Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Rabu, 06 April 2011

Sebuah Kado Istimewa

“Dibawa ke rumah sakit? Dimana?”

“Di Surabaya. Di Jember sudah tidak sanggup lagi menangani”

“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”

“Alhamdulillah sudah ditangani dengan baik. Doakan ya Nak, semoga kakek cepat sembuh”. Ucapan lirihmu membuatku trenyuh. Baru beberapa bulan lalu, ya aku ingat jelas kau dan kakek melepas kepergianku. Menatapku dan mengecup kedua pipiku. “Yang baik-baik ya disana”, pintamu. Begitu pula kakek, di saat kondisinya yang lemah masih saja memberi wejangan dan doa.

Baru beberapa bulan lalu, bahkan aroma Bandung masih abu-abu untukku. Tapi agaknya rindu ini terkumpul menjadi satu. Padahal jelas beberapa bulan sebelum kepergianku. Kakek selalu rajin bersepeda di hari minggu, mengantarmu jalan-jalan ke alun-alun tuk melatih kakimu yang sempat terkena stroke beberapa tahun lalu, atau rutin menyirami tanaman anggrek dan lainnya yang selalu kau rawat sepenuh hati di kebun kecil di samping rumahmu.

Kakek kini lemah. Tak lagi bisa menghadiri pengajian di masjid tempatnya selalu rutin beribadah, apalagi menemani hari-harimu yang penuh warna, mengantar sepupuku pergi les seperti biasa. Pasti kau terpukul mengetahuinya. Apalagi tahu-tahu keadaan kakek sampai harus dirujuk keluar Jember yang dulu kau bilang lebih baik dari Lumajang.

“Jatuh?”

“Iya. Sekarang sudah dirawat di Rumah Sakit juga.”

Ucapan anakmu yang melahirkanku itu membuatku tak habis pikir. Mengapa kau paksakan membunuh letihmu dengan senantiasa tengah malam berdzikir. Itukah kekuatan cinta yang selama ini telah terukir?

Masalah dana yang awalnya masih bisa dipenuhi patungan anak-anakmu mulai bermasalah. Tulangmu bergeser saat kau jatuh. Sementara kakek juga bukannya makin sembuh. Untunglah perdebatan kecil antara anak-anakmu dengan anak-anak kandung kakek sedikit memberi harapan baru. Walau sempat tangis terpancar karena anak-anak kakek agak enggan ikut berperan membantu.

Anak-anakmu kembali kebingungan. Situasi dilematis muncul ke permukaan. Ruang inapmu dijadikan satu dengan kakek akan membuat mereka mudah menjaga bergantian. Tapi, kau akan kehilangan motivasi tuk cepat sembuh karena nyatanya penyakit kakek lebih parah darimu. Benjolan itu ternyata kanker, bukan benjolan biasa yang selalu kau rasa bisa ditanggulangi dengan pijat rutin kepada seorang spesialis sebelum kakek makin melemah.

Kanker itu bukan penyakit biasa yang bisa sembuh dengan penanganan cepat. Begitulah nyatanya sehingga anak-anakmu memutuskan di kamar berbeda kalian dirawat. Hari demi hari, kondisimu dan kakek masing-masing mulai membaik. Dan kakek mulai dirawat di rumah anak-anaknya, sedang kau dipulangkan ke Lumajang karena anak-anakmu juga tak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.

Libur jelang lebaran, aku pun pulang. Melepas kepenatan selama enam bulan juga rindu yang tak tertahankan. Kau sambut dengan sukacita walau ku tahu dari kejauhan, kau memendam sedih yang teramat dalam. Kakek hanya bisa kau hubungi jarak jauh. Seseorang yang biasa ada disampingmu, kini teramat jauh disana sedang melawan penyakitnya.

Sementara kakimu yang harus dioperasi membuatmu kakimu ditanam logam yang kau sendiripun sebenarnya membencinya. Kau tak bisa berjalan seperti biasa. Apalagi agaknya kau terlalu memikirkan kondisi kakek hingga kau pun enggan berlatih melangkah. Ya, bunga-bunga di taman yang layu pun menyiratkan demikian adanya.

Hari lebaran keluarga berkumpul seperti tahun-tahun biasanya di rumahmu. Bermaaf-maafan dan saling berbagi kebahagiaan. Tapi kali ini tidak ku temukan. Apalagi setelah mendengar berita kondisi kakek memburuk perlahan. Walau sebenarnya sudah ada anak-anak kandungnya yang merawatnya disana.

Kondisi kakek jauh lebih buruk daripada saat sebelum dirujuk ke Surabaya. Sementara, anak-anakmu tak bisa berbuat apa-apa karena jarak Lumajang ke tempatnya lumayan jauh dan memakan waktu pula. Kemoterapi dilakukan, dan anak-anakmu merahasiakan opsi itu karena sejak awal kau telah mengetahui resikonya yang membahayakan.

Sementara ada juga pihak keluarga yang mengusulkan agar kakek dibawa saja pulang ke Lumajang. Itupun seperti permintaanmu sendiri setelah membongkar rahasia yang anak-anakmu pendam. Biar meninggal di sampingmu dengan tenang, dan kau pun bisa menemuinya disaat terakhir sebelum ajalnya datang.

“Pokoknya bawa pulang saja. Dia satu-satunya lelaki yang setia, dan menemaniku sejak masa sulit”, begitu pintamu dengan nada rengekan yang belum pernah ku jumpa. Ya memang benar adanya. Kau selalu saja bersikap tegar di depan semuanya. Tapi jauh di dalam hatimu, kau rapuh. Bagaimanapun kau perempuan biasa dengan kesabaran luar biasa tapi tetap membutuhkan seseorang yang dicintai di sampingmu selamanya.

Dia memang bukan laki-laki yang sama yang mengalirkan darahnya ke anak-anakmu hingga terkait pula denganku. Bukan dia. Bukan cinta pertamamu yang kau harap kan jadi cinta terakhirmu. Bukan laki-laki pujaanmu yang akhirnya menikahi perempuan lain di saat hartanya melimpah ruah dan kesuksesan digenggam dimana-mana. Meninggalkanmu dengan anak-anak kecil yang masih sekolah dan membutuhkan banyak dana.

Bukan. Bukan dia yang membuatmu kecewa dan sakit hati. Membuat anak-anakmu terancam kehilangan masa depan, setelah sebelumnya semuanya terjamin dengan rapi. Bukan dia yang membuat anak-anakmu terpaksa kuliah dengan keadaan serba terbatas dan penuh derita. Tapi dialah yang selalu menemanimu setelah kau buka warung untuk menghidupi anak-anakmu. Membesarkanmu hingga akhirnya aku pun terlahir dari rahim salah satu anak yang kau besarkan dengan sungguh-sungguh.

Air matamu mengucur deras, diikuti air mata anak-anakmu yang membuatku memilih keluar kamarmu karena tak kuat situasi yang ada. Sementara menantumu dan beberapa anakmu sejak pagi sudah menjemput kakek tuk dibawa pulang menemuimu.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal ....”

Pesan itu membuat tangisan pecah seketika anggota keluarga yang ada di rumahmu. Suasana haru bertumpah ruah. Tapi semua menutupinya, takut kau tak bisa menerima. Apalagi kondisi kesehatanmu yang juga kurang stabil agaknya.

Jenazah datang sementara para pelayat berdatangan. Diikuti teman-teman pengajian kakek yang juga hendak membantu prosesi memandikan. Di balik kamar, aku hanya bisa mendengar tangismu pecah. Ditemani adik-adik dan kakakmu kau disana, kau mencoba tegar tapi tetap tak percaya terhadap semua keadaan. Walaupun sebelumnya sempat terucap, “aku rela dan ikhlas sudah”, dari bibirmu karena semuanya masih merahasiakan bahwa kakek sudah dipanggil ke pangkuan Allah disana. Tapi tetap saja tak bisa dipungkiri, tangisanmu itu tak bisa menyembunyikan kepedihanmu yang mendalam. Ratapanmu tak bisa mengobati rindumu dan juga kepedihan yang dirasakan anak-anakmu yang juga tak kuasa menahan air mata malam itu.


Mendiang alm Kakek dan Nenek

Kakek dikuburkan pagi harinya. Saat itu ku lihat kau sudah mulai lebih tenang daripada malam hari sebelumnya. Kepergiannya menyisakan segenap luka dan duka bagi semuanya. Tak hanya dirimu, anak-anakmu yang juga mendapat sosok pengganti ayah, serta aku dan cucumu lainnya yang mendapat sosok kakek dan mengenalnya.

Sekarang kau masih menjalani terapi penyembuhan. Kau sudah mulai berlatih berjalan. Berjalan meski kini hanya tersisa kenangan. Tak ada lagi dia yang selalu menemanimu, di saat pekerjaan menyibukkan anak-anakmu, juga sekolah yang membuat cucu-cucumu jarang mengunjungimu.

Cucu terbesarmu sudah sembilan belas tahun kini. Tepat disaat aku menulis ini. Tepat disaat kau menelponku tadi, dan kau ucap harapanmu kepadaku agar senantiasa berjalan dalam naungannya, mewujudkan harapan orang tua dan menjadi contoh bagi cucu-cucumu lainnya. Kado istimewaku adalah menjadi cucumu, menjadi anak yang terlahir dari anakmu.



Bandung, 5 April 2011

Ditulis dengan berlinang airmata



by Raffa Muhammad

Senin, 04 April 2011

Petuah Sederhana


Ujian nasional kian dekat. Sekolah manapun pasti akan meningkatkan kesiapan siswanya dengan kompak. Tugas dikurangi, dan penjelasan ditambah hingga semua mengerti. Tak ada penyesalan di akhir nanti, semuanya berharap begitu tanpa kecuali.


Tapi tidak, saat itu entah mengapa tugas di SMA ku tak kunjung tamat. Semuanya ada dan terus ada dengan alasan memang target pembelajaran yang membuat hari serasa kiamat. Bayangkan, ada tugas membuat film, membuat laporan percobaan, membuat maket rumah, dan beberapa laporan serta tugas tambahan yang membuat waktu serasa cepat. Pulang sekolah jam dua, sudah harus melanjutkan jadwal les disana sini untuk UAN dan SNMPTN yang kian dekat.

Malam, jika ogah-ogahan belajar, bisa dipastikan esok sekolah akan ketinggalan. Maka malam pun memaksakan tuk tetap belajar meski mata seberat beras kiloan. Mencicil tugas juga bisa dilakukan, tapi apa daya kadang malas juga berdatangan. Bangun pagi pun diharamkan kesiangan, dilanjut les pagi di sekolah yang memang diprogramkan setiap tahunnya.

Begitu setiap harinya, membuat akhir pekan semua masalah dilupakan untuk berhura-hura. Begitulah hingga akhirnya, UAN kian dekat dan mendekat sementara deadline tugas juga tak kalah semakin singkat. Sementara hasil juga tak bisa dibilang sempurna karena kadang malas menjadi penghadang utama.

Hari itu, semua disibukkan diskusi mata pelajaran bahasa Indonesia dimana esok akan didiskusikan tugas kelompok minggu lalu. Aku termasuk yang kalang kabut, tugas minggu lalu tapi hingga sehari jelang dikumpulkan belum sama sekali disentuh. Resah dan gelisah bercampur begitu rupa tatkala membaca UAN akan lebih sulit dari sebelumnya. Akhirnya sore itu ku putuskan ke rumah guru bahasa Indonesiaku yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Tujuannya sederhana, ingin berkeluh kesah karena kebetulan guru yang satu ini sosok yang terbuka dan ramah terhadap muridnya.

Ku kendarai sepeda, dan menuju ke kompleks perumahan dimana guruku tinggal. Aku disambut hangat dengan senyum dan sapa, dan akhirnya ku jelaskan maksud kedatanganku kesana.

“Baru pulang mas”, tanyanya seraya tangannya mengisyaratkan tuk menyilahkanku duduk.

“Iya Bu, belum sempat ganti baju. Tadi nyicil ngerjakan tugas film Bu”, jawabku.

“Memang belum selesai? Bukankah sebulan jelang UAN, tugas sudah harus ditiadakan?”, tanyanya pelan.

“Iya sih, tapi ya gitulah Bu, banyak ulangan, try out dan tugas lainnya”, balasku. “Ibu pilek?”

“Iya mas, saya juga agak meriang rasanya. Kemarin sudah minta dikerokin sama adik tapi tetap nggak enak rasanya”

“Ya sambil istirahat saja Bu”

“Mau istirahat gimana mas”, dia menghentikan bicaranya. Diambilnya sesuatu dari balik meja di depanku.

“Ini lihat”, diperlihatkannya beberapa tumpukan kertas. Seperti hasil ujian yang dibungkus rapi dengan beberapa coretan di depan.

“Apa ini Bu?”

“Yang ini hasil ujian semester kalian. Ada tiga kelas. Sementara yang lain hasil ujian Widya Gama” jelasnya sambil menunjuk dan membolak-satu persatu. Ibu Guruku ini mengajar tiga kelas di sekolahku. Widya Gama adalah perguruan tinggi swasta di kota kecilku, tempatnya juga mengajar di sela waktu.

“Ini dikoreksi semua?”, tanyaku heran. Ku lihat perlahan, tumpukan itu pasti berisi banyak lembaran-lembaran.

“Nah itu mas. Belum selesai ngoreksi, tadi saya sudah dipanggil Pak Marin disuruh buat soal try out minggu depan. ‘Nggak Pak Marin. Saya sudah banyak tanggungan’, ‘ Bu Moel, untuk bahasa Indonesia anak-anak, saya percayakan sama Bu Moel’, serunya. “Nggak didenger protes saya”, akunya.

“Ya sudah Bu, try outnya Ibu acak aja soal tahun lalu”

“Nggak mas”, akunya tegas. Mukanya menyiratkan kesungguhan penolakannya terhadap ideku itu.

“Saya nggak mau kalian menjadi generasi yang terkorbankan”, tambahnya.

Dikisahkannya kisah masa kecilnya yang hanya sekolah dengan guru-guru terbatas. Guru Fisika merangkap jadi guru Kewarganegaraan, guru olahraga merangkap guru Bahasa Indonesia dan beberapa guru lainnya yang juga melakukan hal yang sama. Akibatnya jelas, disiplin ilmu yang berbeda membuat penjelasan kadang kala itu itu saja.

“Misalnya untuk menyontohkan penggunaan majas personifikasi selalu saja ‘nyiur melambai di tepi pantai’. Ditanya lagi di lain hari, jawabnya sama tak berganti, seakan contoh lain nggak dia ketahui lagi. Karena itu saya selalu buatkan tipe soal baru, yang tentunya masih mengacu ke Ujian Nasional nanti,”ujarnya.

Memang setelah kuingat, try out yang sudah ada bacaan di soal bahasa Indonesia selalu baru dan berbeda. Jika pelajaran lain bisa ada yang sama dengan soal ujian nasional lama, tipe dan bacaan di soal try out bahasa Indonesia selalu pertama dijumpai saat itu juga.

“Ya kalau gitu, koreksinya aja minta bantuan orang lain Bu. Kan Ibu bisa buat kunci jawaban sehingga bisa ....”

“Nggak bisa mas, bentar ya saya ambilkan minum”, selanya sambil melangkahkan kakinya ke arah kulkas di ruang tengah rumahnya.

Sementara ku lihat hasil koreksi Ibu beberapa, dan ternyata semuanya tak hanya dikoreksi begitu saja. Dibetulkan satu persatu yang salah, maka pantaslah akan membutuhkan waktu lama.

“Ibu ngoreksinya gini...?”, tanyaku heran

“Jika nggak gitu, mereka nggak akan tahu mengapa Ibu menganggapnya salah. Kalau yang pilihan ganda, Ibu pun harus tahu dimana letak kelemahan siswa. Jadi bisa dijelaskan lagi materi yang kiranya kurang dipahami”, tuturnya.

“Tapi kan lama Bu...”, kata-kataku dijawabnya dengan senyuman lembut darinya. “Ya dicicil mas, setelah Isya, hingga jam sembilan. Sebelum shubuh hingga shubuh dan berangkat memberikan les pagi. Juga di sela-sela sebelum mengajar di Widya Gama sore harinya”

Aku terdiam. “Betapa padatnya agenda Bu Moel ini”, pikirku. Jauh lebih padat dari agendaku yang terbilang memang kewajibanku. Agendanya adalah pilihannya. Guruku ini, adalah orang yang sama yang mengajar Ibuku dan Paman serta Bibiku. Jadi bisa diketahui di usia senjanya, sebenarnya materi bukanlah tujuan utamanya menyibukkan diri di dunia pendidikan yang membuatnya sibuk setiap harinya. “Ya Allah, aku kesini mau berkeluh kesah padahal hari hari beliau pasti jauh lebih berat dariku. Sementara aku ini masih muda, dan beliau sudah terbilang tua, apakah pantas begini adanya?”, ujarku dalam hati.

“Kamu kesini ada apa?”, pertanyaannya membuyarkan lamunanku yang membawaku ke perasaan bersalah.

“Hmm tidak ada Bu, cuma ingin silaturahmi saja”, jawabku dengan meringis menutupi kebohonganku. Aku pun meminta izin pulang karena hari sudah sore. Malamnya aku kerjakan tugas itu semalaman dengan semangat penuh. Gelisah tadi pun hilang sebelum dikeluhkan sudah terobati dengan kisah semangat yang menyuntik segenap raga. Hilang oleh sebuah petuah sederhana yang tersirat dari untaian kisah penuh makna dari guruku tercinta.


Raffa Muhammad


Kisah Lama Sebelum Kuliah

Selasa, 22 Maret 2011

Sang Waktu

Kokok ayam menjadi teman terbaikku, dengan embun pagi dan hawa dingin sebagai saksinya yang selalu menemaniku. Bersama nyanyian pagi, aku bergerak perlahan melewati temaram mentari yang mengejarku, di belakang, tertinggal menyertai angin yang menyapu jatuh dedaunan.

Terkadang langkahku pun berpacu dengan alunan nada waktu. Dan kokok ayam enggan menyapaku. Padahal, alunan itu senantiasa memercik keharuman yang turut serta menyemarakkan hari-hariku, memacu segenap jiwa dan raga ini untuk padu, bergerak maju dengan tujuan yang satu.

Dahulu, aku memang pengagum ketepatan waktu, menyertainya dalam tiap aktivitasku, dan memujanya sebagai bagian dari disiplin ilmu. Namun apa daya, sang waktu kadangkala meninggalkanku tanpa sedikitpun pertanda tuk menyuntik segala memori akan rencana di masa lalu. Langsung menjauh, sejauh mentari yang kian meninggi, dan kesejukan pagi yang sirna ditelan sunyi.

“Assalamu’alaikum akh, maaf ane izin terlambat ya”, Ku kirim langsung sementara selimut hangat masih melekat.

“Baru bangun ya akh? Udah sholat shubuh belum?”, balasnya menyindir. Dia seorang yang selalu mengingatkanku pada amanah yang ku pikul dengan rapuhnya iman. Dan kerapuhan itu bersaudara dengan kemalasan hingga akhirnya sebuah kewajiban boleh jadi dilalaikan di tengah jalan.

Aku bergegas. Tanpa menyapa sunyi di pelataran kamarku yang sepertinya tak acuh dengan kegelapan yang telah berganti secara total. Sekejap saja dan kaki ini kembali melewati tanah-tanah lumpur bekas hujan yang lama kering di tanah Parahiyangan yang terkenal berhawa dingin.

Mentari mempertegas posisinya. Sinarnya membawa segala rona makhluk fana memulai aktivitasnya. Berkomplot dengan waktu. Membuat sebuah awal dari perubahan, yang juga akhir dari penundaan sebuah perubahan.

Hari itu, sebuah syuro’ ku awali dengan sebuah keterlambatan, sebuah pelanggaran kecil terhadap amanah yang diberikan Tuhan. Pelanggaran besarnya, shubuh tak lagi sesuai waktu yang telah ditentukan.

Padahal, masih teringat jelas sebuah hadist Rasulullah, “Dua raka’at Shalat Shubuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” Bayangkan, bagaimana bisa mengamalkan apabila suara penyeru kewajiban sudah tak bisa terdengar ketika terlelap di kala malam?

Sehari, dua hari hingga tak terhitung lagi. Sebuah kebiasaan itu kini menjadi budaya sehari hari. Kokok ayam dan merdunya suara adzan tak terdengar lagi. Embun pagi tak terasa segarnya kembali. Deburan dingin air kala shubuh kini sama saja dengan pagi menjelang siang hari. Pun mentari mengejek balik setelah sebelumnya selalu tertinggal di waktu pagi.

Akankah terus seperti itu?

Aku terus menerus bertanya pada sang waktu, yang juga berkawan mesra dengan kokok ayam yang tak pernah telat sembari adzan berkumandang jelang shubuh. Sapaan cintaku disapa balasan penuh kasih yang syahdu.

QS. al-An’am (6) : 131
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Aku bangun dari tidurku. Mengusap wajah yang tadinya lelah mengeluh. Memulai dan memilih sebuah motivasi baru.Yang dulu sempat sirna dan menjadi masa lalu.

Sang waktu kembali menemaniku. Dalam sepi dan seiring ia berlalu, didendangkannya sebuah fakta bahwa hati ini tak jua bisa menyatu. Ingin ini dan itu. Tapi raga tak jua bisa memberikan apa yang terbaik. Ya Allah, ketika ada kesadaran mengapa kejenuhan menyeruak ke permukaan? Apakah memang tlah kau takdirkan waktu selalu mendahuluiku, menjadikan keterlambatan sebagai ciri khasku, dan membuat segala penyesalan di ujung karena persiapan yang kurang seperti angiin lalu?

Allahumma ya muqolibul qulub tsabit qalbi ‘ala diinika …
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, 
tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu
[HR. Muslim 2654, Ahmad 6533]

Ya Allah karuniakanlah kami hidayah-Mu agar senantiasa dapat memperbaiki diri…

Dan diantara tanda tanda kuasa-Nya, sang waktu menjadi kawan terbaikku. Harus. Ketika ditinggalnya aku di belakang, tak ada lagi kokok ayam, suasana pagi yang menyejukkan dan berbagai karunia Illahi kala pagi menjelang tuk bisa dirasakan. Tidak ada lagi. Karenanya, tak perlu ku memintanya menunggu. Mentari tuk tak menyapa dunia ini, sementara dalam lelapku semua menanti.

Aku harus bangun.


pemandangan pagi dari jendela kamarku nan jauh disana


Harus!

Minggu, 20 Maret 2011

"Kenalkan, Aku Mahasiswa! "


Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Hidup di kota, dengan latar belakang lahir di daerah.

“Ah..........kok gosong ya bu ikannya”, celetukku pelan. Baru pulang, Ibu langsung menyuruhku memasak.

“Jangan melamun saat kerja neng” Ibu mengingatkan ku dengan sabar.

“Nggak kok bu, dari tadi perhatikan penggorengan kok,nggak melirik lainnya”, belaku dengan cengengesan.

“Ketahuan banget kamu lama nggak masak” balasnya menyindirku. Aku tersipu, seketika pembelaan kembali ku lakukan.

“Hmm, selama kos hampir dihitung dengan jari ngidupin kompor, ngunjungi dapur atau nyuci wajan”, balasku lantang.

Ibu bisa saja menebak rupanya. Maklumlah dia Ibuku yang mengenalku lebih dari siapapun di muka bumi ini.

“Ingat pepatah, alah bisa karena biasa. Lama sudah tidak biasa hampiri dapur dan kroni-kroninya, ya begini lah hasilnya. Makanya kenalan dulu dengan dapur. Sering-sering lagi lirik penggorenga maupun periuk. Say hello walau sekejap ke ulekan dan pisau dapur. Jangan lupa nyentuh bawang putih, bawang merah, cabe,merica apakah masih pedas rasanya. Cicipi lagi garam apakah masih asin di lidah. Khan sudah lama mereka tidak diacuhkan.

“Duh Ibu, khan udah pasti kalau yang begituan”, protesku.

Ibu tak menggubrisnya dan terus saja berceloteh ria, ibarat presenter sepakbola yang tak pernah kehabisan kata. “Andaikan semuanya itu bisa bicara pasti protes.....jangan sombong dong.....dulukan kita sahabat, hehehe” sindirnya.

Aku hanya bisa tersenyum malu. Ya, inilah aku. Dulu dapur ini sangat akrab denganku, seakrab Sponge Bob dengan spatulanya, ataupun Asma Nadia dengan penanya. Jangan tanya tentang masakanku, bahkan tetangga saja selalu memujiku ketika dicicipinya masakan buatanku.Tapi kini inilah masakanku. Bahkan Si Pussy, takkan mau melahap habis dengan aroma dan warnanya yang unik begitu.

Memang aku berubah sejak hatiku kembali jatuh cinta. Bawang, cabe, wajan, ulekan dan lainnya tergantikan dengan hadirnya laptop mungil cantik yang membuatku terpesona. Bangganya menjinjing laptop ke kampus, membawanya hingga ke pameran, bahkan mengitari mall berjam-jam.
Laptop selalu setia mengisi ransel yang bergelayut di punggungku seakan ikut menyuarakan ke dunia bahwa aku ini mahasiswa. Status sebagai yang membanggakan, di tengah masyarakat yang masih saja menganaktirikan pentingnya pendidikan.

“Jadi mahasiswa itu bikin tambah keren penampilan. Mahasiswa itu ”siswa yang mahal” tidak ada tingkatan status siswa yang lebih tinggi selain mahasiswa”perkataan temanku itu selalu kuingat. Walau sebenarnya menjadi mahasiswa adalah masa-masa awal menuju sekarat. Hal itu yang dikatakan dosen waliku di semester satu.

Terbuai dengan status mahasiswa.Itulah kebanyakan orang adanya. Ikut berbagai demonstrasi cuma karena ingin bergaya, dan sedikitpun tak mengerti esensinya. Juga organisasi dan kepanitiaan dengan semangat menggunung di awal, dan perlahan turun hingga tersisa di akhir kisah.

Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Hidup di kota, dengan latar belakang kehidupan di daerah.

Menjadi mahasiswa di kota, dengan kebutuhan hidup yang mahal adanya adalah takdirku. Perut keroncongan, dan warung menjadi pilihan utamaku. Tak peduli, siang, malam ataupun pagi waktu itu. Penghematan adalah kamus hidupku. Kafe ataupun rumah makan? Jangan ditanyakan. Aku akan hanya datang jika mendapat traktiran teman.

Sebenarnya, kuliahku mendapat tantangan dari orang tuaku. Serupa dengan berjuta mahasiswa Indonesia lainnya, masalah utama ada pada biaya. Biaya kuliah yang tak bisa dijangkau masyarakat bawah, yang hanya akan menjadi sesuatu yang mewah. Sementara jaminan mendapat pekerjaan juga belum ada. Daripada menengok pengangguran walau bergelar berbagai macam, Ayahku lebih mendukungku untuk menikah.

“Tidak Yah”, tegasku saat itu menolaknya,”sekarang sudah bukan zaman Belanda. Perempuan pun memiliki prospek cerah jika memang melakukan yang terbaik dengan pendidikannya”, ujarku tegas. Kepalaku memang keras. Sekeras watak Ayahku yang sulit sekali diruntuhkan. Tapi aku terlanjur terpengaruh beberapa buku yang ku baca tentang mimpi dan usahaku tuk mewujudkannya.

Dan akhirnya aku kuliah juga. Walau restu Ayah ku dapatkan lewat telepon genggam dengan tangisan Ibu dan kakak perempuanku di belakangnya. Kemantapan sudah menyelimuti belantara hatiku adanya. Tabungan dan uang saku dari saudara-saudaraku menjadi bekalku.

Aku durhaka. Memang itulah yang ada di benak Ayah. Aku menyembunyikan niatanku kuliah, dan hanya tak memberi tahunya karena merasa sudah tahu hasilnya. Tapi alhamdulillah, kepulanganku saat semester satu waktu itu disambut Ayah dengan suka cita. Entah bagaimana dia berubah, dan memaafkanku dengan adanya pendirian keras dalam dirinya.

Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Memiliki mimpi walaupun sumber daya tak mumpuni. Selain masalah keuangan, otakku menjadi pas-pasan ketika disandingkan dengan mahasiswa lainnya. Aku suka ini. Bertemu dengan mereka yang jauh lebih tinggi, memicu gelombang semangat berloncatan tuk meraih prestasi.

DI SMA, prestasiku memang tak membuat sejarah. Hanya sesekali juara kelas dan itupun tak bisa dikategorikan membanggakan untuk ukuran daerah. Olimpiade di tingkat Kabupaten hanya sekali kumenangi dan itu juga bukan bukti otakku cerah.

Sementara, mereka mahasiswa lain memiliki prestasi berbagai macam. Dari Olimpiade Nasional, hingga juara tingkat internasional yang menjadi langganan. Luar negeri, bukan lagi menjadi mimpi untuk dikunjungi, karena liburan sudah jadwalnya mereka transit secara rutin tanpa sangsi. Tak ada lagi masalah ini, itu yang hanya membebani. Fokus dengan berbagai penelitian yang mereka geluti, organisasi dan kepanitiaan yang mereka ingini. Jadilah kuliah tenang mereka alami.

Bagaimana denganku? Ibukota tak lagi ramah menyapa saat ku tahu biaya hidup disana yang ingin membuatku muntah. Untuk buang air kecil harus bersusah mengeluarkan biaya, bahkan orang sekarat pun harus rela memesan kuburan sebelum ajalnya tiba jika tak ingin kesusahan di hari H. Suasana yang amat berbeda dengan di daerah.

Aku tak memiliki otak cemerlang yang membuatku bisa menangkap semua materi tanpa persiapan. Untuk itu aku hanya bisa berjuang. Dengan segala tenaga tersisa sembari waktu luang untuk berjualan guna menambah penghasilan, ku gunakan laptop pemberian saudaraku untuk selalu mencari materi tambahan. Perpustakaan pun menjadi tempat langganan.

Aku memimpikan kuliah sejak lama. Sejak ku tahu Pamanku selalu ditolak kerja karena tak sampai lulus sekolah dasar. Juga beberapa tetanggaku yang hanya lulusan SMP, pulang dengan tangan hampa setelah merantau berbulan-bulan di kota. Menjadi TKI dan TKW? Setidaknya daerahku sudah tak lagi memutus keinginan itu. Sejak kasus warga kami yang disiksa hingga mati, situasi itu membuat tetua desa rapat dan melarang lagi ada warganya yang kerja di luar negeri. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang.

Akulah Nadia, seorang perempuan yang memilih kuliah dan meninggalkan daerahku tercinta.

Mimpiku kuliah pernah surut kala tahu pengangguran di negeri ini yang juga banyak dari kalangan almnus mahasiswa. Juga banyak berita mahasiswa kerjanya tawuran, mencipta kerusuhan tanpa sebanding dengan status pendidikan yang mereka emban ataupun biaya yang sudah orang tua mereka keluarkan.

Sementara prestasi mahasiswa menjadi pelipur kekecewaanku, berbagai mimpiku yang ternyata mensyaratkan gelar strata satu didapatkan memberi motivasi kepadaku. Itulah obat mujarabku. Menjadi mahasiswa, kian dekat dengan mimpiku tuk jadi seorang dokter yang bisa membuatku takkan lagi melihat tangis perempuan yang kehilangan bayinya saat anugrah itu hendak waktunya lahir. Cukup Ibuku yang terakhir ku lihat, dan suasana kelam kehilangan adik kecilku akan ku pendam dalam ingatan.

“Hanya karena tak ada biaya, dokter tak mau membantu persalinan. Kurang ajar !”, ku ingat kata-kata Ayahku saat itu. Kami berduka berbulan-bulan. Panen yang gagal, memicu tak ada persiapan saat Ibu hendak melahirkan. Seorang mantri di puskesmas yang akhirnya tak berbuat banyak karena tak ada peralatan untuk operasi adikku yang katanya sungsang. Rumah sakit masih jarang, adanya di kota seberan. Sementara tak ada lagi biaya karena gagal panen membuat bantuan tetangga juga tak menjawab keadaan.

Dukun beranak? Jangan tanyakan itu kawan. Keluargaku adalah keluarga muslim taat yang anti dengan apapun namanya yang bersekutu dengan jin dan tersesat. Syukurlah, nyawa Ibuku bisa tertolong melalui perantara sang mantri walau dengan peralatan seadanya.

Akulah Nadia, mahasiswa semester tiga universitas negeri di Jakarta. Hidup di kota, dengan latar belakang kehidupan di daerah.

Pernah saat itu seorang senior menyatakan cintanya. Balutan jilbabku tak kuasa menjawab bahwa prinsipku teguh kepada agama untuk tidak mendekati zina sebelum menikah. Untuk itu aku harus bersusah payah. Menjelaskan dengan penolakan halus walau sebenarnya ketampanan dan kecerdasannya memikat hatiku jua. Tapi maaf, aku mahasiswa dari daerah. Yang harus rela berkonflik dengan orang tua dulu sebelum bisa kuliah. Untuk itu ku kan tepis bagaimana sakit hatiku dirasa, agar tetap kuliah menjadi prioritas utama. Karena lahan pertanian yang keluargaku jual takkan pernah kembali jika kesuksesanku menjadi mimpi.

Akulah Nadia, mahasiswa yang masih jua tetap bangga menjadi mahasiswa.

“Pendidikan adalah tidak penting”, cuplikan film Alangkah Lucunya Negeri Ini itu membuatku tak bisa berkata apa-apa. Persis keadaan di disana. Kala pemuda hanya bangga lulus SD atau SMP dan akhirnya langsung menikah, melanjutkan pekerjaan orang tua seraya menikmati warisan yang ada. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya kehijauan hutan kami sirna perlahan. Tertelan kebutuhan manusia yang tak kuasa melestarikan, tapi hanya ingin mendapatkan lebih dan lebih secara instan.

Daerahku kaya, untuk ukuran sebuah daerah. Disana ada pertambangan yang mulai dibuka sejak lama oleh perusahan yang entah namanya apa. Jadilah ada opsi lain, selain bekerja di ladang juga bisa menjadi karyawan pertambangan. Tapi entah mengapa tak ada perubahan. Sejak zaman buyutku hingga sekarang, angka kemiskinan masih saja tak bisa dibayangkan.

Daerahku? Ah tidak kawan. Semua daerah begitu di negeri ini. Memiliki mahasiswa di seluruh penjuru negeri tapi tak bisa membuat perubahan di daerahnya sendiri. Sarjana, gelar bergengsi itulah yang kini melekat pada para pemimpin di Bumi Pertiwi. Sarjana, Profesor, Doktor adalah juga mahasiswa yang pernah berjuang menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasi. Pastilah mereka dulu lebih sulit kondisinya tuk memasuki bangku perguruan tinggi. Tapi dengan banyaknya angka korupsi, aku sendiri ragu apakah mereka pernah kuliah. Merasakan beratnya merangkai mimpi hingga dalam genggaman semua itu kini.

Akulah Nadia, mahasiswa dengan segala kekurangan yang ada tuk tetap melanjutkan kuliah. Tapi aku bangga menjadi mahasiswa, karena aku yakin perubahan itu bisa terlaksana, kala mahasiswa selalu bangga akan statusnya dan menjadi pelopor perubahan dimanapun mereka berada.




Cerpen ini ikut dalam Festival Fiksi Kompasiana 2011 dan ikut pula dibukukan.

Selasa, 15 Maret 2011

UN: Perubahan Dijanjikan, Perubahan Tak Kunjung Datang

Ujian Nasional, mengingatnya tak pelak membuka kenangan akan guru Biologiku semasa berbaju putih abu-abu. Kalimat yang tak panjang, tapi kencang dan lantang ia dengungkan. Menusuk, hingga terasa sampai ke tulang rusuk.

 “Kalian tidak perlu sebenarnya datang pagi-pagi kesini, bersusah payah mengikuti pelajaran tambahan jika hanya demi UN”, ujarnya tiba-tiba di kelasku. Kami pun terheran-heran, hingga pikiran negatif mulai bermunculan. Ada apa? Apakah tidak ikhlas berangkat pukul 06.00 demi mengajar? Memang, honor dari pelajaran tambahan persiapan UN tidaklah besar. Tapi program ini setidaknya cukup membantu para pelajar.

“Memang kenapa Pak?”, tanya seorang siswa pelan.

“Mas, sampeyan ini ko’ ya nanya kenapa? Jelaslah, UN kita hanya butuh itu”, tambahnya dengan logat jawa kental seraya menyindir dengan menunjuk seorang murid yang ternyata baru saja menggunakan telepon genggamnya diam-diam saat pelajaran.

“Kalian punya ini bukan?”, lantangnya dengan mengacungkan sebuah telepon genggam. Tak perlu ditanya, kantong siswa beratribut putih merah pun kerap berisikan benda itu sekarang. Sementara beberapa dari kami masih bingung, sungkan dan agak tersipu dengan kenyataan senjata perang telepon genggam bukannya pensil, penghapus ataupun buku-buku latihan.

“Dengan ini kalian tidak memerlukan belajar. Buang aja buku biologi kalian kalau mau...! Silahkan..! Jadi bagaimana?”, nadanya yang keras pun sontak memupus sisa-sisa wajah gurau di sebagian sudut ruang kelas. Atmosfer sangsi pun terlihat dari beberapa paras. Beberapa melihat kanan kiri selaras. Tetap saja tak tak satupun terlontar sebuah jawaban jelas.

“Kalau semua diam, artinya setuju”, nadanya merendah. “ Bagaimana kalau kita pulang saja sekarang. Saya lho juga masih ngantuk”, tambahnya seraya memasang tampang jenaka. Spontan, suasana panas pun mulai mencair segera.

“Jadi milih mana kalian ?”, nadanya kembali tinggi. Serentak pula seisi kelas mendadak kembali sepi.

“Milih belajar Pak”, sebuah suara mengawali diikuti serentak dengan perlahan oleh semua. Suara apakah ini? Suara hati? Ataukah sebatas suara diri yang merasa gengsi?

“Kalau begitu kalian berani nggak berjanji sama saya, UN nanti akan berusaha tidak mengandalkan orang lain?”, lanjutnya.

“Iya Pak”, kembali serentak semua menjawab. Lebih pelan kali ini. Maklumlah, ini berhubungan langsung dengan janji. Sebuah komitmen dari dalam diri. Tapi apalah artinya? Janji tinggal janji.

Sementara pelajaran tambahan tetap berjalan, jadwal try out UN pun bergilir tuk digelar. Namun Try Out berjalan jauh dari harapan. Bagaimana tidak? Dana Pemerintah Daerah dan pihak sekolah terkesan dihambur-hamburkan dengan simulasi UN yang ternyata juga penuh kecurangan. Curang? Bagaimana bisa UN yang tiap tahun digadang-gadang ada perubahan masih demikian?Apalagi ini hanya simulasi. Simulasi kecurangankah?

Try out digelar. Ditekankan sejak awal tuk berlaku jujur memang. Alasannya jelas, untuk mengukur kesiapan. Namun, tujuan pun tinggal tujuan. Akhirnya melenceng dari arahan. Miris kala tahu try out hanya banyak digunakan tuk berlatih melakukan kecurangan.

Berlatih? Jangan harap bisa spontan tanpa dibiasakan Bung! Sebenarnya kita patut bersyukur diberikan nurani yang membantu kala membedakan yang kotor dan bersih. Saat memilih yang kotor, nurani menolak, seraya diripun bergejolak dan kadangkala gemetar dan cucuran keringat tak dapat terelak. Pun dengan yang bersih, kadangkala iri hati menjangkiti, apalagi ketika hasil mengecewakan diraih. Itulah anomali yang terjadi.

Berbagai alasan mengemuka, dari mulai rasa malu akan nilai pas pasan yang dibuka, solidaritas dengan teman yang diasah di muka hingga persiapan mental di hadapan pengawas ujian agar peka. Alasan yang wajar jika ditelisik dengan pemikiran awam. Menghalalkan apapun demi tujuan. Merelakan nurani yang terkoyak menghapus kebenaran. Mereduksi jiwa yang ingin menggapai sebuah impian.

“Hey ini try out Bung”, begitulah candaku kepada seorang teman yang meminta jawaban. Perlahan mereka pun memaklumi. Dengan congkak aku bersenandung, yakin jawabanku pastilah benar tanpa rasa canggung. Benarkah? Aku bingung. Apalagi kemampuan pas-pasanku tak kuasa mendukung. Melihat teman lain menyontek ria, godaan pun tak terbendung. Tapi prinsip bukan sekadar kamus dalam folder benakku. Itu telah menjadi aplikasiku saat itu.

Kampanye try out jujur digelar sebelum itu. Persis seperti arahan pihak guru yang memang ingin mengukur kemampuan kami agar tak lagi ragu. Catatan Facebook menjadi alat utamaku, diskusi dan ajang curhat teman sekelas menjadi pendukungku dan akhirnya para teman dekatku pun perlahan mengikuti jejakku.

Hasil try out diumumkan. Tidak ada kejutan. Nilai parahku pun ditampilkan. Dikirimkan kepada orang tua yang akhirnya pun ku hilangkan. Inikah akibat sok pintar? Entahlah. Beberapa teman yang mengaku jujur pun terlihat murung dengan hasil muncul. Setidaknya bisa bangga dengan kejujuran yang ditegakkan, ayo bertahan. Seruan hati yang terbungkam.

Sementara beberapa yang mengimplementasikan try out sebagai sarana coba-coba kerja sama pun berjaya. Kini mereka melatih metode tak terbatas tuk berlatih mengelabui pengawas. Parahnya, saat itu pengawas pun hanya menganggap itu try out biasa. Padahal sebaliknya, atmosfer ujian nasional harus membahana. Bukan justru ujian kampungan yang hanya membuang dana, sekadar implementasi tanpa hasil program yang ada. Begitukah?

Di beberapa sekolah lain memang try out diperketat, tapi disalahgunakan pula tuk membuat sekat. Dengan sekat akan diketahui siapa saja yang berbakat dan nantinya bisa membantu mereka yang kemampuannya sekarat. Tak percaya? Jangan percaya, cukup saja anggap semua ini bualan maya. Tapi coba tanyakan saja kepada mereka yang tak berdaya, bagaimana pihak sekolah membuat budaya agar yang kemampuannya agak gelap menjadi terang dengan sedikit cahaya.

Budaya itu dibangun, dipupuk dan dilestarikan demi mengejar kata beres. Beres hingga di akhir kisah bisa dipampang spanduk bertuliskan “Terima kasih atas doanya, sekolah kami lulus Ujian Nasional 100% dan sukses”. Mungkin perlu ditambahkan “Sukses mengurangi korban yang terancam stress”. Jika sudah demikian, pihak sekolah sudah menganggap sukses dengan budaya serba beres. Budaya? Saya sejak tadi menyebutnya budaya disini bukan karena ini program gres. Khususnya untuk SD dan SMP, hasil UN akan menentukan akses untuk memilih jenjang selanjutnya yang dikenal favorit dengan banyaknya alumni yang sukses.

Di sisi lain pihak sekolah tak ingin melihat anak didiknya hanya meringis, saat yang lain bisa memilih sekolah dengan optimis. Menangis saat mimpi siswanya sebagai saintis harus kandas oleh ganasnya persaingan najis. Najis? Sekolah berlandas agama pun tak kuasa menganggapnya najis. Apakah mereka naif? Tidak. Sama sekali tidak. Reformasi sistem pendidikan disuarakan, tapi yang di Jakartalah pemegang kendali perubahan.

Jika ingin perubahan, jadilah menteri pendidikan. Begitukah kawan? Setidaknya itu yang bisa kupikirkan. Mengapa demikian? Setelah pihak dinas pendidikan menyerahkan pengawasan kepada perguruan tinggi yang kerap memiliki gelar pengawas “independent” disamping pengawasan dari guru sekolah lain, untuk tahun ini ditiadakan. Dirubah sana, dirubah sini. Diobok-obok berdalih evaluasi.

Saya kadangkala bingung, dimana genderang profesionalisme yang digadang-gadang akan berdengung? Apalagi saat tahu pengawas ujian mau diperdaya pihak sekolah untuk mengawasi dengan aman. Apakah mendapat ancaman? Memang masalah UN bukan sepele dan patut disepelekan. Pernah saya mendapat cerita dari guru saat menjadi pengawas harian, beliau mendapat ancaman pembunuhan. Bayangkan! Honor yang tidak serta merta mengeyangkan, berbuntut nyawa dipertaruhkan.

Belum lagi politik saling sandera antar sekolah. Katanya bertujuan semata-mata demi kesuksesan bersama. Analoginya mudah, jika sekolah A yang dijaga pihak sekolah B memperketat pengawasan, hal sama akan dilakukan oleh pengawas di sekolah A. Terlepas pengawas itu dari sekolah B atau di luar. Kongkalikong yang sudah membudaya, indah jika dilihat dari aspek gotong royong dan kerjasama. Tapi apakah disini tempatnya berada?

Makin parah dengan citra sekolah yang selalu harus dijaga. Apalagi sebagian besar masyarakat dengan awamnya masih merasa, hasil UN gambaran mutu sekolah. Coba lihat, mereka yang hasil UN terbaik dengan bangga diwawancara hingga masuk layar kaca.

Syukur jika memang jujur, dan semoga saja nantinya mujur. Tapi apakah manjur untuk menghasilkan budaya belajar teratur? Dari luar memang terlihat etos belajar tinggi jelang jelang UN menggempur, Pemerintah pun membanggakan itu penuh rasa syukur. Tapi di sisi lain budaya curang yang tetap tumbuh subur, hanya menggerogoti penerus negeri perlahan hingga hancur. Bagaimana bisa tercipta generasi berhati kejur tuk selalu jujur?

Bagaimana jika UN dijaga pihak tentara saja? Berseragam lengkap dengan senjata. Bentakan dan todongannya pasti akan membuat kecut siswa tuk curang dengan sengaja. Tapi jangankan teguran keras, pengawas juga dilarang berkeliling kelas.Mengganggu konsentrasi katanya. Jadi bagaimana bisa melihat telepon genggam ataupun kertas ajaib yang berkeliaran jika hanya dari depan?

Sistem salah? Benarkah? Setidaknya mereka yang berkoar anaknya, sanak familinya, ataupun siswanya tak jadi mendapat kelulusan walau diklaim prestasinya mentereng dan sudah diboking kampus keren masih saja sering berdemo dengan rela. Walaupun pengadilan terhadap penuntut UN telah memutuskannya kalah.

Di tiap tahun sudah ada perubahan, begitulah dalih Pemerintah melindungi UN tuk selalu ada. Muak sekali ketika melihat mereka menutup mata. Disini ketat, disana longgar. Untungnya pihak sekolah favorit berinisiatif memulai perubahan. Tak lagi berlaku 100% hasil UN mempengaruhi peluang masuk sekolah mereka. Mereka sudah tahu kebobrokannya, sudah bercengkerama dengan kerusakan budayanya, dan tanpa pilihan mereka pun terlibat di dalamnya. Di tahun 2011, UN pun diklaim akan berubah, tapi apakah sekadar wacana? Dan mungkinkah “mimpi” pemerintah menjadikan UN menengah atas sebagai acuan memasuki bangku kuliah? Kita lihat saja.

UN: Kala Jujur Tak Lagi Mujur



Ujian nasionalku, mungkin tak kurang sama dengan yang banyak dialami orang lain yang mau mengaku. Bagaimanakah?

“Anak-anak, silahkan ya kalau seandainya mau kerjasama. Tapi ada syaratnya”, ujar pengawas itu setelah membacakan tata tertib ujian nasional dengan lantang di depan. Nadanya pelan, seakan penuh keraguan. Sangat beda saat tata tertib tadi ia dengungkan.

“Apa Pak syaratnya?”, sela seorang anak tak sabar.

“Kalian jangan ramai. Pelan-pelan saja ya. Karena jangan sampai yang di luar tahu”, arahnya dengan sedikit memasang senyum seraya mengalihkan pandangan ke luar.

Serentak semua pun berkoar dengan perlahan, “ Hore”, dengan gembiranya.

“Hah, apa-apaan ini?”, pikirku dalam hati. “Aneh. Ko’ ada ya begini?” Saat itulah ujian nasional pertamaku. Masih lugu? Sebut sajalah begitu. Dengan baju putih dan bercelana panjang merah, aku dan beberapa temanku didampingi ustadz ke tempat kami akan melaksanakan ujian.

“Ustadz, Raffa nggak mau nyontekin itu lho”, adu seorang kawan selepas ujian.

“Iya, pelit. Mentang-mentang bisa”, tambah yang seorang lain.

“Fa nggak apa-apa, ajarinlah temennya dikit-dikit. Kasihan jika sampai nggak lulus nanti. Jadi bantulah teman-temanmu ini sedikit ya”, jawabnya. Hal yang sama diutarakannya kepada yang lain.

“Emang boleh?”, pikiran itu berkecamuk dalam benakku. “Mengajari sedikit mungkinkah dosanya sedikit pula? Jika ustadz menyuruhku demikian, kenapa tidak?” pikiran itu kembali membimbangkanku. Tapi, mereka bukannya siapa. Dengannya selama enam tahun ini belajar, bermain dan bersuka duka dengan indah. Apakah cerita indah itu semua akan diakhiri dengan keangkuhan hati karena beberapa hari terakhir ini tak lagi bekerjasama? “Baiklah”, aku pun akhirnya memaklumi.

Hasil diumumkan. Mengecewakan? Dari nada-nadanya orang tuaku menyesalkan. Salah siapa? Sekolahku yang masih baru itu? Atau aku? Entahlah. Setidaknya itulah pengalaman. SDIT di kota kecilku adalah sekolah yang baru didirikan. Aku menjadi satu dari delapan belas angkatan pertmanya. Pertama? Ya pertama. Jadi boleh jadi pihak guru pun belum terbiasa menyuruh siswanya bekerjasama, beda dengan mereka yang berpuluh tahun merasakan asam garam budaya itu dan menularkannya ke siswanya.

Trauma? Ya. Gara-gara itu aku pun hanya bisa melanjutkan di sekolah umum yang diklaim hanya nomer dua. Harapan besar padahal muncul dari orang tua. Tapi apalah semua hanya berujung duka.

Sejak itu aku berubah. Memasuki masa kelam di kala putih biru melekat di dada. Bagaimanakah? Aku berhasil membujuk orang tuaku dan mendapatkan telepon genggam pertamaku. Bermacam dalih ku kemukakan yang akhirnya meluluhkan orang tuaku yang saat itu masih beberapa bulan memegang telepon genggam pertama mereka.

Untuk apa? Itu, sesuai saran teman-temanku. Mempermudah komunikasi, itu pasti. Dengan itu, aku bisa menjalankan peran tuk beraksi. Menyebarluaskan jawaban bahasa Inggris yang satu-satunya bidang keahlianku tanpa sangsi. Beda kelas, atau mungkin sudah beda sekolah tak sekalipun membuatku risih. “Biarlah”, pikirku saat itu. Dengan itu, problematika Bahasa Indonesiaku yang tak lebih dari tujuh di tiap try out sudah basi. Semua teratasi.

Tapi aku menyadari, saat itu aku mulai belajar membunuh rasa bersalah dalam diri. Tiap getaran nurani tuk mengelak, ku pun ikut mengamuk. Apalagi beberapa teman agaknya lebih ahli dalam masalah curang, yang akhirnya membuatku belajar beberapa trik mereka perlahan.

“Aku lho ngerjakan itu sendiri”

“Iya tapi liat itu hasilmu. Hanya tujuh? Itu sudah tidak cukup masuk SMP 1”

“Tapi mereka yang dapat bagus contek-contekan Bu”

“Ah, jangan kebanyakan alasan. Kamu terlalu banyak main PS, malas, dan ogah ogahan belajar”.

Percakapan itu menjadi memori burukku, memori yang menghapus segala keindahan enam tahun bersekolah di sebuah jenjang dasarku. Mungkin aku dari sekian juta anak negeri yang disalahkan karena memilih mengerjakan sendiri walau kemampuan mumpuni yang berujung hasil yang perlu ditangisi.

“Apa yang mereka tahu?”, pikirku. Hasil, hasil dan kembali hasil. Dan bersyukurlah aku, ternyata keberanianku memainkan berbagai trik dengan telepon genggam ataupun kertas catatan itu membuatku mendapat angka sembilan. Bukan terbaik memang, tapi itu cukup membuat raut senyum bergelayutan. Walau akhirnya masuk Sekolah Menengah Atas favorit pun bukan dengan jalur hasil UN, tapi hasil tes yang tak disangka menggembirakan.

“Anak-anak, jika membawa HP jangan sampai ketahuan ya”, tiba-tiba kata-katanya begitu mencengangkan seraya menyalami para siswa yang baru datang di depan lobi sekolah SMA. Bagaimana tidak seorang guru mengatakan demikian? Guru? Bukan. Itu hanya oknum guru. Pastilah hanya oknum di sekolah menengah umum yang diklaim terbaik mengatakan begitu.Mempersilahkan membawa telepon genggam dan memperingatkan tuk berhati-hati, begitu yang tersirat di benakku. Apakah tidak percaya dengan kemampuan kami? Atau justru program mereka sendiri yang susun untuk UN dianggap basi?

“Lho Pak saya nggak pake HP ko’.. “,balasku pelan sambil tertawa kecil karena merasa disepelekan. Memang aku bukan siswa pandai, tak ada prestasi mentereng yang bisa ku capai, berbagai event olimpiade fisika tak lebih dari sekadar sebagai pengisi waktu santai, dan juara kelas jelas pun tak pernah sampai.

“Iya nggak apa-apa. Terserah kamu. Cuman seandainya mau menggunakan, lebih waspada”, sambungnya.

Aku kecewa. Kata-kata oknum itu bagai menistakan perjuangan guru lainnya. “Anak-anak, bekal yang Ibu berikan ini, dari semua pelajaran tambahan pagi hingga pelajaran biasa dan juga try out sebenarnya cukup. Tinggal kalian mau berusaha atau tidak”, aku ingat betul kata-kata guru bahasa Indonesiaku.

“Belajar lagi ya anak-anak”, atau kata-kata guru Matematika yang ku tahu selalu menahan pedih di balik senyum melihat hasil try out dari para siswanya.

Dan juga kata-kata mereka yang lain. “Fa, Bu Tri itu lho sampai nggak bisa tidur beberapa malam. Kelabakan tahu nilai try out yang tak kunjung menggembirakan. “, ujar guru lesku kala itu. Try out Matematika memang lebih ketat dari yang lainnya. Setidaknya Bu Tri, guru matematikaku selalu berkeliling ke kelas-kelas untuk memasang “mata elang”nya menuntut kejujuran. Hal yang sama ia lakukan di tiap kelas yang dijaganya.

“Kamu lihat soal ini? Atau ini?” ujar Bu Moeljani, guru Bahasa Indonesiaku di rumahnya saat ku kunjungi seraya menunjuk beberapa bendel soal. “Ini hasil ujian semester lalu yang belum sempat Ibu sentuh.” Aku paling merasa trenyuh dengan guruku yang satu ini.

Om Wawan yang sudah dikaruniai dua anak, Tante Yeti, Om Robi, Tante Yuyun dengan lima anak bahkan Ibuku sendiri dengan empat anak adalah anak didiknya di waktu silam. Jadi bisa dibayangkan usianya sekarang bukan? Beliau sudah memasuki masa dimana sebaiknya menikmati hidup. Gajinya pun sudah lebih dari cukup. Tapi kegigihannya tetap berinovasi membuat variasi tipe soal baru meski membuatnya kelelahan hanya karena sebuah alasan, “ Ibu tidak mau kalian menjadi generasi yang dikorbankan”, seperti yang dialaminya di masa silam.

Semua guru pun ku pikir sama. Terlepas bagaimana mereka menggunakan caranya. Mereka ingin yang terbaik untuk siswanya. Bukan sekadar karena tak ingin makan gaji buta, atau melihat siswa berduka di akhir cerita. Keinginannya satu, ingin agar siswanya bisa melakukannya dengan maksimal, ingin agar mendapatkan yang terbaik, syukur-syukur bisa lulus. Mungkin guruku saat berbaju putih merah, dan putih biru juga senada.

Berbicara hasil maksimal, Ujian nasional 2010 lalu kota kecilku digemparkan dengan tiga anak dari kelas spesial di sekolahku yang sudah dianggap nomer satu. Walau akhirnya melenggang terus melalui remedial, berita tak sedap ini sempat memicu kekecewaan para alumnus yang sudah puluhan tahun bisa 100% lulus dengan mulus. “Anak akselerasi itu hanya mencoba bermain lurus”, ujar seorang kawan.

Lurus? Ya, aku mengenal baik kelas itu dari berpuluh pujian yang seringkali didaratkan para guru, tentang keaktifan, kecakapan, dan kerajinan yang melampaui kelas biasa. Usia yang lebih muda justru memberikan lecutan asa. Pastilah optimisme membuat kelurusan prinsip mereka terjaga. “Memang sih mas, di kelasku saat ulangan harian biasa nggak ada yang contek-contekan. Entah karena gengsi, atau memang naluri persaingan yang tinggi. Tapi saat tugas, masih sering kok kerjasama”, aku seorang kenalanku yang juga anggota kelas dengan kecerdasan di atas normal itu melalui chatting facebook.

“Dari beberapa hasil try out memang bagaimana hasilnya?”, tambahku kepadanya. Karena jika pelaksanaan saja jujur, pastilah try out bisa untuk mengukur.

“Keseluruhan parah mas, malah nggak separah kelas lainnya”. Aku takjub mengetahuinya. Dengan hasil try out pas-pasan itu mereka masih saja bersikap ksatria? Subhanallah. Aku tersipu. Pasti kian banyak angka ketidaklulusaan pada semua kelas jika jujur 100% diterapkan. Jika demikian pada sekolahku yang diklaim nomer satu, bagaimana sekolah lain di kota mungilku?

“Harusnya seusai mengerjakan, mereka tak justru tidur, apalagi ternyata pesan singkat berantai berisi jawaban itu tidak melantur”, ujar seorang kawan.

Memang tahun lalu di tiap kali sebelum memasuki ruang ujian, jawaban sudah terlebih dulu beredar. Dan di akhir kisah memang para pengikutnya tak sedikitpun menyesal, karena gosipnya kebocoran soal didapat dari pihak percetakan yang mau dibayar jutaan. Tapi aku cukup bersyukur pihak perguruan tinggi tak sekalipun hasil ujian nasional diperhatikan. Walau masih tak munafik, sempat sedikit kerjasama tapi hanya kanan kiri itupun hanya sedikit. Hasilnya pas-pasan memang. Bahkan salah satu terendah di kelas yang mana sempat aku mendapat rangking tiga.

UN 2011, dengan lima tipe soal, tak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan, bahkan ke depan digadang-gadang bisa jadi acuan masuk perguruan tinggi. Perbaikan lagi dan lagi. Masih banyak penggemar praktik jujur agar generasi tak tercipta hancur.Maju terus! Bukan mundur teratur karena budaya curang yang sudah terlanjur. Benahi dari tiap lajur, hingga tak lagi ada momen “jujur tak pembawa mujur”.

Rabu, 02 Februari 2011

Kepada Malam Aku Bercerita

“Kondisimu jauh lebih baik dari Om Marwan dulu le”, ujar nenek tadi sore. Berkali kali memang orang mengatakan itu kepadaku. Dari mulai nenek, tante Yenti, hingga Abi dan Umi. Ya, kondisiku jauh lebih baik. Tak terbelit masalah keuangan, makan pun cukup tak pernah kelaparan, tak sedikitpun perpecahan keluarga yang membayang.

Jika dibandingkan dengan Om Marwan, aku memang jauh. Dia memang langganan juara semasa SMA, melanjutkan tradisi kakak-kakaknya sebelumnya. Dan aku generasi setelahnya, memang di SMA yang sama bersekolah, tak kuasa mengukir sesuatu yang “wah”. Hanya biasa. Bahkan masuk kesana pun hanya sekadar keberuntungan yang tak terkira.

IP semester pertama yang kurang nol koma nol lima mencapai tiga buktinya saat kini kuliah. Aku tidak beruntung, walau sudah berusaha. Dan itulah hasilnya. Kecewa? Tentu iya. Dengan berbagai jaminan fasilitas, aku tak bisa menjalankan peran sesungguhnya. Berbeda dengan mereka, sembari kerja sambilan prestasi masih digenggam tuk dipersembahkan kepada orang tua.

Sebenarnya musuhku hanya satu. Saat keinginan sudah direncanakan digapai, dengan langkah ini dan itu musuh itu datang menyerbu. Aku ingin perbaiki seranganku. Tapi apa daya kala musuhku adalah diriku sendiri.

Saat memenuhi target belajar, tak kuat rasanya. Parah memang. Tak sampai tiga jam, aku pasti sudah KO oleh bosan. Apakah ini sikap pemalas? Entahlah. Tapi saat jelang hari H, seakan penyakit itu lenyap dengan sendirinya.

Konsentrasi bisa penuh berjam jam, tapi apa daya. IQ yang pas-pasan tak mendukung sistem kebut-kebutan seperti ini. Hasilnya takkan maksimal.

Andai aku pandai pasti aku bisa. Belajar berkualitas tanpa cepat bosan ataupun terserang kantuk hingga hasilnya pun memuaskan. Jadilah tak perlu sering apalagi dengan prekuensi tinggi. Jadilah itu belajar cerdas, bukan belajar keras.

Tapi IQ pas-pasan ini menjadi kendala tersendiri. Jadilah hanya bisa belajar keras.

“Sudah malas, bodoh pula.” Parah kali itu kata-kata. Jika malas tapi pandai, bolehlah. Tapi ini, bagaimanakah?

Setidaknya aku ingin, “walau bodoh masih [agak] rajin”. Karena terdengar masih mending. hehehe

Tapi bagaimana bisa rajin jika belajar tak kurang dari 2 jam saja udah nggak tahan. Ada saja yang jadi ganjalan.

Aku iri dengan banyak kawan. Misal, sepupuku yang tahan belajar habis maghrib hingga jam sepuluh malam. Itupun sore masih ikutan beljar di les-lesan. Dia tahan berjam-jam di depan buku pelajaran. Hasilnya pun menggembirakan, hingga pernah menang olimpiade matematika tingkat kabupaten.

Bayangkan. Itulah kekuatan konsistensi pikiran. Dan aku tak memilikinya.

Tapi, bukan kamusku jika menyerah dengan keadaan yang ada. “Tak ada yang sia-sia”, sama seperti kata kakak mentorku tercinta. Semester lalu sudah ku buktikan walau masih belum bisa jadi bukti nyata.

Matematika yang dulu sewaktu SMA selalu (baca always) remedi, kemarin sudah mulai bertemu titik terang hingga dapat B di semester pertama kuliah. Ajaiblah, apalagi itu jauh lebih murni dari hasil SMA. Walau jika lebih giat lagi nilai A bukan sekadar wacana.

Ah sudahlah. Harus lebih baik semester depan. Kemarin sempat patah arang hingga merengek ingin diberi opsi ikut kembali ujian STAN. Tapi penyakit lainku masih ada, "Suka padahal tak Bisa". Beda dengan kebanyakan orang yang menyukai sesuatu dimana mereka ahli di dalamnya. Bahkan ikut olimpiade fisika, tak pernah menang dan hanya partisipan juga masih tetap saja "suka". Jadilah STAN hanya tak lebih dari rencana orang tua, karena aku telah terlanjur suka di bidang ini.

Ku tutup ceritaku kepada malam dengan asa indah. Yang tak hanya di pelupuk mata, tapi hingga ke hati biar selalu terjaga.



Lumajang, 2 Februari 2011


Catatan Aneh Sebelum Kembali Ke Tanah Perantauan