Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Jumat, 29 Juni 2012

Jangan Takut Masuk LDK !


Di sekitar kita terkadang kita jumpai orang yang takut memulai sesuatu dengan beragam alasannya. Dari mulai yang simpel hingga yang kompleks. Idealnya sebuah alasan memang dibutuhkan sebagai bukti-bukti penguat agar kita dapat menentukan pilihan dengan baik. Tapi, terkadang alasan-alasan tersebut lahir dari sudut pandang yang negatif sehingga terbentuklah berbagai alasan yang justru membuat hal positif yang akan kita lakukan mengalami status “pending” atau bahkan “canceled”

“Jangan pernah ragu dalam hal kebaikan”

Lembaga dakwah kampus (LDK) adalah satu diantara banyak hal di dunia kampus yang Insha Allah mendekatkan individu di sekitarnya ke arah yang diridhoi Allah. Tetapi kadangkala muncul beberapa hal menggelayuti pikiran kita terkadang ketika ingin masuk LDK. Setidaknya hal itu juga yang muncul dari pengalaman saya dahulu kala.

Ngapain sih takut?

Hal yang pertama berpotensi jadi pemicu keraguan adalah status. Status masuk LDK akan otomatis menjadikan kita ADK alias aktivis dakwah kampus. Cieee namanya keren bukan? Emang keren kok. Ga hanya di mata manusia lho, tapi di mata Allah juga. Saking kerennya terkadang kita bahkan merasa status ini bisa jadi sesuatu yang bisa kita banggakan.

Coba pas ditanya orang tuamu, “Nak kamu ikutan apa aja disana selain kuliah” dan kamu jawabnya, “ikutan lembaga dakwah kampus Bu”. Kira-kira apa yang Ibu kamu rasakan? Bangga? Bahagia? Kagum? Dilarang senyum-senyum GR ya bagi yang terlanjur jadi ADK ^_^.

Yeah, mungkin tak sedikit orang tua yang akan kagum dengan hal tersebut. Demikian pula beberapa orang temanmu nanti yang akan melihatmu dengan jaket identitas LDK yang kau pakai. Dari mulai teman nongkrong, teman belajar, teman sekosan, teman ngupil *oops, hingga teman ngapain aja, siapapun boleh jadi akan melihatmu berbeda dengan status itu.

Trus apa yang jadi masalah?

Pertama, dengan perubahan status itu apakah ada perubahan tertentu pada diri kita dan sekitar kita? Kebanyakan yang bikin risih adalah ketika perubahan itu membuat orang akan memberi atensi lebih terhadap kekurangan kita atau kesalahan yang kita perbuat.

“Eh masa aktivis dakwah begini, begitu, bla bla bla”, salah satu sindiran yang mungkin akan kita jumpai.
Kita ngapain dikit aja, status juga dibawa-bawa. Alhasil ngerasanya nggak bebas, terbebani, terkekang. Iya nggak?

Tapi jangan takut kawan, mungkin memang banyak anggapan awam bahwa LDK adalah kumpulan orang suci yang sempurna dalam segalanya. Padahal, tidak akan pernah ada manusia yang sempurna kecuali yang ditakdirkan Allah ada pada diri seorang Muhammad khan ya :D .

Dan nyatanya, LDK bukan kumpulan orang-orang yang terbaik, karena LDK adalah kumpulan orang berusaha menjadi lebih baik. Lebih baik dari tahun lalu, lebih baik dari kemarin dan lebih baik dari hari ini.

Jadi ngga ada alasan ngerasa ngga perfectlah, ngga panteslah, ngga matchinglah buat masuk LDK dan jadi ADK cuy. No reason, that’s it.

Mau mantesin diri dulu? Sampai kapan sob? Kita bahkan tidak tahu kapan masih diberikan kesempatan yang sama. Setiap detik-detik yang kita lalui, tidak pernah ada 0 persen peluang kita terhindar dari maut. Belum juga berbagai nikmat seperti kesehatan, waktu luang, dan bahkan nikmat iman, naudzubillah jika kehilangan yang satu ini, yang Alhamdulillah hingga saat ini bisa kita rasakan.

Ga usah nunggu suatu hari nanti, kalau sekarang bisa kenapa nggak?.

Coba tengok, apakah setelah menjadi ADK ibadah kita makin rajin, apakah sikap dan tingkah laku kita makin terjaga, apakah kita lebih berhati-hati dari perbuatan yang mungkin akan berbuah dosa, dan hal lainnya yang positif. Jika semua hal itu memang terjadi, disinilah yang harus kita takutkan kawan. Kita beribadah karena status sebagai ADK atau ketika berbuat baik karena jaket LDK yang kita pakai, dan itu terus menerus hingga kita lupa untuk melakukannya karena Allah.

Lagian bukan tugas aktivis dakwah atau ulama aja untuk berdakwah, namun semua muslim juga  khan
Mungkin di awal kita tertarik mendalami agama, berbuat baik dan bertingkah laku islami lainnya terkesan “dipaksa” karena tuntutan aktivitas LDK, namun Insha Allah dengan keikhlasan dan ketulusan akan ada taste yang berbeda nantinya. Allah ngga akan pernah menjauh ketika ada umatnya yang mendekat bukan?

Lagian masalahnya memang bukan perubahan status itu sih, ataupun sikap orang lain ketika menyikapinya. Namun masalahnya ada pada diri kita menghadapi perubahan status itu dan sikap orang lain ketika menyikapinya. So, ngapain ngeracunin pikiran ama hal-hal parno tentang LDK.  

Inget sob, hidayah itu ngga dateng sendiri. Kita musti cari, kalaupun ada di depan kita n kita diemin aja ya sama aja boong, cupslah.


Yuk bareng-bareng menjadi lebih baik lagi.

Don’t say to yourself, “I wish I was a better muslim”. No. Become it. Do it ! (Aneesah for IslamoGraphic.com)


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka”, (QS Ar Ra’du : 11)

Larilah hanya menujuNya.
Meloncatlah hanya ke haribaanNya.
Walau duri merentas kaki.
Walau kerikil mencacah telapak.
Sampai engkau lelah.
Sampai engkau payah.
Sampai keringat dan darah tumpah.
Maka kekhusyu’an akan datang padamu ketika engkau beristirahat dalam shalat.
Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat.
Lalu kau pun pasrah, berserah.
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia PASTI melihatmu!
(Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah)

Selasa, 29 Mei 2012

Ketika

Listrik padam. Kegelapan mencekam. Di antara sudut terduduk, diam. Naluri masih berbinar menikmati games sejak tadi siang, mendadak kaget, shock dan terbungkam. Sementara dingin tak ketinggalan. Ianya cepat menebar ancaman, membuat semuanya paham. "Udah malam, cepet banget", protesnya. Seakan waktu tak berkompromi dengannya.

Menanti. Baterai ponsel dan laptop sekarat membuatnya bersedih hati. Tak bisa berkata apa-apa lagi.

Terang. Seketika, secercah cahaya datang seiring lampu senter yang berhasil ditemukan, sedikit harapan. Namun, terlihat barang-barang berserakan. Menyulitkan ketika berjalan. Bahkan dalam kamar sendiri, tak banyak ruang untuk tubuh ini bermalas-malasan. Apalagi kalau bukan barang-barang "sialan" yang tak tahu diri menempatkan dirinya.

Tunggu apa salah mereka?

Perut meringkih, saatnya ia mendapatkan haknya tuk kembali berenergi. Mengambil dompet, satu-satunya yang selalu setia ketika ponsel tak lagi disini.

Berjalan. Tampak kegelapan segera berpadu dengan kesunyian. Jalanan lebih sepi dari biasa, ketika banyak lalu lalang kendaraan ataupun pejalan kaki yang menghiasinya.

"Mang, pesan nasi goreng ya".
"Pedas apa nggak mas?"
"Sedang aja, cepetan ya"
"Sip"

Enak. Begitulah semua yang lidah rasakan, ketika perut kosong seperti sekarang. Lahap, ia habiskan lebih cepat dari pada saat nasi goreng itu dibuat.

"Berapa semuanya Mang?"
"Delapan ribu mas"
"Hmmmmm, Mang nasinya nanti saya bayar ya"

Berlari. Menutupi malu ketika beberapa orang di warung tadi mendengarnya. Bagaimana sang dompet tak terisi, sementara nasi telah penuh berada di dalam perut sendiri.

"Ke ATM saja, pasti merepotkan cari duit di kamar gelap-gelap gini", kata ide kepadanya.

Berlari, memasuki kawasan kampus yang tampaknya tak terkena pemadaman bergilir serupa. Mengarah ke ATM dengan bangunan kecilnya yang berdiri megah.

"Jleeb"

Terdiam. Kartu dilahap. "Mesin gobloook", teriaknya seraya hendak memukulnya. Tetapi seketika sadar akan kamera CCTV yang ada, bisa berbuntut panjang masalah.

Ditekannya tombol-tombol yang ada satu persatu, sedikit digoyang-goyangkan pula mesin gemuk uang itu. Tidak ada hasil. Nihil.

Menghela nafas.

"Astaghfirullah"
Bergegas ke masjid, ingat belum sholat Isya'.
Teringat pula deretan agenda yang tak jadi terlaksanakan, sementara beberapa lainnya setia menunggu hingga deadline tiba


Jangan tunggu musibah lebih besar datang. Segera perbaiki dari sekarang !!!
Karena terkadang, masalah datang juga sebagai peringatan. :)







Kamis, 17 Mei 2012

Sajak Sajak Kematian

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa satu persatu orang yang ku kenal dekat, telah pergi kepada-Nya tuk menghadap. Yeah, terlalu cepat. Bahkan terkadang waktunya terasa tak adil, ingin sekali menemani mereka satu persatu ketika di detik-detik terakhir. Tetapi apa daya? Takdir.


Tentang kematian, aku mungkin masih beruntung. Jauh lebih beruntung daripada Nabi Muhammad yang tidak pernah bisa melihat wajah Sang Abi ketika lahir dan hanya sedikit waktu tuk bersama Ummi Aminah ketika kecil. Di luar sana pula, ada pula jutaan warga Palestina, Afghan, Suriah dls yang sudah familiar dengan kematian orang yang mereka cintai setiap harinya.


Di antara lika liku kehidupan, selalu ada awal dan akhir serta pertemuan dan perpisahan. Keduanya ada, dan karena itulah kita hidup. Tak mungkin kisah ini berawal tanpa ada akhir, dan tidak mungkin kita berpisah kecuali ada pertemuan sebelumnya. Dan satu hal yang pasti dari kematian, ia adalah muara dari setiap perpisahan keduniawian. 

Ketika kita telah lulus sekolah, SD, SMP, SMA atau bahkan kuliah, perpisahan dengan teman-teman kita mungkin hanya sekadar dalam dimensi ruang saja. Kita masih bisa bertemu dan bersama kembali di lain waktu. Namun jika dengan kematian?

Kematian ibarat ketika kita kehilangan seseorang, bahkan seisi dunia kita jelajahi kita takkan menemui sosoknya. Seisi lautan kita selami takkan menjumpai dirinya. Selus jagat raya kita obrak-abrik takkan membuatnya menampakkan dirinya. Kecuali sisa tubuhnya yang tak lagi berdaya. Terdiam. Membisu. Penuh tanda tanya.

Kematian? Sebegitu kejamnya-kah?


Islam selalu mengajarkan kita akan kehidupan setelah kematian. Dan kehidupan di dunia ini hanya awal dari segalanya. Awal yang akan menentukan semuanya. Sebuah awal yang takkan begitu lama.

Tetapi masih saja berat. Jika Allah bisa membuat kita hidup selamanya, bersama mereka yang kita cintai,  melakukan apa yang kita ingini, tanpa ada batasan usia, mengapa tidak ia buat demikian? Dia Tuhan. Dia pasti bisa lakukan apa saja. Iya khan? Iya khan? Jawab!!!

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
QS Al Baqarah 216


Karena setiap yang berawal pasti merasakan akhirnya, yang bernyawa pasti akan merasakan ajal menjemputnya. Dialah yang awal, dan akhir. Maka mari kita syukuri, bahwa kita atau orang yang meninggalkan kita setidaknya mendapatkan karunia berupa kehidupan, yang memungkinkan kita mengenalnya, dan mereka mengenal kita, meski dalam waktu yang tak begitu lama.








Selasa, 08 Mei 2012

Tujuan Hidupku Apaan Ya?

Kemarin malam, Senin 7 Mei 2012, alhamdulillah aku berkesempatan dipertemukan dengan kembali seseorang hebat. Dia satu diantara sekian banyak orang yang ku masukkan kategori hebat, karena ilmunya, agamanya, prestasinya, visinya, dll

Subhanallah, malam itu saya mengikuti acara TFT atau biasa disebut Tahsin For Trainers. Dan malam itu Kang Cecep, nama beliau berkenan datang dari Bandung kota ke sekre SKI memenuhi undangan kami.

Langsung saja, hal yang bisa saya tangkap disana meski saya datang terlambat yaitu tentang tujuan hidup.

Sebelumnya saya ingin bertanya kepada pembaca blog saya sekalian, tujuan kamu hidup apaan sih? Loe hidup buat siapa? Buat ngapain? Buat apaan? 




Well, ketika seorang muslim ditanya seperti itu kata si akang mah pasti banyak yang jawab, "untuk meraih ridho Allah", "beribadah", dls. Iya khan?

Nah menurut beliau, tujuan hidup itu harus jelas, detail, spesifik. Kita tentunya ingin supaya hidup kita bisa bikin ntar pas di akhirat masuk surga khan pastinya? Tetapi ketahuilah banyak peran yang bisa kita lakukan untuk meraih surga Allah lho.

Ibarat di antara sahabat Rasul tuh ada sosok Abu Bakar, Umar, Ali, Usman, dls. Kita bisa memilih sosok kita sendiri. Nah setelah sosok idaman dari diri kita udah ada, tinggal nih gimana cara mencapainya. 



Tapi biasanya masalah pertama rada abu-abu, kita pengen jadi kayak gimana sih? CIta-cita kita? Sosok idaman dari kita atau biasa disebut the really I am. 

Itu semua bergantung pada potensi diri kita masing-masing menurut Kang Cecep. Kita bisa cari potensi diri kita gimana, atau tanya ke orang lain kita cocoknya tuh gimana menurut mereka. Bukan tanya ke dukun yang ngga tau apa apa lho ya, ntar tau tau dia bilang "tanggal lahir kamu bla bla bla, kamu cocoknya kerja di air" wkwkkw

Next,
untuk mempermudah mencapai tujuan hidup kita, kita harus bisa membuat tujuan-tujuan kecil, ibarat short term dan long term gituloh. Tujuan ini ibarat misi pas kita maen games, yang harus kita selesaikan. Tapi dengan demikian semuanya teratur, terencana, dan bisa meminimalisir hal ngga jelas dalam hidup kita yang singkat ini.

Nah pas malam itu juga, Kang Cecep kasih contoh tuh perencanaan hidup beliau kayak gimana. Subhanallah, pas saya ngeliat keren banget deh. Semua terencana banget. Ini bahkan bisa ngalahin diary ala cewek men. Menurut Kang Cecep, hal yang begituan tuh namanya Self Management atau bisa disebut Manajemen Diri. Dengan menuliskan target-target kita rasanya kita ngga bakal bisa diem gitu, kita pengen banget nyelesaiin itu. Termotivasi.



Konsep yang sama kayak yang ada di video Danang Pembuat Jejak sih. Namun yang dicontohkan Kang Cecep ini lebih kompleks. Kalau kita pengen bikin begituan, bisa dibuat per semester, pas jadwal kita udah FIX tuh. Jadi ketauan kita semester ini udah ngapain aja selain kuliah. Hafalan nambah ngga? Kamar masih berantakan ngga? Muka masih cakep ngga? hahaha

Ribet dan ruwet sih kawan kalau ngeliatnya dari kejauhan. Tapi aku jadi sadar juga sih, kalau bikin begituan tuh pasti waktu yang kita sia siakan untuk hal "NGGAK JELAS" bisa diminimalisir, karena kita selalu punya misi-misi dalam minggu ini, dalam semester ini dan dalam tahun ini dst.

Hidup ini pendek lho kawan. Iya khan? Aku juga baru nyadar udah semester 4 tapi aku masih gini-gini aja. Jangan tanya softskill deh, mental masih mental tempe dls perlu berbenah dan terus berbenah. Gimana dengan kalian? Well, jangan diem aja kawan. Salah satu cara untuk terus termotivasi memperbaiki diri, ya bisa ketemu ama orang-orang hebat seperti Kang Cecep yang saya ceritakan.

Apa sih pentingnya?

Nah kalau kita udah punya tujuan yang jelas, kita bisa memaksimalkan diri kita dalam mengambil peran. Entah mau jadi pejabat, nelayan, guru, engineer, presiden dls kita bisa melakukannya dengan sebaik-baiknya gituloh.. Jadi jelas.

Oia, ini nih ada video kesukaan saya tentang tujuan hidup. Dibikin anak UI, keren banget lho :)

Saya ngga pernah bosen liat ini pas galau. 









Gitu doank deh, makasih buat yang baca ya. :)

Assalamualaikum

Kamis, 26 April 2012

My Story Tonight

Wow, saya akan membuka curhat kali ini dengan membaca basmalah.

Bismilahirrahmanirrahiim

Kamis, 26 April 2012

Ketika 20 tahun lebih 21 hari

"Kakak Isaal", suara itu tampak familiar. Yeah, itu suara Ramdhan, anak manis pecinta kucing yang ada di TPA. Ku buka pintu perlahan.

"Iyaaaa", jawabku pelan.

"Ngajiii yuuuk", ujarnya kembali.

"Tunggu kakak di TPA ya boy", pintaku.

"Okee", balasnya seraya berlari meninggalkan teras kamar saya.

Masha Allah udah maghrib. Manga "Kuroko no basuke" yang sedang kubaca langsung ku tutup.
Dan akhirnya hari ini saya ngajar nih. Setelah kemarin sempet bolos alhamdulillah saya bisa ngajar juga.

Mandi, shalat maghrib dan.... hujan?

"Hujan terobos aja. Itulah totalitas namanya", kata mentor saya waktu itu. Saya selalu teringat kata-kata totalitas beliau ketika diri ini sedang termangu dalam kondisi seperti itu.

Payung?

Saya mengambil payung dan langsung melesat jauh ke tempat itu.
Tunggu payung? Benarkah itu payung?

Saking ngga jelas bentuknya saya malu mengakui punya payung ke orang tua temen sekost saya.  Iya, umurnya sama seperti waktu saya menginjakkan kaki di Bandung karena pertama kali datang langsung beli itu payung.

Next....

Seperti biasa, saya datang ke TPA disambut muka-muka anak-anak yang riuh dan penuh semangat menggelora.

Tapi jumlah yang ngaji kali ini banyak. Lebih banyak daripada minggu lalu ketika saya minggu lalu saya mengajar.

Ada 22 anak.

Alhamdulillah


Belum sempet mengkondisikan adik-adik, saya dikagetkan dengan Ramdhan yang meraung-raung bak macan kelaparan. Dia tampak marah kepada Ilham, kakaknya. Anak manis yang pernah videonya saya masukkan youtube disini  tampak kalap. Dia bantai semua yang mendekatinya.

Sontak saya suruh semua anak ke balkon atas.

Sial, saya seakan menghadapi naruto yang jincurikinya sedang marah. Untungnya anak ini bukan bijuu, jadi saya bisa menahannya walau harus tercakar-cakar juga.


Alhamdulillah, dia lebih tenang.
Akhirnya saya ke atas dan mencoba meyakinkan diri saya bahwa saya bisa menenangkan mereka semua. Walau suara ini hampir habis alhamdulillah kami sempet beberapa kali mengaji bersama surat-surat pendek. Melelahkan, bahkan saya mandi keringat karena terus berteriak mengatur mereka.

Hujan membuat emosi saya cukup mereda. Jujur, saya ingin menghadiahkan bogem sebenernya karena mereka sama sekali ngga bisa disiplin.

"Era ngaji dengan tenang ilang cuy. Adanya ngaji militer ama gue, hwahaha", teriak saya dalam hati.

Jadi ayamku?

Bercanda.


 

Yeah menguras tenaga dan suara banget. Tapi lihat tuh video, lumayan kondusif khan :)

Beberapa anak perempuan yang ababil turun ke bawah. Biasa, seakan mereka ingin caper gitu. Saya cuekin deh. Akhirnya saya ajak mereka membenahi gerakan sholat mereka.

Susah, kondisi tidak kondusif. Ketika berdiri banyak yang maen senggol-senggolan, cubit cubitan, grrrrrr

Dan membutuhkan waktu lama walau cuma mengajari gerakan berdiri pas sholat, posisi kaki dls mpe takbiratul ihram.

Tak terasa Isya telah tiba. Akhirnya salah satu anak adzan dan kami siap sholat berjamaah.

Hujan sedari tadi belum mereda. "Yuk sholat", ajakku.

Beberapa adik-adik mau juga sholat berjamaah.

Di tengah shalat, aku dikagetkan dengan sayup-sayup suara banjir.

"Ya Allah, masak saya hanyut dalam banjir ketika sholat gini, keren banget", pikirku yang akhirnya membuatku memilih surat-surat pendek saja.

Selesai shalat, aku melihat air telah memasuki kawasan musholla kami. Adik-adik yang tadi ngga shalat inisiatif menaikkan karpet ke balkon atas. Beberapa lainnya mencari sendal yang terbawa banjir. Di luar musholla banjir udah mencapai mata kaki lebih sedikit.

Beberapa adik agak ketakutan, "kakak airnya naik, gimana nih"
Namun ada beberapa lainnya yang cuek dan malah main-main air.

"
Heh kalian nanti sakit maen air gituuu", teriakku. Tetapi sedikitpun mereka tak menggubrisku. Kuatirin mereka saya akhirnya takut sendiri. Secara mahasiswa ngga boleh sakit cuy, sakitpun kuota 75% presensi harus jalan terus.

Oh meen, lu bocaaah minta diapain sihh -__-

"Semuanya naik ke atas, yang mau pulang, langsung aja pulang pelan-pelan. Kakak anter yang pulang gantian.

Beberapa anak laki-laki langsung menerjang banjir. Olala....
Uniknya ada beberapa perempuan yang tadinya berbusana muslim cantik ternyata takut basah dan berganti pakaian mini girlband di TV2 itu, hehehehe

Aku mengantarkan sebuah kelompok yang pulangnya searah. Payung yang tadinya ku anggap ngga berguna ternyata ngga berguna, tetep aja basah kuyup -__-

Keren, pertama kali saya berjalan penuh was-was di tengah banjir. Saya hanya ingin memastikan mereka ngga kenapa-kenapa, hanyut kek, dimakan buaya kek, apaan kek gituu... :)

Mereka sampai rumah, saya nganter lagi. Kali ini perempuan.


"Kak Faisal makasih ya", ucapnya ketika sampai di dekat rumahnya sambil tersenyum manis. Cukup meredakan ketegangan juga melihatnya.

Lalu terakhir, saya mengantar anak laki-laki, namanya Ian dan kami tutup pintu musholla dan matikan semua listrik walaupun air tinggal menunggu waktu memasukinya. Hmm melihat rumah Allah tergenang rasanya gimana gitu. Tempat sujud ummat, tempat kami mengaji bersama..............

Pengen sih ngelakuin sesuatu tapi....

Masalah lingkungan, drainase buruk, sampah, polusi. Lu mau ngomong apa aja, tapi di Bandung udah parah.





-------------------------------------
Aku pulang. Menikmati ayam bakar dengan tenang. Dan kutulis cerita malam ini dengan penuh tanda tanya apa yang harus aku lakukan

Cikapundung, sungai di dekat kostku
Sungai lautan sampah [foto tahun lalu]






Kini, bagaimana kondisinya?




Selasa, 24 April 2012

Totalitas, Dimanakah Dirimu?

Satu diantara sekian hal yang membuat kita bisa maksimal adalah sebuah komitmen yang tertuang dalam sebuah totalitas.

Totalitas, dimanakah dirimu?

Termangu aku terdiam membisu

Menantimu bangkit memenuhi jiwaku

Perkenalkan namaku Raffa, bukan nama sebenarnya. Seorang mahasiswa., seorang yang mungkin masih perlu banyak belajar tentang totalitas dalam kesehariannya.

Aku menghargai sebuah totalitas secara mahal, sesuatu yang luar biasa untuk dilakukan. Ia bukan sekadar bersumber dari cinta, atau keinginan yang kuat melaksanakan apa yang harus dilakukan. Ia lebih dari kesadaran, atau melakukan sesuatu tapi tanpa kejelasan yang mendalam. Ia bukanlah ketergesaan, ataupun sekadar keterpaksaan. Lalu siapakah dia?

-----------------------------------
*curcol

Suatu ketika aku merasa banyak agenda. Agenda ini dan itu berdekatan. Semuanya berbaris rapi seperti semut di dinding kamar. Ada jeda sih, tapi ada sesuatu yang susah dijedakan. Apakah itu?

Pas lagi ngerjain agenda pertama, pikiranku melayang karena agenda kedua blm siap,,, Pas ngerjain agenda kedua, hp berbunyi jadi pikiran kesana kemari. Haduhhh jadi ngga fokus dan ngga maksimal.

Padahal totalitas pengen bgt dilakukan tapi...............

------------------------------------

Demikianlah. Totalitas bukan semata-mata lahir dari perencanaan, tetapi implementasi yang sungguh-sungguh di lapangan. Saya baru menyadari, ketika kita masuk ke ranah agenda pertama, kita harus fokus melakukan agenda itu sebaik-baiknya. Jangan dipotong-potong untuk agenda kedua, ketiga dst saat yang penting dan genting.

Banyak hal yang akan dikorbankan ketika totalitas tidak kita lakukan.

Waktu  dan tenaga yang terbuang
kita sudah merasa menyisihkan waktu di antara padatnya agenda yang ada. Tetapi apa apa yang kita lakukan sepertinya tak tampak hasilnya sesuai keinginan semula. Padahal sang waktu begitu mahal untuk dibuang-buang, dan harusnya waktu yang kita sisihkan bisa mencapai targetan yang kita harapkan sesuai awal ketika kita membuat agenda tersebut.

Juga tenaga kita, nikmat kesehatan yang kadang-kadang kita pandang sebelah mata.

Ukhuwah dengan sekitar
Kita melakukan banyak kegiatan pasti berhubungan dengan orang lain. Dan ketika kita merasa melakukan yang terbaik sementara patner kita seperti ala kadarnya saja, ogah ogahan, bagaimana perasaan kita?

Hal yang sama boleh jadi kita lakukan jika totalitas tidak kita berikan. Melukai orang lain, mengecewakannya atau mungkin bisa merusak hubungan baik kita dengan mereka.

Sebuah kisah tentang dari Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang lain. Semua orang yang berinteraksi dengan Rasulullah selalu merasa dirinya istimewa di depan Rasul. Mengapa? Karena memang Rasulullah memperhatikan, mendengarkan dan menghargai orang tersebut hingga pembicaraan itu selesai.

Lihatlah, Rasulullah aja pas ngobrol selalu totalitas. Gimana pas ngelakuin hal lain coba. Subhanallah sekali bukan?

3. Penyesalan
Setelah tenaga, waktu dan pikiran kita curahkan tetapi rasanya kok ngga ada perubahan.

Jenuh? Galau? Nyesek?

Ujung-ujungnya nyesel khan.

Syukur deh kalau nemu masalahnya apa dan bisa dievaluasi. Tapi kalau ngga sadar bisa berbahaya.
Bukan cuman buat diri kita sendiri tetapi orang lain juga.

-----------------------------------------------

Totalitas
Ia adalah azzam, sebuah tekad kuat yang diiringi implementasi yang sungguh sungguh dengan penuh keikhlasan.
Karena berhubungan dengan keikhlasan, tentunya ia berhubungan dengan level ruhiyah kita saat agenda itu kita jalankan.

Emang iya?
Wallahu A'lam

Ngga tau sih, tapi aku ngerasa gt cuy......

Satu diantara quote yang aku sukai, dan ada dalam bagian atas blog ini.

Artinya kira2 gini
Kita ngga akan bisa balik lagi dan membuat sebuah permulaan baru. Tetapi kita bisa memulai saat ini dan membuat akhir yang baru.

Yuk semangat cuy :D

Jadikan hari esok lebih baik

Jumat, 30 Maret 2012

Memanusiakan Diri Kita

Mentari menampakkan sinarnya. Seperti biasanya pagi mengudara, menyerak kegelapan malam yang perlahan sirna. Cahayanya terpancar kesana kemari bak antena omnidirectional yang mentrasmisikan gelombang ke segala arah. Pagi telah tiba. Saat dimana semua aktivitas akan dimulai dengan semangat membara. Rencana yang telah disusun diharapkan terlaksana. “Sempurna, dan sempurna”, teriak sebongkah semangat yang tersemat dalam dada.

Dan diantara semua agenda yang ada, tentulah ada sebuah kesamaan satu dengan lainnya. Ya, kesamaan keinginan agar semua berjalan seperti apa yang diinginkan. “Siapa sih yang tidak menginginkan sebuah kesempurnaan tuk didapatkan?”, retorika yang akan terjawab mudah namun bisa jadi susah.



Kepuasan kan menjadi obat penenang ketika tidur malam, sebaliknya kegagalan justru berakhir mimpi buruk yang tak terlupakan. Bahkan mungkin mengisi liang-liang memori dan menjadi trauma berkepanjangan. Lebay, hahaha. Tapi beneran, pas ngeliatin apa yang kita lakuin jauh dari harapan, melenceng jauh dari targetan awal, rasanya nyesek banget mpe pengen pegang pisau n nebas leher orang, duh parah.


Manusia, sebongkah raga yang selalu takkan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya, dan anehnya manusia diberikan tugas sebagai pemakmur bumi dan segala isinya karena sifatnya yang memang demikian adanya. Malaikat dicipta dari cahaya, sempurna perangainya dan selalu taat kepada-Nya. Tetapi makhluk cahaya justru tak bisa memanusiakan dirinya hingga Allah tak memberikan amanat itu kepada mereka.


Sementara kita terkadang merasa aneh melihat seseorang yang terus mencoba tetapi hasilnya sama. Kadangkala merasa jijik pula melihatnya yang tetap keras berusaha meski berujung lelah. “Gila, dia emang udah gila, mundur sana”, ejek suara miring meremehkannya. Padahal hal yang demikian memang wajar-wajar saja. Dia hanya memanusiakan dirinyanya. Berbuat salah, dan mencari penyebabnya agar tak mengulanginya seperti semula. Menemui masalah dan segera mencari solusinya agar tak menemui kembali hal serupa. Kembali dan kembali berbenah. Dan sekarang pertanyaannya apakah kita sudah melakukannya?


Kita terkadang lupa, bahwa kita memiliki modal utama untuk mendapat apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, dan mewujudkan apa yang kita dambakan. Modal yang bahkan mungkin kita terkadang terlupa bahwa kita memang memilikinya.


نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)


Kita adalah potensi yang luar biasa. Ada dengan potensi yang berbeda-beda. Lahir ke dunia dengan takdir yang mungkin berbeda dan jalan akhir yang berbeda. Namun di antara segala perbedaan yang ada, akan berujung kepada muara yang sama. Bukan tentang kepuasan saja ataupun kebanggaan terhadap apa yang bisa kita lakukan. Tetapi lebih dari itu.

Dengan memaksimalkan potensi yang kita miliki, kita bisa menuliskan takdir terbaik yang pantas tuk kita dapatkan. Bahkan meski apa yang kita inginkan tak kita dapatkan, bukan berarti takdir terbaik belum bisa kita torehkan. Yuk, memanusiakan diri kita, berjuang bagaimanapun caranya, dan betapapun kecil hasilnya. Karena kita manusia, Allah pun akan memanusiakan kita, memahami apakah kita sudah berusaha atau hanya berkoar dengan lantang tanpa upaya. Keberhasilan bukan hal utama, tetapi tetap menjadi tujuan kita semua.


“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]:60).