Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Senin, 12 Agustus 2013

When It's Been Too Worth

Well, ini adalah kisah nyata kedua yang kudapat setelah mendapatkan inspirasi disini dari kisah hidup seorang tetangga di Lumajang. 

TRUE STORY :) 

Ujung diantara ujung yang paling ujung nikmat dunia memang merasakan bahagia. Tanpanya, harta yang ada, sehat yang dirasa, dan waktu yang lapang terasa hampa. Baru beberapa bulan lalu keluarganya berduka. Ibunya kini menemani Sang Ayah dipanggil sang kuasa dengan penyakit yang cukup lama dilawan di sisa-sisa akhir hidupnya, diabetes.

Tak berhenti sampai disitu, dua orang kakaknya, serta seorang adiknya juga didiagnosa memiliki kadar gula yang juga bermasalah. Seketika ia pun berkaca. Dilihatnya tampilan tubuhnya sendiri.

"Allahu Rabbi", pikirnya dalam hati. Ia masih ingat betul perjuangannya hari itu. Ketika hari dimana ia belum diangkat menjadi salah satu pendidik resmi. Ia rela kesana kemari meninggalkan anak istri, ke luar kota beberapa hari, kembali lagi dan lagi ikut seminar, pelatihan, dan berbagai acara yang dijalani dari kegiatan utamanya ikut sebagai pengajar sebuah bimbingan belajar di kota kecil ini.

Dan kini, perjuangan demi perjuangan yang berlalu telah terjawab sudah. Perlahan, kesejahteraan keluarga membaik dengan diangkatnya ia beserta sang istri sebagai guru tetap (PNS). Rumah yang dahulunya kecil, ia bisa renovasi hingga kini megah. Kendaraan yang dulunya seadanya bisa ia ganti hingga kini menjadi mewah. Dan perlahan-lahan kenikmatan yang ia damba bisa ia tuai dengan kerja kerasnya. Keluarganya pun makin harmonis, dengan seorang putra dan dua orang putri cantik yang menghiasinya.

Tapi sungguh, bayang bayang penyakit gula yang mematikan ini menghantuinya. Setelah dicek ternyata memang sama seperti saudara saudarinya, ia memiliki kecenderungan itu. Faktor turunan (genetik) memang mempunyai peranan penting terhadap berkembangnya penyakit diabetes pada seseorang. Selain itu lingkungan juga berpengaruh. Kesejahteraan telah membuatnya memiliki berat badan yang cukup gemuk.

Terkadang, banyak orang beranggapan sangat menyebalkan ketika memiliki materi tapi kita tidak bisa menikmatinya secara maksimal. Dengan dalih itulah beragam macam kenikmatan mereka upayakan. Tetapi karena itu pula justru terkadang silaunya dalam silaunya kenikmatan, kesehatan tergadaikan. Jika memang maut menjemput, maka dokter terbaik pun hanya bisa terdiam bukan?

Dan ternyata dia belajar memahaminya pelan-pelan. Dia mencoba yakinkan dirinya, bahwa dia tak akan diam melawan ancaman penyakitnya. Dia tak tahu memang kapan ajalnya datang, tapi ia ingin setidaknya ketika saat itu tiba ia bisa melihat buah hatinya menggapai cita-cita mereka. Maka ia pun berusaha. Melawan dirinya sendiri. Melawan segala nikmat yang harusnya halal, dan perlahan ia haramkan demi kesehatan.

Dia belajar mengubah pola hidupnya. Dari mulai olahraga rutin secara ringan, hingga jogging selepas shubuh datang. Agar bisa tepat waktu lari pagi, dia pun mulai membiasakan diri jamaah shubuh di masjid. Perlahan, ia pun merasakan nikmatnya berjamaah. Dan sejak saat itu ia rutin berjamaah.

Untuk mengecek perkembangan tubuhnya, ia pun rutin memeriksa darahnya. Mengatur makanan yang dilahapnya. Sekalipun ia bisa membeli, ia atur porsi secukupnya. Ia tahan dirinya dengan puasa sunnah.

Tahukah kini bagaimana kondisinya?
Dia semakin bugar. Berat badannya turun. Kadar gulanya cukup bagus dan teratur. Dia jauh terkesan kekar dibanding sebelumnya yang bisa disebut tambun. Dan tahukah kawan, Ramadhan kali ini, adalah Ramadhan pertamanya menjadi imam tarawih di musholla kecil sekitar rumahku, bergantian jadwal dengan para imam lainnya. Perlahan ia sering berjamaah, ia pun dipercaya menjadi imam. Karena asalnya memang cukup memilii dasar agama di keluarganya, menjadi da'i baru di RT kami pun tidak masalah.

Ketika kenikmatan itu begitu berharga
Kawan, ketika kita pikirkan. Mungkin ada yang memilih jalan yang berbeda jika memilih menjadi dia. Dengan kesejahteraan yang ada, beberapa mungkin enggan memilih menahan diri dari nikmatnya makanan dan berlepas dari lelahnya mengolah badan. Pasalnya, dokter terbaik bisa mereka datangkan. Obat terbaik bisa terbeli. Namun apa daya, obat terbaik dan dokter terbaik pun tidak akan bisa menyembuhkan, ketika raga ini sudah tidak kuat menahan beban.



Tidak selalu orang yang memilih sepertinya akan berakhir baik memang. Namun Allah tidak akan pernah mengkhianati perjuangan seorang hamba-Nya bukan? Umur Allah yang tentukan. Namun kekuatan raga tuk bertahan, kita bisa ikhtiarkan.

Setidaknya, sosok di atas benar-benar mengisahkan ketika kenikmatan yang ia dapati benar-benar ia syukuri (dalam hal ini kejahteraan) yakni dengan ikhtiar menjaga kesehatan, maka setidaknya tubuhnya bisa makin bugar, dan salah satu bonusnya ia bisa merasakan manisnya iman.


Wallahu a'lam.









Sabtu, 10 Agustus 2013

Cinta Realistis

Mencintai itu sederhana, laksana kunci menemukan gemboknya, saling melengkapi, bukan sekadar menemani. Lalu, bagaimanakah caranya?

Dari Bandung beberapa bulan lalu, kabar tentangnya terdengar sayup-sayup. Dia terkena musibah katanya. Ketika hendak ke luar rumah, sebuah kendaraan menyerempetnya. Tersungkur tak berdaya, ia pun menjadi santapan kendaraan di belakangnya. Braaak, orang-orang berlarian panik mendekatinya. Darah bercucuran.

Dia baru beberapa tahun tinggal di rumah itu. Sebuah bangunan sederhana, di lingkungan yang cukup padat. Tidak ada halaman, keluar pintu rumah sudah jalanan. Bersama seorang pujaan hati yang dinikahinya, ia dikaruniai seorang Tara, bayi mungil yang memang memiliki senyum tiada tara. Pagi itu, ia berniat mengemong Tara, tetapi tidak ada yang tahu kapan musibah akan tiba. Dan na'asnya musibah itu menimpanya.

Whatever happens, happens

Dengan kecepatan tinggi yang ada sang pengemudi mengaku khilaf, ia berjanji tanggung jawab. Saat aparat kepolisian pun dilibatkan, namun demi mempercepat urusan akhirnya diambil jalur kekeluargaan. Perlahan makin tak pasti, pihak keluarga tak kunjung mendapat biaya pengobatan yang dijanjikan. Antara iya dan tidak, kepolisian pun tampak tak berdaya, apalagi kasus serupa yang tidak sedikit adanya. Proses lama, berbelit, dan akhirnya pihak keluarga menyerah. I'tikad baik yang disangsikan berujung pemakluman mengetahui sang pengemudi berasal dari keluarga yang tidak cukup berada.

Sementara beberapa pekan koma, dan menjalani serangakaian operasi dan pengobatan, akhirnya kelopak matanya kembali terbuka. Namun apa daya ketika luka yang diderita cukup parah. Hilang ingatan sebagian, dan luka di bagian kaki dan lengan. Jangankan tentang Tara, beberapa keluarganya saja tak lagi ia ingat dalam memori. Seperti sinetron, dan sayangnya ini bukan cerita khayalan yang berakhir selalu bahagia dengan skenario sutradara yang bisa ditebak sebelumnya.

Entah parade cobaan atau justru pintu keselamatan dari Sang Khaliq, sang istri merasa tak ada lagi harapan. Begitu pula keluarga besar yang ternyata sama tak kuasa menerima keadaan. Dan akhirnya jalan itu dipilih, perceraian. Tara tak akan pernah membayangkan memiliki orang tua terpisah sementara ia belum bisa berkata-kata. Hanya sedikit langkah dan tangis sesekali ekspresi yang dimilikinya. 

Ramadhan kali ini alhamdulillah kepulanganku ke kampung halaman bisa mengunjunginya hingga tahu ceritanya pasti. Dia mulai pulih, bisa duduk sendiri di kursi. Namun untuk berjalan masih butuh bantuan. Tidak ada lagi bayangan Tara yang tiba-tiba hilang ketika digendongnya dan dari belakang disambar kendaraan. Atau sang istri yang akhirnya memilih jalan perpisahan dengan alasan ketidakmampuan memberikan kewajiban nafkah lahir batin. 

Banyak yang menyayangkan. Usia muda memang bisa dijadikan ajang aji mumpung. Mumpung masih cantik, masih ada yang tertarik. Mumpung masih muda, janda tidak apalah. Mumpung masih muda, cinta? Sudah kelaut saja.

Tetapi apa sang perempuan sepenuhnya salah? Entahlah. Mungkin cinta yang mereka bangun tidak sekuat film-film romantis. Atau mungkin justru fenomena ini yang realistis. Lalu bagaimana jika ini terjadi denganku atau denganmu kawan? Pengen ga sih dapet pasangan yang susah seneng bareng bukan seneng doank tapi pas susah bye bye sayang..?

Absolutely.

Lalu bagaimana?

Satu diantara nasihat Malaikat Jibril kepada Rasulullah dalam hadist ialah, "Cintailah siapa saja yang engkau senangi namun sesungguhnya engkau PASTI berpisah dengannya"

Dan mungkin makna perpisahan disini bukan hanya perpisahan raga berupa, namun juga kenikmatan lainnya mulai materi, maupun fisik yang bisa tercabut entah perlahan, ataupun seketika. Lalu siapkah kita tetap mencinta? Atau makna realistis membutakan segalanya?




Tara tidak sendiri. Banyak Tara-Tara lain di negeri ini. Namun sedih rasanya ketika tahu dia tetanggaku sendiri


Lumajang, 11 Agustus 2013
3 Ramadhan 1434 H

Raffa Muhammad,

Minggu, 16 Juni 2013

Ku Petik Bintang



Setiap surat yang dihafal akan diberi tanda silang di lembaran hasil hafalan. Itulah yang kami tangkap sejak beberapa hari sebuah kertas bersama kolom-kolom dengan barisan surat juz amma sebagai keterangan di atasnya. Kertas itu ditempel di dinding kelas. Tidak terlalu tinggi, sehingga untuk ukuran anak sekolah dasar mudah melihatnya hanya dengan berdiri biasa. Juga tidak terlalu rendah sehingga cukup susah berbuat curang untuk menuliskan bintang sendiri di samping nama. Dan disinilah kisah ini bermula.

Satu demi satu dari kami melihatnya dengan seksama, berapa bintang yang tlah ada di samping nama-namanya. Entah bagaimana, setiap hari seakan bintang itu semakin indah dipandang mata. Dan sang bintang menjadi primadona dan topik menarik setiap kali para asatidz membubuhkannnya di samping nama-nama yang ada.

Perlahan namun pasti, ada yang berubah. Tanpa sadar kami semakin berpacu meningkatkan hafalan yang ada. Selintas dipikir demi apa? Bintang-bintang di atas kertas? Bahkan tidak ada iming-iming hadiah ketika bintang itu sudah penuh. Aku tak tahu. Tetapi aku menjadi satu diantara yang semakin semangat melihat bintang itu ada bersanding dengan namaku.

Oh ya, jangan bayangkan kami menghafal dengan metode tertentu. Tidak ada metode macam-macam waktu itu kecuali baca, dan kembali baca. Ulang dan kembali mengulang. Kami juga tidak memiliki rekaman murottal Syeikh dari Timur Tengah seperti yang sekarang mudah didapatkan. Tidak ada kawan J

Namun yang ada sedikit demi sedikit, setoran hafalan menjadi salah satu momen yang mengasyikkan. Semua teman-teman akan mengerubungi asatidz ketika ia akan memberi bintang di kertas itu. Dan karena jika dan hanya jika satu surat terlampaui sebuah bintang akan disematkan, maka perjalanan menghafal kami menjadi momen yang spesial.

Hingga akhirnya bintang demi bintang aku dapatkan, kecuali di kolom yang satu itu. Kolom itu adalah Surah Al Fajr. Begitu panjang dan membingungkan buatku. Malam itu aku putus asa, mengapa masih saja salah dan kembali salah. Saat kuceritakan ke Abi, untungnya ia membantu. Hari demi hari selanjutnya sesekali beliau menyimak dan membetulkan bacaanku. Di beberapa kesempatan pun ketika menjadi imam shalat beliau bacakan Surah Al Fajr sehingga dengan mudah disimak dan diikuti dalam hati.

“Mas Faiz hafal bagaimana hafal Al Fajr?”, pagi itu salah satu ustadzah menanyaiku. “Belum, masih sering lupa”. “Gapapa dicoba”, katanya. Aku pun setoran hafalan, di depan mata teman-teman yang penasaran apakah aku bisa menghafalkan surat yang di kelas kami belum ada yang sampai kesana.

Dan ternyata benar. Aku lupa. Hanya setengah. Mukaku memerah.

“Lupa, hehehe, nyerah deh”, ucapku lirih, rasanya kecewa dan bercampur malu tapi berusaha kututupi dengan simpul senyumku.

Aku kaget yang dilakukan Ustadzah itu. Benar-benar tak terpikirkan sebelumnya. Ia gambarkan setengah bintang di kolom Al Fajr.

Katanya, “karena Mas Faiz sudah hafal setengah bintangnya setengah dulu ya. Tapi karena sudah berusaha ini hadiah dari ustadzah”. Ia keluarkan sebuah amplop dari sakunya berisi sesuatu. Teman-teman pun iri melihatnya. Mereka mengerubungiku layaknya semut melihat gula. Aku senang. Tapi masih setengah senang. Karena rasanya belum sempurna jika masih setengah bintang adanya dan hadiah tlah didapatkan. Namun aku sangat menghargai keputusan ustadzah tersebut.

Bayangkan, malam demi malam selanjutnya Al Fajr ini semakin semangat tuk diulang dan diulang. Setengah bintang itu selalu lekat dalam ingatan. Dan amplop itu, yang membuat teman-teman iri dan juga semakin terpacu, saat itu belum sampai aku pikirkan darimana datangnya isinya.

Aku yang sekarang baru sadar pengorbanan hebat sang Ustadzah bagaimana ia bisa menyisihkan isi dompetnya sementara sekolah kami adalah sekolah swasta yang baru berdiri dimana gaji pengajarnya pun tidak menentu. Dan ketahuilah kawan, kami adalah angkatan pertama sekolah itu. Bayangkan betapa sulitnya perjuangan mereka saat itu.

Mukhoyyam Quran

Malam Ahad lalu, Allah menakdirkan aku bisa ikut Mukhoyyam Quran. Salah satu momen yang spesial ialah ketika Ust Ja’far, imam Qiyamul Lail ternyata membaca semua surah juz 30. Allahu Akbar!

Aku merasa terbawa ke suasana lama ketika surat demi surat dibacakan.

Selain Al Fajr yang mengingatkan pada kenangan asatidzh di SDIT Ar Rahmah dulu, An Naba adalah surat yang paling banyak kenangan. Salah satunya ketika murajaah bersama adik kecilku. Dia ayat pertama, aku ayat kedua, begitu seterusnya hingga habis dan berganti surat. Al Buruuj, Ath Thariq dan beberapa surat mengingatkan pada irama ketika Abi menjadi imam shalatku. Entah kapan terakhir aku menjadi makmum di belakangnya karena melihat kalender sudah cukup lama ternyata tidak pulang.

Kangen pulang T.T

Kangen masa lalu

Kangen semangat hafalan lagi


Dan yang paling penting kangen perjuangannya. Ketika satu demi satu surat dihafal dan bintang didapatkan. Karena baru sadar progress pasca SD belum ada apa-apanya.

Ya Allah, semoga engkau cukupkan umur untuk melengkapi cita-cita yang ada sejak masa lalu ini. Bukan hanya cita-citaku namun cita cita orang tua yang memilihkan sekolah terbaik untukku dan para asatidz yang pertama mengajarkanku menghafal ayat-ayat-Mu.

Malam minggu yang indah tlah berlalu, dan kini saatnya merajut rindu itu dan membuat bintang demi bintang sendiri hingga penuh 30 juz. Semoga cukup umur. Aamiin


Ku petik bintang

Untuk ku simpan

Cahayanya tenang

Berikan ku alasan berjuang

Sebagai pengingat harapan

Juga sebagai jawaban 

sebuah impian

Selasa, 07 Mei 2013

Kado Terakhir

Terlalu cepat ia tak terasa mendekat. Tidak bisa tidak, memang inilah yang harus diperbuat. Ada saatnya hanya bisa melihat, tak lagi mendekap, saling berbagi nasihat nan memperkuat. Sesaat. Hanya sesaat. Tahukah kawan, kaki-kaki kecil itu kini tumbuh dengan sehat. Mengendus hari-hari yang penuh nikmat. Dan kini nikmat itu memasuki fase perjalanan yang kini perlahan kian lebih berat.

"Kak, doakan. Aku lagi mencari informasi pekerjaan", celetuknya malam ini. Ia datang bersama sahabat karibnya. Pepaya mereka bawa. Masih berpikir berbagi seperti saat ini? Allahu robbi. Hanya bisa terenyuh sambil memutar otak yang usang ini.

Peluang itu ada. Pasti ada. Namun, menciptakannya di sela-sela persaingan tidak mudah. Ingin rasanya ikut berperan serta. Tahun ini tahun ketiga. Dan rasanya pasti ada yang hilang dengan ketiadaan mereka di tahun depan ketika lulus kuliah.

Hutang ini perlahan menumpuk rasanya. Ingin banyak berbuat, namun terbatas dan kembali terbatas. Sudah jemu bilang nanti, nanti dan nanti. Bagaimana jika tidak ada nanti? Bagaimana ini kesempatan terakhir? Menyesal selalu di belakang. Dan khilaf selalu dijadikan alasan. Kawan, mau sampai kapan pembenaran dan deretan pembenaran ada dan menyeruak sebagai penggugur keinginan?



Jika ini sebatas kado sederhana, yakinlah ini cukup indah. Namun jika ini jadi yang terakhir, mungkinlah ini kan jadi kenangan berharga

Hey kaki-kaki kecil
Kalian tumbuh dengan mimpi yang kita gali bersama setiap hari
Kami perlihatkan dunia
Kehebatannya, keindahan yang ada di dalamnya
Yang mungkin kalian tahu sebatas layar kaca
Kita pelajari akhirat bersama
Hingga kalian tahu batas yang kan menghantarkan kita ke jalan-Nya
Duhai robbi, perkenankanlah jalan ini
Mudahkan, lancarkan

“Kuberi satu rahasia padamu kawan…. Buah paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.(Andrea Hirata-Maryamah Karpov)”

Bismillah











Selasa, 30 April 2013

Ketika Bersama Wajah Teduh

"Salam kenal", ia memberikan salam sembari menjabat tangan seusai menyebutkan namanya. Beragam respon terlihat dari wajah-wajah muda. Kaku, dan asing. Mungkin karena ini yang pertama. Nongkrong di tempat seperti ini untuk berbincang? Well.

Mereka berbincang ringan. Wajah teduh mengatur pembicaraan. Ia pandai. Terkesan dari bobot pembicaraan yang dalam tetapi tidak menjemukan. Walau ini pertama kali berjumpa, rasanya dekat dan akrab. Memang pertemuan kali ini bukanlah kebetulan. Allah telah merancang. Namun, kesediaan semua wajah menghadap membuat yang hadir disana adalah orang-orang pilihan. Bukan sembarangan. Dan wajah teduh itu meyakinkan semuanya.

Pertemuan kedua, kali ini lebih bersemangat. Tepatnya penasaran. Apa yang hendak wajah teduh sampaikan. Satu persatu wajah-wajah penuh gelora muda ini belum bisa menerka. Mereka kembali berkumpul dan melingkar. Ternyata wajah teduh telah sampai lebih dahulu. Ia jabat tangan semuanya, ucapkan salam dan tanyakan kabar. Doa pembuka dipanjatkan. Dan mulailah pertemuan kali ini.

Setelah mendapatkan hal tak terduga tentang keimanan dan keislaman sebelumnya, kali ini wajah-wajah muda kembali penasaran. Apalagi ketika rerumputan menjadi saksi pertemuan yang kedua. Ternyata wajah teduh kali ini menceritakan tentang niat dan ikhlas. Hal yang sebenarnya bukan tidak diketahui wajah-wajah muda, namun sering terlupa. Wajah teduh sambil tersenyum menyampaikan, "Al imaanu yazidu wa yankus", dia suatu kali juga pasti tersilap dan khilaf. Sehingga ia menuturkan agar tak pernah menutup pintu nasehat dari siapa saja, terlepas siapa yang muda ataupun tua, karena saling menasehati dalam kebaikan ibarat investasi kehidupan.

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya bersama wajah teduh semakin menarik untuk disimak. Wajah-wajah muda tak pernah absen bersamanya. Mereka kian bersemangat mencari tahu, dan mengutarakan opini yang mungkin keliru. Masalah yang ada pun dibahas bersama, dan wajah teduh selalu mengambil referensi dari Quran dan sunnah Rasul-Nya. 

Satu hal yang tak terasa, ada yang berbeda ketika pekan demi pekan berlalu. Wajah-wajah muda merasa berat untuk menjauh dari Sang Pencipta. Sehari tanpa tilawah ataupun sholat berjamaah. Wajah teduh memang tak selalu mengajak dengan kata-kata. Tetapi selalu tersirat dari wajahnya, dan tergambar dari cerita-ceritanya betapa nikmatnya menghiasi iman dengan ibadah.

Ketika wajah muda bertanya, "Kak, aku ingin menjadi sepertimu nanti", wajah teduh mengelus kepalanya. Ia merendahkan dirinya. Katanya, ia bukan apa-apa tanpa Allah yang menuntunnya. Seorang lainnya berkata, "Kak, terima kasih ya", sambil tersimpul senyum dalam wajahnya. Wajah teduh dengan kata-kata yang menentramkan. Jabat tangan, salam dan senyum yang manis di tiap pertemuan. Dan ajakan bersama teladan yang menggugah.

Wajah teduh menjawab, "Berterima kasihlah pada Allah. Kebaikan apapun yang kakak sampaikan hanya berasal dari Allah.  Juga kepada Rasulullah, serta para orang-orang yang senantiasa menjaga nikmat iman dan islam ini hingga kakak juga berkesempatan untuk berbagi dengan kalian".

Akhirnya, tibalah saatnya berpisah. Wajah-wajah muda terasa berat awalnya. Namun wajah teduh hanya berujar, bahwa hanya itu yang ia miliki dan saatnya mendapatkannya dari orang lainnya. Ia meyakinkan, hidup kita itu singkat. Jangan hanya berpuas melangkah jika bisa berlari. Raih keinginan, namun selalu ingat semuanya akan kembali kepada Ilahi.

Akhirnya semua wajah wajah muda mengikhlaskannya. Mereka berpamitan dan pergi. Di dalam hati, mereka saling mendoakan. Ketika bersama wajah teduh memang tak terlupa. Wajahnya tak hanya teduh, namun meneduhkan. Bersamanya, ketika masalah datang dan ada seperti biasa, keyakinan bahwa Allah bersama hamba yang shalat dan sabar juga makin besar. Dan kini saatnya mengukir cerita bersama wajah teduh lainnya. Semoga semangat yang sama tetap berkobar.











Sabtu, 20 April 2013

Sang Amanah





Namaku terpampang indah disana khan? Cihuyyyyy

Kertas tadi memang biasa. Namun isinya yang luar biasa. Maknanya tidak biasa. Dan nilainya yang tak tertukar dengan apa saja. cieee

Tahukah kalian, apa yang pertama kali ku pikirkan ketika mereka (baca: dewan formatur) memilihku? Jingkrak-jingkrak? Nggaklah. Nangis karena nambah kerjaan baru lagi? Nggak juga. Sedih karena berkurangnyawaktu buat nonton anime, baca manga, maen PES dan hal GJ lainnya? Mungkin saja, hehehe

Entah kenapa saat itu aku merasa senang. Allahu robbi, aku senang dengan sang amanah sebenarnya aku sendiri tidak pernah memimpikannya, apalagi sedikitpun merasa mampu mengembannya.


Terlintas terpikir, kapan ya aku akan mengundurkan diri setelah ini? Hingga berapa bulan ya, aku akan kehilangan satu persatu orang yang akan berjuang bersama disini? Apa saja ya program kerja yang hanya jadi pemenuh presentasi musyawarah kerja namun tak terlaksana nanti? Berapa? Kapan? Apa? Bukankah aku sendiri sudah pengalaman menghilang diam-diam? Bukankah tidak pernah menjadi pemimpin sebelumnya? Selalu kabur jika ada yang susah? Jadi....




Namun, pemikiran itu salah. Itu tidak terjadi. Robbi, telah berburuk sangka. Genap enam lima bulan aku memegang sang amanah. Alhamdulillah. Sedikitpun tidak berpikir untuk mundur selangkah saja. Bertemu teman-teman yang luar biasa. Mimpi yang bertambah satu persatu setiap harinya. Semangat, dan terus semangat untuk lebih baik lagi dan lagi. Sungguh indah.

Ketahuilah para pembaca. Bahkan sampai sekarang, beberapa orang masih terheran ternyata aku yang memegang sang amanah.Walaupun sejujurnya, aku tidak peduli keremehan orang, karena aku sendiri merasa pantas untuk diremehkan. Aku justru merasa lebih hidup dengan cacian, kritikan dan remeh temehan. Entahlah. Mungkin karena aku orang yang mudah terbuai oleh pujian, yang sebenarnya perlahan mematikan. Cepat atau lambat, tinggal menunggu waktu.


Terkadang aku ingin melakukan sesuatu

Namun di waktu yang sama tak tahu 

Apa yang kuhasilkan dari pengasinganku

Siapa yang kutunggu dalam diamku


Aku memang takkan bisa berbuat banyak. Aku menyadarinya sejak awal. Jadi, aku tidak takut tak banyak bermanfaat. Menjadi penonton, backup eksekutor atau sekadar pemberi semangat. Aku tidak takut. Sungguh. Namun, aku hanya takut kehilangan semangat untuk berusaha memberi manfaat.


Ketika bisa namun aku enggan melakukannya. 
Ketika salah sementara enggan bermuhasabah atasnya, 
ketika ia sedang lemah tetapi enggan menguatkan dirinya.
Lalu bagaimana kabarmu, amanah...?

Sang amanah takkan pernah memilih orang yang salah, katanya. Memang demikian. Sang amanah takkan pernah diberikan pada orang yang salah. Hanya terkadang, ia perlu diberikan kepada mereka yang pantas. "Yah pantaskan diri donk", sayup-sayup terdengar.suara anggota Raffa Fansclub memberi semangat. Emang ada? hihi :p

Dan poin itu hadir dari proses pemantasan diri. Sang proses ternyata tak cukup lahir dari sebuah sistem dan akan menjadi output lebih baik. Ia tetap membutuhkan input. Masalah, konflik, petuah, dan apapaun yang bisa dipetik tuk dijadikan pembelajaran dan masuk dalam proses itu. Walau bagaimanapun, ada batas ketika kita menerima input mengolah berdasarkan sistem dan membuat output seperti yang diharapkan. Batas yang hanya bisa dipecahkan melalui usaha keras, dan pengorbanan yang selaras. Dan yang terpenting, biidznillah. Dengan izin-Nya, Sang Penguasa.

Seorang pemimpin tak selalu harus yang terbaik, namun harus selalu mempu membuat sekitarnya menjadi lebih baik. Alhamdulillah, mungkin sang amanah tidak sedang dipimpin oleh kualitas yang sama seperti sebelumnya. Ya, pendahulu terkesan selalu lebih mempesona. Aku dalam posisi ini, ataupun engkau dalam posisimu masing-masing, mungkin mengalami hal yang sama kawan. Kita mungkin tidak bisa sehebat pendahulu kita, namun ingatlah kita masih bisa menjadi lebih baik dari kemarin. Biarkan orang membanding-bandingkan, karena mereka tidak bisa menyediakan surga untuk kita, mereka tidak bisa menyediakan pahala, ataupun kebahagiaan yang sempurna.

Selagi ada 1% peluang, maka sebenarnya dalam ilmu matematika itu masih bisa, apalagi untuk Allah, apa sih yang tidak bisa.




Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya. (Umar bin Khattab ra)


Terus musahabah, terus berkarya..
Karena mungkin lewat amanah yang Ia titipkan pada kita..
Terselip rahmat dan kasih sayang..
Agar kita lebih mendekat kepada-Nya..
Memohon kepada-Nya..
Mengadu dan meminta petunjuk dari-Nya..
Hingga tanpa terasa suatu ketika,
Sang amanah telah saatnya bermuara,



Allah memang selalu memberikan apa yang kita butuhkan, walaupun tidak selalu itu yang kita inginkan. Mungkin juga tentang sang amanah. Lalu bagaimana denganmu kawan? Maukah percaya jika amanahmu adalah jalan dari-Nya untuk membuatmu lebih baik? Saking besarnya rasa sayang yang Allah miliki, hingga masih mau mempercayaimu, memberimu kesempatan. Padahal Dia yang paling mengetahuimu, apa yang dibalik busuknya hatimu, jahatnya niatmu, khianatnya janjimu, namun Ia tetap mempercayaimu. 




Senin, 15 April 2013

Watashi wa Anata na Shinjite iru, Minna-san

Kepercayaan adalah salah satu kekuatan ternyata. Ketika aku menceritakan peliknya momen di awal saat itu, sahabat pena sekaligus kakak dunia mayaku, Kak Tata memberitahuku. "Kamu harus belajar percaya dengan orang lain. Apalagi mereka teman-temanmu dek", begitulah kira-kira katanya.

Dan memang, ketika dirasakan The power of faith benar-benar meringankan beban. Karena semakit rasa kecewa yang ada, justru semakin menjadi-jadi dampak buruknya. Emosi tidak lagi stabil. Mudah tersinggung. Mudah marah. Jarang tegur sapa. Dan yang paling bahaya ketika kebencian menyerang. Disertai amarah yang sebenarnya justru membakar kebaikan. Ketika kebaikan-kebaikan yang ada terbakar dan jadi arang, lalu apa yang kita dapatkan kecuali kerugian besar?



Nabi Muhammad S.A.W. bersabda : ” telah terjangkit kepadamu penyakit umat-umat yang sebelum kamu, yaitu: dengki dan mudah tersinggung. Mudah tersinggung itu adalah ibarat gunting. Aku tidak mengatakan gunting rambut, akan tetapi gunting Agama. Demi Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya ! engkau tidak akan masuk surga, sehingga engkau beriman. Dan kamu belum tergolong insan yang beriman, sebelum kamu kasih mengasihi. Sudahkah aku beritakan kepadamu , apa Yang menetapkan demikian bagimu? Tebarkan Salam di antara kamu ! ”( H R : Turmudzi dan As Zubair ) 

Lalu sebaliknya, jika kepercayaan itu dikukuhkan. Pemikiran positif terus datang, dan akan memicu semangat diri untuk terus dan terus memperbaiki diri. Sebaliknya jika menyalahkan orang lain, dan belum tentu mereka merasa bersalah, bukan solusi muaranya.

Berikut adalah percakapan suatu ketika ketika rapat divisi yang diketuai C hendak dimulai. Temannya, A tidak hadir padahal acara mereka sudah dekat dan pekerjaan mereka cukup berat.

C : "Kawan-kawan ada yang tau ngga kenapa si A tidak hadir?"
B  : "Ahhh kayaknya ketiduran lagi tuh bocah. Parah gue udah capek-capek bangun pagi. Mandi. Nungguin daritadi. Masak ngga bisa profesional sih."
C: "Oh mungkin agenda lain bro. Saking pentingnya, lupa menginformasikan izin tidak bisa ikutan. Yuk kita doakan aja semoga Allah melancarkan agendanya sehingga di rapat kita lain kali bisa hadir.
B: "Ah ngga kok, cuman dianya aja. Semalem aku berpapasan ama dia kok. Jam 12an di depan PGA. Dia naik motor kayaknya habis seru-seruan tuh"
C: "Kok kayaknya. Belum tentu juga khan. Kita main-main deh nanti habis rapat ke rumahnya, ngecek tanya kabarnya sekalian silaturahmi sebelum berprasangka.
B : Tapi bener kok C, saya tahu sendiri dia ambil banyak amanah di luar. Mungkin udah setengah hati bersama kita disini.
C : Oh ya. Jika benar, luar biasa sahabat kita khan itu. Amanahnya banyak mungkin di luar, artinya banyak orang yang mempercayai dia. Jika orang lain bisa mempercayai dia, mengapa kita saudara seperjuangannya juga enggan percaya. Dia temen lu khan sob? Temen kita khan?
B : Hmm, iyasihh. Tapi khan... enak aja dia lari tanggungjawab ini.
D : Belum tentu lari sih, kadang kita pengeeen ngelakuin sesuatu, tapi kita emang lagi dalam kondisi nggak bisa.
C : Yup, dan keinginan itu kita sendiri nggak tahu. Sayang kalo menjudge dia macem-macem.
B : Trus gimana nih kerjaan kita makin berat.
C : Artinya kita harus lebih kerja keras.
D : Setuju! Kita percaya aja, Allah beneran ngga ngasih ujian yang selalu sanggup dihadapi hamba-Nya.
B : Tapi kalo ngga selesai gimana nih?
C : Khan belum dilakuin. Yuk dicoba dulu semaksimal mungkin.
D : yuk. Gue setuju
B : Oke deh.

Indah bukan cuplikan percakapan singkat di atas? :)

Mungkin ada jutaan alasan untuk menyalahkan orang lain, namun ada ratusan juta alasan lainnya untuk tetap mempercayainya.

CEO BM ITTelkom, kak Fardan pernah berkata, "Akhi, kita tidak akan pernah tahu titik balik dari teman kita. Terus dan terus diingatkan. Sabar. Karena hidayah hanya Allah yang tahu, bukan kita yang menentukan".

Dan sebuah pelajaran dari surat yang pendek dan mudah dihafal, namun sangat dalam dan luar biasa.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


Susah ya? Memang. Bukan perjuangan namanya kalau enggan bersusah payah. Bukan pengorbanan namanya jika enggan bersabar. Dan mungkin pengorbanan dari hati, akan menyentuh hati lainnya.


Langit yang begitu menjulang indah
Gunung yang begitu kokoh nan kuat
Justru manusia yang Allah beri amanah
Jika Allah saja percaya kita, mengapa kita enggan mempercayai saudara kita
Terus dan terus belajar lagi yuk bersama


“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. ....” (QS Al-Ahzab: 72)




 2013, I BELIEVE WE CAN, 
How About You?