Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Jumat, 30 Maret 2012

Memanusiakan Diri Kita

Mentari menampakkan sinarnya. Seperti biasanya pagi mengudara, menyerak kegelapan malam yang perlahan sirna. Cahayanya terpancar kesana kemari bak antena omnidirectional yang mentrasmisikan gelombang ke segala arah. Pagi telah tiba. Saat dimana semua aktivitas akan dimulai dengan semangat membara. Rencana yang telah disusun diharapkan terlaksana. “Sempurna, dan sempurna”, teriak sebongkah semangat yang tersemat dalam dada.

Dan diantara semua agenda yang ada, tentulah ada sebuah kesamaan satu dengan lainnya. Ya, kesamaan keinginan agar semua berjalan seperti apa yang diinginkan. “Siapa sih yang tidak menginginkan sebuah kesempurnaan tuk didapatkan?”, retorika yang akan terjawab mudah namun bisa jadi susah.



Kepuasan kan menjadi obat penenang ketika tidur malam, sebaliknya kegagalan justru berakhir mimpi buruk yang tak terlupakan. Bahkan mungkin mengisi liang-liang memori dan menjadi trauma berkepanjangan. Lebay, hahaha. Tapi beneran, pas ngeliatin apa yang kita lakuin jauh dari harapan, melenceng jauh dari targetan awal, rasanya nyesek banget mpe pengen pegang pisau n nebas leher orang, duh parah.


Manusia, sebongkah raga yang selalu takkan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya, dan anehnya manusia diberikan tugas sebagai pemakmur bumi dan segala isinya karena sifatnya yang memang demikian adanya. Malaikat dicipta dari cahaya, sempurna perangainya dan selalu taat kepada-Nya. Tetapi makhluk cahaya justru tak bisa memanusiakan dirinya hingga Allah tak memberikan amanat itu kepada mereka.


Sementara kita terkadang merasa aneh melihat seseorang yang terus mencoba tetapi hasilnya sama. Kadangkala merasa jijik pula melihatnya yang tetap keras berusaha meski berujung lelah. “Gila, dia emang udah gila, mundur sana”, ejek suara miring meremehkannya. Padahal hal yang demikian memang wajar-wajar saja. Dia hanya memanusiakan dirinyanya. Berbuat salah, dan mencari penyebabnya agar tak mengulanginya seperti semula. Menemui masalah dan segera mencari solusinya agar tak menemui kembali hal serupa. Kembali dan kembali berbenah. Dan sekarang pertanyaannya apakah kita sudah melakukannya?


Kita terkadang lupa, bahwa kita memiliki modal utama untuk mendapat apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, dan mewujudkan apa yang kita dambakan. Modal yang bahkan mungkin kita terkadang terlupa bahwa kita memang memilikinya.


نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)


Kita adalah potensi yang luar biasa. Ada dengan potensi yang berbeda-beda. Lahir ke dunia dengan takdir yang mungkin berbeda dan jalan akhir yang berbeda. Namun di antara segala perbedaan yang ada, akan berujung kepada muara yang sama. Bukan tentang kepuasan saja ataupun kebanggaan terhadap apa yang bisa kita lakukan. Tetapi lebih dari itu.

Dengan memaksimalkan potensi yang kita miliki, kita bisa menuliskan takdir terbaik yang pantas tuk kita dapatkan. Bahkan meski apa yang kita inginkan tak kita dapatkan, bukan berarti takdir terbaik belum bisa kita torehkan. Yuk, memanusiakan diri kita, berjuang bagaimanapun caranya, dan betapapun kecil hasilnya. Karena kita manusia, Allah pun akan memanusiakan kita, memahami apakah kita sudah berusaha atau hanya berkoar dengan lantang tanpa upaya. Keberhasilan bukan hal utama, tetapi tetap menjadi tujuan kita semua.


“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]:60).


Minggu, 06 November 2011

Pentingnya Berorganisasi Sejak Dini


Curhat dikit, saya adalah mahasiswa baru yang dulunya saat sekolah tidak pernah berorganisasi. Mengikuti organisasi atau kepanitiaan ibarat menambah pekerjaan tanpa bayaran. Tidak ada manfaatnya. Buang – buang waktu dan tenaga. Bahkan bisa memicu stres jika jadwal yang padat serta tak bisa membagi waktu dengan tugas tugas yang ada. Itulah pemahaman saya selama ini dan mungkin kebanyakan siswa sekolah. Tapi, benarkah demikian?

Tidak. Menyibukkan diri dalam hal yang demikian ternyata bukan seperti menegakkan benang basah. Telah banyak orang membuktikannya. Melakoni peran-peran sulit dengan jabatan penuh tanggung jawab adalah sebuah investasi diri. Percayalah, suatu saat investasi itu akan terakumulasi sehingga menciptakan diri kita dengan pribadi yang tak pernah kita duga diawal. Kita akan memiliki sesuatu yang tidak akan pernah diajarkan dosen ataupun guru semasa sekolah. Sebaliknya kita akan diajarkan oleh guru terbaik sepanjang hidup kita, yaitu pengalaman.

Pengalaman demi pengalaman akan membentuk pribadi kita ke arah positif. Dari situlah kita akan menguasai apa yang disebut softskill. Softskill adalah kemampuan yang takkan pernah kita dapatkan dari buku, teori ataupun litelatur manapun. Karena hal itu hanya bisa kita petik dengan mencoba, belajar dan melakukan.



Suatu ketika saya mengikuti sebuah seminar dengan pembicara Arya Bima, seorang pemuda yang sebelum terjun di dunia politik sering tampil sebagai pengamat dan pembicara di program parodi rakyat Metro TV dan TV One. Beliau menceritakan alasan mengapa memilih terjun ke dunia politik, menjadi aktor yang kerapkali terjebak dalam sistem kotor hingga menjadi koruptor.

Alasannya sederhana, di usianya yang relatif muda sebagai politikus beliau ingin mendapatkan apapun yang belum pernah didapatkannya selama ini sebagai pengamat politik. Ya, political sofskill. Beliau tidak akan pernah merasakan dijegal lawan politik, pahitnya persaingan politik, memimpin orang lain di dunia politik yang memiliki tujuan beragam. Bukan bermaksud ingin merasakan saja, tapi mendapat kemampuan mengatasi hal semacam itu. Karena menurut beliau, menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang pandai dalam teoritis, tapi juga cakap dan bijak dalam memimpin.

Kita mau tidak mau adalah seorang pemimpin nanti. Lelaki bagi keluarganya. Perempuan bagi pribadinya. Jika tak bisa kita arahkan diri ini menggapai tujuan kita di dalam naungan yang haq tentulah ending kisah kita akan sengsara.

“ Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan”. (D.Farhan Aulawi)

Masa-masa remaja seringkali disebut masa-masa paling indah. Dan kenyataannyapandangan tersebut seringkali membutakan hati dan mempersempit pemikiran pemuda. Padahal di masa itulahmasa yang paling menentukan kita ke depan. Masa dimana visi ke depan menjadi acuan. Bukannya malah sekadar bersenang-senang. Mari jadikan hari ini adalah impian kita di hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok.

Tentang berorganisasi hendaknya kita bisa arif. Pilihlah organisasi, himpunan atau kepanitiaan yang bisa memberikan sesuatu kepada kita. Jika bisa malah menjadikan kita lebih mengingatNya seperti Rohis. Tapi sesekali mengikuti yang lain juga boleh tapi tetaplah “Stay On The Line” karena dunia kemahasiswaan rentan akan hal yang malah menjerumuskan kita ke arah negatif.

So, it’s time to learn about professionalism and be the professional. It’s not disco lazy time but chance to be agent of changing. Dunia perkuliahan adalah dunia pembelajaran yang penuh akan kesempatan berorganisasi. Don’t miss it.



Sumber:


1. Hasil Tadabbur di kosan saat gak ada hiburan


2. Hasil PDKT (Pengenalan Dunia Kampus Telekomunikasi) semacam OSPEK di kampus


3. Hasil interview dan pengalaman pribadi

Kamis, 03 November 2011

Ku Petik Rindu Di Setiap Do'amu



Hawa dingin nan beriring. Tak terasa jejak-jejak kaki ini telah lama membumi. Melewati hari demi hari hingga kini seperempat semester tiga telah dilewati. Dan detik demi detik penuh pengorbanan yang silih berganti, takkan hanya menjadi kisah abadi. Ini kisahku. Kisah tentang jiwa yang rapuh. Melewati kehidupan mahasiswa dengan tekad yang masih abu-abu.

Deru semangat di saat itu, masih sayup-sayup terdengar syahdu. Ku kecup tanganmu, dan kurasakan hangatnya kasih sayang diantara bait-bait kata terakhirmu ketika melepasku. “Hati-hati”, seakan itu kata mujarab itu kau ucap dan selalu kuingat dalam memoriku. Mengharap keselamatan, dan tiada hal yang tak diinginkan terjadi kepadaku.

Aku yang rapuh, namun suaramu dari jauh yang selalu menjadi penguat hatiku. Aku tak menemukan kata-kata terbaik tuk melukiskan bahagiaku. Aku mencoba melakukan yang terbaik, untukmu, semua keluarga, dan sahabat yang selalu mendukungku.

Dan ketika langit senja tak lagi cerah, ada kalanya juga diri ini terbelah. Di antara kemalasan yang menjadi, prestasi yang terjal tuk didaki, dan konsistensi yang terus digali, ada harap kalian disana yang selalu percaya padaku. Percaya bahwa tiap tetes keringat yang kau dan ia lakukan untukku takkan sia-sia, sekadar menjadi pelengkap kisah dan tak sedikitpun memberikan asa. Dan ketahuilah, jika hal itu menjadi kenyataan, betapa penyesalan akan tiba. Bahkan mungkin takkan bisa termaafkan diri ini, yang sama saja menjadi beban tanpa memberi sesuatu yang berarti.

Aku memang belum bisa membuatmu bangga, dengan nilai-nilai di atas rata-rata, ataupun selaksa hal positif yang membelalakkan mata. Bahkan, aku lebih sering melagukan keluh nan kesahku ketika lewat senandung manja. Tetapi tak sedikitpun itu membuatmu menolakku ketika menghubungimu.

Aku membelitmu dengan masalah, yang tak bisa ku selesaikan walau diri ini seharusnya bisa lebih bersikap dewasa. Padahal, berkali lipat masalah pasti tlah kau jumpai disana. Duniamu yang membuat duniaku juga ada. Duniamu yang menjadi penyokong duniaku tuk tetap ada. Tetapi tetap, itu tak membuatmu menghindariku.

Dan suatu ketika, petir menyambar dan diri ini terjerembab dalam impian hambar. Aku menyalahkanmu ketika itu. Menyalahkan pilihan yang tlah kita sepakati bersama dan restu yang tlah kau beri untukku. Padahal kau pasti tahu potensiku tak setinggi langit yang ingin kuraih dan tak secepat kilat yang ingin kulangkahi. Tetapi kau tetap mempercayaiku.

Dan diantara sepertiga malam-malam ketika doamu terhempas syahdu, diri ini tetap saja terlelap membatu. Tak sedikitpun kuasa tuk terjaga dan membalas balik doamu kepada-Nya. Dan disana, kau tetap tiada lelah mengirim do’amu. Mengharap Sang Kuasa memberikan diri ini hidayah, dan senantiasa dalam naungan jalan-Nya tuk terhindar dari bahaya. Tiada lelah.



Kontemplasi Hati


Berkalang rasa nan penuh syahdu
Menatap sendu yang temaram mengelebat merdu
Merongrong sunyi ketika sanubari membeku
Hanyut dalam kontemplasi peretas rindu


Berterik mentari, bermalam purnama 
Hati terjerembab, tiada tahu masalah mendekat
Namun secuil kata bersemilir indah
Penyatu kepingan semangat tuk kembali merekat padat


Dan ketika...
Sepertiga malammu menjadi saksi di hadapan-Nya
Dan alunan penuh cinta kau haturkan setulus jiwa
Maka bagaimana diri bisa mendusta,
Bahwa usaha belumlah jua semaksimal yang bisa dilakukan
Namun sejuta keluh kesah yang terlanjur terlontarkan

Kontemplasi hati ini..
Kan buktikan semuanya lebih baik lagi...


Jumat, 21 Oktober 2011

Menerawang Bayang-Bayang

Bandung menampakkan malam yang dingin seperti biasa. Sedingin embun yang selalu yang terjaga di malam-malam menemaniku akhir-akhir ini. Senandung pagi hari demi hari ke depan akan berbeda. Ya, minggu depan adalah minggu ujian. Minggu yang akan sangat menentukan, bagaimana perjuangan di semester ini akan diarahkan.

Tetapi terkadang, musuh utama bukan datang diantara ilalang dan semak belukar, ataupun jurang di tengah perjalanan. Justru diri inilah menjadi penghalang. Ketika rencana memang dibukukan dan sesiap raga ini melaksanakan, ada saja hal yang membuat sang waktu seperti berputar lebih cepat meninggalkan.

Aku harus belajar, dan itu keharusan yang aku lakukan. Seketika kata-kata itu seraya hidup menggetar tetapi mudah goyah dan merintih lemah. “Ah ngantuk”, “Ah bosan”, “Ah besok saja”.

Masih teringat liburan lalu, raga ini berdiri gagah diantara mata-mata kecil yang memandang. Mulut ini berteriak lantang, menyusupi pemikiran mereka dengan motivasi yang membakar. Motivasi? Mengapa sekarang justru kehilangan konsistensi untuk termotivasi? “Bagaimana aku bisa begitu dahulu?”

Ah entahlah.

Menerawang bayang-bayang, mengingat masa lalu penuh kenangan terkadang memang berguna. Aku membuka catatan lama, tepat dimana puluhan draft naskah tanpa ending cerita menyesakkan mata. Beralih ke catatan yang sudah pernah terpasang. membacanya satu persatu. Tersenyum. “Bagaimana bisa aku membuat begitu dahulu?”.

Sebuah pesan masuk di ponselku. “Mas ini endorsementnya”, begitu tertulis awalnya. Hingga teringat bahwa proyek besar menjadi panitia Lomba Puisi yang kemarin dipegang bukan mimpi. Bukan mimpi pula akun facebookku tiba-tiba menerima ratusan permintaan pertemanan dan email dipenuhi ratusan naskah besarta pertanyaan dari peserta. Diri ini juga akhirnya berkesempatan berhubungan dengan mereka dengan orang-orang tenar dan berpengalaman di bidang sastra. “Bagaimana bisa?”

Ternyata, diantara semua jawabannya semua bermula dari alasan bahwa aku menyukainya. Bahkan meski sulit pun terkadang hati ini takkan enggan mengalah. Bahkan ketika otak ini sudah merengek lemah dan lelah bersambut raga yang terserang hawa kantuk sebegitu dahsyatnya, aku tetap menyukainya. Kuliah di jurusan yang amat kusuka, di kampus yang kusuka, di kota yang kusuka. Memiliki hobi menulis meski sangat malas membaca. Menjalani takdirNya yang selalu ku syukuri adanya. Aku suka. Pulang malam dari lab, mabit dan berbagai aktivitas di luar kuliah. Aku menyukainya.

Seketika mengingatnya. Bagaimana aku bisa dahulu begini dan begitu. Jawabnya memang karena memang aku suka. Berlelah tetapi menikmati ibarat waktu tak terasa berlalu. Jadi apakah ketika bermalasan aku menikmatinya? Mungkin juga begitu kita semua kawan. Menikmati disaat diri kita sedang terpuruk, hingga akhirnya lama kita untuk bangkit. Tidak membenci di saat kita futur hingga enggan memperbaiki.

Menerawang bayang-bayang, apakah yang kita impikan malam itu? Malam dimana kisah ini bermula. Ketika kau rasakan udara sekitarmu berubah, tak seperti biasa. Malam dimana kau terjaga, memikirkan apa yang akan terjadi ketika esok mentari menyapa. Apa yang kau pikirkan kawan?

Apakah kau memikirkan bahwa kau akan mendapat kemudahan? Kau akan membuat mereka yang menyayangimu menjadi bangga dan mengelukanmu di akhir kisah? Kau akan dengan segera menggunakan waktumu untuk ini dan itu mencapai target dan sesegera mungkin meraih malam-malammu yang lain? Demikiankah?

Segalanya memang terkadang terasa tak mudah dan diri ini tak bisa menerima. Tetapi dari semua itu, terawanglah bayang-bayangmu. Ketika kau berani memutar kisah ini tuk jadi catatan sejarah hidupmu, ketika kau putuskan langkah ini tuk mengisi waktu-waktumu. Kau tersenyum, kau berharap cemas, kau bahkan mungkin takut. Tetapi kau bersiap untuk semuanya. Bertanya kemana-mana, mencari informasi sedemikian rupa. Kau mencipta bayang-bayang nan elok rupanya. Dan ketika kini bayang-bayangmu kini hampir mati, apakah kau akan meninggalkannya sendiri?

Aku meninggalkannya kawan. Di antara tumpukan jerami aku menyiramkan minyak tanah dan membiarkan diri ini membakarnya. Itulah kenapa aku seringkali gusar ketika malam. Aku merindukan bagaimana aku dahulu berpijak, menatap hari dan berjuang seakan bayang-bayang ini telah memprediksikan.

Tetapi kini, aku telah mendapatkannya kembali. Aku membuatnya dengan harapan, dan keyakinan bahwa memang sesuatu yang sulit diraih akan lebih mudah dijaga nanti. Lalu, bagaimana denganmu?

Rabu, 19 Oktober 2011

Ikut Aksi Tanpa Refleksi, Apa Kata Dunia?



Mahasiswa, makhluk berpendidikan yang masih saja bisa dibilang langka di negeri kita. Kemiskinan yang menjerat dimana-mana dan biaya pendidikan yang memang menjulang takkan pernah dijangkau setiap generasi muda. Tak pelak status mahasiswa boleh saja dibilang membanggakan jika dilihat secara seksama.

Tetapi kadangkala status ini juga cukup membuat hati kecewa. Tengok mereka yang duduk di singgasana kekuasaan, banyak dari mereka dulu juga mahasiswa vokal, menyuarakan perubahan, tetapi sama saja ketika sudah masa mereka menerima giliran. Korupsi, dan berbagai penyelewengan ibarat hal yang tak tertahankan. Idealisme terbeli dengan harga yang mungkin tak bisa disetarakan. Semua dianggap masa lalu, dan masa kini adalah sebuah kepentingan.

Juga lain halnya dengan prestasi yang diukir mahasiswa Indonesia tercinta. Beraneka rupa, dari yang tawuran masal hingga memang membanggakan bangsa di mata dunia. Dan kita harus menyadari, bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki harapan besar dan membutuhkan orang-orang yang memang bisa memberikan pengorbanan besar bukan untuk sekadar hal fana semacam kekuasaan, ataupun tanda simaptik dari orang.

Anda mahasiswa, Anda pemuda, lalu apa? Terlepas dari status mahasiswa Anda, menjadi mahasiswa bukan sekadar untuk bergaya dengan almamater yang Anda banggakan di depan kaca, juga bukan untuk berteaterikal seakan Anda pahlawan pembawa perubahan. Please, sadarlah, mereka juga melakukan hal yang sama.

Mereka runtuhkan tirani demi kekuasaan tertinggi yang katanya untuk rakyat dan dari rakyat. Dan kini mereka bahkan lupa setiap hari yang mereka makan berasal dari rakyat. Rakyat yang merintih di tengah kekayaan negeri ini, rakyat yang menangis di antara janji-janji pemikat yang tak lain bak nyanyian berkarat.

Anda itu berpendidikan. Bukan mereka yang ikut aksi dengan bayaran. Atau mereka yang memang mahasiswa abal-abal, berdendang ria mengatakan, “Inilah aku, kaum intelektual di negeri ini. Akan membawa perubahan. Akan menebar kesejahteraan. Inilah aku”

Sebuah kata-kata yang amat membanggakan bagi saya pribadi sekaligus sindiran pahit datang dari seorang Bima Arya, politikus muda yang dulunya sempat berposisi sebagai pengamat tenar di TV swasta, ketika awal menginjakkan kaki dengan status mahasiswa, “Pemuda sekarang itu banyak yang teriak perubahan, tetapi jika diserahi wewenang tidak memiliki kecakapan.” Berkoar-koar bak singa kelaparan tanpa ada arahan. Pertanggungjawaban? Nol besar. Apakah itu yang Anda inginkan? Menjadi sekian diantara mereka, mantan agen perubahan yang akan segera tergilas perubahan?

Anda akan hilang kawan, hanya menjadi terkamanan generasi muda selanjutnya yang akan melanjutkan aksi tusuk belakang. Mensimfonikan kemerdekaan, tetapi sama saja tidak bermoral. Anda mahasiswa? Maka, beraksilah dengan sebenar-benar tujuan mulia. Jangan bernada Anda bisa, tetapi tiada juga memiliki noda. Jangan berlagak Anda cerdas, tetapi berperilaku kurang waras. Jangan berkata mereka salah tetapi Anda juga tak mampu lebih baik.


Ikut aksi tanpa misi,

demo sana dan disini,

tetapi diam hati nurani,

ketika amanah diemban sendiri tiada perubahan berarti.

Penuhi almari dengan setumpuk prestasi,

buktikan diri mampu berkreasi,

berguna bagi siapa saja yang disayangi,

bukan hanya sekadar cari sensasi.

Refleksikan aksimu

Dengan semangat pantang ragu

Giat berprestasi di tiap denyut nadimu

Disertai tanggung jawab yang tak hanya melagu


Raffa Muhammad

Telecommunication Engineering 2010,

Telkom Institute Of Technology

Senin, 20 Juni 2011

Berpetualang Dengan Generasi Masa Depan



Detak-detik jam berlalu kian terasa. Sang waktu memang kan selalu terus berlalu tanpa ada halang waktu kuasa-Nya. Bersama nyanyiannya ku utarakan sebuah janji yang harusnya terlaksana. Aku pun menari riang gembira saat membayangkan semua kan berjalan seperti rencana.

Janji yang biasa disebut amanah karena hanya melaksanakan berniat untuk mendapat ridho-Nya memang mudah diucapkan tetapi kadang sulit dilaksanakan. Tubuh ini selalu bergetar ketika mendengar kata itu, amanah. Disaat lalai, maka amanah itu pun terbengkalai. Sang waktu pun takkan mau mendengar kita beralasan dengan santai. Alih-alih akan ada hati yang terdzolimi ketika malah sibuk urusan pribadi.

bernarsis ria



Ditemani tubuh yang mulai lunglai, aku membasuh muka dengan air wudhu’, membuang sisa-sisa lelah yang terlukis di wajahku. Hari ini agendaku padat, walau memang tak ada alasan untuk terlambat. Kuliah ini dan itu hingga harus mengemban amanah disini dan disitu.

“Kak Fikriii, Assalamualaikum”, sebuah suara mengawali rentetan suara-suara lainnya yang bersahutan memanggil namaku. Sajak sepi yang tadi mengalun merdu sirna tiba-tiba. Suara ini tak asing lagi, suara emas para generasi masa depan yang biasa ku temui di masjid tempat kami merangkai mimpi, menjadi generasi muslim sejati.

Jemariku mendekat ke arah pintu dan membukanya perlahan.“Kakak sholat dulu ya”, pintaku dengan nada ramah. Nada yang jika kupikir masih jarang tergambar dari kata maupun mimik wajah sebelum aku mengenal mereka.

Sambil menungguku melakukan tarian penghambaan kepada Tuhan, mereka bercakap ria seperti biasa. Tertawa bergurau hingga dinding sepi kostku menggema, merasakan keceriaan dan sukacita. Pastilah jemu ia berdiri tegak, menopang atap hingga ku bisa tidur dan beraktivitas dengan bahagia di bawah. Sementara tak ada keceriaan yang ku bagi dengannya. Malah raut penuh kesal dan nada kecewa ku lantunkan ketika pulang kuliah.

“Mau kemana ini kak?”

“Ke danau lagi aja kak”

“Keliling STT lagi”

“Bentar ya”, tanganku masih sibuk menyiapkan apa yang telah ku rencanakan tuk hari ini. Hari ini adalah hari minggu, hari yang sama sejak dua minggu lalu ku canangkan program tadabbur alam dan belajar Islam di luar. Belajar Islam memang sebuah kewajiban, dan usia sangat sayang jika hanya mengenal dunia saja yang takkan ada habisnya.

“Nanti kita main games”, ujarku.

“Horeee”, teriak mereka serempak kegirangan. Aku pun menuntun kaki-kaki kecil pembawa harapan besar itu melangkah keluar. Kampusku minggu sore tampak lengang. Waktu liburan yang tlah datang membuat aspal hanya sesekali menerima ciuman dari ban, sesuatu yang sudah terlalu sering ia rasakan ketika hari-hari sibuk jalanan Sukabirus berjalan.

Enam anak hari ini ikut, jumlah yang sama ketika dua minggu lalu semua mulai digelar. Bermula dari sesuatu yangSaat itu mereka menawarkan untuk tetap mengaji di hari minggu, hari dimana biasanya TPA kecil kami diliburkan. Namun, ternyata masjid digunakan untuk Ibu-Ibu pengajian, jadilah aku mengajak mereka keliling kampus dengan seorang pengajar.

Dan hari ini senja menyapa kami dengan ramah. Tak ada mendung sedikitpun terhampar di angkasa. Jadilah ku persiapkan semuanya dengan suka cita.

“Ko’ hanya berenam?”

“Lha emangnya mau berapa kak?’

“Kakak kira ada sepuluh atau lebih”, selorohku hingga membuat mereka geram. Bahkan si kecil Sri juga ikut-ikutan, meniru kata-kata kakaknya, Yuli yang mencoba protes karena aku berniat memanggil lainnya. Mereka berenam memang termasuk yang paling rajin diantara yang lain. Jadilah mereka terkesan kurang suka dengan yang lain karena hanya main-main dan membuat keributan saat mengaji.

“Lagian lama kak nunggunya. Mereka belum mandi, masih bau kayak kakak”, celetuk Erika.

“Iya kak, mereka juga banyak yang ke rumah Gilang. Dia hari ini disunat. Makanya khan ada dangdutan”, tambah Sundari.

Aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Bisa-bisa tangis Sri pecah disini, bidadari paling mungil ini memiliki tangisan besar yang bisa membuatku panik karena pasti mengundang perhatian orang. Nanti aku dikira nyulik nih bayi, atau dikira macem-macem.



Dua pengajar lain datang hingga membuat acara kami lebih semarak lagi. Sebuah games kecil di depan gedung megah Learning Center, kebanggaan seantero kampusku. Dan senja kemballi menjadi saksi, pesona yang mulai perlahan tanpa ku sadar menghampiri. Aku menikmatinya. Aku mensyukurinya. Sebuah canda tawa, momen indah dengan mereka, para mujahid - mujahidah masa depan.

“Braak”, Dika jatuh dan menangis keras. Namun syukurlah ada Fantri, teman seperjuangan yang dengan sigap mengobati dan menenangkan laki-laki kelas dua sekolah dasar ini. Permainan merangkai huruf estafet akhirnya usai sudah. Terpaksa diganti tanpa merangkai huruf menjadi nama Nabi tanpa lari. Dan angin senja membuat suasana lebih meriah. Kertas-kertas yang ku gunting sebelumnya itu tertiup berhamburan, membuat mereka panik tetapi riang.

Dika dengan hasil mewarnainya



Itulah permainan yang tampaknya bisa maksimal. Permainan kedua hanya teka-teki silang. Revi dan Fantri membacakan soal. Aku sibuk menjadi pengawal Sri yang lincah menggodaku berlari menginjakkan kaki kecilnya di tangga LC. Dua kelompok tampaknya berat sebelah sehingga salah satu terlihat muram tanpa menikmatinya. Dan alhamdulillah semua berujung senyum di akhir cerita ketika hadiah dibagikan. Tak ada raut tangisan ataupun muram lagi bermunculan.

Petualangan kami berakhir disitu hari ini. Namun akan terus berlanjut lagi di lain kesempatan. Berlanjut dan berlanjut, hingga senja kan jemu melihat pesona mereka tumbuh dan menjadi generasi masa depan yang berilmu. Hari ini adalah hari terakhir bermain dengan mereka, sebelum kepulanganku ke tanah kelahiran tercinta selama tiga bulan lamanya. Aku pasti merindukan mereka. Sebuah kepastian yang terbersit ketika melihat senyum tulus mereka terbayang.

Sayonara, we’ll continue later!

Generasi Masa Depan (Della, Erika, Sri, Yuli, Sera)


“Jika mau ngajar maksimal, luruskan niatmu. Lalu tanamkan pada dirimu bahwa bukan mereka yang membutuhkanmu, namun kamu yang membutuhkan mereka. Akhirnya nikmati semua itu”.



Pesan murobbiku itu sangat jelas terpampang di benak. Walau belum sepenuhnya bisa terserak, namun akan terus berusaha selagi jantung ini masih berdetak.

Rabu, 06 April 2011

Sebuah Kado Istimewa

“Dibawa ke rumah sakit? Dimana?”

“Di Surabaya. Di Jember sudah tidak sanggup lagi menangani”

“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”

“Alhamdulillah sudah ditangani dengan baik. Doakan ya Nak, semoga kakek cepat sembuh”. Ucapan lirihmu membuatku trenyuh. Baru beberapa bulan lalu, ya aku ingat jelas kau dan kakek melepas kepergianku. Menatapku dan mengecup kedua pipiku. “Yang baik-baik ya disana”, pintamu. Begitu pula kakek, di saat kondisinya yang lemah masih saja memberi wejangan dan doa.

Baru beberapa bulan lalu, bahkan aroma Bandung masih abu-abu untukku. Tapi agaknya rindu ini terkumpul menjadi satu. Padahal jelas beberapa bulan sebelum kepergianku. Kakek selalu rajin bersepeda di hari minggu, mengantarmu jalan-jalan ke alun-alun tuk melatih kakimu yang sempat terkena stroke beberapa tahun lalu, atau rutin menyirami tanaman anggrek dan lainnya yang selalu kau rawat sepenuh hati di kebun kecil di samping rumahmu.

Kakek kini lemah. Tak lagi bisa menghadiri pengajian di masjid tempatnya selalu rutin beribadah, apalagi menemani hari-harimu yang penuh warna, mengantar sepupuku pergi les seperti biasa. Pasti kau terpukul mengetahuinya. Apalagi tahu-tahu keadaan kakek sampai harus dirujuk keluar Jember yang dulu kau bilang lebih baik dari Lumajang.

“Jatuh?”

“Iya. Sekarang sudah dirawat di Rumah Sakit juga.”

Ucapan anakmu yang melahirkanku itu membuatku tak habis pikir. Mengapa kau paksakan membunuh letihmu dengan senantiasa tengah malam berdzikir. Itukah kekuatan cinta yang selama ini telah terukir?

Masalah dana yang awalnya masih bisa dipenuhi patungan anak-anakmu mulai bermasalah. Tulangmu bergeser saat kau jatuh. Sementara kakek juga bukannya makin sembuh. Untunglah perdebatan kecil antara anak-anakmu dengan anak-anak kandung kakek sedikit memberi harapan baru. Walau sempat tangis terpancar karena anak-anak kakek agak enggan ikut berperan membantu.

Anak-anakmu kembali kebingungan. Situasi dilematis muncul ke permukaan. Ruang inapmu dijadikan satu dengan kakek akan membuat mereka mudah menjaga bergantian. Tapi, kau akan kehilangan motivasi tuk cepat sembuh karena nyatanya penyakit kakek lebih parah darimu. Benjolan itu ternyata kanker, bukan benjolan biasa yang selalu kau rasa bisa ditanggulangi dengan pijat rutin kepada seorang spesialis sebelum kakek makin melemah.

Kanker itu bukan penyakit biasa yang bisa sembuh dengan penanganan cepat. Begitulah nyatanya sehingga anak-anakmu memutuskan di kamar berbeda kalian dirawat. Hari demi hari, kondisimu dan kakek masing-masing mulai membaik. Dan kakek mulai dirawat di rumah anak-anaknya, sedang kau dipulangkan ke Lumajang karena anak-anakmu juga tak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.

Libur jelang lebaran, aku pun pulang. Melepas kepenatan selama enam bulan juga rindu yang tak tertahankan. Kau sambut dengan sukacita walau ku tahu dari kejauhan, kau memendam sedih yang teramat dalam. Kakek hanya bisa kau hubungi jarak jauh. Seseorang yang biasa ada disampingmu, kini teramat jauh disana sedang melawan penyakitnya.

Sementara kakimu yang harus dioperasi membuatmu kakimu ditanam logam yang kau sendiripun sebenarnya membencinya. Kau tak bisa berjalan seperti biasa. Apalagi agaknya kau terlalu memikirkan kondisi kakek hingga kau pun enggan berlatih melangkah. Ya, bunga-bunga di taman yang layu pun menyiratkan demikian adanya.

Hari lebaran keluarga berkumpul seperti tahun-tahun biasanya di rumahmu. Bermaaf-maafan dan saling berbagi kebahagiaan. Tapi kali ini tidak ku temukan. Apalagi setelah mendengar berita kondisi kakek memburuk perlahan. Walau sebenarnya sudah ada anak-anak kandungnya yang merawatnya disana.

Kondisi kakek jauh lebih buruk daripada saat sebelum dirujuk ke Surabaya. Sementara, anak-anakmu tak bisa berbuat apa-apa karena jarak Lumajang ke tempatnya lumayan jauh dan memakan waktu pula. Kemoterapi dilakukan, dan anak-anakmu merahasiakan opsi itu karena sejak awal kau telah mengetahui resikonya yang membahayakan.

Sementara ada juga pihak keluarga yang mengusulkan agar kakek dibawa saja pulang ke Lumajang. Itupun seperti permintaanmu sendiri setelah membongkar rahasia yang anak-anakmu pendam. Biar meninggal di sampingmu dengan tenang, dan kau pun bisa menemuinya disaat terakhir sebelum ajalnya datang.

“Pokoknya bawa pulang saja. Dia satu-satunya lelaki yang setia, dan menemaniku sejak masa sulit”, begitu pintamu dengan nada rengekan yang belum pernah ku jumpa. Ya memang benar adanya. Kau selalu saja bersikap tegar di depan semuanya. Tapi jauh di dalam hatimu, kau rapuh. Bagaimanapun kau perempuan biasa dengan kesabaran luar biasa tapi tetap membutuhkan seseorang yang dicintai di sampingmu selamanya.

Dia memang bukan laki-laki yang sama yang mengalirkan darahnya ke anak-anakmu hingga terkait pula denganku. Bukan dia. Bukan cinta pertamamu yang kau harap kan jadi cinta terakhirmu. Bukan laki-laki pujaanmu yang akhirnya menikahi perempuan lain di saat hartanya melimpah ruah dan kesuksesan digenggam dimana-mana. Meninggalkanmu dengan anak-anak kecil yang masih sekolah dan membutuhkan banyak dana.

Bukan. Bukan dia yang membuatmu kecewa dan sakit hati. Membuat anak-anakmu terancam kehilangan masa depan, setelah sebelumnya semuanya terjamin dengan rapi. Bukan dia yang membuat anak-anakmu terpaksa kuliah dengan keadaan serba terbatas dan penuh derita. Tapi dialah yang selalu menemanimu setelah kau buka warung untuk menghidupi anak-anakmu. Membesarkanmu hingga akhirnya aku pun terlahir dari rahim salah satu anak yang kau besarkan dengan sungguh-sungguh.

Air matamu mengucur deras, diikuti air mata anak-anakmu yang membuatku memilih keluar kamarmu karena tak kuat situasi yang ada. Sementara menantumu dan beberapa anakmu sejak pagi sudah menjemput kakek tuk dibawa pulang menemuimu.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal ....”

Pesan itu membuat tangisan pecah seketika anggota keluarga yang ada di rumahmu. Suasana haru bertumpah ruah. Tapi semua menutupinya, takut kau tak bisa menerima. Apalagi kondisi kesehatanmu yang juga kurang stabil agaknya.

Jenazah datang sementara para pelayat berdatangan. Diikuti teman-teman pengajian kakek yang juga hendak membantu prosesi memandikan. Di balik kamar, aku hanya bisa mendengar tangismu pecah. Ditemani adik-adik dan kakakmu kau disana, kau mencoba tegar tapi tetap tak percaya terhadap semua keadaan. Walaupun sebelumnya sempat terucap, “aku rela dan ikhlas sudah”, dari bibirmu karena semuanya masih merahasiakan bahwa kakek sudah dipanggil ke pangkuan Allah disana. Tapi tetap saja tak bisa dipungkiri, tangisanmu itu tak bisa menyembunyikan kepedihanmu yang mendalam. Ratapanmu tak bisa mengobati rindumu dan juga kepedihan yang dirasakan anak-anakmu yang juga tak kuasa menahan air mata malam itu.


Mendiang alm Kakek dan Nenek

Kakek dikuburkan pagi harinya. Saat itu ku lihat kau sudah mulai lebih tenang daripada malam hari sebelumnya. Kepergiannya menyisakan segenap luka dan duka bagi semuanya. Tak hanya dirimu, anak-anakmu yang juga mendapat sosok pengganti ayah, serta aku dan cucumu lainnya yang mendapat sosok kakek dan mengenalnya.

Sekarang kau masih menjalani terapi penyembuhan. Kau sudah mulai berlatih berjalan. Berjalan meski kini hanya tersisa kenangan. Tak ada lagi dia yang selalu menemanimu, di saat pekerjaan menyibukkan anak-anakmu, juga sekolah yang membuat cucu-cucumu jarang mengunjungimu.

Cucu terbesarmu sudah sembilan belas tahun kini. Tepat disaat aku menulis ini. Tepat disaat kau menelponku tadi, dan kau ucap harapanmu kepadaku agar senantiasa berjalan dalam naungannya, mewujudkan harapan orang tua dan menjadi contoh bagi cucu-cucumu lainnya. Kado istimewaku adalah menjadi cucumu, menjadi anak yang terlahir dari anakmu.



Bandung, 5 April 2011

Ditulis dengan berlinang airmata



by Raffa Muhammad