja Kak Helvy Tiana Rosa dan Akhi Dirman Al Amin. Percaya atau tidak saya baru tahu mereka telah menelurkan karya mereka ke penerbit hingga karyanya masuk toko buku. Saking jarangnya ke toko buku sampe nggak tahu hehehe

“Jika berawal dari sekedar iseng-iseng hasilnya juga akan iseng-iseng. Cobalah untuk serius”, seru Kak Edo menambahkan. Tapi memang itu faktanya, saya sekalipun tak memiliki obsesi ataupun mimpi untuk memulai belajar tentang dunia tulis menulis. Menulis itupun hanya berawal dari sebuah keinginan mendownload musik gratis di Multiply. Saat itu Multiply adalah situs yang sangat lengkap dengan koleksi lagu MP3 terbaru sebelum akhirnya dibersihkan semua karena pihak pengelola tidak mau dianggap mendukung pembajakan. Pembersihan itupun menggiring saya melihat berbagai sisi lain Multiply yang ternyata memiliki komunitas blogging besar. Dari situlah awal saya belajar menulis, belajar dari para MP’ers lain, sebutan untuk pengguna Multiply yang notabene berasal dari berbagai kalangan.

Ya iseng-iseng saja, apakah itu salah? Tak ada yang salah dari sebuah keisengan. Tapi jikalau keisengan itu bisa diubah menjadi sebuah keseriusan tentulah akan lebih bermanfaat bagi kita. Kak Edo dalam materinya menuturkan keisengan hanya motif yang dilakukan untuk mengisi waktu luang, dalam artian menulis tuk sekadar main main.

Tapi sebagai penulis awam tentunya menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Adakalanya inspirasi datang di saat tertentu saja. Misalkan pada saya sendiri, untuk membuat sebuah karya yang saya anggap my best entah berupa opini, puisi ataupun prosa hanya bisa di kondisi tertentu. Misalkan jika karya yang ingin dibuat tentunya bertema kesedihan, rindu, pokoknya mellow harus dibuat di suasana hening, dingin, lapar atau sedang merasakan rindu ataupun sedih yang teramat sangat. Pernah kala SMA dulu saat merasakan patah hati maklumlah anak muda hehehe, produktifitas berpuitis ria justru naik.

Hal ini sangat miris, mengingat seharusnya penulis harus bisa mengimajinasikan apa yang ada di benaknya dan menuangkannya dalam sebuah karya. Tapi saya pun hanya selevel penulis “on mood”. Jika dipaksakan untuk membuat karya di momen yang tidak sesuai, hasilnya pun tak seperti harapan. Pernah tujuan awal ingin membuat puisi kesedihan tentang bencana, malah berujung puisi bersemangat.

Mungkin di dunia ini juga ada yang mengalami hal seperti saya, tapi boleh jadi hanya saya yang agak nyeleneh dalam merasakan hal ini. Tapi dalam Workshop Ahad kemarin saya sudah menemukan jawabannya. Pembicara kedua dalam Workshop adalah Dedi Setiawan, ketua FLP Bandung yang menyambung pemberian motivasi menulis oleh Kak Edo.

Jawabannya adalah mengenai niat awal. Niat iseng-iseng tadilah yang bermasalah. Memang sebenarnya, iseng iseng ataupun serius akan sama-sama menghasilkan karya. Namun jika dibandingkan hasilnya akan berbeda pada satu hal, yaitu kualitas. Totalitas dalam berkarya akan menghasilkan sesuatu yang maksimal atau bisa disebut terbaik dari kita. Mungkin tak pernah terlintas dalam benak kita bagaimana bentuk karya terbaik kita, yang mana ataupun kapan bisa kita dapati. Jawabnya satu, saat kita sudah berani, mau dan berkemauan menulis tuk menghasilkan karya terbaik kita.
Jangan terlalu tinggi, kuatkan pondasi… perlahan tapi pasti… merayap dan naik tanpa sangsi..
Siapapun kita entah kita mengakuinya atau tidak, kita adalah penulis. Sejak kecil menulis adalah rutinitas yang kita kerjakan. Mungkin hanya mayat yang tersisa, tulang belulang yang terkubur, dan do’a sanak famili yang mengalir kala kita tlah tiada. Tapi karya kita kan tetap ada. Menembus waktu yang tak mungkin kita tembus. Melewati gerbang yang tak bisa kita buka.


Sebuah catatan kecil dari Workshop dan Pelatihan Jurnalistik
Raffa Muhammad

Kamis, 25 November 2010

Kapankah Bisa Seperti Itu?


Baru saja membaca beberapa Ebook lama yang belum sempat terbaca. Kebetulan kebanyakan adalah karya Kak Asma Nadia. Rentetan kata demi kata yang tersusun indah dibalut dengan hikmah yang tersirat ataupun tersurat di dalamnya memang bisa menghipnotis pembacanya.

Sempat terlintas di benak, kapan ya jari jemari ini bisa memainkan keyboard komputer tuk menghasilkan rangkaian indah semacam itu. Mungkin teman-teman pasti pernah mengalaminya. Memang, terkesan sekali jika rasa minder boleh jadi bergelayut karena selama ini belum bisa memenuhi harapan diri sendiri.

"Kapankah Bisa Seperti Itu?"

Aku pernah mengalaminya beberapa hari ini. Jujur saja. Tak bisa dipungkiri ataupun disangkal. Bahkan tak ada alasan untuk itu. Memang, menikmati karya orang lain bisa menginspirasi, memotivasi dan menabuhkan genderang kepada syaraf otak tuk segera merangai kata secara kreatif. Tapi kadangkala, bisa saja sebaliknya. Sebut saja ketika hendak mengikuti sebuah acara kompetisi menulis, seperti Lomba Cipta Puisi, Flash Fiction atau sekadar mengikuti Arisan Kata Multiply.

Melihat hasil karya orang lain sebelum menghasilkan karya memang sebuah opsi. Tapi seperti tadi, terhipnotis olehnya bisa mengendurkan semangat pula karena salah menyikapi. Salah? Dimanakah letak kesalahan itu?

Saya akan mencoba mengilustrasikan. Sheila On 7 adalah band yang telah ada sejak zaman 90'an dan telah menjadi salah satu band fenomenal yang banyak menginspirasi musisi lain. Tapi pernahkah kita membayangkan seandainya semua calon musisi yang terhipnotis lirik dan lagu-lagu indah S07 memilih mengurungkan niatnya berkarya hanya karena belum merasa selevel dengan mereka tuk memasuki dapur rekaman? Apa jadinya bila itu terjadi? Bisa dibayangkan tak akan ada karya lain lagi hingga sekarang. Semua berpendapat dialah yang terbaik, lalu buat apa berkarya lagi. Membuat sesuatu yang di bawah level hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Tapi apa yang membuat mereka (calon musisi yang terhipnotis S07) tetap berkarya meski tidak ada jaminan penerimaan oleh publik? Jawabnya adalah karena mereka tidak berpikir "Kapankah bisa seperti itu", tetapi justru berprinsip "Inilah Giliranku". Tak sepeduli setenar apapun idola mereka, mereka terus berkarya dengan cara, gaya dan jalan mereka masing-masing.

"Inilah giliranku"

Begitu pula dengan karya tulis-menulis ataupun yang lainnya. Jika masih ada pemikiran "Kapankah bisa seperti itu" di dalam diri, sekalipun telah terpatri dalam relung hati tapi marilah kita sholat berjamaah. Nah lho. Marilah kita ubah sedikit demi sedikit pola pemikiran kita. Saya menyebut kita disini, karena saya sendiri juga kadangkala mengalami fenomena yang sama. Saya menuliskan ini bukan karena saya merasa hebat, sok tahu, ataupun karena saya pun bukan siapa siapa. Makhluk ingusan yang masih perlu banyak belajar dari Anda

"Dunia Pasti Berputar"

Dunia pasti berputar, ibarat roda yang membuat kita kadangkala bisa berada di bawah ataupun di atas. Ibarat giliran pada kita sebagai penikmat sebuah karya, pasti ada giliran kita sesekali berperan sebagai pembuat karya tuk bisa dinikmati orang lain. Tapi kapan giliran itu tiba? Jika saat membaca ini Anda masih bisa merasakan bernafas, menghirup oksigen memasuki tubuh Anda secara segar di saat itulah kesempatan Anda memulai. Saya merasakan kesempatan itu, karenanya saya menulis ini.

Tak peduli bagaimana jenis karya tulisan kita, juga gaya rangkaian kata yang kita hasilkan. Ketahuilah kita memiliki ciri khas masing-masing. Seperti namanya itulah sesuatu yang khas. Tak bisa dicari di orang lain. Jikalau mirip pastilah ada sedikit perbedaan yang dijumpai jika ditelaah lebih lanjut.

Apakah salah mengadopsi ciri khas orang lain? Tidak ada yang salah dengan itu. Mengadopsi pun tak ada jaminan tuk menghasilkan sesuatu yang sama, karena jika karya yang dihasilkan memang dari hati pastilah ada perbedaan. Tapi perlu dicatat sesuatu yang sama pasti akan selalu dibandingkan orang lain.

Abiku selalu mengagumi gaya menyanyi Ridho Rhoma. Beliau memang penggemar dangdut sejak dulu. Pernah aku bertanya mengapa mengagumi Ridho? Ridho adalah sosok yang memilih gayanya sendiri dan berani untuk melakukannya. Memang, tak ada kesalahan bilamana Ridho menyanyi dangdut layaknya sang Ayahanda karena memang Bang Rhoma adalah Raja Dangdut yang fenomenal dan menginspirasi banyak pedangdut, apalagi Ridho adalah anaknya sendiri. Tapi dia lebih memilih berspekulasi menggunakan gaya Dangdut-Pop. Itulah yang membuat Abiku kagum.

"Menjadi Diri Sendiri Itulah yang Terbaik"

Sebuah jargon lawas memang, menjadi diri sendiri itulah yang terbaik. Yang perlu dicermati, bukan bagaimanakah diri kita sendiri yang kita idamkan, karena kita yakinlah bahwa kita sedang melangkah tuk menemuinya. Maka ayolah tetap melangkah dalam kepercayaan dan perjuangan tinggi.









Raffa Muhammad