That everything I said and did, wasn't just deceiving
And the tear in your eye, and your calm hard face
Makes me wish that I was never brought into this place
(Secondhand Serenade - Maybe)
Detik-detik terus berjalan seiring atmosfer kota perjuangan yang tlah terbiasa kurasakan. Perlahan, jalanan yang dulu terasa asing kini terasa ramah sekalipun tetap bising. Jika kau menyebutnya rumah, mungkin kinilah saatnya mengingatnya kembali hanya sebagai tempat singgah. Tempat sementara mengumpulkan kenangan, sebelum melangkah melanjutkan mimpi-mimpi lama yang dicanangkan.
Sebelumnya jika kau bertanya tentang hari esok, aku lebih ketakutan kehilangan yang tlah ada dan memikirkan esok di hari lusa saja. Karena ketika kau berpikir dipertemukan dengannya adalah yang terindah, maka pantaslah ketika malas itu ada, dan mimpi-mimpi lama kian terasa usang dimakan usia.
And I'm here to sing
About the things that mattered
About the things that made us feel alive for oh so long
About the things that kept you on my side when I was wrong
(Secondhand Serenade - Maybe)
Ketika hari-hari itu indah, bukan berarti episode kita berhenti disini saja. Karena tak ada kejelasan kapan season kita berakhir kapan dan bagaimana, maka kembali mengingat setiap kecil bagiannya anugrah. Maka menikmati setiap momennya ialah bentuk syukur kepada sang pencipta. Tentang cinta yang tlah dikarantina oleh rasa, berbalut waktu nan lautan perjalanan yang tlah kita lalui bersama, apa adanya sajalah. Irreplaceable, perjalanan ini tak akan pernah tergantikan.
Kemarin sempat ditanya "Puncak Kemenangan Organisasi menurutmu?" Namun karena mempersilahkan teman lainnya *itsar #halah #GaDitunjukKok daripada ide ini menguap saya tuliskan disini hehe
Jika ditanya puncak kemenangan yang diharapkan, mungkin pencapaian-pencapaian angan pribadi para pengurusnya biasa dikedepankan. Misal "Aku ingin organisasi ini bisa ini, bisa itu, bisa bla bla bla"
Namun pengalaman selama beberapa kesempatan mengurus organisasi yang setipikal membuat saya berpikir berbeda. Angan kita terkadang tak cukup sampai menjangkau semua hal yang sejatinya bisa dijadikan ladang. Tidak cukup? Ya! Seiring masalah yang bertambah, maka solusi yang dibutuhkan tak sedikit jua.
Tahukah kita, ketergerakan para penggerak adalah hal yang lumrah, normal dan biasa, namun ketergerakan orang-orang di sekitarnya untuk berperan serta itulah yang luar biasa.
Jika evaluasi masih bisa sekadar "bagaimana program kita", "bagaimana peran pengurus kita di dalamnya", dls itu masih biasa. Beranikah membuat evaluasi, "bagaimana respon orang terhadapnya?" itu yang tidak biasa.
Harus bisa sadar dan menyadarkan, bahwa semuanya bisa berperan dan seharusnya berperan.
Bahwa solusi juga ada di tiap-tiap pribadi. Bukan hanya di tangan para pengemban amanah yang biasa dituntut sana sini.
Namun terkadang, egoisme pribadi organisator bisa menutup peluang. "Bahwa kami yang harus melakukan, bukan kalian orang-orang luar"
Dan juga sikap tak acuh lingkungan, "Ah kan sudah ada mereka, biar mereka yang lakukan"
Karena ketergerakan yang menggerakkan bukan hanya bermodal janji, namun solusi.
Karena ketergerakan yang menggerakkan bukan sekadar menginspirasi, namun menghimpun aspirasi dan mengarahkannya agar tak mati ditelan ambisi.
Tengoklah fanspage Ridwal Kamil. Contoh Sederhana Gerakan yang Menggerakkan bukan hanya sekadar Bergerak.
Dan kalau mau tahu di kampus kita, main-main ke lab antena #haha #nopromotion
Lahirnya berbagai peranakan riset itu mayoritas bukan hanya sekadar pergerakan biasa. Pergerakan yang menggerekkan kalau menyimak ceritanya dari senior lab. Walau akhirnya nama antena tidak selalu terbawa, namun Allah pasti mengetahuinya :)
Cukup lama rasanya bagi yang menunggu,
Dan terlampau cepat bagi yang hari-harinya penuh. Akhirnya hari-hari itu kan segera berlalu, dan kini kan hanya jadi memori masa lalu,
Kami hanya wariskan deretan kisah dibalik kata
tak ingat seberapa keringat kami bercucuran karenanya
atau emosi ini naik turun dibuatnya
Kami hanya tinggalkan ribuan mimpi dibalik cerita
tak ingat betapa sakit ketika tak bisa sesuai rencana
atau harus kehilangan teman dalam perjalanannya
Ada cinta yang berpangkal pada Allah, namun berujung pada yang lain. Adapula cinta yang berpangkal pada yang lain, namun Allah takdirkan untuk berujung pada-Nya. Maka kami mengharap cinta yang berpangkal kepada Allah, yang dengannya Allah menghendaki ia berujung pada-Nya. Awal yang baik, dan berakhir dengan baik pula.
Hari demi hari berlalu tak terasa.. Hingga disinilah saat ini berada.. Berdiri diantara bumi dan langit yang menyerta.. Langkah ini, sudahkah seperti seharusnya?
Sudah sejauh ini. Berbagai diorama pun mengemuka, diantara bayang-bayang abu-abu yang hanya diterawang saja.
Andrea Hirata dalam bukunya Maryamah Karpov menuliskan, buah termanis dalam berani bermimpi adalah keajaiban-keajaiban dalam perjalanan menggapainya.
Jika dipahami seksama, ada dua poin didalamnya. Tentang keberanian dan perjalanan.
Keberanian menghantarkan pada titik pemilihan awal, diantara berbagai opsional yang juga tak kalah membingungkan, berani memilih adalah salah satu pokok dasar. Sementara perjalanan menjadi proses selanjutnya tuk mengarungi samudera.
Lalu bagaimana dengan ketetapan-Nya?
.......boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Allah menggaransi bahwa Dia lebih tahu tentang yang terbaik untuk kita. Bahwa ketetapannya itulah yang terbaik. Di satu sisi memang terbaik tidak selalu dalam kondisi baik, ibarat dokter mau mengamputasi kaki pasien. Siapa yang ingin kehilangan kaki? Sungguh pasti pilihan yang tidak baik, namun bagi dokter apabila tidak diamputasi infeksi bisa menyebar ke anggota tubuh lainnya maka pilihan amputasi pastilah terbaik.
Sementara di sisi lain, ketahuilah terbaik juga bisa diartikan paling baik diantara yang baik. Jadi tinggal seberapa besar iman kita untuk memegangnya erat. Karena sesungguhnya takaran kebaikan relatif, dan Allah pasti yang Maha Tahu.
Tentang Rahasia Langit?
Apakah jalan yang kita pilih merupakan yang Allah maksud terbaik untuk kita? Siapa yang tahu? Menerka dan terlalu sok memprediksi apabila hanya membuat kita melambat buat apa juga?
Jadi jalani saja, dan terus selalu libatkan Allah dalam prosesnya.
Allah sesungguhnya bukan menguji kemampuan kita, namun kemauan kita. Karena di Al Quran sudah dijelaskan ujian bagi kita sudah ditakar sesuai kemampuan kita. Kita boleh jadi mampu mendapatkan yang lebih baik dari ini, namun jika kita tidak mau apalah artinya takdir terbaik?
“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11
Apabila kemauan itu ada, ikhtiar kan jadi aksi nyata, hasilnya? kembalikanlah semua kepada-Nya. Bisakah kita?
Diantara rahasia langit Sang Kuasa Ada satu yang mudah dirasa, dan diterka Kecuali 'pabila hati ini tlah terlalu rusak oleh noda Hanya Dia yang masih mengizinkan nikmat iman dan Islam ini ada Sekalipun diantara noda itu tlah menggunung tak terasa Semua tak terkecuali karena kasih sayangnya yang tak hingga Ingatlah hanya Dia yang tahu siapa kita
#Terinspirasi Ceramah Ust Salim A Fillah tentang Qodho' dan Doar
Takut kehilangan?
Bukan karena takut kehilangan tapi .. Karena takut tidak bisa mendapatkan yang lebih baik !! Itulah yang membuat sebagian orang takut kehilangan #mungkin
biasanya sih ketika tangan mengepal kencang, maka tangan tidak mau melepaskan apa yg ada digenggaman
Bukankah itu sama saja meragukan kekuasaan Allah..?? Sedangkan yang ada digenggaman pun belum tentu itu baik dan terbaik
" Lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah daripada kehilangan Allah karena sesuatu"
Berat ketika sudah memutuskan keluar dari lingkaran dengan keterbatasan. Ilmu yang masih sekadar pemanis kata, prinsip yang ternyata bisa luluh dengan mudah, dan perlahan waktu bergulir tak terasa akan membawamu ke muara yang tak terduga. Mereka yang berada di posisi ini biasa menyebutnya keterlanjuran, yang membuat merasa tak pantas lagi untuk kembali ke lingkaran.
Jika sudah demikian lalu bagaimana? Mengikuti bagaimana arus membawa? Lalu bagaimana dengan deretan cita-cita, amanah dan cinta mereka yang selalu percaya?
Sesekali membayangkan momen pertanggungjawaban nanti pasti pedih. Sangat pedih. Tak bisa berkata-kata. Ingin membela, namun tak kuasa hati melakukan pembenaran karena memang tak ada kebenaran kecuali pembenaran dalam jalan ini.
Duhai Allah, sedih rasanya menjadi satu dari sekian banyak di luar sana orang-orang yang kehilangan harapan, hingga melakukan pembenaran demi pembenaran atas yang mereka kerjakan. Perlahan, hati kecil pun serasa terbungkam. Hingga kebenaran semakin jauh tenggelam, tak lagi ingin tampak ke permukaan.
Kebenaran itu kian jadi abstrak. Menjadi coretan saja yang tak lagi dimasukkan dalam buku perjalanan ini.
Tiba-tiba sosok itu datang. Ia katakan, "Allah maha luas karunianya, begitu pun pintu maaf dan taubat-Nya untuk hamba-Nya".
"Tidak engkau tak tahu apapun!", sosok itu menunjukkan gelagat tak ramah.
"Aku tahu kok".
"Tidak, kau sama sekali tak tahu", teriaknya murka. "Masalahnya, diantara pintu-pintu itu maukah kau mencarinya? Beranikah kita memasukinya dan tak kembali lagi keluar darinya? ". Dan ia pun membuang muka, kembali ke cermin.
Waktu tak terasa berjalan. Dan perlahan, dosa-dosa ini membukit. Dan tercipta perbukitan hingga mungkin sudah menjadi gunung. Ah sudahlah, tak berani bersuudzon pada-Nya. Karena bagaimanapun Dia-lah satu-satunya tempat berharap. Bagaimanapun!
Awalnya mulai dari yang kecil. Seperti di teori. Dan perlahan teori itu kembali menunjukkan kebenaran. Berlama-lama disana, munculkan kenyamanan. Al Quran sudah perlahan ditinggalkan. Shalat malam mulai terlupakan. Bahkan shalat fardhu jadi keteteran. Parah jika kenyamanan itu dianggap kenikmatan yang Allah ridhoi. Parah!
Diantara dosa-dosa yang besar, pastilah menyepelekan dosa kecil adalah salah satu diantara hal yang membuatnya jadi besar. Logis.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Halaqoh Tahfizh saat itu, Allah mempertemukan dengan Ust Ami. Seorang pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh dari Baleendah
"Ustadz, saya merasa terlalu banyak dosa untuk tilawah. Ngerasa tidak pantas memegang kitab Allah yang suci ini", kataku saat itu.
"Justru ketika kita merasa jauh dari Allah, harusnya makin banyak tilawah. Al Quran bukan diturunkan untuk orang-orang suci, namun untuk mereka yang senantiasa ingin mensucikan diri"
dimalam penuh bintang di atas sajadah yang kubentang sedu sedan sendiri mengaduh pada Yang Maha Kuasa betapa naif diriku ini hidup tanpa ingat pada-Mu urat nadi pun tahu aku hampa..
di malam penuh bintang di bawah sinar bulan purnama kupasrahkan semua keluh kesah yang aku rasa sesak dadaku menangis pilu saat ku urai dosa-dosaku.. dihadapan-MU ku tiada artinya............
doa kalbu tak bisa aku bendung deras bak hujan di gunung sahara hatiku yang gersang........ terasa oleh tenteram...
hanya Engkau yang tahu siapa aku tetapkanlah seperti malam ini sucikan diriku selama-lamanya.......
Saat kau mengerti ada yang salah denganmu, ada yang kurang padamu, hingga sejenak kau lihat sekelilingmu menunjukkan skenario yang bahkan tak sekalipun ada di benakmu, maka berdiamlah sejenak.
Berdiam bukannya tak melakukan apapun, justru berdiam karena bisa jadi apa-apa yang kau lakukan tak memperbaiki keadaan sedikitpun.
Ketahuilah, ketika engkau memilih berdiam memang ada gejolak yang teredam. Semangat yang terabaikan. Gemuruh ide yang seakan terkekang.
Engkau adalah manusia, dan bahkan Rasulullah pun ditegur oleh-Nya ketika alpa. Maka cukuplah tanda-tanda kecil membuatmu berbenah sebelum adzab berujung penyesalan tiba.
Belajar tentang kesabaran ialah perjuangan panjang, sepanjang jalan pembelajaran yang kita tempuh hingga jaraknya liang lahat perlahan mendekat.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR: Muslim)