Halaman

Assalamualaikum, welcome

Sebuah eksplorasi hati...

Senin, 09 September 2013

Aku, Dua Ribu Sepuluh

Pekan pertama tahun keempat dimulai sudah. Genderang perang diantara dedaunan kesempatan yang tersemai dalam perjalanan pohon kehidupan.

Aku, dua ribu sepuluh. Ini tahun terakhirku, dan ini targetku untuk semester ini. Baca dan ingatkan saat aku lalai ya :)

1. Aku pengen lulus dengan IPK di atas 3
2. Aku pengen lulus 4 tahun
3. Aku pengen segera kerja di 2015
4. Aku pengen bisa ikut nabung memberangkatkan haji orang tua
5. Aku pengen ikut biayain adik-adik sekolah
6. Aku pengen bisa melakukan yg terbaik di akhir amanah Direktur MQ
7. Aku pengen .............

IPK-ku mepet banget kawan -_- masih di bawah tiga. Tapi ga masalah. Aku bangga dengan hasilku itu. Itu adalah akumulasi hari-hari penuh kemalasan, perjuangan, hingga tangisan. Duhai robbi...

Semester lalu aku mendapatkan IP terburuk sepanjang sejarah. Well, that's shocks! 
Aku bahkan bingung pas pulang ke rumah mau cerita apa.

Dibilang apa penyebabnya, ya salahku sendiri. Masa mau nyalahin amanah-amanah yang aku emban sih?
Meski secara de facto really tiring semester lalu. Bad management! 

Aku hanya mendapati senyuman yang sama ketika melihat mereka. Senyuman kepercayaan. Senyuman penuh harapan. Senyuman penuh keyakinan, bahwa aku bisa, aku mampu.



Aku memiliki orang tua yang tidak terlalu pandai berekspresi. Mereka tak banyak berkata-kata, atau berucap nasihat panjang penuh makna. Well, tapi dari detik-detik yang mereka lakukan dalam bekerja, mereka pasti mengharapkan yang terbaik bisa aku lakukan.

Mereka tak menargetkan aku lulus kapan. Mereka tidak pernah memarahi IP-ku jelek. Mereka percaya aku bisa. 

Aku kangen dimarahi seperti pas SD, SMP dan SMA.

Ababil banget ya, udah gede pengen saja diperhatikan :'( hehe

Hal yang aku benci di tahun terakhir ini, aku jadi senior :(

Aku memiliki jabatan. Kata-kataku didengarkan. Aku punya banyak kenalan. Tapi makin jarang yang mengingatkan. Makin jarang yang menguatkan. :(

Sepertinya aku belum matang. Belum disiplin. Belum bisa sayang ama diri sendiri. Belum sayang ama target yang kumiliki. Masha Allah 

Tahun lalu emang bener2 dahsyat dah aku ngerepotin orang tua. Aku 2x kehilangan laptop, sekali kehilangan harddisk, dua kali kehilangan sepatu. Dan yang parah, aku menghilangkan laptop temanku. Semua karena lalai. Dan makin parah karena tidak berimplikasi pada IP yang tinggi. Malah IP terendah selama kuliah tahun lalu itu adanya :(

Aku, dua ribu sepuluh.

Ini tahun terakhirku. Aamiin. Ya Allah jadikan aku bisa. Jadikan aku mampu. Buang malas dan lemah dalam jiwa hamba-Mu yang hina ini. Dekatkan hamba kepada-Mu. Jauhkan dari yang menjauhkan dari-Mu. 










Minggu, 08 September 2013

#NeverStop

Satu tema, lain cerita, beda settingnya..
Sudah terprediksi megah dengan hebat oleh sang sutradara..
Terkumpul semua dengan satu tujuan yang sama..
Oh sayangnya aktris kita penuh talenta.. 

Improve seenaknya tak peduli naskah yang lama..
Oh dunia cepat sekali waktu adanya..
Mundur makin hancur, maju tetap lebur..
Tidak berhenti belajar teratur, agar tetap bisa menggempur..

#NeverStop

Jangan takut jadi sampah,
karena sampah pun masih bisa berguna
 
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

#RandomThought

Senin, 02 September 2013

Sebuah Poin Kontribusi

“Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu.” (HR. Al Bukhari)

Ada banyak hal yang belum kita tahu. Ada banyak ketrampilan yang kita belum bisa. Ada banyak wawasan yang kita lewatkan. Sementara ada ribuan buku yang terbit tiap hari. Ada miliaran ilmu yang berkembang setiap waktu. Ada miliaran manusia yang kita belum kenal. Ada jutaan tempat yang belum kita kunjungi. Ada banyak kata yang belum sempat terucap dan tersampaikan. Ada banyak buah pikiran yang belum tersalurkan. Ada banyak ide yang belum kita kemukakan. Ada pula banyak rancang karya yang belum kita wujudkan. Dan Demi Allah, ada banyak ilmu yang belum kita amalkan…

Padahal Allah telah menyediakan tempat belajar: ada banyak masjid tanpa jamaah dan pemakmur. Ada banyak TPA/TPQ yang kekurangan pengajar. Ada lembaga dakwah kampus yang terkesan berkubang persaingan hanya karena kurang orang. Himpunan yang krisis kaderisasi. UKM dan lab yang sepi peminat. Riset kampus yang makin tidak terlihat. Prestasi kampus baik nasional dan internasional yang perlahan makin jarang didapat.
Masih Banyak yang Butuh Kita
Sekitar kita masih banyak angka putus sekolah. Tengok saja bocah-bocah di PGA, Sukabirus dan sekitarnya. Mereka manis-manis. Bermain tertawa meringis. Tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi Sekolah memang gratis, tetapi banyak faktor membuatnya masih dianggap kurang efektif. Sarjana pengangguran. Walau sebenarnya lebih banyak pengangguran akibat minimnya pendidikan.


Anak-anak sekitar kampus

Itu yang dekat dan kecil. Ada yang dekat tapi besar. Misalnya tetangga kita (warga) yang masih terjerat kemiskinan di sekitar kampus. Tingginya biaya hidup membuat mereka kian tergerus. Sementara kita yang datang dari keluarga cukup berada perlahan menciptakan jurang pemisah yang kian menganga setiap tahunnya. Rumah mereka sudah sempit, sangat amat sederhana pula. Sementara tiap tahun bermunculan bangunan baru tuk hunian mahasiswa. Dan semuanya perlahan menutup rumah-rumah mereka dari sinar mentari yang ada. Menghalangi senja sebagai pemandangan indah kala sore menyapa. Hidup serba ada terkadang melalaikan kita. Meremehkan mereka. Mengacuhkan mereka. Membuat mereka seakan pribumi hina yang tak punya apa-apa.

Ratusan anak jalanan dan para pengemis lalu lalang di perempatan jalan di tiap sudut kota Bandung. Beberapa memilih menjadi peminta-minta. Dan kita hanya mencap-nya hina tanpa bisa membantu kepastian masa depan yang lebih cerah. Mental mereka sudah merasa nyaman di zonanya. Dan jangan harap pemandangan ini bisa berkurang setiap tahunnya jika tidak ada yang mencoba memperbaikinya.


Kriminalitas merajalela. Geng motor adalah cerita lama, tetapi tetap eksis jika disimak dengan seksama. Kebanyakan remaja. Putus sekolah. Putus penanganan orang tua. Dan putus segala-galanya. Angka pecandu narkoba juga cukup tinggi. Sama halnya dengan pertumbuhan angka saudari kita yang merelakan mahkota terindahnya dijual demi menyambung hidup atau sekadar mengikuti gaya. 

Tentang bencana? Banjir menjadi langganan di Baleendah. Sebagian Dayeuhkolot pun merasakannya. Lalu sudah bertahun-tahun kampus kita ada, masihkah kita menutup mata
Banjir di Dayeuhkolot 2013


Yang jauh di mata tapi harusnya dekat di hati? Jutaan pengungsi Palestina merenggang nyawa. Muslim Mesir yang dibantai diktator penguasa. Muslim minoritas rohingya yang hidup penuh derita. Muslimah yang diteror, ditarik jilbabnya dan diperkosa. Demi Allah, ada banyak hal yang akan ditanyakan-Nya kepada kita, soal ukhuwah, persaudaraan, cinta, dan kepedulian kita… 

Pantaskah Kita?
“Saya ‘kan juga masih bodoh soal agama, belum layak ambil bagian dalam dakwah. Sepantasnya saya didakwahi dulu sampai benar-benar bisa. Baru memang kalau nanti saya bisa ceramah, ajak saya berdakwah.”
Ketahuilah, kalau dakwah hanya ceramah, maka dunia hanya perlu lidah; tak perlu anggota badan yang lainnya!

"Saya khan masih mahasiswa. Amanah orang tua harus dijaga. Fokus kuliah. Tak perlulah berlelah-lelah mengurus lainnya. "

Ketahuilah, kuliah hanya tangga untuk membuka wawasan. Lalu tentang kesuksesan, kita yang membangunnya perlahan.

Kita bisa apa? Mari berkontribusi dalam karya..

Ada seseorang di antara kita yang hanya bisa mengebut, tak ada keterampilan lainnya. Betapa berharganya dia sebagai penjemput ustadz pengisi pengajian yang rumahnya memang jauh. 

Pun ada yang agak ‘pelit’ (baca: hati-hati) soal uang. Ada jabatan bendahara organisasi menanti tuk menjadi kontribusi. 


Pun ketika ada seseorang yang suka jajan, dialah referansi sie konsumsi kepanitiaan untuk mencari konsumsi terlezat dan termurah. 


Pun ketika ada seseorang yang suka bertualang, dia referensi dan surveyor sopir, bukanlah kita perlu sie transportasi jika himpunan hendak mengadakan kegiatan diluar?


Pun kalau ada yang bercita-cita menjadi pebisnis sukses, mengapa tak sejak sekarang belajar menjadi sie dana usaha?  Atau malah membantu warga memulai usaha dengan berinvestasi membantu permodalannya.


Kalau ada yang pandai komunikasi dan bergaul kok tidak mencoba melobi kaum kaya untuk membayar infaq dan zakat untuk diserahkan ke lembaga sosial hingga disalurkan mereka yang membutuhkannya? 


Yang bisa mengaji walau tak terlalu lancar, bisa membantu memberantas buta huruf walau hanya mengajar iqro'




Begitu banyak yang bisa kita lakukan. Bagaimanapun bentuk dan kemasannya, jika niat lillahi ta'ala, ketahuilah ini bernama dakwah. Buahnya pahala. Muaranya surga.


“Hai orang yang berkemul selimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-mu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-mu, bersabarlah! (QS. Al Muddatstir 1-7).
Mereka Sudah, Bagaimana Dengan Kita
Mari kita tengoklah ke belakang. Investasi Ustman bin Affan ra telah memakmurkan seluruh Madinah. Enterpreneurship Abdurrahman bin Auf ra telah membangun keseimbangan pasar yang sebelumnya dikungkung hegemoni Yahudi Madinah. Keuletan petani seperti Abu Thalhah ra telah menjamin ketahanan pangan Madinah. Kemahiran Asy Syifa’ binti Abdillah ra telah menjaga kesehatan penduduk Madinah. Administrasi ala Umar bin Al Khaththab membuat negerinya sentosa. Kejelian accounting seorang Abu Ubaidah ra telah menjaminkan keadilan dan pemeratan ekonomi masyarakat. Kelihaian perang Khalid bin Walid ra telah membuka wilayah-wilayah baru. Kecerdikan diplomasi Amr ibn Al Ash ra telah menaklukkan banyak tanah tanpa pertumpahan darah.
Lalu di sekitar kita?
Kegiatan di sebuah TPA yang dikelola mahasiswa
Relawan Cakrawala Baca, Pembinaan Pendidikan di daerah terpencil
Dokumentasi Relawan Telkom Mengajar di Sebuah Sekolah Dasar
Desa Binaan, Prakarsa BEM IT Telkom
dan lain sebagainya

Sebuah Poin Kontribusi
Berkontribusi itu menyenangkan. Membantu kita mendapatkan pemaknaan atas apa yang kita telah dapatkan. Membantu kita menjaga ilmu yang kita dapatkan. Memperdalam dan memahami bukan sekadar menghafal.

Berbagai lelah mengkaji dasar teorema dan ratusan kali percobaan alat berbuah manis ketika teman-teman Robotika menjadi juara. Pun dengan pengorbanan para langganan PIMNAS yang memutar otak, memancing ide kreatif untuk bisa berguna untuk sekitarnya. Para juara GEMASTIK, INAICTA dan kompetisi lainnya pun pasti merasakan.

Prestasi Lab 

Imagine Cup

Ayo cari tahu apa yang belum kita tahu. Belajar yang kita belum bisa. Salurkan buah pikiran yang belum tersalurkan. Kemukakan ide dan gagasan untuk perubahan. Wujudkan karya yang belum kita wujudkan. Amalkan segala yang kita bisa tahu tahu. Sekecil apapun. Sekecil apapun...

Mari kerjakan semuanya yang kau bisa sampai batas kelelahan menghampiri. Malam ini, saat kita rasakan pegal di punggung, ngilu di kaki, dan nyeri di sendi, berbaringlah bertafakkur di tempat tidur. Bermuhasabah-lah merilekskan tubuh. Rasakan kenyamanan istirahat yang sangat. 



Bila memiliki banyak harta, kita akan menjaga harta. Namun jika memiliki banyak ilmu, maka ilmu lah yang akan menjaga kita. 

Dan sebuah poin kontribusi adalah aktualisasi nyata dari keilmuan itu akan menjaga kita bisa bisa berguna dimanapun dan kapanpun kita berada




dikembangkan dari "Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim" Bab Memintal Seutas Benang, Judulnya "Kontribusi", Salim A. Fillah, 2006, cetakan I 2007, hlm. 151-154)

Senin, 12 Agustus 2013

When It's Been Too Worth

Well, ini adalah kisah nyata kedua yang kudapat setelah mendapatkan inspirasi disini dari kisah hidup seorang tetangga di Lumajang. 

TRUE STORY :) 

Ujung diantara ujung yang paling ujung nikmat dunia memang merasakan bahagia. Tanpanya, harta yang ada, sehat yang dirasa, dan waktu yang lapang terasa hampa. Baru beberapa bulan lalu keluarganya berduka. Ibunya kini menemani Sang Ayah dipanggil sang kuasa dengan penyakit yang cukup lama dilawan di sisa-sisa akhir hidupnya, diabetes.

Tak berhenti sampai disitu, dua orang kakaknya, serta seorang adiknya juga didiagnosa memiliki kadar gula yang juga bermasalah. Seketika ia pun berkaca. Dilihatnya tampilan tubuhnya sendiri.

"Allahu Rabbi", pikirnya dalam hati. Ia masih ingat betul perjuangannya hari itu. Ketika hari dimana ia belum diangkat menjadi salah satu pendidik resmi. Ia rela kesana kemari meninggalkan anak istri, ke luar kota beberapa hari, kembali lagi dan lagi ikut seminar, pelatihan, dan berbagai acara yang dijalani dari kegiatan utamanya ikut sebagai pengajar sebuah bimbingan belajar di kota kecil ini.

Dan kini, perjuangan demi perjuangan yang berlalu telah terjawab sudah. Perlahan, kesejahteraan keluarga membaik dengan diangkatnya ia beserta sang istri sebagai guru tetap (PNS). Rumah yang dahulunya kecil, ia bisa renovasi hingga kini megah. Kendaraan yang dulunya seadanya bisa ia ganti hingga kini menjadi mewah. Dan perlahan-lahan kenikmatan yang ia damba bisa ia tuai dengan kerja kerasnya. Keluarganya pun makin harmonis, dengan seorang putra dan dua orang putri cantik yang menghiasinya.

Tapi sungguh, bayang bayang penyakit gula yang mematikan ini menghantuinya. Setelah dicek ternyata memang sama seperti saudara saudarinya, ia memiliki kecenderungan itu. Faktor turunan (genetik) memang mempunyai peranan penting terhadap berkembangnya penyakit diabetes pada seseorang. Selain itu lingkungan juga berpengaruh. Kesejahteraan telah membuatnya memiliki berat badan yang cukup gemuk.

Terkadang, banyak orang beranggapan sangat menyebalkan ketika memiliki materi tapi kita tidak bisa menikmatinya secara maksimal. Dengan dalih itulah beragam macam kenikmatan mereka upayakan. Tetapi karena itu pula justru terkadang silaunya dalam silaunya kenikmatan, kesehatan tergadaikan. Jika memang maut menjemput, maka dokter terbaik pun hanya bisa terdiam bukan?

Dan ternyata dia belajar memahaminya pelan-pelan. Dia mencoba yakinkan dirinya, bahwa dia tak akan diam melawan ancaman penyakitnya. Dia tak tahu memang kapan ajalnya datang, tapi ia ingin setidaknya ketika saat itu tiba ia bisa melihat buah hatinya menggapai cita-cita mereka. Maka ia pun berusaha. Melawan dirinya sendiri. Melawan segala nikmat yang harusnya halal, dan perlahan ia haramkan demi kesehatan.

Dia belajar mengubah pola hidupnya. Dari mulai olahraga rutin secara ringan, hingga jogging selepas shubuh datang. Agar bisa tepat waktu lari pagi, dia pun mulai membiasakan diri jamaah shubuh di masjid. Perlahan, ia pun merasakan nikmatnya berjamaah. Dan sejak saat itu ia rutin berjamaah.

Untuk mengecek perkembangan tubuhnya, ia pun rutin memeriksa darahnya. Mengatur makanan yang dilahapnya. Sekalipun ia bisa membeli, ia atur porsi secukupnya. Ia tahan dirinya dengan puasa sunnah.

Tahukah kini bagaimana kondisinya?
Dia semakin bugar. Berat badannya turun. Kadar gulanya cukup bagus dan teratur. Dia jauh terkesan kekar dibanding sebelumnya yang bisa disebut tambun. Dan tahukah kawan, Ramadhan kali ini, adalah Ramadhan pertamanya menjadi imam tarawih di musholla kecil sekitar rumahku, bergantian jadwal dengan para imam lainnya. Perlahan ia sering berjamaah, ia pun dipercaya menjadi imam. Karena asalnya memang cukup memilii dasar agama di keluarganya, menjadi da'i baru di RT kami pun tidak masalah.

Ketika kenikmatan itu begitu berharga
Kawan, ketika kita pikirkan. Mungkin ada yang memilih jalan yang berbeda jika memilih menjadi dia. Dengan kesejahteraan yang ada, beberapa mungkin enggan memilih menahan diri dari nikmatnya makanan dan berlepas dari lelahnya mengolah badan. Pasalnya, dokter terbaik bisa mereka datangkan. Obat terbaik bisa terbeli. Namun apa daya, obat terbaik dan dokter terbaik pun tidak akan bisa menyembuhkan, ketika raga ini sudah tidak kuat menahan beban.



Tidak selalu orang yang memilih sepertinya akan berakhir baik memang. Namun Allah tidak akan pernah mengkhianati perjuangan seorang hamba-Nya bukan? Umur Allah yang tentukan. Namun kekuatan raga tuk bertahan, kita bisa ikhtiarkan.

Setidaknya, sosok di atas benar-benar mengisahkan ketika kenikmatan yang ia dapati benar-benar ia syukuri (dalam hal ini kejahteraan) yakni dengan ikhtiar menjaga kesehatan, maka setidaknya tubuhnya bisa makin bugar, dan salah satu bonusnya ia bisa merasakan manisnya iman.


Wallahu a'lam.









Sabtu, 10 Agustus 2013

Cinta Realistis

Mencintai itu sederhana, laksana kunci menemukan gemboknya, saling melengkapi, bukan sekadar menemani. Lalu, bagaimanakah caranya?

Dari Bandung beberapa bulan lalu, kabar tentangnya terdengar sayup-sayup. Dia terkena musibah katanya. Ketika hendak ke luar rumah, sebuah kendaraan menyerempetnya. Tersungkur tak berdaya, ia pun menjadi santapan kendaraan di belakangnya. Braaak, orang-orang berlarian panik mendekatinya. Darah bercucuran.

Dia baru beberapa tahun tinggal di rumah itu. Sebuah bangunan sederhana, di lingkungan yang cukup padat. Tidak ada halaman, keluar pintu rumah sudah jalanan. Bersama seorang pujaan hati yang dinikahinya, ia dikaruniai seorang Tara, bayi mungil yang memang memiliki senyum tiada tara. Pagi itu, ia berniat mengemong Tara, tetapi tidak ada yang tahu kapan musibah akan tiba. Dan na'asnya musibah itu menimpanya.

Whatever happens, happens

Dengan kecepatan tinggi yang ada sang pengemudi mengaku khilaf, ia berjanji tanggung jawab. Saat aparat kepolisian pun dilibatkan, namun demi mempercepat urusan akhirnya diambil jalur kekeluargaan. Perlahan makin tak pasti, pihak keluarga tak kunjung mendapat biaya pengobatan yang dijanjikan. Antara iya dan tidak, kepolisian pun tampak tak berdaya, apalagi kasus serupa yang tidak sedikit adanya. Proses lama, berbelit, dan akhirnya pihak keluarga menyerah. I'tikad baik yang disangsikan berujung pemakluman mengetahui sang pengemudi berasal dari keluarga yang tidak cukup berada.

Sementara beberapa pekan koma, dan menjalani serangakaian operasi dan pengobatan, akhirnya kelopak matanya kembali terbuka. Namun apa daya ketika luka yang diderita cukup parah. Hilang ingatan sebagian, dan luka di bagian kaki dan lengan. Jangankan tentang Tara, beberapa keluarganya saja tak lagi ia ingat dalam memori. Seperti sinetron, dan sayangnya ini bukan cerita khayalan yang berakhir selalu bahagia dengan skenario sutradara yang bisa ditebak sebelumnya.

Entah parade cobaan atau justru pintu keselamatan dari Sang Khaliq, sang istri merasa tak ada lagi harapan. Begitu pula keluarga besar yang ternyata sama tak kuasa menerima keadaan. Dan akhirnya jalan itu dipilih, perceraian. Tara tak akan pernah membayangkan memiliki orang tua terpisah sementara ia belum bisa berkata-kata. Hanya sedikit langkah dan tangis sesekali ekspresi yang dimilikinya. 

Ramadhan kali ini alhamdulillah kepulanganku ke kampung halaman bisa mengunjunginya hingga tahu ceritanya pasti. Dia mulai pulih, bisa duduk sendiri di kursi. Namun untuk berjalan masih butuh bantuan. Tidak ada lagi bayangan Tara yang tiba-tiba hilang ketika digendongnya dan dari belakang disambar kendaraan. Atau sang istri yang akhirnya memilih jalan perpisahan dengan alasan ketidakmampuan memberikan kewajiban nafkah lahir batin. 

Banyak yang menyayangkan. Usia muda memang bisa dijadikan ajang aji mumpung. Mumpung masih cantik, masih ada yang tertarik. Mumpung masih muda, janda tidak apalah. Mumpung masih muda, cinta? Sudah kelaut saja.

Tetapi apa sang perempuan sepenuhnya salah? Entahlah. Mungkin cinta yang mereka bangun tidak sekuat film-film romantis. Atau mungkin justru fenomena ini yang realistis. Lalu bagaimana jika ini terjadi denganku atau denganmu kawan? Pengen ga sih dapet pasangan yang susah seneng bareng bukan seneng doank tapi pas susah bye bye sayang..?

Absolutely.

Lalu bagaimana?

Satu diantara nasihat Malaikat Jibril kepada Rasulullah dalam hadist ialah, "Cintailah siapa saja yang engkau senangi namun sesungguhnya engkau PASTI berpisah dengannya"

Dan mungkin makna perpisahan disini bukan hanya perpisahan raga berupa, namun juga kenikmatan lainnya mulai materi, maupun fisik yang bisa tercabut entah perlahan, ataupun seketika. Lalu siapkah kita tetap mencinta? Atau makna realistis membutakan segalanya?




Tara tidak sendiri. Banyak Tara-Tara lain di negeri ini. Namun sedih rasanya ketika tahu dia tetanggaku sendiri


Lumajang, 11 Agustus 2013
3 Ramadhan 1434 H

Raffa Muhammad,

Minggu, 16 Juni 2013

Ku Petik Bintang



Setiap surat yang dihafal akan diberi tanda silang di lembaran hasil hafalan. Itulah yang kami tangkap sejak beberapa hari sebuah kertas bersama kolom-kolom dengan barisan surat juz amma sebagai keterangan di atasnya. Kertas itu ditempel di dinding kelas. Tidak terlalu tinggi, sehingga untuk ukuran anak sekolah dasar mudah melihatnya hanya dengan berdiri biasa. Juga tidak terlalu rendah sehingga cukup susah berbuat curang untuk menuliskan bintang sendiri di samping nama. Dan disinilah kisah ini bermula.

Satu demi satu dari kami melihatnya dengan seksama, berapa bintang yang tlah ada di samping nama-namanya. Entah bagaimana, setiap hari seakan bintang itu semakin indah dipandang mata. Dan sang bintang menjadi primadona dan topik menarik setiap kali para asatidz membubuhkannnya di samping nama-nama yang ada.

Perlahan namun pasti, ada yang berubah. Tanpa sadar kami semakin berpacu meningkatkan hafalan yang ada. Selintas dipikir demi apa? Bintang-bintang di atas kertas? Bahkan tidak ada iming-iming hadiah ketika bintang itu sudah penuh. Aku tak tahu. Tetapi aku menjadi satu diantara yang semakin semangat melihat bintang itu ada bersanding dengan namaku.

Oh ya, jangan bayangkan kami menghafal dengan metode tertentu. Tidak ada metode macam-macam waktu itu kecuali baca, dan kembali baca. Ulang dan kembali mengulang. Kami juga tidak memiliki rekaman murottal Syeikh dari Timur Tengah seperti yang sekarang mudah didapatkan. Tidak ada kawan J

Namun yang ada sedikit demi sedikit, setoran hafalan menjadi salah satu momen yang mengasyikkan. Semua teman-teman akan mengerubungi asatidz ketika ia akan memberi bintang di kertas itu. Dan karena jika dan hanya jika satu surat terlampaui sebuah bintang akan disematkan, maka perjalanan menghafal kami menjadi momen yang spesial.

Hingga akhirnya bintang demi bintang aku dapatkan, kecuali di kolom yang satu itu. Kolom itu adalah Surah Al Fajr. Begitu panjang dan membingungkan buatku. Malam itu aku putus asa, mengapa masih saja salah dan kembali salah. Saat kuceritakan ke Abi, untungnya ia membantu. Hari demi hari selanjutnya sesekali beliau menyimak dan membetulkan bacaanku. Di beberapa kesempatan pun ketika menjadi imam shalat beliau bacakan Surah Al Fajr sehingga dengan mudah disimak dan diikuti dalam hati.

“Mas Faiz hafal bagaimana hafal Al Fajr?”, pagi itu salah satu ustadzah menanyaiku. “Belum, masih sering lupa”. “Gapapa dicoba”, katanya. Aku pun setoran hafalan, di depan mata teman-teman yang penasaran apakah aku bisa menghafalkan surat yang di kelas kami belum ada yang sampai kesana.

Dan ternyata benar. Aku lupa. Hanya setengah. Mukaku memerah.

“Lupa, hehehe, nyerah deh”, ucapku lirih, rasanya kecewa dan bercampur malu tapi berusaha kututupi dengan simpul senyumku.

Aku kaget yang dilakukan Ustadzah itu. Benar-benar tak terpikirkan sebelumnya. Ia gambarkan setengah bintang di kolom Al Fajr.

Katanya, “karena Mas Faiz sudah hafal setengah bintangnya setengah dulu ya. Tapi karena sudah berusaha ini hadiah dari ustadzah”. Ia keluarkan sebuah amplop dari sakunya berisi sesuatu. Teman-teman pun iri melihatnya. Mereka mengerubungiku layaknya semut melihat gula. Aku senang. Tapi masih setengah senang. Karena rasanya belum sempurna jika masih setengah bintang adanya dan hadiah tlah didapatkan. Namun aku sangat menghargai keputusan ustadzah tersebut.

Bayangkan, malam demi malam selanjutnya Al Fajr ini semakin semangat tuk diulang dan diulang. Setengah bintang itu selalu lekat dalam ingatan. Dan amplop itu, yang membuat teman-teman iri dan juga semakin terpacu, saat itu belum sampai aku pikirkan darimana datangnya isinya.

Aku yang sekarang baru sadar pengorbanan hebat sang Ustadzah bagaimana ia bisa menyisihkan isi dompetnya sementara sekolah kami adalah sekolah swasta yang baru berdiri dimana gaji pengajarnya pun tidak menentu. Dan ketahuilah kawan, kami adalah angkatan pertama sekolah itu. Bayangkan betapa sulitnya perjuangan mereka saat itu.

Mukhoyyam Quran

Malam Ahad lalu, Allah menakdirkan aku bisa ikut Mukhoyyam Quran. Salah satu momen yang spesial ialah ketika Ust Ja’far, imam Qiyamul Lail ternyata membaca semua surah juz 30. Allahu Akbar!

Aku merasa terbawa ke suasana lama ketika surat demi surat dibacakan.

Selain Al Fajr yang mengingatkan pada kenangan asatidzh di SDIT Ar Rahmah dulu, An Naba adalah surat yang paling banyak kenangan. Salah satunya ketika murajaah bersama adik kecilku. Dia ayat pertama, aku ayat kedua, begitu seterusnya hingga habis dan berganti surat. Al Buruuj, Ath Thariq dan beberapa surat mengingatkan pada irama ketika Abi menjadi imam shalatku. Entah kapan terakhir aku menjadi makmum di belakangnya karena melihat kalender sudah cukup lama ternyata tidak pulang.

Kangen pulang T.T

Kangen masa lalu

Kangen semangat hafalan lagi


Dan yang paling penting kangen perjuangannya. Ketika satu demi satu surat dihafal dan bintang didapatkan. Karena baru sadar progress pasca SD belum ada apa-apanya.

Ya Allah, semoga engkau cukupkan umur untuk melengkapi cita-cita yang ada sejak masa lalu ini. Bukan hanya cita-citaku namun cita cita orang tua yang memilihkan sekolah terbaik untukku dan para asatidz yang pertama mengajarkanku menghafal ayat-ayat-Mu.

Malam minggu yang indah tlah berlalu, dan kini saatnya merajut rindu itu dan membuat bintang demi bintang sendiri hingga penuh 30 juz. Semoga cukup umur. Aamiin


Ku petik bintang

Untuk ku simpan

Cahayanya tenang

Berikan ku alasan berjuang

Sebagai pengingat harapan

Juga sebagai jawaban 

sebuah impian

Selasa, 07 Mei 2013

Kado Terakhir

Terlalu cepat ia tak terasa mendekat. Tidak bisa tidak, memang inilah yang harus diperbuat. Ada saatnya hanya bisa melihat, tak lagi mendekap, saling berbagi nasihat nan memperkuat. Sesaat. Hanya sesaat. Tahukah kawan, kaki-kaki kecil itu kini tumbuh dengan sehat. Mengendus hari-hari yang penuh nikmat. Dan kini nikmat itu memasuki fase perjalanan yang kini perlahan kian lebih berat.

"Kak, doakan. Aku lagi mencari informasi pekerjaan", celetuknya malam ini. Ia datang bersama sahabat karibnya. Pepaya mereka bawa. Masih berpikir berbagi seperti saat ini? Allahu robbi. Hanya bisa terenyuh sambil memutar otak yang usang ini.

Peluang itu ada. Pasti ada. Namun, menciptakannya di sela-sela persaingan tidak mudah. Ingin rasanya ikut berperan serta. Tahun ini tahun ketiga. Dan rasanya pasti ada yang hilang dengan ketiadaan mereka di tahun depan ketika lulus kuliah.

Hutang ini perlahan menumpuk rasanya. Ingin banyak berbuat, namun terbatas dan kembali terbatas. Sudah jemu bilang nanti, nanti dan nanti. Bagaimana jika tidak ada nanti? Bagaimana ini kesempatan terakhir? Menyesal selalu di belakang. Dan khilaf selalu dijadikan alasan. Kawan, mau sampai kapan pembenaran dan deretan pembenaran ada dan menyeruak sebagai penggugur keinginan?



Jika ini sebatas kado sederhana, yakinlah ini cukup indah. Namun jika ini jadi yang terakhir, mungkinlah ini kan jadi kenangan berharga

Hey kaki-kaki kecil
Kalian tumbuh dengan mimpi yang kita gali bersama setiap hari
Kami perlihatkan dunia
Kehebatannya, keindahan yang ada di dalamnya
Yang mungkin kalian tahu sebatas layar kaca
Kita pelajari akhirat bersama
Hingga kalian tahu batas yang kan menghantarkan kita ke jalan-Nya
Duhai robbi, perkenankanlah jalan ini
Mudahkan, lancarkan

“Kuberi satu rahasia padamu kawan…. Buah paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.(Andrea Hirata-Maryamah Karpov)”

Bismillah